
Seorang laki laki bertubuh tegap, berkulit sawo matang dan berambut cepak itu duduk santai di bawah pohon rindang alun alun kota. Telinganya sibuk mendengarkan musik yang mengalun dari headset yang ia pakai. Sambil sesekali mengehentakkan pelan sepatu wakai bututnya, ia terus mengedarkan pandangannya di sekitar alun alun. Senyumnya merekah ketika matanya menangkap manusia yang ia tunggu akhirnya datang juga. Ya, dia adalah Bian Adhyaksa. Si pemilik lesung pipi dalam yang membuatnya nampak manis. Dan yang ia tunggu adalah kekasih hatinya.
"Lama ya ?"tanya wanita di hadapannya.
"Enggak dong. Buat kamu nunggu bertahun tahun pun aku sanggup."jawab Bian sembari memandangi wanita dihadapannya penuh cinta. Sang wanita tersenyum senang mendengar jawaban kekasihnya. Dia adalah Nadia Danela.
"Aku kangen....."ujar Bian tiba-tiba masih dengan tatapan dalamnya pada Nadia. Bian tidak pernah melepas pandangannya ketika ada Nadia di hadapannya. Seakan Nadia adalah dunianya dan semua yang disekelilingnya akan terkalahkan dengan kehadiran Nadia di hidupnya.
"Aku kaget. Kamu selalu tiba tiba pulang tanpa kabar. Sejak kapan ?"Nadia sedikit kesal namun ia juga sedang berusaha menyembunyikan rindunya pada Bian. Walaupun mereka selalu ngobrol tiap malam lewat telepon, namun pertemuan selalu menjadi obat mujarab dari sebuah rindu.
"Senang ngga ?"tanya Bian.
"Banget...."
"Peluk dong,"ujar Bian sambil melebarkan kedua tangannya.
"Bi, ini Magelang bukan Jakarta yang seenak jidat bisa pelukan di jalan raya. Yang ada justru kita di rekam oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, video kita di sebar di media sosial dengan judul : sepasang kekasih sedang mesum di alun alun kota. Lalu kita viral, dapat hujatan di mana mana, lalu kita dipanggil dinas sosial, lalu kita dibina ..........
"Ha ha ha,"gelak tawa Bian memecah cuitan Nadia. "Ya udah, mau kamu di mana ?"
"Apanya ?"tanya Nadia kebingungan
"Pelukannya..."jawab Bian sambil memandangi Nadia dengan mata genitnya
"Ngaco deh..."
Lagi lagi Bian tertawa berhasil membuat Nadia kesal. Ia pun meraih tangan Nadia dan menyuruhnya duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Besok agendanya kemana ?"tanya Nadia di sela obrolan mereka.
"Jogja yuk. Pantai Yang dekat aja"ujar Bian semangat.
"Aku bolos dong,"protes Nadia. Selama ini Nadia memang terkenal gila kerja. Dia akan totalitas terhadap apa yang sudah menjadi tanggung jawabnya. Banyak teman temannya yang mengaguminya karena kecakapannya dalam bekerja. Bahkan ia mendapat apresiasi dari atasan atas kinerjanya selama ini.
"Ngga tiap hari juga kan aku pulang Magelang,"
Nadia terlihat berpikir. Dia mengingat agenda agenda apa yang akan ia kerjakan besok. Namun tiba tiba dia mengiyakan ajakan Bian, kekasihnya. Tanpa pikir oanjang ia langsung mengirim pesan kepada kepala sekolahnya untuk ijin tidak masuk karena urusan keluarga.
-------
Pagi pagi sekali Nadia sudah menunggui Bian di alun alun kota. Sekitar setengah jam kemudian akhirnya Bian datang dengan motor matic nya. Akhirnya Nadia membonceng Bian dan motor Bian melaju dengan pelan. Sepanjang perjalanan Nadia memeluk Bian erat sambil bercerita tentang hidupnya.
"Bi, sampai hari ini aku masih ngga percaya punya pacar kamu."cerita Nadia.
"Sebelum kenal sama kamu, kisah cintaku ngga jelas. Dari yang aku putus dengan mantan pacar anak band, terus dijdohin dengan tentara tukang mabuk, dan jomblo sangat lama, akhirnya ketemu kamu yang aku rasanya bisa sefrekuensi sama kamu".
"Sama,Nad. Aku ngga pernah juga punya pacar yang feeling ke aku nya bisa sekuat kamu.. Ingat ngga, pas katanya kamu merasa ngga enak hati, kamu udah dzikir berulang kali tapi hati kamu masih ngga tenang kepikiran aku. Pas banget sama aku yang waktu itu jatuh dari motor. Aku sengaja ngga kabarin, karena aku tahu kamu pasti ngga khawatir. Tapi ngga tahu kenapa hatiku juga ngga tenang mikirin kamu."ujar Bian sambil mengendarai motornya.
"Allah baik kan bi ?"ucap Nadia.
"Banget...."
Di pertengahan perjalanan, Bian meminggirkan motornya di sebuah kedai sarapan.
"Makan dulu yuk, Nad. Aku belum sempat sarapan tadi."ajak Bian
__ADS_1
"Aku temenin aja ya. Tadi aku sudah makan."jawab Nadia
Bian memesan nasi, sayur lodeh, tempe orek,ayam paha dan segelas air mineral.
"Nad, aku suka menu kaya gini. Kamu bisa masak kaya gini ngga ?"tanya Bian berharap suatu hari ketika Nadia sudah menjadi istrinya, ia akan dimasakkan seperti itu.
"Gampang, nanti lihat di youtube,"jawab Nadia santai sehingga membuat Bian gemas dengan jawaban Nadia.
"Boleh deh. Tapi ngga masak juga ngga papa. Tugas kamu muasin aku aja,"goda Bian. Mendengar Bian berbicara vulgar seperti itu, Nadia menjadi sedikit risih padanya.
"Hahahh,"Bian tertawa keras melihat ekspresi wajah Nadia. Ia paham betul Nadia sensitif dwngan obtolan seperti itu. Justru hal itu membuat Bian semakin penasaran dan ingin segera memiliki Nadia seutuhnya.
Seusai makan mereka melanjutkan perjalanan kembali sambil mengobrol tanpa henti. Sejam kemudia akhirnya ia sampai di pantai parangtritis. Mereka asik main ombak dan berkejaran kesana kemari. Entah siapa yang memulai, namun mereka bebas berpelukan. Beberapa kali juga Bian mencium kening Nadia dan tak lepas menggenggam tangan Nadia.
Mereka duduk di kursi yang sengaja mereka sewa dari pedagang yang ada di pantai parangtritis. Di atas kursi terdapat payung besar yang ukurannya pendek, sehingga ketika mereka duduk, wajah mereka terhindar dari paparan sinar matahari.
"Nad, aku kangen banget sama kamu..."ujar Bian duduk merapat di samping Nadia.
"Sama.."jawab Nadia sambil menoleh ke arah Bian. Kini wajah mereka menjadi sangat dekat. Keduanya pun saling menghirup nafas masing masing dari mereka. Tiba tiba Bian mendekatkan bibirnya ke bibir Nadia. Mereka berciuman.
Nafas Nadia memburu usai ia berciuman dengan Bian. Ketika ia hendak berdiri, tangan Bian menahannya. Lalu Bian membisikkan sesuatu di telinga Nadia.
"Aku cinta kamu dan tubuh kamu,"nafas Nadia semakin memburu. Entah mengapa libidonya sekan naik. Ia belum pernah merasakan hal ini sebelumnya, namun Bian benar benar mengalihkan perhatiannya. Ia benar benar sedang dimabuk cinta dengan Bian.
Sampai pada akhirnya, mereka memesan kamar yang tak jauh dari pantai. Sesuatu yang seharusnya Nadia jaga akhirnya ia berikan dengan senang hati pada Bian. Siang itu, di pantai parangtritis, mereka sedang meraskan manisnya cinta. Hasrat mereka menggebu. Kipas angin yang ada di kamar tak bisa mengatasi peluh mereka yang sedang bercinta. Rintihan Nadia membuat Bian semakin menggebu dan saat itu juga ia berjanji pada dirinya sendiri untuk terus mencintai perempuan yang sedang dinikmatinya ini.
---------
__ADS_1
Semenjak kejadian di pantai parangtritis, hubungan Nadia dan Bian semakin intens. Tak jarang ketika Bian pulang ke Magelang mereka juga melakukan hal serupa di tempat lain. Mereka tak berpikir bahwa yang mereka lakukan adalah dosa yang harus mereka pertanggungjawabkan. Namun cinta mereka nyatanya semakin hari semakin membesar. Dan tak pernah terpikir di lain waktu tentang kisah mereka yang belum terikat janji suci.