Langit saksi cintaku

Langit saksi cintaku
Prolog


__ADS_3

Namanya Reina, dia gadis sederhana dengan perawakan perpaduan antara Indonesia-chines. Tingginya semampai, dia gadis yang cukup cerdas, bukan hanya itu dia juga humoris dan menyenangkan. Saat ini dia masih duduk di bangku SMA kelas 3. Dia suka menulis, dia juga mencintai langit, entah kenapa anak itu seperti orang yang kasmaran setiap kali memandang langit. Sampai tidak jarang dia baper dan tertawa sendiri saat menengadah pada langit yang dia kata metafora itu. Lucu, memang.


.


.


"Halah, aku lupa. Hari ini kan ada kajian, kenapa sampai lupa sih. Aduh" Reina menggaruk-garuk kepala,"gimana yaa? Pergi gak nih? Tapi udah telat pasti kalo pergi" anak itu berjalan Mandar mandir di dalam kamarnya.


"Reina, ada Telfon itu" Sahut ibunya,


Reina bergegas mengambil Telfon nya, "Eh, Dias Nefon?" Ujarnya, " Hallo, assalamualaikum.. Oh begitu, yasudah, Lima Belas menit lagi aku Otw yaa.. Assalamu'alaykum wa Rahmatullah" Reina menutup Telfon.


"Alhamdulillah, Karna kajiannya ga bisa hadir. Allah kasih jalan lain buat bisa dapat ilmu lagi, bentar sore ada Tablig akbar ternyata, senangnya"


.


Masih tentang Reina, ya dia gadis yang agamis. Sejak kelas 3 SMP dia memutuskan untuk jadi pribadi yang Robbani, saat ini dia bahkan bercadar. Padahal dia masih duduk di bangku SMA, "seharusnya dia menikmati masa mudanya", begitu kata kebanyakan orang di lingkungannya. Tapi bagi dia, tidak ada paksaan dalam beragama, dia juga menikmati perjalanannya, dia tidak merasa terbebani atas syariat dari Rabb nya. Lalu, apa alasan untuk tidak bergerak dalam perubahan yang semestinya? "Bukankah kita dihidupkan untuk beribadah pada pencipta? Lalu, kenapa harus membuang buang waktu untuk sekedar berhura-hura?" Itu yang dia tanamkan dalam hatinya saat setiap kali teman temannya mulai mempengaruhinya.


Dia tidak dibesarkan dalam keluarga yang agamis, pastilah berat untuk benar bisa Istiqomah diatas agama.

__ADS_1


Saat ini, prioritasnya adalah belajar dan berusaha sebesar besarnya agar bisa menjadi pribadi yang baik, agar bisa menjadi wanita shalihah yang sinarnya mampu membuat kepala tertunduk sebelum mata memandangnya.


Bagi dia, itulah cita cita yang sebenarnya. Dan menempati kedudukan Di surga adalah kesuksesan yang sebenar benarnya.


.


Langit cerah, tidak bisa di elak kan keindahannya. Birunya membuat Reina tidak bisa memalingkan pandangannya.


"Rei, apa yang kamu pikirkan?" Sahut Rafli, di belakangnya


"Ah, tidak" Kata Reina singkat,


Reina menghela nafas, "sampai nanti Langitku" ujarnya


Mendengar itu, Rafli teman kelasnya hanya tertawa. Dia sering melihat Reina bertingkah konyol seperti itu.


"Eh, malam ini kita jalan jalan ayo. Udah lama ga ngumpul bareng" Diza membuka percakapan


"Ayo bagusnya kemana ya?" Raihan menanggapi, tiba tiba sekelas riuh dengan pembahasan seputar ini.

__ADS_1


Reina hanya menyibukkan diri dengan kertas dan pena. Berusaha untuk Tidak peduli apa yang sedang mereka bicarakan.


"Reina, ikut?" Pertanyaan alana membuatkan sekelas diam,


"Iya Reina sesekali ikutlah" sambung Felicia


"Biar ku jemput saja bagaimana Reina?" Nina menimpali


Reina membisu,


"Kalian ini apa apaan, kalau reina tidak mau ikut ya sudah jangan dipaksa. Dia tertekan tau gak?" Raihan mengeraskan suaranya.


"Han, kamu berlebihan. Tidak perlu sampai begitu juga" Reina menatap raihan yang berdiri agak jauh di belakangnya.


"Aku gak suka ya kamu diginiin, mereka itu harusnya negertiin kamu"


"Sudah sudah, berlebihan tau gak" Reina meninggalkan kelas.


Dia tidak ingin ada di situasi canggung seperti itu. Raihan seharusnya tidak bicara begitu kepada teman teman. Dia harus memasang muka bagaimana saat kembali ke kelas?

__ADS_1


__ADS_2