
serupa kontradiksi yang tak mungkin memiliki korelasi. Gelita atau cahaya, cela atau purna, plural atau tunggal— satu akan muncul untuk melenyapkan yang satunya.
Selayaknya Fana dan keabadian, tidak sehaluan, sudah pasti berbeda jalan pulang. Begitu, pula dengan surga dan neraka. Sebuah kontra yang tak memiliki korelasi, sebuah perjalanan berbeda sisi.
Lantas, diri mulai bertanya." Kemana kita akan pulang?"
Jujur saja, disebut perjuangan untuk sekedar memperoleh surga paling bawah masih tak layak disebut perjuangan.
Lantas, kita bertanya lagi.
"Lalu?"
Pantaskan saja, perjuangkan saja, jangan terbesit kata lelah, Karna pencapaian surga tidak bisa diperoleh dengan mudah.
\~dibawah langit
__ADS_1
Reina menutup bukunya.
Setiap orang pasti punya harapan untuk dirinya Dimasa depan. Berharap dia bisa menjadi sosok yang lebih baik, berharap bisa memperoleh yang terbaik.
Reina begitu, sekalipun di pandangan orang lain dia sudah berbeda, tapi bagi dia dirinya masih sama saja. Masih banyak yang harus ia benahi, masih banyak yang harus ia perbaiki.
Dia masih bercanda dengan teman lelakinya, masih sering berkumpul dengan teman-temannya yang sudah pasti dengan teman lelakinya juga, masih sering keluar rumah untuk hanya sekedar bersenang senang. Reina masih sama, masih dengan sikap manjanya yang belum bisa ia kontrol, masih dengan keburukan akhlaknya, kepincangan ibadahnya.
Reina berfikir untuk benar-benar bisa berubah, bukan hanya merasa maju padahal cuma jalan ditempat. Bukan hanya sekedar berubah covernya saja,
Karena, "Tidaklah setiap perbuatan sekecil apapun kelak akan dibentangkan padanya dua lembaran yang bertuliskan mengapa? Dan bagaimana? Yaitu apa tujuannya dan bagaimana caranya?"
Setiap orang tahu apa yang mereka lakukan.
Beberapa orang tahu bagaimana mereka melakukannya.
__ADS_1
Tapi hanya sedikit orang yang tahu mengapa mereka melakukannya.
"Tidak ada hal lain yang harus aku lakukan kecuali lebih bersungguh-sungguh lagi, semoga dimudahkan.." ujar Reina, mantap.
Hari berlalu bagai air yang mengalir dari mulut kendi. Terasa cepat, akan tetapi perasaan Reina bukan setenang air itu. Rasanya seperti ditindih batu, ternyata berubah dengan sebenar-benarnya itu tidak semudah yang dibayangkan, ternyata beragama secara totalitas itu tidak sereceh yang difikirkan. Sulit, butuh sekali perjuangan untuk bisa berdiri kokoh seperti tiang tiang istana.
Reina berusaha untuk tidak mengeluh, walaupun sejatinya dia merasa sangat peluh. Tapi pada akhirnya Reina paham, bahwa perkara hidup bukan hanya perihal senang-senang di setiap waktu.
Reina jadi lebih menghargai waktu, jadi lebih menghargai diri sendiri dan orang lain, ternyata, sekalipun tidak mudah, sekalipun melalui jalan yang penuh kerikil yang tajam, perubahan yang di tujukan untuk Allah itu nikmat rasanya. Sekalipun menangis matanya, tapi bahagia hatinya. Sekalipun sakit fisiknya, tapi sehat batinnya.
Reina mengakui, dia kehilangan banyak hal menyenangkan. Tapi hatinya menguatkan, Karna dia yakin bahwa tidak semua yang dia sukai itu baik baginya, dan tidak pula semua yang dia benci itu buruk untuknya.
Harapannya untuk menjadi pribadi tangguh dan kokoh diatas keistiqomahan sangat tinggi.
Terlihat dari bagaimana progresnya dalam membenahi rutinitasnya, perangainya, juga ibadahnya.
__ADS_1
Dan kesemuanya turut berdampak pada kerendahan hatinya.
Dalam waktu yang tidak lama, Agama perlahan mengubah gadis itu menjadi gadis lebih baik.