Langit saksi cintaku

Langit saksi cintaku
Diantara bintang-bintang?


__ADS_3

Raihan menunduk kecewa, ya dia mulai merasakan kalau Reina tidak begitu menginginkan kehadirannya. Raihan merasa sangat sedih, dia dilema antara harus menjauh untuk kesenangan Reina atau terus berjuang untuk bisa mendapatkan Reina?


Raihan bingung, harus dengan cara apa dia bisa membuat Reina nyaman bisa ada Disampingnya. Dulu waktu awal-awal akrab, mereka begitu hangat sebagai teman, sebagai sahabat, semuanya jauh sebelum ada rasa yang menancap di hatinya. Raihan merasa bodoh dalam menyikapi perasaannya, apa salah menunjukkan bagaimana perasaannya yang sebenarnya?


"Rein, apa yang harus aku lalukan untuk membuatmu berhenti bersikap dingin begini?"Ujar Raihan


.


.


"Raihan, kenapa kamu bersikap begini? Aku ingin kita bersahabat seperti dulu. Kenapa harus begini? Aku bingung harus menanggapi sikapmu bagaimana, aku mohon jangan buat aku semakin canggung lagi"Gumam Reina,


Dua sahabat itu masing-masing dengan pikiran mereka. Ah,Friendzonememang menyedihkan.


Satu sisi ada yang berharap, dan disisi lain ada yang tidak mau memberikan harapan. Kenapa harus terjadi pada persahabatan?


.


"Dinaaa, Rein mau main ke bukit. Mau liat langit, boleh yaaaaaaaa.." Rein memelas manja


"Malas ah!" Dina memasang muka tidak peduli.


"Aisssh, ayolah.. Yah,boleh yaa.." Reina memelas sekali lagi,


"Ah, kamu. Yaudah, nanti pas pulang sekolah"


"Yeayy.. beneran yaa, awas ingkar!"


"Tapi gak seru kalo cuma berdua,"

__ADS_1


"Lah, terus?" Reina memasukkan buku ke dalam tas.


"Bareng yang lain, kita ajak Arin sama Raihan. Yaudah, aku balik duluan ya. Entar ku jemput, oke." Dina beranjak dari tempat duduknya


"Mm. Din, berempat? Sama raihan?" Reina bertanya, tidak yakin.


"Kenapa memangnya? Kan dari dulu juga kita sering main bareng. Udah ah, aku mau cepat cepat pulang. Mau cantik cantik soalnya, dah" Dina pergi meninggalkan kelas.


Reina terdiam, mematung. "Semuanya bakalan baik baik saja kan?" Ujarnya, "Ah, kenapa aku bersikap seolah raihan adalah monster?" Reina menggaruk kepala, tidak mengerti.


Waktu sudah menunjukkan pukul 17:00 . Pas sekali Dina sampai di depan rumah, Reina berpakaian anggun seperti biasanya, gamis dengan warna merah Maroon, jilbab hitam yang menjuntai ke betis, kaos kaki lucu berwarna merah Maroon, serta sepasang sepatu santai berwarna putih.


Sebelum pergi mereka singgah ke rumah Arin, disana sudah ada Raihan.


"Assalamu'alaikum" Sahut Dina


"Waalaikumsalam" Raihan menjawab salam.


Dina dan Raihan melepas tawa bersama.


"Ayo, sudah mau malam" Reina menghentakkan kaki.


"Iya ayo" raihan tersenyum


Sebenarnya, Reina bukan hanya canggung tapi ilfeel. Dia sangat risih jika diperlakukan begitu. Menjengkelkan katanya, tapi Karna raihan adalah sahabatnya dia jadi kebingungan harus menyikapi itu bagaimana.ckalau seandainya raihan itu orang lain sudah pasti Reina sudah sejak lama mengacuhkan nya.


Hitungan menit mereka sudah sampai. Ya jaraknya menang tidak terlalu jauh. Saat Dina dan Arin sibuk memotret diri, Reina hanya sibuk menikmati langit, dia berbaring dan memandang metafora nya dari atas bukit. Dia menyendiri, berpaling dari keramaian dan berharap mendapatketenangan disana.


"Indah sekali. Kamu benar-benar Maha karya Allah yang paling indah" ujar Reina, di tengah-tengah ilalang.

__ADS_1


Tidak ada yang memedulikan Reina, semua sibuk dengan kesibukannya. Termasuk Raihan, sedari tadi dia sibuk memotret langit dari segala sisi. Sudah pasti untuk dihadiahkan pada Reina. Romantis sekali,


"Rein, boleh aku duduk?" Raihan bertanya ragu


Reina mengangguk.


"Ada yang mau aku tanyakan" raihan membuka percakapan


"Apa?"


"Kalau kamu jadi bulan, bintang mana yang akan kamu pilih? Yang paling dekat, yang paling redup atau yang paling terang?" Raihan memasang muka serius


"Diantara bintang-bintang?"


"Hmm, kamu pilih yang mana?" Raihan bertanya ingin tahu


"Menurutmu?"


"Pasti kamu pilih antara yang paling dekat atau yang paling terang" raihan merasa yakin


"Kamu salah." Reina menoleh,


"Terus jawabannya? Yang paling redup?" Raihan bertanya, tidak yakin.


"Yang pasti aku tidak akan memilih keduanya"


"Alasannya?"


"Karna bintang yang paling redup itu adalah yang paling tinggi posisinya. Makin tinggi makin redup, bahkan sampai tak terlihat cahayanya. Tapi kamu tahu satu hal? Sekalipun dia tidak bersinar dalam jangkauan netra manusia, dia tetap saja jauh lebih dekat dengan pencipta nya."

__ADS_1


Raihan tertegun. Dia tidak menyangka Reina akan menjawab seperti itu.


"Bagaimana bisa Reina memikirkan hal seperti ini?"Gumamnya...


__ADS_2