
Raihan Pov
Saat memutuskan untuk benar-benar totalitas dalam berubah, Reina menjauhi semua teman pria nya, ya tanpa terkecuali termasuk Raihan. Jangankan untuk berkumpul bersama, sekedar bertukar sapa sangat jarang. Sebenarnya Reina memang sengaja menghindar agar tak terjadi pembicaraan. Bukan Karna Reina melupakan atau mau bersikap acuh, tapi Reina hanya mau belajar untuk lebih menghadirkan sekat, untuk memperkenalkan bahwa dalam pertemanan juga punya batas.
Reina masih dengan sikap ramah tamahnya, justru dia semakin ramah kepada teman temannya, dia jauh terlihat lebih manis dengan dirinya yang sekarang. Sosok gadis cerdas yang bijaksana, ramah, sopan, menyenangkan, lagi lemah lembut. Seiras pula dengan perawakannya yang memang cantik.
Reina selalu mencuri pandangan Raihan saat tiap kali bertemu. Kadang Reina menyadari bahwa Raihan sedang memandangnya tapi sengaja dia menyibukkan diri dengan hal lain dan berpura pura untuk tidak melihat raihan yang sedang memandangnya dari kejauhan.
Bukan cuma raihan, sebenarnya banyak yang juga memiliki perasaan yang sama seperti Raihan kepada Reina. Tidak heran, Reina memang gadis yang penuh dengan keelokan. Selain paras, dia juga cerdas, siapa yang tidak mengagumi?
Tapi bukan hal yang dipikirkan Reina, dia memang tak pernah berniat untuk memikirkan percintaan.
__ADS_1
Gadis itu memang belum pernah benar-benar jatuh cinta. Entah Karna dia terlalu polos, atau bagaimana.
Perubahan Reina membuat Raihan merasa kehilangan, dia tidak tau kehilangan seperti apa yang dia rasakan. Apakah kehilangan seorang sahabat, atau kehilangan seorang yang selalu melengkapi kebahagiaannya? Yang selalu mengisi hari harinya? Yang selalu menyita pandangannya? Yang dia tau dia merasa kehilangan Reina yang begitu menyisakan perasaan rindu dalam hatinya. Raihan benar-benar dalam mengagumi Reina, mungkin bukan hanya kagum tapi sudah cinta. Entah kenapa itu harus terjadi Diantara mereka berdua.
Raihan terus mengisi kesepiannya yang tanpa senyum hangat dari Reina, lambaian tangan dari reina, dengan terus berusaha memulai pembicaraan dengan Reina melalui pesan. Nihil, Reina benar-benar sempurna bersikap cuek pada raihan. Membalas pesan sekedarnya, tanpa basa basi bahkan saat raihan membahas masalah langit yang merupakan hal paling disukainya.
Raihan mengomentari semua postingan Reina, berharap bisa memulai percakapan. Tapi nihil, Reina justru semakin acuh padanya.
"Aku harus berbuat apa Rein?" Gumam raihan,
Jika kamu diibaratkan pemberhentian bus dari sekian banyak pemberhentian. Aku lebih suka berhenti ditempatmu. Walaupun kadang aku dibuat bosan ataupun dibuat terluka. Namun ditempat itulah kenyamanan selalu terasa di dalam jiwa." Ujar raihan, memandang bintang-bintang.
__ADS_1
Raihan masih punya satu yang bisa dia kenang saat merindukan Reina, dia masih bisa menengadah pada langit. Berbicara pada langit, Karna bagi raihan Reina sama seperti langit, selalu indah dalam keadaan apapun.
Raihan terus memikirkan Reina,
"bolehkah aku jadikan kamu tempat pemberhentian terakhir?" Ujarnya lagi, menempelkan telapak tangannya pada jendela kaca kamarnya.
Harapannya menjulang bersama angin. Dia benar-benar berharap Reina bisa mendengarnya, berharap Reina mengetahui perasaannya.
Begitulah, kekosongan raihan yang dilalui dengan perasaan yang sama setiap harinya, menyiksa. Terus menahan rasa yang semakin mengakar tapi terus tersiksa dan terbakar.
"Rein, aku boleh bersama denganmu lagi?
__ADS_1
tak apa jika itu nantinya yang terakhir kali.
aku hanya ingin melihat senyummu dan berbincang seperti dulu lagi." Raihan mengepalkan tangannya. Dia tertunduk menahan rindu yang dibalut luka dalam hatinya.