
Bagi seorang penulis, hampir semua tempat adalah wadah untuk mengekspresikan perasaannya, suka dukanya, bahagia dan laranya. Entah kertas, meja, tanah, Dimana saja yang dengannya ia bisa menuliskan perasaannya, termasuk media sosial, Instagram contohnya.
Disana kita bebas menuliskan apa yang ingin kita tuliskan. Mengatakan apa yang ingin kita katakan. Menjelaskan apa yang ingin kita jelaskan. Bebas. Begitulah Reina mendeskripsikan tentang tulisan, penuh dengan kebebasan.
Reina tak jarang memosting tulisan-tulisannya di laman media sosialnya, berharap para pembaca dapat mengambil manfaat dari tulisannya, atau hanya sekedar ingin melepaskan beban yang tak mampu dia bendung dalam hatinya.
Bagi Reina, terkadang tulisan hanya lebih tepat daripada telinga yang tak setia menyimak.
.
Malam itu cuaca sedang tidak bersahabat kata orang orang, tapi kata Reina, bumi sedang berpesta pora Karna dirundung hujan. Bukankah hujan itu rahmat? Kenapa harus dianggap musuh? Pikir Reina.
Banyak hal yang dia sukai dari hujan, salah satunya adalah bau tanah basah yang baru bubuhi bulir hujan. "Menyejukkan." Reina tersenyum ceria.
Semua aktivitasnya sudah selesai, Reina hanya tinggal bersantai di istana kecilnya, kamar kesayangan tentunya.
Dia merebahkan diri diatas kasur empuknya, menyetel suhu ruangan menjadi lebih dingin. "Wah nyamannya.." Reina menarik selimut lembutnya, mengatur posisi paling nyaman. Lalu, membuka sebentar laman instagramnya.
__ADS_1
"Teman-teman ada yang tau tempat jual pisang goreng? Dingin-dingin begini enaknya makan pisang goreng panas." Reina membaca instastory salah seorang yang tidak asing namanya. Ya, Karna nama orang itu selalu muncul di list pemirsa.
"Kakak ini lucu" Reina berujar, masih dengan perasaan menggelitik.
Bagaimana ya? Dari sekian banyak postingan orang itu, baru sekali dia lihat memosting yang seperti itu. Jadi estetik sekali keliatan, haha. Mungkin biasa bagi orang lain tapi lucu bagi Reina.
"Di utara kota banyak sekali berjejer ukh," Reina membalas postingan orang itu.
"Oh begitu, kalau area selatan tau?" Tanya orang itu lagi,
"Oh iya Syukron Jazaakillahu khair"
" Afwan, wa Jazaakillahu khair sayang" Reina membalas ramah.
Gadis itu memang terkenal dengan kepribadiannya yang ramah dan penyayang. Tidak heran dia berbicara begitu.
"Afwan, saya Ikhwan (laki laki).."
__ADS_1
Reina terbelalak melihat pesan yang baru saja masuk itu.
"Astagaaaa, apa yang sudah aku lakukan? Heisss, baru saja memanggil sayang pada lelaki? Huh astagfirullah. Mau di taruh Dimana mukaku ini? Aisss.. harus bilang apa aku???" Reina menggigit jari
Dia menghapus semua pesan yang dia kirim sebelumnya. Malu sekali dirinya.
"Bisa bisanya aku tidak tau kalau itu laki laki. Aisss, kenapa harus foto profilnya bunga sih? Kan jadi dikirain cewek." Ujarnya mempelototi pesan lelaki itu.
"Tidak apa-apa. Semoga tidak ada kesalah pahaman." Kata lelaki itu lagi
Mata Reina membulat, "seharusnya aku lebih teliti lagi dalam membaca nama orang, bukan hanya melihat foto profilnya saja. Ah, kesan macam apa ini? Aissss. Memalukan sekali." Gumam Reina, mengumpat diri sendiri.
Begitulah mulanya. Perkenalan yang tidak direncanakan, kesan pertama yang sangat tidak diinginkan. Sejak hari itu cerita mereka dimulai.
Tentang Lelaki yang begitu sempurna dimata Reina, tentang wanita yang begitu berbeda bagi rasya.
Perkenalan yang tanpa jelas situasinya, perkenalan yang tidak diprediksi kesannya, siapa sangka membuka pintu rasa? Siapa sangka menghadirkan cinta? Siapa sangka memupukkan harapan?
__ADS_1