Langit saksi cintaku

Langit saksi cintaku
Tentang Raihan


__ADS_3

Apa yang lebih manis pada masa remaja dari sebuah persahabatan yang tulus?


Tapi, kenapa hampir semua lelaki alergi dengan kata 'persahabatan?'


Apa yang salah? Bukankah itu sesuatu yang indah dan penuh dengan ketulusan?


Pikiran itu terus berputar putar dikepala Reina, kenapa Raihan begitu kecewa pada Reina saat Reina mengatakan itu padanya?


Gadis itu seperti tidak mengerti soal perasaan.


Malam menghampiri lagi, kedip cahaya bintang terlihat mengindahkan langit. Reina mencari kenyamanan di teras rumahnya, menengadah pada langit di atasnya, lalu menyambungkan antara bintang satu dan yang lainnya dengan garis-garis khayal dari jarinya.


Anak itu memang konyol, suka bersikap lucu yang tak jarang mengundang tawa.


"Sedang apa, Rein?" Sapa Bapaknya, membuyarkan lamunannya.


"Aa?" Reina menoleh,"ini, sedang menghafal rumus" Reina memasang muka meyakinkan.


Reina sedikit malu, jika ibu dan bapaknya tau sikap konyol nya itu. Dia tidak berniat untuk menunjukkan, adapun orang-orang dia tidak menaruh peduli, untuk apa peduli dengan komentar orang lain? Jika merasa nyaman dengan itu kenapa harus disingkirkan padahal tidak ada yang mengganggu atau merugikan sama sekali?


"Ya sudah, papa mau masuk dulu. Kamu jangan terlalu lama diluar, dingin, sudah malam juga"


Reina mengangguk mengerti.


Kringg...


Notifikasi hp nya berbunyi,

__ADS_1


"Eh, raihan lagi? Aduh, kenapa sih?"Gumamnya.Membuka pesan.


"Assalamu'alaikum, Rein sedang apa? Kamu sibuk?"


"Waalaykumussalam, biasa. Tidak, kenapa?" Balas Reina


"Jangan kemalaman ya istirahatnya, besok mengeluh lagi sakit ini dan itu" Raihan menunjukkan pedulinya


Membaca itu, Reina merasa tidak nyaman. Entah kenapa dalam hatinya sulit sekali ada kenyamanan yang bisa dia rasakan saat teman lelakinya memberi perhatian padanya. Malah sebaliknya, dia justru semakin risih dan tidak nyman.


"Aishh,, ini yang paling tidak ku sukai berteman dengan lakilaki. Menjengkelkan."Ujarnya


Pesan dari Raihan tidak digubris nya lagi, Reina kembali menetralkan perasaannya dengan memandang langit, senyum kembali merekah pada pipinya.


"Langitku, kau tak usah khawatir aku akan berubah rasa Padamu. Sekalipun banyak yang berusaha menarik perhatianku, kau tetap menjadi yang pertama menyita pandanganku.." ujar Reina, tertawa kecil.


Dia mengalihkan pandangannya pada layar handphone nya, melihat instasyory milik teman temannya, kadang-kadang rutinitas seperti ini menghadirkan kecemburuan pada hatinya, bukan pada rutinitasnya sebenarnya tapi pada apa yang ia dapati saat di tengah tengah rutinitasnya. Dia kadang iri dan cemburu melihat teman temannya yang semakin shalihah, semakin berilmu dan rendah hati, dia iri melihat teman temannya bisa kokoh dan Istiqomah diatas agama.


***


Tentang raihan,


Raihan adalah teman sekelasku, sosok yang sangat dipercaya, bijaksana dan berjiwa pemimpin. Kadang-kadang dia memang gila, tapi begitulah anak SMA.


Raihan kakak setahun diatas ku, dia sebelumnya pernah gonta ganti pacar dengan para selebgram di sekolahku. Dia anak OSIS, siapa sih yang tidak melirik dia? Senior gagah dan keren? Bukan cuma itu cerdas pula.


Dia bersikap baik dan ramah pada semua orang, dia anak yang sangat apa adanya dan terus terang. Dia tipikal laki laku yang simpel.

__ADS_1


Tingginya kurang lebih 165 cm, kulitnya putih, hidungnya mancung, dia juga punya gigi taring yang buat dia sangat manis jika tersenyum.


"Rein, sudah makan?" Raihan memulai percakapan


"Hmmm" jawab Reina singkat


"Kamu kenapa Rein? Aku punya hadiah buat kamu, mau lihat gak?" Raihan memasang seringai paling baik.


"Apa?"


"Taraaa" raihan memberikan Reina sebuah kotak berwarna biru pink dengan pita kecil yang mengikat ditengahnya.


"Apa ini?"


"Buka saja" raihan tersenyum


Reina membuka kotak itu, bukan main ternyata isinya gambar langit yang ditempelkan diatas karton berpola. Kreatif, romantis, begitu kesannya.


Sesaat Reina memang senang, bahagia, siapa yang tidak bahagia saat dihadiahkan sesuatu yang dia sukai?


"Ah, ini cantik sekali Han. Terimakasih ya.." Reina berterima kasih


"Terimakasih kembali Reina"


"Untuk apa?"


"Karna sudah tersenyum seceria ini" raihan menatap Reina dalam

__ADS_1


Menyadari hal itu Reina segera berdiri dan beranjak dari tempat duduknya.


"Aku ke kantin dulu ya Han, makasih" Reina berjalan terburu buru


__ADS_2