Langkah Letnan Jenderal

Langkah Letnan Jenderal
Episode 1


__ADS_3

“Ma, Pa, Sa berangkat duluan ya?” teriak sosok gadis yang menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Dia adalah Reinsa, anak ketiga dari keluarga Devindra, keluarga yang terkenal akan kekayaan melimpah yang mereka miliki. Keluarga Devindra begitu berpengaruh di negara ini. Walaupun begitu, Reinsa tidak pernah sama sekali untuk memanfaatkan posisi orang tuanya. Gadis itu begitu mandiri dan berani, dia tidak mau membebani keluarganya di setiap masalah yang dia temui. Bahkan, dulu sewaktu Reinsa terkena penculikan saja, Reinsa tidak bebas karena orang suruhan papanya, melainkan karena ilmu beladiri dan sifat jahilnyalah dia bisa bebas. Dari kecil keluarga Davindra memang sudah terlatih untuk mampu bela diri, termasuk semua wanita yang ada di keluarga itu. Jadi, jika terjadi sesuatu pada keluarga mereka, mereka tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya.


“Loh, kok buru-buru banget? Kamu belum sarapan loh, Sa.” Itu adalah ibu negara, iya mamanya Reinsa yang bernama Syarly. Syarly adalah seorang designer terkenal di negara ini. Walaupun dia adalah seorang designer, namun kesholehan dan ketaatan Syarly sama sekali tidak hilang, dari kecil Syarly sudah didik dengan agama, oleh karena itu pakaian wanita berkepala empat ini tidak pernah kekurangan bahan sedikit pun.


“Iya, memang anak Papa mau ngapain sih? Buru-buru banget.” Dan ini adalah Deino, papanya Reinsa yang terkenal galak, namun sangat penyayang dan peduli pada orang lain, apalagi keluarganya. Deino adalah seorang pengusaha terkenal dan juga seorang pemilik bandara internasional di negara ini. Sama seperti Syarly, dari kecil Deino sudah didik agama juga oleh keluarganya, jadi tak heran jika lelaki berkepala empat ini berseragam seperti sekarang, yang menandakan kalau Deino baru saja pulang dari mesjid, setelah melaksanakan sholat subuh berjamaah di mesjid tadinya.


“Hehehe ... semalam Sa lupa ngumpulin tugas Ma, Pa. Jadi, sebelum dosennya datang, Sa udah letakin tugas ini di meja beliau, biar nanti gak kena masalah.” Syarly dan Deino hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah putri mereka yang begitu konyol ini.


“Yaa Allah Nak, kenapa bisa lupa?” tanya Deino seraya mencomot makanan yang sudah disiapkan oleh sang istri.


"Hehehe ... maklum Pa, Sa kan pelupa. Kebetulan kemarin Sa terlalu capek habis kelas 3 mata kuliah. Jadi, pas pulangnya udah lupa aja, deh."


"Kamu ini, ada-ada saja. Yaudah, nih di bawa. Nanti sarapannya di kampus aja. Di makan, awas kalau gak dimakan!" ucap Syarly seraya menyerahkan sekotak makanan kepada Reinsa.


"Siap ibu negara! Yaudah, Sa berangkat dulu ya, Assalamualaikum!" Setelah mencium punggung tangan kedua orangtuanya, Reinsa langsung saja keluar dari rumahnya, menemui supir yang sudah menunggunya di depan teras rumah.


"Sudah siap Neng?" tanya supir itu yang langsung disambut senyuman manis oleh Reinsa.


"Nanti bawa mobilnya jangan terlalu ngebut-ngebut ya, Pak."


"Aman kok Neng, selama Bapak yang jadi supirnya tidak akan ada kata ngebut kok, Neng." Mendengar ucapan lelaki tua itu, Reinsa langsung terkekeh karenanya. Supir itu biasanya Reinsa panggil dengan sebutan Pak Omo, padahal nama lelaki tua itu adalah Romo.


Tak lama kemudian, setelah keduanya memasuki mobil, mobil itupun berlalu dari sana dengan kecepatan sedang. Selama perjalanan, Reinsa hanya sibuk dengan laptopnya, namun sesekali dirinya juga mengajak Pak Romo untuk berbincang-bincang.


"Pak, nanti sepulang Sa kuliah, Bapak gak usah jemput Sa kaya biasanya, ya."


"Loh, kenapa gitu Neng? Nanti Bapak kena marah loh sama tuan."


"Gak papa kok Pak, nanti biar Sa yang jelasin sama papa. Sa mau ke suatu tempat dulu nanti, sekalian mau ketemu sama teman Sa di mall."

__ADS_1


"Loh, Neng mau ke mall? Mau ngapain? Ingat loh Neng, jangan menghabiskan uang, lebih baik uangnya di kasih buat yang membutuhkan saja Neng."


"Iya Pak Omo, Sa tau kok. Sa ke mall cuma mau beliin hadiah buat wisudanya teman Sa aja kok."


"Teman Neng udah mau wisuda? Wih hebatnya, tapi Neng kapan mau wisudanya?"


"Aih, Pak Omo! Sa baru semester 7 loh ini, bisa-bisanya Bapak nanya gitu."


"Loh, memang temannya Neng itu teh udah semester berapa? Kok udah duluan aja?"


"Dia ngambil D3 Pak, makanya cepat wisuda. Kalau Sa kan ngambil S1 atuh Pak. Jadi, harus ngelewatin 8 semester biar bisa wisuda."


"Kenapa gak ngambil D3 aja kalau gitu Neng?"


"Udah telat atuh Pak." Setelah itu, pecahlah tawa dari keduanya. Memang sehumor inilah keduanya jika sudah berbincang-bincang.


"Eh iya, Alhamdulillah."


"Yaudah, kalau gitu Sa turun dulu ya, Pak. Assalamualaikum!" pamitnya setelah memasukkan laptopnya kembali ke dalam tas ranselnya.


"Wa'alaikumussalam," jawab Pak Romo. Setelah melihat kepergian anak majikannya itu, Pak Romo langsung saja beranjak dari sana bersama dengan mobil yang dia kemudikan. Membiarkan anak majikannya itu menikmati harinya di kampus ini.


Setelah turun dari mobil, Reinsa langsung saja menuju ruangan dosen yang dia tuju. Dia pun berlari dengan tergesa-gesanya, mengingat dosen itu pasti akan datang 15 menit lagi. Setelah memasuki ruangan dosen itu, Reinsa langsung saja mencari tumpukan tugas teman kelasnya. Setelah tiga menit mencari, akhirnya Reinsa menemukannya, langsung saja dia meletakkan tugas itu dan berlari keluar dari ruangan dosen tersebut, sebelum pemilik ruangan itu menampakkan dirinya di hadapan Reinsa.


"Huh ... akhirnya kelar juga."


"Eh, kamu!" ditengah menarik nafasnya, Reinsa malah dikejutkan dengan suara seseorang yang begitu ditakutinya sejak tadi pagi, dosennya.


Dengan hati-hati, Reinsa pun memutar badannya seraya menampilkan cengiran khas miliknya. "Ya, kenapa Pak? Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanyanya berusaha tenang.

__ADS_1


"Semalam saya meriksa tugas teman-temanmu, tapi kenapa saya tidak menemukan tugasmu?" tanya lelaki itu.


"Loh, Bapak serius? Bapak salah lihat mungkin. Saya sudah ngumpulin tugasnya kok, Pak" ucapnya. "Tapi barusan, Astaghfirullah gimana ini?"


"Saya serius Reinsa, bahkan sudah diperiksa oleh istri saya."


"Mungkin keselip dalam tugas yang lainnya Pak, coba Bapak periksa lagi deh Pak."


"Ya sudah, ikut saya kalau kamu tidak percaya." Akhirnya, dengan terpaksa, Reinsa kembali masuk ke dalam ruangan itu. Dengan perasaan yang campur aduk, Reinsa berusaha untuk mengontrol dirinya agar tidak panic attack di depan dosesnnya ini.


"Kamu kenapa?" tanya lelaki itu menatap gelagap Reinsa yang aneh.


"Ah, tidak apa-apa, Pak. Udara di ruangan Bapak dingin banget."


"Enggak kok, ini suhunya sudah stabil."


"Eh, iya ya Pak?" cengirnya ambigu sendiri.


"Oh iya, sepertinya saya salah. Baiklah saya akan periksa tugas kamu ini. Setelah itu tolong bawa ke kelas dan bagikan dengan teman-temanmu berdasarkan siapa pemiliknya."


"Baik Pak." Akhirnya, Reinsa bisa bernafas lega. Walaupun di dalam hati dia menyesali keteledorannya kemarin. Dia berjanji pada dirinya sendiri, jika dia tidak akan mengulangi hal yang sama lagi. Cukup hari ini saja dia melakukan kesalahan itu dan membuat panic attacknya kambuh.


"Ini."


"Terima kasih Pak, kalau gitu saya izin keluar Pak. Assalamualaikum!"


"Wa'alaikumussalam."


"Kamu benar Fahri, dia adalah gadis yang begitu cerdas. Namun, sayangnya dia begitu ceroboh. Bisa-bisanya kamu menyukai gadis seperti itu," ucapnya seraya menatap pintu yang sudah ditutup rapat oleh Reinsa sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2