Langkah Letnan Jenderal

Langkah Letnan Jenderal
Episode 4


__ADS_3

"Maaf, saya tidak sengaja ..." ucap lelaki itu merasa bersalah seraya meniup pelan pergelangan tangan Reinsa yang memerah.


Deg.


Melihat perlakuan lelaki di hadapannya ini, membuat mata Reinsa tidak bisa beralih dari pemandangan di hadapannya. Reinsa menjadi teringat bagaimana dulu mereka bertemu.


...


"Fahri!" Panggil seorang gadis menghampiri lelaki berpeci yang saat itu tengah sibuk dengan sebuah buku di tangannya di atas batu tepi sungai.


"Eh, Sa? Hati-hati!" ucap lelaki itu yang mengalihkan pandangannya kepada gadis itu.


"Sa kenapa ke sini?" tanya lelaki itu, sambil menutup bukunya dan menuntun gadis itu agar duduk di batu sebelahnya.


"Sa bosan. Ri kenapa di sini? Dari tadi Sa nyariin loh, tapi gak ketemu, eh ternyata di sini."


"Kok bosan? Memang Sa gak menghafal buat besok? Besok kan ujian?" Tanpa menjawab pertanyaan lelaki itu, gadis itu malah berdiri dari posisinya dan berjalan menuju sungai yang saat itu aliran arusnya begitu deras.


"Ih Ri, lihat deh airnya deras banget!" teriak gadis itu begitu antusias sekali.


"Eh Sa, jangan ke sana! Bahaya!" ucap lelaki itu, malah diabaikan oleh gadis itu. Dia malah duduk di tepian sungai itu, membuat kakinya terkena derasnya arus sungai. Terlihat begitu bahagia sekali gadis itu bisa merasakan derasnya arus sungai ini.


Setelah merasa puas dengan itu semua, gadis itu akhirnya memutuskan untuk berdiri. Namun, di saat sebelah kakinya akan dia naikan, dia malah tergelincir yang membuat dirinya malah kehilangan keseimbangannya.


"Fahri!" teriaknya, membuat lelaki itu langsung mengalihkan atensinya kepada gadis itu. Betapa terkejutnya dia melihat gadis kecil itu yang berusaha untuk tidak terbawa oleh arus sungai. Tanpa pikir panjang, lelaki itu langsung saja menghampiri gadis itu dan membantunya agar bisa selamat dari seretan arus itu.


"Sa, pegang tangan Ri!" ucap lelaki itu berusaha untuk mengulurkan sebelah tangannya dan sebelah lagi dia gunakan sebagai tumpuan.


"Ri, Sa takut!" ucap gadis itu berusaha meraih tangan lelaki itu dengan air mata yang sudah mengalir sejak tadi.

__ADS_1


"Ayo Sa, Sa jangan takut! Ri akan bantu Sa!" lelaki itu terus berusaha meyakinkan, sampai pada akhirnya arus semakin kuat dan pegangan gadis itu malah terlepas dari sebuah batu yang dia jadikan pertahanan sejak tadi.


Hap!


Namun, untung saja lelaki itu mampu meraihnya dan tanpa pikir panjang lagi, lelaki itu langsung saja menarik tangan gadis itu agar bisa kembali ke tepi sungai.


"Aaakh!" teriaknya sebelum akhirnya dia berhasil menarik tubuh gadis itu yang tela basah kuyup ke tepi sungai.


"Sa, kamu gak papa, kan?" tanyanya terlihat begitu khawatir. Sedangkan gadis itu, dia terlihat begitu syok terhadap apa yang baru saja terjadi pada dirinya.


"Hei, udah jangan nangis! Gak papa, Sa udah aman sekarang. Lebih baik kita pulang sekarang aja ya, gak baik kalau Sa ada di sini," bujuknya membuat gadis itu akhirnya menganggukkan kepalanya dengan lemah.


"Yaudah, biar Ri antar aja ya. Tapi, Sa pakai baju Ri ini, baju Sa basah banget." Dengan ragu, gadis itu menerima baju kemeja yang disodorkan oleh lelaki itu kepadanya. Untung saja lelaki itu memakai baju kaos di dalamnya.


...


"Hei!" panggil lelaki itu seraya melambaikan tangannya di depan wajah Reinsa. Mendapat perlakuan itu, sontak Reinsa tersentak. Langsung saja dia mengalihkan perhatiannya dari lelaki dihadapannya dan melepaskan tangannya dari genggaman lelaki itu.


Sejenak, Reinsa menatap bola mata itu dengan seksama. "Tatapan yang masih sama seperti dulu," ucap keduanya di dalam hati secara bersamaan.


"Ah iya, saya tidak apa-apa," alibinya langsung menunduk dalam.


"Oh iya, kamu mau beli apa tadi? Kado bukan? Saya sepertinya tau kado apa yang bagus," ucap Reinsa berusaha mengalihkan perhatian lelaki di depannya ini. Lalu, dia pun jalan lebih dulu dari lelaki itu.


"Kamu masih sama seperti dulu, Neng. Bahkan, sama seperti dulu, kamu selalu menjadi paling tau tentang apa yang terbaik untuk saya dan pilihan saya."


"Ayo!" panggil Reinsa, menyadarkan lelaki itu dan langsung mengejar langkahnya.


"Kadonya buat siapa?" tanya Reinsa di saat mereka sudah berada di toko hadiah.

__ADS_1


"Adik saya," jawab lelaki itu tak melepaskan pandangannya dari Reinsa yang sibuk melihat-lihat barang di toko ini.


"Maksudnya adik yang ke berapa?" tanya Reinsa tanpa mengalihkan tatapannya.


"Terakhir," jawab lelaki itu singkat, terus memperhatikan gerak-gerik Reinsa.


"Ooh ... kayanya yang ini bagus deh," ucap Reinsa langsung antusias mengambilkan sebuah baju gamis yang sangat cocok untuk remaja belasan tahun.


Sejenak, tatapan lelaki itu terpaku dengan tatapan Reinsa yang sama-sama menatap dirinya. Sejenak mereka saling terdiam, mencoba menilik kebenaran dari apa yang saat ini sama-sama mereka pendam selama lima tahun belakangan ini.


Di saat tersadar, akhirnya Reinsa mengalihkan tatapannya dengan perasaan yang canggung. "Em ... mungkin ini akan cocok dijadikan hadiah untuk adikmu," ulang Reinsa yang kali ini tidak berani untuk melayangkan tatapannya kepada lekaki di hadapannya.


"Kenapa kamu tau, jika adik saya itu adalah cewek? Padahal saya tidak mengatakannya."


"Eh, itu .... Sa-saya kira adik kamu cewek, jadi ya saya cuma kepikiran pilih ini aja. Karena kalau adik kamu cowok gak mungkin kamu akan menyuruh saya memilihkannya." Akhirnya, Reinsa menemukan alasan yang tepat atas pertanyaan lelaki di hadapannya ini. Bukan karena apa, Reinsa belum siap, jika dirinya harus memulai sebuah kedekatan yang lama dengan lelaki ini.


"Kamu terus mencari alasan untuk itu, kenapa?" tanyanya dalam hati. "Oh, ya sudah. Sini, saya pilih ini saja." Tanpa meminta persetujuan Reinsa, lelaki itu langsung mengambil pilihan Reinsa tadi dan membawanya ke kasir, lalu membayarnya.


"Sudah?" tanya Reinsa, di saat lelaki itu kembali menemui dirinya yang berada di luar toko tadi. Dan lelaki itu hanya menganggukkan kepalanya sebagai respon.


"Ya sudah, kalau gitu tugas saya selesaikan? Saya masih ada urusan." ucap Reinsa berusaha untuk membebaskan dirinya dari lelaki itu.


"Siapa bilang tugas kamu sudah selesai. Temankan saya makan dulu, setelah itu terserah kamu jika kamu akan ke mana." Perkataan lelaki itu membuat Reinsa tak habis pikir lagi. Bagaimana bisa dia bertemu dengan lelaki yang seperti ini hari ini. Sial banget ceritanya hari ini.


"Kenapa harus saya sih? Saya udah capek loh, saya juga mau nyelesaikan tugas kampus, gak hanya kamu yang harus saya turuti." kesal Reinsa yang akhirnya bisa dia lepaskan.


"Saya akan bantu kamu selesaikan tugas kuliah kamu," jawab lelaki itu dengan wajah datarnya.


"Tugasnya gak semudah itu kali," sindir Reinsa seraya melipat tangannya di dada dan memutar bola matanya dengan malas.

__ADS_1


"Sudah, ayo!" Tanpa memperpanjang perdebatan mereka, lelaki itu langsung saja menarik tangan Reinsa yang terbalut lengan gamisnya. Namun, tarikan kali ini tidak seperti tadinya. Lelaki itu menarik tangan Reinsa lebih lembut, sehingga membuat Reinsa tidak kesakitan seperti ini tadinya. Mereka pun akhirnya menuju ke sebuah tempat makan yang ada di mall ini.


__ADS_2