
Sejak dari ruangan dosennya tadi, Reinsa langsung saja menuju kelasnya sesuai dengan perintah dari dosennya tadi untuk membagikan semua tugas teman-temannya yang sudah selesai di periksa oleh dosennya itu. Mengingat teman-temannya belum datang semuanya, Reinsa hanya mampu menunggu mereka saja di kelasnya ini. Karena jika dia meninggalkan kelas ini sama saja dia buang-buang waktu, apalagi mata kuliah akan dimulai lima belas menit lagi.
Hanya ditemani oleh ponselnya, Reinsa menunggu teman-temannya sampai pada jam mata kuliah pun berlangsung. Jujur, Reinsa benar-benar kualahan untuk hari ini. Mulai dari dosennya yang tiba-tiba saja mengejutkannya dan membuatnya gugup sendiri, sampai pada teman-teman Reinsa yang sama sekali tidak mau diajak kompromi untuk bekerja kelompok bersama dengannya. Padahal mereka masing-masing sudah memiliki tugas, tetapi semuanya hanya diserahkan kepada Reinsa, dengan alasan kalau mereka tidak mengerti sama sekali. Dan ditambah lagi dengan sekarang dosennya malah memintanya untuk memprint tugas yang begitu banyak ini untuk teman-teman sekelasnya. Bukannya bagaimana, Reinsa juga punya kesibukan, tidak mungkin dia mengerjakan semua ini sendirian bukan?
Saat ini, Reinsa telah selesai dengan mata kuliahnya dan sudah saatnya gadis itu meninggalkan kampus yang begitu membuatnya kesal hari ini. Dengan membawa semua beban tugas yang diberikan semua orang untuknya, Reinsa hanya mampu berjalan dengan lesu. Benar-benar melelahkan.
"Rein," panggil seseorang, membuat Reinsa membalikkan tubuhnya.
"Pulang bareng yuk!" ajak lelaki itu, membuat Reinsa memutar bola matanya dengan malas.
"Ih, kok tatapannya gitu sih?" tanya lelaki itu heran.
"Pikir aja sendiri!" ketus Reinsa yang langsung pergi meninggalkan lelaki itu.
Reinsa sama sekali tidak mempedulikannya, bahkan panggilan berulang dari lekaki itu benar-benar diabaikannya. Dia terus saja berjalan, sampai pada meninggalkan kampusnya itu.
Di tengah perjalanan, Reinsa malah merasa haus begitu saja. Matanya yang tanpa sengaja melirik sebuah kedai minuman, langsung saja menenguk salivanya dengan paksa. Tanpa pikir panjang, Reinsa langsung saja beranjak menuju tempat itu dan membeli sebuah menu minuman yang benar-benar memikat perhatiannya.
"Nah, panas-panas gini, memang pas banget deh minum beginian," ucapnya begitu senang dengan menyeruput minuman yang ada di tangannya itu.
Bugh!
Tanpa sengaja, karena keasyikan dengan minumannya, Reinsa malah tidak memperhatikan jalannya. Dia malah menabrak dada seseorang yang berbaju loreng, sepertinya dia adalah seorang tentara. Oh tidak, ini adalah masalah baru untuk dirinya.
"Astaghfirullah, kamu bisa hati-hati gak sih?" Kesal lelaki itu, membuat Reinsa langsung mendongak. Sejenak, mata Reinsa menatap wajah yang ada di hadapannya ini. Wajah itu adalah wajah yang lima tahun ini selalu dia hindari. Wajah yang membuat luka padanya di masa lalu karena kepergiannya tanpa berpamitan.
__ADS_1
Deg.
Setelah lama menatap lelaki itu tanpa menjawab perkataan lelaki itu, akhirnya tatapan mereka pun bertemu. Namun, tatapan itupun langsung dialihkan oleh Reinsa yang seketika gelagapan.
"Ma-maaf, saya tidak sengaja." Reinsa berusaha untuk menunduk, dia tak ingin lelaki dihapannya ini malah mengenali dirinya.
"Kalau jalan itu matanya di pakai dong!" ucap lelaki itu membuat Reinsa langsung mendongak.
"Eh, maaf ya, di mana-mana mata itu dipakai untuk melihat bukan untuk jalan."
"Hub, pantas saja kamu ceroboh seperti ini, ternyata jalan aja mata kamu tidak terlibat sama sekali."
"Eh, enak saja anda mengatai saya seperti itu? Anda kira saya buta apa?"
"Sudah, saya tidak peduli perihal itu. Sekarang bagaimana dengan baju saya, ha?" usai lelaki itu tidak mau ribut terlalu jauh dengan gadis di depannya ini.
"Saya tidak mau tau, kamu harus menggantinya." Lelaki itupun langsung menarik tangan Reinsa dari tempat mereka.
"Eh, anda bisa sopan gak sih? Lepasin!" Lelaki itu sama sekali tidak peduli, dan malah membawa Reinsa ke sebuah butik.
"Pilihkan saya baju!" titah lelaki itu tak mau dibantah. Reinsa hanya mampu membulatkan matanya tidak percaya.
"Saya gak salah dengarkan? Hey, baju anda tidak saya rusak loh, hanya terkena tumpahan saja," jawab Reinsa tidak terima.
"Pilihkan atau masalah ini akan saya bawa ke hukum?" tantangnya, membuat Reinsa semakin kesal.
__ADS_1
"Baiklah," Akhirnya gadis itu pergi dengan kekesalan yang sudah menjadi temannya.
Butik ini seperti tidak asing di penglihatan Reinsa saat ini. Ah, tapi bodo amat, bukan urusannya juga perihal ini. Yang terpenting dia bisa menemukan baju yang murah untuk lelaki itu. Tidak mungkin kan, Reinsa harus membelikan baju baru dengan harga yang mahal untuk lelaki ini? Sedangkan dirinya saja tidak memiliki uang yang begitu banyak. Di tambah lagi dia harus membeli berbagai barang nantinya dan juga harus membayar foto copy untuk semua tugas yang diberikan oleh dosennya tadi.
"Mahal banget," keluhnya di saat melihat harga sebuah baju kaos yang biasa saja.
"Kenapa mahal-mahal banget sih? Ini siapa yang punya butik sih? Mana ada yang mau belanja di sini, kalau baju kaya gini aja harganya delapan puluh ribu gini."
"Maaf Mba, ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang pelayan butik ini.
"Ah iya, kebetulan ada mbak. Saya mau cari baju kaos yang harganya dibawah lima puluh ribu ada enggak, mbak?" tanya Reinsa yang malah mendapatkan gelakan dari pelayan toko ini.
"Hadeh mbak-mbak, mana ada harga baju di bawah lima puluh di butik seperti ini mbak. Kalau mbak mau baju yang harga segitu, coba cari dipinggir jalan aja mba, pasti banyak yang dagang di sana."
"Oh, gitu ya? Yaudah, saya gak jadi beli di sini deh. Makasih ya Mbak," tanpa menunggu jawaban dari pelayan itu, Reinsa malah pergi begitu saja menemui lelaki tadi yang menunggunya sejak tadi.
"Mana? Berikan pada saya!" ucap lelaki itu. Namun, bukannya menjawab, Reinsa malah langsung menarik tangan lelaki itu yang membuat lelaki itu terkejut, karena tangannya secara langsung di pegang oleh gadis di depannya ini. Sedangkan dirinya saja tadi memegang tangan gadis itu dengan terlapis oleh lengan gamis gadis itu.
"Kamu mau bawa saya ke mana?" tanya lelaki itu menghentikan langkah Reinsa. Namun, sebenarnya bukan karena perkataan lekaki itu Reinsa berhenti, melainkan karena melihat mamanya yang berada di parkiran butik ini. Jika mamanya melihat Reinsa berduaan dengan lelaki ini, bisa-bisanya dia dihabisi dengan berbagai pertanyaan dari kedua orang tuanya nanti. Tak hanya sampai di sana, pasti kedua kakaknya juga akan menyerbunya dengan mendesaknya untuk menanyai tentang lelaki ini.
"Eh, kamu mau bawa saya ke mana? Baju sa-"
"Udah, ikutin saja! Jangan banyak protes!" kesal Reinsa yang kembali menarik tangan lelaki itu dengan kuat dan membawanya pergi dari sana.
Syarly yang melihat anak muda berbaju loreng dan gadis yang berpakaian mirip seperti putrinya itupun hanya bisa tersenyum tipis. Dia menjadi teringat akan putrinya yang begitu mengidolakan seorang tentara di dalam cerita fiksinya. Dia jadi membayangkan putrinya yang bersama dengan lelaki itu namun dengan ikatan yang halal.
__ADS_1
"Astaghfirullah, Syarly apa yang kamu pikirkan? Putrimu masih menempuh pendidikan loh," monolognya seraya menertawakan dirinya sendiri yang bisa-bisanya berpikir seperti tadi.