
"Sudah, kamu tidak perlu khawatir. Kamu temani saya makan di sini saja sudah lebih dari cukup bagi saya." yakin lelaki itu kepada Reinsa.
"Tapi-"
"Saya ikhlas Neng ...."
Deg.
Reinsa tidak salah dengar, bukan? Lelaki di hadapannya ini memanggilnya dengan sebutan yang telah lama untuk tidak ingin dia dengar.
"Se-sepertinya saya harus pulang sekarang, permisi!" Reinsa pergi begitu saja, tanpa menunggu jawaban dari lelaki di hadapannya itu. Tak lupa, Reinsa juga membawa kantong plastik yang telah menjadi miliknya itu.
"Dirimu memang tidak pernah berubah sedikit pun. Kamu masih tetap menjadi Neng Sa yang selalu lari dari kenyataan. Bagaimana saya bisa melupakanmu begitu saja? Sedangkan, dirimu selalu ada di setiap ingatan saya. Bertahun-tahun saya berusaha menyingkirkan kamu dari hidup saya, namun saya selalu gagal Neng. Kamu selalu menjadi pemenangnya dari setiap usaha yang saya lakukan untuk menyingkirkan kamu. Jika saya boleh egois, saya akan memilikimu di waktu yang tepat nanti. Tunggu saya, ya!"
...
"Assalamualaikum!" salam Reinsa memasuki rumahnya dengan kedua tangannya yang dipenuhi akan kantong plastik. Yang satunya kantong plastik pemberian lelaki tadi dan satunya lagi hasil fotocopy Reinsa tadi sewaktu perjalanan pulang.
Tidak ada satupun sahutan yang terdengar oleh Reinsa, yang artinya tidak ada siapa-siapa di rumahnya, kecuali mungkin di dapur ada bibi Imah yang sedang memasak. Perlu diketahui, di rumah ini ada seorang pembantu yang bernama bibi Imah, namun biasanya bibi Imah hanya bekerja di siang hari saja, guna membuatkan makanan untuk Reinsa saja.
"Kayanya bibi Imah lagi masak deh, yaudah aku langsung ke atas aja kalau gitu. Habis beres-beres nanti baru ke bawah." Setelah berkata seperti itu, Reinsa langsung saja memasuki kamarnya yang ada di lantai dua dan membawa barangnya bersama dengan dirinya. Sama seperti perkataannya tadi, Reinsa langsung saja membersihkan badannya yang sudah terasa lengket sekali hari ini.
Setelah mandi, Reinsa akhirnya membuka Ranselnya dan mencoba untuk mencari kotak bekal yang tadinya dia bawa. Namun, setelah menggeledah isinya, Reinsa sama sekali tidak menemukan kotak itu.
__ADS_1
"Astaghfirullah!" Dia menepuk jidatnya sendiri di saat mengingat bahwa kotak itu masih terletak di atas meja tempat makan tadi.
"Ya Allah, bagaimana ini?" ucapnya bingung, dia takut jika Syarly akan memarahinya, karena sifat pelupanya ini.
"Tapi, kalau aku kembali ke restoran itu, sepertinya kotak itu sudah tidak akan ada di sana lagi."
"Mama, maafin Sa ya, Sa buat kesalahan kali ini. Mama jangan sampai nanyain kotak itu ya, please!" monolognya, seraya membayangkan betapa garangnya Syarly jika marah pada dirinya nanti.
"Tenang Sa! Kamu harus bisa tenang! Mama gak bakalan marah kok! Ayo Sa, kamu pasti bisa jelasin sama mama!" dukungnya pada diri sendiri. Walaupun seberapa keras Reinsa untuk tenang, dirinya tetap saja tidak bisa tenang. Dia takut dengan amukan Syarly, ya walaupun mungkin Syarly hanya akan mengomelinya saja.
"Baiklah, sepertinya hari ini kamu tidak usah keluar kamar, agar mama tidak menanyakan kotak itu padamu Sa." keputusan akhirnya, yang pada akhirnya membuat Reinsa menetap di dalam kamarnya dengan segudang tugas yang siap menerjang dirinya.
Reinsa pun akhirnya memilih mengerjakan tugasnya yang tadi sempat dibantu oleh lelaki siang tadi untuk mencarikan semua bahan-bahannya. Jujur saja, Reinsa sedikit tidak enak hati dengan lelaki itu. Bagaimana bisa dia mendapatkan ini semua secara percuma, sedangkan dirinya dan lelaki itu tidak dalam hubungan yang baik. Terlebih, tadi sewaktu pulang Reinsa juga terlihat tidak bersahabat dengan lelaki itu.
Kehadiran lelaki itu saat ini, adalah seperti bayangan masa lalu Reinsa yang kembali untuk hadir dalam hidupnya. Reinsa masih belum sanggup, jika dia harus mengulang kisah yang sama pada akhirnya. Apalagi, lelaki itu adalah masa lalu yang pernah singgah di dalam hatinya, bahkan hingga saat ini nama lelaki itu belum pudar sedikit pun dari memori dan hatinya.
Reinsa meraih ponselnya yang tergeletak di depannya, lalu meninggalkan tugasnya dan beralih menuju tempat tidurnya dan memilih untuk membaringkan tubuhnya di sana.
Reinsa pun membuka galerinya, di mana di sana tersimpan berbagai kenangan di masa lalunya. Dalam diamnya, Reinsa menatap semua isi galerinya tersebut. Sampai pada Reinsa menemukan sebuah foto dirinya bersama dengan seorang lelaki yang mirip dengan lelaki tadi siang.
"A, jujur Neng rindu! Tapi, Neng gak bisa ngapa-ngapain A. Neng takut! Kenapa Aa harus kembali setelah sekian lama Aa menghilang dari hidup Neng. Kenapa Aa hadir lagi? Jika memang Aa kembali, seharusnya jangan membawa Neng terlena kembali dalam perasaan Neng. Neng capek A!" Lagi-lagi, air mata Reinsa menetes begitu saja.
Perasaan gadis itu saat ini begitu campur aduk. Dia benar-benar tidak bisa mengontrol dirinya sendiri agar tidak memikirkan tentang lelaki itu. Dia selalu kalah dengan kenyataan, bahwasanya dia memang harus selalu ingat dengan lelaki itu.
__ADS_1
...
Beda halnya dengan Reinsa, lelaki yang tadi siang ditemui oleh Reinsa, lebih tepatnya lelaki yang telah membuat Reinsa meneteskan air matanya untuk kesekian kalinya. Lelaki itu bernama Fahri. Dia adalah masa lalu bagi Reinsa, namun siapa kira bisa saja menjadi masa depannya, bukan?
Setelah pemergian Reinsa tadi, Fahri baru menyadari kotak bekal yang tadi berisi omlet itu tertinggal oleh pemiliknya. Alhasil, Fahri membawa kotak itu bersama dengan dirinya. Dan sekarang, di sinilah lelaki itu berada, di dapur bersama dengan kakak iparnya yang baru saja menikah dengan kakaknya satu bulan yang lalu.
"Ri? Ini kotak bekal siapa? Kok bisa ada sama kamu?" tanya wanita bercadar itu dengan heran, sebut saja namanya Afifah.
"Tadi, ada cewek yang tidak sengaja meninggalkan kotak bekal ini kak, jadi daripada kotaknya terbuang sia-sia, Fahri bawa pulang aja." ucapnya, seraya mencuci kotak bekal itu di wastafel.
"Loh, kok bisa? Nanti kalau dia nyariin kotak ini gimana?" tanya Afifah sedikit curiga dengan adik iparnya ini.
"Aman Kak, besok Fahri akan kembali kan kotak ini sama orangnya kok. Sekalian, Fahri ingin membalas pemberiannya hari ini."
"Ekhem, sepertinya ada yang sedang ...."
"Eh, enggak kok Kak. Alhamdulillah selesai, Fahri mau ke kamar dulu ya, Kak." ucapnya langsung pergi untuk menghindari ucapan Afifah yang siap mengejeknya.
"Loh, kotaknya kok di bawa? Letakin di sini aja Ri!" teriak Afifah terdengar mengejek adik iparnya itu.
"Gak papa Kak, biar cepat kering!" timpal Fahri yang juga ikut berteriak.
Melihat adik iparnya yang seperti itu, Afifah hanya bisa geleng-geleng kepala, seraya terkekeh geli di saat melihat tingkah Fahri yang seperti itu.
__ADS_1