
"Lepasin, kamu bukan mahram saya!" ucap lelaki itu langsung menghentakkan tangannya agar genggaman Reinsa bisa terlepas dari tangannya.
"Eh, astaghfirullah! Ma-maaf, saya gak sengaja," sesal Reinsa yang langsung menggenggam tangannya yang tadi sudah tidak sengaja memegang yang seharusnya tidak dia sentuh secara langsung.
"Kenapa kamu malah membawa saya ke sini? Baju ganti saya tadi mana?" tanya lelaki itu to the point.
"Ini!" tunjuk Reinsa dengan wajah polosnya pada barang jualan lelaki tua yang ada di hadapan mereka saat ini.
Melihat kepolosan Reinsa, lelaki itu sontak membulatkan matanya. Bukan karena barang yang akan disuguhi gadis itu kepadanya, namun karena pemikiran gadis ini yang bisa sampai ke sini.
"Pak, baju kaos ini berapa?" tanyanya kepada bapak penjual baju itu, seraya menunjukkan baju kaos hitam pada bapak tua itu.
"Tiga lima saja, Neng."
"Nah, kayanya ini cocok deh buat kamu. Pak, saya beli yang ini satu ya?"
"Baik Neng, sini biar saya bungkuskan." Reinsa pun memberikan baju itu kepada bapak tua itu dan dia pun mengambil selembar uang berwarna merah di dalam tasnya itu.
"Ini Pak uangnya," ucapnya sambil mengambil alih plastik hitam yang sudah berisi baju kaos pilihannya tadi.
"Aduh Neng, Bapak tidak punya kembaliannya. Barang jualan Bapak sedari tadi belum laku, jadi gak ada uang kecil Neng."
"Gak papa Pak, Bapak ambil saja," ucap Reinsa yang tak lepas dari senyuman merekahnya.
"Loh, Neng benaran?" tanya bapak tua itu tidak percaya.
"Iya Pak, terima kasih ya Pak."
"Terima kasih banyak Neng, semoga Neng mendapatkan jodoh yang terbaik." Mendengar ucapan bapak tua itu, Reinsa hanya mampu tersenyum saja, tanpa berniat untuk mengaminkannya. Bukannya bagaimana, namun gadis itu belum memikirkan hal itu sama sekali. Dia hanya ingin fokus pada pendidikannya saja untuk saat ini. Apalagi 1 tahun lagi dia akan melaksanakan koas, jadi dia harus benar-benar fokus untuk kuliah saat ini.
__ADS_1
Berbeda dengan Reinsa, lelaki yang sejak tadi melihat interaksi keduanya malah mengaminkan perkataan bapak tua itu.
"Nih, hutang saya sudah selesai. Saya mau pergi dulu, Assalamualaikum!" ucap Reinsa, seraya menyerahkan kantong plastik hitam itu dengan kesal kepada lelaki itu. Lalu, hendak beranjak dari sana. Namun, belum sempat Reinsa melangkah, lengan bajunya sudah ditarik kembali.
"Kamu kira setelah membelikan ini semua masalah kita selesai?"
Jleb!
Masalah? Masalah apa yang dia katakan. Apa mungkin dia mengingat Reinsa? Tapi, tidak mungkin. Tidak mungkin dia mengenal dan mengingat Reinsa. Siapa Reinsa dimatanya, hanya gadis yang tidak apa-apanya di dalam hidupnya.
"Apalagi, sih?" kesal Reinsa, menatap tajam lelaki itu.
"Sebagai gantinya dari apa yang sudah kamu lakukan pada saya, saya mau kamu menemani saya untuk membelikan hadiah ulang tahun adik saya."
"Ha? Ih gak nyambung banget, sih? Lama-lama saya benar-benar kesal sama kamu!" keluh Reinsa benar-benar tidak habis pikir lagi.
"Sudah, saya tidak terima penolakan!" ucap lelaki itu langsung menarik tangan Reinsa yang terbalut lengan gamisnya. Reinsa hanya mampu mengikuti langkah lelaki itu tanpa berniat untuk menolaknya. Entah mengapa begitu sulit untuk Reinsa agar menolak ajakan dari lelaki itu.
"Kita mau ke mana sih?" tanya Reinsa yang lama-lama tidak bisa untuk diam saja.
"Ikuti saja, jangan banyak bicara!" ucap lelaki itu membuat Reinsa memutar bola matanya dengan malas. Tak lama kemudian, mobil itupun akhirnya berhenti. Namun, bukannya membuka pintu mobil, lelaki itu malah membuka kancing bajunya. Reinsa yang tak sengaja memperhatikan aksi lelaki itu, menjadi was-was.
"Eh, kamu mau ngapain?" terkejut Reinsa yang langsung menutup matanya dengan kedua telapak tangannya. Walaupun sudah mendengar pertanyaan Reinsa yang seperti itu, lekaki itu sama sekali tidak menghiraukannya. Dia tetap membuka baju lorengnya sampai meninggalkan baju kaos hitam di tubuhnya bersama dengan celana lorengnya.
"Mau mau saya kunciin di sini?" dinginnya yang saat ini sudah membuka pintu jok belakang. Mendengar ucapan lelaki itu, perlahan-lahan akhirnya Reinsa menurunkan jari jemarinya, lalu berucap hamdalah melihat tubuh lelaki itu yang terbalut baju kaos. Namun, tunggu! Baju kaos ini bukan seperti baju kaos yang dia belikan tadi. Jadi?
"Eh, kamu mencoba memeras saya ya?" tanyanya langsung dengan nada tinggi, membuat lelaki itu menggosok-gosok telinganya karena suara melengking Reinsa yang begitu tidak enak untuk didengar.
J'tak!
__ADS_1
"Asal saja kalau ngomong!" ucap lelaki itu setelah menyentil kening Reinsa dengan sengajanya.
"Ih, sakit tau! Kamu kira kening saya ini batu apa?" kesal Reinsa seraya menggosok-gosok keningnya yang disentil oleh lelaki itu.
"Cepat turun! Atau kamu mau saya kunciin?" titah lelaki itu langsung dituruti Reinsa dengan kesalnya.
"Kunciin, kunciin, kunciin aja terus!" dumelnya yang menghadiahkan senyuman tipis pada wajah lelaki itu.
"Ayo!" ucapnya langsung mendahului langkah lelaki itu. Reinsa benar-benar aneh, tadinya mendumel tidak jelas, namun sekarang malah terlihat begitu bersemangat untuk masuk ke dalam pusat berbelanjaan ini, mall.
"Jangan jauh-jauh dari saya. Nanti kamu kabur, saya tidak tahu akan mencari kamu ke mana," ucap lelaki itu mencoba tetap cool ditengah ramainya pengunjung mall ini.
"Idih, siapa juga yang mau kabur. Saya juga mau cari sesuatu kali ke sini. Kamu kalau mau nyari sesuatu, cari saja. Saya gak bakalan kabur juga."
"Gak! Saya tidak akan membiarkan kamu pergi sendiri. Bisa-bisa kamu kabur gitu saja dari saya."
"Dikira saya ini buronan apa?" ucap Reinsa semakin memperbesar langkahnya dengan sedikit menghentakkannya.
"Iya, kamu buronan yang habis mengotori baju saya!"
"Cuma gara-gara baju aja loh! Bukan hati kamu juga kan?" jawab Reinsa yang kian bertambah kesal.
"Sayangnya sudah menembus hati saya Neng Reinsa." Semua itu hanya mampu ia ucapkan di dalam hatinya. Lalu, tanpa meminta izin, dia langsung menarik tangan Reinsa yang tertutup lengan gamisnya.
"Ih, jangan tarik-tarik gini juga dong, sakit ini tangan saya lama-lama. Di kira tali apa? Seenaknya aja tarik-tarik," ucap Reinsa yang merasa sakit pada pergelangan tangannya, karena tarikan dari lelaki itu yang sejak tadi menarik tangannya seenaknya saja.
Mendengar Reinsa yang kesakitan, sontak lelaki itupun menoleh pada Reinsa dan benar saja, dia melihat wajah Reinsa yang menahan sakit di tangannya itu. Tanpa meminta izin, lelaki itu langsung saja meraih tangan Reinsa yang tertutup lengan gamisnya dan sedikit menyingkapkan lengan gamisnya itu, sehingga memperlihatkan pergelangan tangan Reinsa yang memerah karena terkena jejak jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangannya.
"Maaf, saya tidak sengaja ..." ucap lelaki itu merasa bersalah seraya meniup pelan pergelangan tangan Reinsa yang memerah.
__ADS_1
Deg.