
"Kamu mau makan apa?" tanya lelaki itu, membuat Reinsa langsung menoleh padanya.
Kini, mereka berdua sudah duduk di dalam tempat makan dengan saling berhadapan. Jujur saja, Reinsa bingung mau makan apa di sini. Dia yakin, tempat ini pasti makanannya sangat mahal dan Reinsa tidak punya uang untuk membayar makanannya nanti jika dia makan. Atau mungkin, jika dia makan, bisa saja dia tidak akan membeli barang-barang yang dia butuhkan nanti dan dia juga tidak akan bisa memprint semua tugas yg diberikan dosennya tadi.
"Saya tidak makan," jawab Reinsa tak berani menatap lelaki di hadapannya ini, walaupun perutnya saat ini sangat ingin diisi. Dia baru ingat, sejak pagi dirinya belum makan apapun. Dan "Astaghfirullah, bekal mama tadi belum dimakan!" ucapnya dalam hati. Lalu, membuka ranselnya dan mengeluarkan kotak bekal yang dia bawa tadi pagi.
"Kamu bawa bekal?" tanya lelaki itu yang memperhatikan gerak-gerik Reinsa sejak tadi.
"Iya, tapi saya lupa memakannya," ucap Reinsa menatap bekalnya yang masih tertutup.
"Memang kamu bawa apa?" tanya lelaki itu, membuat Reinsa menatapnya sejenak.
Tanpa menjawab, Reinsa membuka kotak bekalnya dan memperlihatkan dua buah omlet yang begitu menggoda lidah siapapun untuk mencicipinya.
"Wah, omlet? Sepertinya ini enak," ucap lelaki itu spontan, membuat Reinsa kembali menatapnya.
"Kamu masih suka omlet?" tanya Reinsa tanpa sengaja. Namun, di saat dia sadar dengan ucapannya, langsung saja Reinsa mengubah kalimatnya. "Eh, maksudnya kamu suka omlet juga?"
Lelaki itu tak lagi menjawab pertanyaan Reinsa, melainkan dirinya hanya tersenyum mendengarkan alibi dari gadis di hadapannya ini.
"Mbak, saya pesan ini dua dan ini juga dua ya," ucapnya kepada pelayan yang baru saja datang menghampiri meja mereka berdua.
"Baik Mas, ditunggu ya!" Setelahnya, pelayan itupun pergi dari sana dengan membawa menu makanan tadi.
"Kenapa pesannya dua?" tanya Reinsa yang tengah menggigit satu omlet. Itu semua tak lepas dari pandangan lelaki di hadapannya ini dan itu cukup membuat Reinsa canggung sendiri.
"Buat kamu," ucap lelaki itu, tanpa mengalihkan tatapannya.
"Kamu mau? Kalau mau ambil aja, jangan natap saya kaya gitu." Skak! Akhirnya, lelaki itupun mengalihkan tatapannya dari Reinsa yang tengah menikmati omletnya.
"Ambil aja, ini juga ada dua," ucap Reinsa yang menyodorkan kotak bekalnya tadi kehadapan lelaki itu.
"Kamu serius?" tanya lelaki itu terlihat begitu senang.
__ADS_1
Reinsa tak menjawab, melainkan dia hanya mengangguk dan semakin mendekatkan kotak bekalnya itu kepada lelaki tersebut.
"Oh iya, tugas kuliah kamu memangnya tentang apa?" tanya lelaki itu di tengah-tengah gigitan omletnya.
"Kamu gak perlu tau, kalau kamu tau pun gak bakalan bisa bantuin saya juga," ucap Reinsa terlihat enteng dan meraih sebuah tisu untuk menghapus sisa saus yang menempel pada bibirnya.
"Saya bakalan bantuin kamu, sini mana tugasnya?" tanya lelaki itu, membuat Reinsa memutar bola matanya dengan malas. Namun, akhirnya dirinya mengeluarkan selembaran kertas yang berisikan persoalan mengenai tugasnya tersebut. Hal itu langsung saja diambil alih oleh lelaki itu dan dia pun langsung membacanya dengan baik-baik.
"Ooh ini, sebentar."
"Loh, mau ke mana?" heran Reinsa, namun sama sekali tidak digubrisi oleh lelaki itu.
"Maaf Mbak, ini makanannya!" ucap seorang pelayan mengalihkan atensi Reinsa yang tengah menatap kepergian lelaki itu bersama dengan kertas yang dia keluarkan tadinya.
"Eh, iya Mbak. Terima kasih!" ucapnya yang hanya disenyumi oleh pelayan itu. Jujur, Reinsa benar-benar bingung saat ini. Pertama, ke mana lelaki itu akan pergi. Kedua, makanan ini bagaimana? Siapa yang akan memakannya dan siapa juga yang akan membayarnya? Masa Reinsa yang akan membayarnya? Dia saja hanya memiliki uang pas untuk semua tugasnya dan membelikan temannya hadiah.
Akhirnya, tanpa berpikir apapun, Reinsa hanya memilih untuk duduk dan berdiam diri saja di tempatnya, tanpa menyentuh makanan yang begitu menggoda sekali.
"Loh, makanannya kenapa tidak dimakan saja?" tanya lelaki itu membuat Reinsa mengerutkan keningnya.
"Saya mesan ini buat kamu makan, bukan buat kamu lihatin gitu aja." ucap lelaki itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tapi, sa-"
"Saya yang bayar, kamu jangan khawatir." potong lelaki itu, lalu menyodorkan sepiring spaghetti untuk Reinsa dan milk shake vanilla kepada gadis itu.
"Serius?" tanya Reinsa tidak percaya. Jujur saja, sejak tadi sebenarnya makanan ini benar-benar menggoda dirinya sekali untuk dia cicipi.
"Atau kamu mau bayar?" tanya lelaki itu, membuat Reinsa langsung menggelengkan kepalanya dengan kuat. Dengan senang hati, akhirnya Reinsa menikmati makanan itu dengan tenang. Reinsa akui, makanan ini benar-benar lezat sekali dan begitu cocok dengan lidahnya.
"Makannya santai saja, jangan kaya gitu. Nati kamu keselek," nasehat lelaki itu, namun tak dihiraukan oleh Reinsa sama sekali.
"Alhamdulillah," ucap Reinsa yang telah menghabiskan sepiring spaghettinya. Lelaki di hadapannya yang melihat itu hanya bisa tersenyum tipis melihat tingkah kasih di depannya.
__ADS_1
"Makasih untuk makanannya," ucap Reinsa yang baru kali ini menampilkan senyumannya secara tulus.
Melihat senyuman Reinsa yang begitu memikat siapapun membuat lelaki di hadapannya ini malah tersedak makanannya. "Uhuk uhuk uhuk!"
"Eh, kamu gak papa?" tanyanya seraya menyodorkan minuman lelaki itu kepada lelaki tersebut. Lelaki itu langsung saja menyambut pemberian Reinsa dan meneguk minumannya sampai dirinya merasa lega.
"Kamu gak papa?" tanya Reinsa sekali lagi memastikan.
"Alhamdulillah saya gak papa, terima kasih sudah membantu saya." Setelahnya tak ada lagi percakapan keduanya, sampai pada lelaki itupun menyelesaikan makannya.
"Oh iya, ini semua kebutuhan kamu untuk tugas kelompok besok. Semuanya sudah ada di sana. Kamu hanya tinggal merangkainya saja nanti," ucap lelaki itu menyodorkan kantong plastik yang dia bawa tadi setelah pergi entah ke mana.
"Loh, kok?"
"Itung-itung, bayaran dari bantuan kamu tadi. Maaf jika saya sudah cukup merepotkan kamu hari ini."
"Tapi, ini terlalu berlebihan. Berapa semuanya? Biar saya ganti," ucap Reinsa bersiap mengambil uang di dalam tasnya.
"Tidak perlu, saya ikhlas kok."
"Tapi, semua ini mahal loh," ucap Reinsa berusaha menolak.
"Saya ikhlas, jadi kamu tidak perlu membayarnya." Lelaki itu terus saja menolak Reinsa yang akan mengganti semua belanja kerja kelompoknya ini.
"Tapi? Semua ini pasti harganya mahal. Saya tidak bisa menerima ini begitu saja. Nanti jika uang kamu habis bagaimana? Saya jadi tidak enak hati." ucap Reinsa benar-benar tidak enak dengan perlakuan lelaki di hadapannya ini.
"Sudah, kamu tidak perlu khawatir. Kamu temani saya makan di sini saja sudah lebih dari cukup bagi saya." yakin lelaki itu kepada Reinsa.
"Tapi-"
"Saya ikhlas Neng ...."
Deg.
__ADS_1