
Setelah semuanya selesai, kakek duduk di kursi di depannya dengan suasana hati yang gembira, ada meja di luar rumah di depan halaman tempat tinggalnya, dan meja itu dipenuhi dengan menu makanan yang enak.
"Selesai menghidangkan"
Semua hidangan membuat lidah sangat menyentuh, dan aromanya yang lezat membuat Kakek tidak sabar untuk menyantap makanan yang dimasak sendiri oleh sang putri.
Kakek: Um ... enak, enak ... ahh Aku belum pernah makan makanan selezat ini, gadis kecil yang kau masak. Ternyata kau pandai memasak. Aku suka ini dan lezat.
Lain kali kau sering-seringlah datang ke sini untuk memasak makanan enak untukku ... "Hal keadaan Mulut penuh dengan mengunyah makanan".
Wuxin hanya tersenyum dan melihat kakeknya dengan senang hati memakan makanan yang dibuatnya.
Kakek: Gadis kecil, kau tahu aku sangat kesepian di sini, tidak ada teman bermain selain hewan peliharaanku, dan aku sangat benci melihat wajah anak nakal itu setiap kali dia datang kesini, dia selalu membuatku marah dan kesal. Hemp!!."Diam-diam melirik Shu Jin".
Wuxin yang sedang makan tiba-tiba berhenti, ia juga melirik ke arah Shu Jin yang mengasingkan diri di pojok dinding kediaman Sikakek.
Dia merenungkan diri Karena masalah yang dia buat sebelumnya, ia mengisolasi diri. Dia merasa malu dan tidak berani menatap sang putri, Sehingga dia tidak berani duduk Makan bersama dengan sang putri, karena masalah itulah yang membuatnya menyalahkan dirinya sendiri yang tak kuasa menahan nafsunya yang rindu selama ribuan tahun lalu.
Tap . . . Tap . . . Tap . . .
Wuxin berdiri dan berjalan perlahan ke sisi Shu Jin, Shu Jin yang sedang melamun dan memikirkan dirinya sendiri di pojok dinding kiri.
"Aku melamun dan terus menerus menyalahkan diri dan hatiku.
"hemm... (Shu Jin). "Dia pikir dan merasa ada sesuatu yang datang di sampingnya." Lalu tiba-tiba dia melirik ke kanan dan melihat Xiaoqiao berdiri di sampingnya.
Xiao Qiao hanya menatap Shu Jin.Tak lama setelah Shu Jin menatapnya, Shu Jin langsung membuang muka seperti anak manja. Xiao Qiao melihat Shu Jin yang bertingkah seperti anak kecil, Xiao Qiao pun berjongkok di telinganya dan berbisik.
Xiao Qiao: Hei, jika kau terus melakukan ini,kelak kedepannya jangan berharap untuk menyentuhku lagi,hemp!! "Bicara dengan nada suara licik".
Mendengar Xiaoqiao berbisik seperti itu padanya, itu membuat telinganya panas dan memerah.
Shu Jin pun segera berbalik dan menatap XiaoQiao.
Shu Jin: XiaoQiao . . . Kau . . . "tercengang dan Kaget".
"berdiri".
hahh"menghela nafas".
Xiao Qiao: Tidak masalah, bahkan jika aku telah memasak makanan khusus untukmu, kau tidak ingin memakannya. hemp!!"tertawa licik".
tapi. . . Sangat disayangkan bahwa aku menyia-nyiakan energiku untuk orang yang tidak menghargai usahaku yang tulus, meskipun aku telah berusaha keras untuk membuat makanan yang enak untuknya. Hahh, "menghela napas", "sinis".diam-diam menyindir".
__ADS_1
Saat Xiaoqiao hendak berbalik dan pergi, Shu Jin tiba-tiba meraih tangannya.
Dia berkata: Tunggu! "berdiri".
ShuJin : Hah, "menghela napas".
Yah, aku akan memakannya **untukmu**.
"Wajah tanpa ekspresi".
Melihat wajah ShuJin yang tidak tersentuh sama sekali.
WuXin pun berkata di dalam hatinya: Hehh! Ekspresi macam apa itu?!💢
Baiklah Tidak masalah XiaoQiao biarkan saja, dan yang terpenting aku sudah berhasil meyakinkannya untuk makan.
Shu Jin: Baiklah,ayo kita makan.
WuXin tersenyum dan mengangguk. Kakek itu hanya sibuk makan sampai keduanya diabaikan, namun orang tua itu meliriknya dalam diam dan tersenyum sinis.
Ketika sampai di meja makan, Shu Jin makan dengan tenang. XiaoQiao yang sedang makan, secara diam-diam dia memandangnya dengan tenang dan tersenyum senang. Bahkan, dia sudah tahu kalau Shu Jin sedang menyantap makanan yang dia masak dengan tenang tanpa ekspresi apapun. Seperti orang belum makan untuk beberapa hari.
Karena sang putri tahu bahwa jika ShuJin makan seperti seseorang yang belum makan selama beberapa hari dihadapannya, itu benar-benar akan membuat Wuxin mengkhawatirkannya. Dia tidak ingin sang putri mengkhawatirkannya. Itu sebabnya dia makan dengan tenang di depan dia.
"Selesai makan".
Kakek: Ahhh aku kenyang, sangat kenyang. . . . . . . . . . . . . aku sangat puas hari ini. . . . .
aku tidak bisa berdiri lagi.
Tiba-tiba, Shujin menghentikan tangan WuXin yang hendak menyeret piring kotor itu ke belakang.
ShuJin: Biar aku saja yang mengurusnya.
"Saling pandang satu sama lain".
Tiba-tiba kakek tua itu memotong adegan yang cukup serius ini.
Kakek: itulah yang seharusnya kau lakukan, bocah busuk.
Wuxin: baik... lakukanlah, aku tidak memaksamu melakukan ini, kau sendiri yang ingin melakukannya.
'
__ADS_1
'
'
Wuxin mengikutinya pergi ke belakang sambil tersenyum dengan licik.
"sesampainya di belakang".
Wuxin:hei ShuJin,aku belum menghukummu setelah saat kejadian itu... emm... "merasa malu".
Baiklah tidak usah di ungkit lagi,pada intinya kau bersalah padaku dan kau seharusnya mendapat hukuman atas perbuatan kejimu itu. Sesuai kesepakatan aku dan kakek,aku yang akan memberikan hukuman seberat-beratnya dengan cara yang sangat kejam kepadamu,bagaimana?apakah kau takut kepadaku?!."berbicara dengan asal-asalan".
Shu Jin "memalingkan wajahnya ke kehadapan Wuxin."
Shu Jin: hehh, "Menghela napas. Katakan padaku hukuman apa yang akan kau berikan padaku? Aku akan dengan senang hati menerimanya. "Tersenyum".
Wuxin merasa malu ditatap ShuJin seperti itu,itu membuatnya ingat akan kejadian waktu itu,Wuxin pun mengahilangkan rasa malu itu seolah-olah dia sudah tidak mengingat kejadian memalukan itu,wow dia sangat pandai dalam mengalihkan suasana.
Wuxin: hem. . . itu . . . Bagaimana jika kau menjadi pelayan pribadiku sampai aku puas,dan kau tidak diizinkan untuk menolak atau menentang setiap perintah yang kuberikan kepadamu, kau harus melakukan semua yang aku inginkan,dan ingat ini,tidak ada kata "tidak" dalam **peraturanku**, "berbicara asal-asalan".
Pada saat yang sama, dalam benak Wuxin, “Hehe… Ketika dia berada di bawah kendaliku, aku akan mengambil kesempatan ini untuk menyiksanya sampai dia memohon maaf dan ampun kepadaku".” gambaran-gambaran Shu Jin yang tersiksa dan putus asa sedang meminta pengampunan untuk dirinya yang hendak dibunuh oleh Wuxin,hayalan ini yang muncul didalam pikirannya yang kacau. "
Shu Jin hanya tersenyum dan diam-diam tertawa melihat tingkah aneh sang putri.
Pfffft. . . . . "menahan tawa".
Untungnya, Xiaoqiao tidak mendengar ini karena dia sibuk berfantasi dan tidak tahu apa yang dipikirkan gadis kecilku sekarang.
"Selesai berfantasi".
WuXin: Oh, ya, Shujin, bagaimanapun, Setelah semua ini sudah beres.
kau temui aku dan kakek ke halaman depan. Aku ingin berbicara denganmu tentang sesuatu.
Tap. . . Tap. . . Tap. . .
"Pergi meninggalkan".
"Hehh"menghela nafas."
"Gadis itu meninggalkanku segera setelah berbicara, dia bahkan tidak memberiku waktu untuk menjawab apakah aku setuju atau tidak menjadi pelayannya, heh "menghela napas". Ini benar-benar membuatku sakit kepala. "Sakit kepala", "mengerutkan dahi." Kata ShuJin didalam hatinya. .
Shujin:Meski begitu, tapi aku menyukainya, perannya saat ini membuatku lebih tertarik pada sifatnya yang sangat menarik."tersenyum".
__ADS_1