
#1
Di sore hari yang cerah di Desa Asam Manis yang berada di Benua Bintang.
Siho dan Ayahnya pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar.
Siho sekarang berumur Delapan tahun.
"Ayah aku sudah dapat banyak kayu bakar" Triak Siho, sambil mendekati Ayahnya yang tidak jauh dengannya.
"Ooo, kalau gitu ayo kita pulang! Kayu bakar yang kita dapatkan, sudah cukup buat memenuhi kebutuhan kita selama tiga hari" Ucap Ayah Siho sambil tersenyum dan memandanginya.
"Ibu pasti senang kita dapat kayu bakar yang banyak." Ucap Siho Semangat.
Merekapun pulang ke desa, sambil memikul kayu bakar yang mereka dapatkan.
Ayah Siho bernama Ernis, dia pemimpin dari Desa Asam Manis. Ubu Siho bernama Riri, Istri dari Ernis.
Sewaktu mereka pulang ke Desa, tiba tiba mereka melihat asap yang sangat pekat di langit.
"Ayah lihat ada asap di sana!" Sambil menunjuk ke arah asap.
"Asap!!! Astaga!!! Itu berasal dari desa kita." Ayah Siho terkejut dan meletakan kayu bakar yang dia bawa ke tanah.
"Ayo anakku kita harus cepat, Letakkan kayu bakar yang kamu bawak itu!" Sambil melihat asap yang diduga berasal dari Desanya.
Ayah Siho menggendongnya dan berlari ke arah desa dengan secepat yang dia bisa.
Setelah dekat dengan desa, Ayah Siho tiba tiba berhenti dan bungkam melihat kondisi Desanya.
"Ayah ada apa?" Heran melihat ayahnya yang tiba tiba berhenti.
Siho melihat ke arah desa, diapun turut terdiam sama seperti ayahnya.
Api banyak membakar rumah penduduk Desa Asam Manis, termasuk rumah mereka. Banyak teriakan para penduduk yang histeris.
"Monster! Monster! Desa kita di serang Monster Goblin" ucap Ayah Siho dengan kaget.
Siho hanya terdiam dan terus memandang ke arah desanya.
"Anakku kamu harus diam di sini!" Sambil memegang pundak Siho dan memandang wajahnya.
Ayah Siho berpesan, untuk tetap berada di hutan, kalau ayahnya tidak kembali dan Desanya semangkin memburuk, ayah Siho menyuruh dia untuk meninggalkan tempat ini dan mencari perlindungan ke tempat lain.
Siho hnaya terdiam, dia mengetahui stuasinya saat ini sangat kacau. Dia tidak mau mempersulit Ayahnya.
__ADS_1
"Ayah dan Ibu harus kembali!" Ucap Siho ke Ayahnya sambil menahan air mata.
Ayahnya pun pergi meninggalkannya untuk membantu penduduk desa, sambil mencari Riri istrinya.
Sesaat setelah dia tidak lagi bisa melihat Ayahnya, tiba tiba air matanya mengalir tanpa dia sadari.
Tidak lama dari itu Siho mengusap air matanya dan memanjat pohon untuk melihat stuasi Desanya lebih jelas.
Setelah naik ke atas pohon, dia melihat pemandangan yang sangat mengerikan di Desanya.
Rumah rumah di bakar, Warga banyak yang terbunuh, Kepala dan badan penduduk banyak yang terpisah, Tak hanya itu, para monster membunuh dan memakan daging manusia.
Dia melihat Ayah dan Ibunya terbunuh, Ayahnya tergeletak di atas tanah, tubuhnya sedang di makan oleh Monster Goblin dan Ibunya, dia hanya bisa melihat tinggal kepala Ibunya yang tersisa, tergeletak di atas tanah.
Setelah dia melihat Ayah dan Ibunya yang terbunuh, seluruh tubuhnya menjadi lemas dan mulai tidak sadarkan diri, setelah itu dia terjatuh dari atas pohon.
Setelah sekitar empat jam tidak sadarkan diri, Siho terbangun.
Hari sudah gelap yang menandakan hari sudah malam.
Tidak lama setelah sadar, dia teringat kembali kejadian yang menimpa Desanya dan kedua orang tuanya.
Air mata terus mengalir tanpa henti, Ingatan yang menimpa Desanya dan kedua orang tuanya selalu terlintas di kepalanya.
Tanpa sadar hari sudah mulai terang, yang menandakan pagi sudah datang.
Dia menghapus air matanya dan kembali memanjat pohon, untuk melihat keadaan Desanya kembali.
Rumah penduduk abis terbakar, Banyak mayat tergeletak di atas tanah, Anggota badan penduduk yang sudah tak bernyawa banyak yang tidak utuh. Badan, kepala, tangan, kaki banyak yang terpisah dari tubuh penduduk.
Sudah tidak ada lagi monster yang berada di desanya
Siho turun dari pohon dan pergi ke desanya.
Sekarang dia sudah berada di desa.
Bau amis darah menyengat hidungnya.
Pertama kali yang dia lihat di desa, lebih mengerikan dari apa yang dia lihat dari atas pohon.
Desa Asam Manis yang memiliki penduduk sekitar seratus lebih jiwa, termasuk anak anak, dan ada sekitar empat puluh rumah penduduk.
Hampir semua rumah penduduk rata dengan tanah, dan mayat mayat berserakan.
Siho yang melihat pemandangan ini, tubuhnya lemas, dan napasnya mulai sesak.
__ADS_1
Siho berjalan perlahan-lahan, masuk lebih dalam ke desa, untuk mencari orang tuanya.
Dia ingat lokasi orang tuanya tidak jauh dari dia berada sekarang, saat dia melihat dari atas pohon kemarin.
Siho mulai berjalan dan terus bejalan, banyak penduduk yang sudah tidak bernyawa di jalan yang dia lewati, dia hanya bisa terdiam dengan apa yang dia lihat.
Sekitar setengah jam mencari kedua orang tuanya, Tiba tiba di hadapannya...
"Aaaarrrrr.." Siho berteriak kencang dan pingsan.
Sekitar setengah jam dia pingsan, dia mulai sadarkan diri, Dia hanya terbaring di atas tanah.
"Ibu.. Ayah.. Apakah ini nyata?" Air mata Siho mengalir deras.
Terlintas di kepala Siho tentang masa masa dia hidup dengan kedua orang tuanya. Saat ibunya bercerita tentang dunia luar. Saat ayahnya mengajak dia mencari kayu bakar. Tidak hanya itu, banyak hal yang terlintas di kepalanya.
Air matanya masih mengalir deras, Dia bangkit dan menuju ke arak kedua orang tuanya, yang hanya tersiss kepala saja.
Dia memindahkan ibunya dan meletakan di dekat ayahnya, dan setelah itu dia duduk di dekat kedua orang tuanya.
Tiba tiba hujan turun dan membuat hatinya tambah sedih.
"Ehk ehk ehk" Kriasta menangis sambil tersedak sedak.
Hujan mulai berhenti turun, Waktu menunjukan hari sudah sore.
Siho bangkit dan membawa kedua orang tuanya ke tanah lapang, yang berada di tepi Desa, dia berencana akan memakamkan kedua orang tuanya dengan layak.
Dia mengambil alat dan menggali tanah, sekitar satu jam dia berhasil menggali dua lubang.
Dia menguburkan ke dua orang tuanya.
"Ayah.. Ibu.. Sekarang apa yang harus aku lakukan?" Siho duduk di samping ke dua makam orang tuanya, sambil menanyakan hal apa yang harus dia lakukan.
-------------------------------
Catatan penulis:
Terima kasih yang udah mau mampir di sini.
Ini cerita pertama saya, mohon dukungannya dengan vote setiap chapter cerita ini.
Kasih bintang 5 di penilaiannya juga (sedih coy penilaiannya 0,2).
IG: @SantunSolihin
__ADS_1