Lily.

Lily.
1.Aku dan Dia yang aneh


__ADS_3

"Dunia tidak akan berhenti meskipun duniamu sedang runtuh".-quotes nemu di Instragram.


Aku tertawa sinis membacanya. Kadang memang seperti itu kenyataannya.


Aku masih dengan kegabutanku diatas kasur. Tanganku sibuk menscroll layar handphone Androidku. Entah sudah berapa aplikasi yang aku buka. Sambil mendengarkan lagu di radio Prambors.


Tidak ada ide.


Ibu pergi dengan adik ke pasar. Ayah sedang main kerumah Pak le tidak jauh dari rumahku. Rumah hari ini terasa sepi. Aku sengaja tinggal dirumah karna niatnya mau belajar untuk ujian yang tinggal menghitung hari. Tapi entahlah niat hanya niat tapi tanganku tidak mau diajak kompromi untuk berhenti menscroll layar handphone.


Sudah hampir sejam. Buku yang aku tumpuk di atas meja yang niatnya mau kubaca hanya kubiarkan tergeletak rapi belum bergeser sedikitpun.


Perlahan kulihat jam di dinding. Dan mencoba melawan rasa malasku.Tapi sesaat aku mendengar suara seseorang seperti sedang teriak. Ku lihat dari jendela apa ada seseorang di depan pintu rumah. Ternyata benar. Ku lepas sepasang headset di telingaku. Dia adalah Aden. Kaka kelasku yang hobi nya jahil. Hampir setiap hari dia kerumah. Rumahku baginya seperti rumah keduanya katanya.


"Masuk aja nih kuncinya. Biasanya juga naik lewat jendela tumben sopan." Omelku dari jendela kamarku. Lalu kulempar kunci itu dan jatuh tepat sekali ke tangannya.


"He. Lu tuh yang ga sopan. Dasar ade kelas ga tau sopan santun bisa-bisanya lempar kunci bukannya di bukain tamu agungnya." Aden berteriak seperti cewe lagi PMS.


Tak ku hiraukan. Kupasang lagi kedua headsetku dan kembali rebahan dikasur. Baru saja kujatuhkan tubuhku ke kasur si Aden sudah teriak didepan kamar.


"Lolaaaaa".


Ya Tuhan dia mengganti namaku sesuka hatinya. Tidak ku hiraukan lagi. Ngomong-ngomong namaku Lily Benangi bukan lola.

__ADS_1


Brakkkk. Pertanda pintu kamarku terbuka dengan paksa oleh siapa lagi kalau bukan oleh Aden mubaroq . Tetap tak ku hiraukan. Tunggu sampai mood ku kembali normal dan melupakan betapa sebalnya aku di ganggu oleh makhluk halus seperti Aden baru ku hiraukan kehadirannya.


Dengan napas terengah-engah dia mendekatiku. Padahal tangga dirumahku tidak sampe 20 anak tangga cuma 18 kalo ga salah. Tak bisa dibayangkan pasti Aden lari menaiki tangga itu. Untuk apa coba? lari atau tidak toh tujuannya pasti tercapai. Lupakan saja. Bukan Aden kalo tidak aneh.


Dia naik ke kasurku lalu mencium keningku kedua pipiku lalu tidur disebelahku sambil memelukku. Aku terdiam beberapa saat untuk mencerna kejadian barusan. Kupukul bahunya sekencang-kencangnya.


"Apa-apaan lu bambang. Kenapa ga kerumah cewe lu sana dasar orang aneh. Punya cewe juga datengnya ke gue mulu. Kalo sukanya sama gue putusin sana cewe lu trus lamar gue nikahin gue udah deh bahagia. " Aku nyrocos panjang kali lebar untuk kesekian kalinya karna kelakuan aneh Aden.


Ini bukan pertama kalinya dia begitu. Aden memang sangat manja kepada keluargaku. Ibuku adeku ayahku semua mengenal baik Aden dia bahkan sering sekali menginap disini makan disini mandi disini sudah seperti anak pertama ibu dan ayah. Aku sendiri sudah mengenalnya dari umur 10 tahun berarti waktu itu Aden umur 12 tahun. Kelakuannya tidak pernah berubah dari dulu. Herannya dia itu punya pacar tapi kenapa masih berkelakuan seperti itu kepadaku. Tapi sebrengsek-brengseknya Aden dia itu cuma berani manja seperti itu kepadaku saat dia sedang tidak ada status dengan cewe lain. Kalau dia sedang ada pacar biasnya dia cuma singgah kerumahku sebentar lalu pergi. Ngobrol makan ga nglakuin aneh-aneh. Tapi kalo udah ga punya cewe kelakuannya berubah 180 derajat. Ya tuhan kau anggap aku ini apa aden?


"Gue putus sama lia."


Hela Aden. Dia tetep di belakang tubuhku. Memelukku. Aku membelakanginya karna masih emosi. Aku diam saja mendengarnya. Sambil memainkan handphoneku.


Lagi-lagi aku terdiam seribu bahasa. Aku mengerti arah pembicaraannya.Aku membalikkan badanku lalu memeluknya erat ku sisir rambutnya dengan jariku agar dia bisa tidur seperti biasanya. Dan adenpun memejamkan matanya. Dia perlahan tertidur. Untuk kesekian kalinya aku melihat aden seperti bayi baru lahir sikap manjanya wajah lelahnya tak bisa ku deskripsikan satu persatu yang ku tahu dia benar-benar lelah hari ini.


Aku memutar lagu kesukaanku sambil menunggu Aden terlelap. Sudah hampir setengah jam. Tiba-tiba handphoneku berdering.


Panggilan suara whatsapp.


Ayah.


"Iya hallo yah.. "

__ADS_1


"Aden sama kamu?"


"Iya nih tidur dikamar lily. Ayah mau ngomong?"


"Ngga udah biarin aja dia tidur. Semalem ga pulang kayanya dia. Nanti ayah suruh ibu masak yang banyak buat aden juga. Jangan ganggu tidur dia."


"Iya yah.. "


Aku tau ayah di rumah. Dia pasti di bawah sudah pulang. Entahlah. Aden pasti benar-benar baru pulang dari kelananya terakhir aku melihatnya hari rabu di sekolah bersama ka Lia trus besoknya aku tidak pernah melihatnya. Baru hari ini aku melihatnya. Dia juga masih mengenakan celana dan baju terakhir yang dia pakai. Sebenarnya dari mana dia?.


Aku melepas pelukan aden. Aku berbisik lirih kepadanya.


"Bentar ya mau mandi. Bau ni gue belum mandi dah aden semoga mimpi indah"


"Ga mandi aja wangi" ucap aden.


Aku bergidik aneh tidur tapi tetep bisa ngomong tidur ga sih. Dahlah.


Aku turun ke bawah melihat ayah ibu dan adik sudah pulang semua. Lalu menatapku aneh.


"Aden ga cerita apa-apa ly?" Kata ibu penasaran.


"Belum. Emang dia kenapa bu? Dia dari mana?" Sepertinya cuma aku yang tidak tahu apa-apa tentang aden. Ibu dan ayah juga tidak menjawab. Dia cuma berkata.

__ADS_1


"Tunggu aden cerita aja".


__ADS_2