
Aku menatapnya sesekali. Postur tubuhnya yang lebih tinggi membuatku merasa nyaman dan tenang seperti berada di sebelah malaikat pelindung. Belum lagi tubuhnya yang ideal. Duh Lily sejak kapan kamu mulai memperhatikan Aden. Ngomong-ngomong Aden salah satu murid sekolah perbakin di lapangan tembak senayan. Tapi tidak banyak yang tahu karna Aden termasuk siswa yang pendiam tidak banyak omong.
Aku senang Aden tidak jadi pergi. Dia mendengarku dan tetap dirumah. Disudut kamarnya ku lihat Aden duduk dengan setumpukan buku tugas dan laptopnya. Aku memandanginya dari jauh. Kebetulan di rumahnya ada peralatan melukis. Jadi aku melukis saja sambil menemani Aden di kamarnya. Aku duduk di balkon kamar Aden sambil minum teh manis buatan bibi.
"Lily."Bibi memanggilku. Aku langsung menoleh begitupun Aden.
"Iya kenapa bi?" Aku lalu membersihkan tanganku dan berjalan keluar.
Ternyata si bibi manggil karna punya dua cup ice cream kesukaan ku. Lalu memanggilku untuk memakannya.
"Ahhh bibi love u." Ucapku seraya mengambil cup itu. Tapi tidak kubawa ke kamar. Aku makan berdua dengan bibi.
"Bi aden kalo belajar serius banget ya?" Tanyaku iseng.
__ADS_1
"Iya ly dia bader tapi kalo belajar fokus bibi kagum sama Aden mandiri bisa ngatur waktu...bapa tuh jarang banget dirumah kadang Aden tuh pasti kesepian ..untung suka ada kamu sama bu diana yang dateng... oiya Lily sama Aden sekarang udah gede yah ga sabar bibi tuh liat kalian nikah." Ucap bibi spontan.
Aku menatap bibi. Memahami setiap perkataannya. Seperti ada yang keliru. Aku memang dekat dengan Aden tapi dia sama sekali tidak pernah memintaku untuk jadi pacarnya. Iya seandainya aku mulai suka padanya apa dia juga begitu? Entahlah. Aku hanya tersenyum mendengar bibi berkata hal konyol seperti itu.
"Kalo jodoh ga bakal kemana ya bi." Ucap Aden sambil berjalan ke arahku lalu mengambil cup ice cream miliku dan memakan ice creamnya. Aku mendengus kesal.
"His itu punya gue."
Setelah memakan ice cream dengan bibi. Aku lalu membereskan sisa cat yang kupakai di balkon. Ku pandangi sebentar hasil lukisanku. Aku menggambar seorang anak laki-laki dan perempuan yang sedang makan apel di bawah pohon. Itu adalah memori ku bersama Aden. Entah Aden ingat atau tidak. Aku taruh hasil lukisan itu dikamarnya. Lalu pamit karna hari sudah mulai gelap.
"Lo balik gue yang anter ya ly tunggu gue mau mandi dulu."
"Kan gue bawa mobil." Jawabku singkat.
__ADS_1
"Yaudah pake mobil lu nanti gue nginep dirumah lu aja."
"Dih."
"Tenang gue ga bakal gangguin lo."Seperti membaca pikiranku. Aden langsung berkata begitu.
"Yaudah terserah."
Sambil menunggu Aden mandi aku tidur-tiduran di kamar Aden. Kamarnya wangi rapi untuk ukuran kamar cowok ini adalah kamar yang nyaman untuk istirahat. Iyalah pasti bibi yang rajin beresin. Aku terus memandang bingkai kosong yang waktu itu kulihat dari luar. Aku penasaran foto siapa yang akan dipasang disana. Aku tidak bohong aku jika aku sedikit berharap suatu saat fotoku yang ada disana tapi jodoh tidak bisa diminta perjalanan kita masih jauh entah apa yang akan terjadi denganku atau Aden esok hari aku tidak tahu.
Aku ingat di dompetku ada foto ukuran 3 x 4 milikku. Aku iseng menaruh fotoku di bingkai itu. Di balik foto itu aku tulis. "Aku daftar." Aku tau aden tidak akan langsung melihat foto itu. Mungkin suatu saat dia akan tertawa terbahak-bahak. Tak apa untuk menghiburnya. Dia juga pasti ga bakal nyadar kalo aku beneran lagi daftar. Hiks.
Ngomong-ngomong Aden itu kalo mandi lama sekali ya. Aku sampe ngantuk nungguin dia. Melebihi aku waktu mandinya. Saat main game di handphone sambil nunggu Aden lama-lama aku tidur.
__ADS_1