
Kemarin saat dirumah Aden aku melihat kedua tangannya seperti ada bekas luka yang sudah kering. Aku tidak berani bertanya luka apa itu , saat aku menyentuh lukanya Aden cuma berkata "Ini kegores pintu rumah kemarin". Aku cuma mengangguk. Tidak ada yang bisa kukatakan selain mempercayainya. Walaupun aku tau dia bohong. Seseorang kalo sudah percaya kepada kita apapun yang berat baginya pasti akan di bicarakan tanpa kita minta. Tapi kalo dia belum percaya itu hak mereka kalau tidak mau bercerita. Mungkin itu adalah salah satu dari privasi mereka.
Aku sudah membelikan salep untuk lukanya. Tapi sudah tiga hari dia tidak kerumah. Meninggalkan pesan juga tidak. Ibu kadang suka khawatir kalo tau Aden tidak kerumah. Takut dia kenapa-napa katanya.
"Aden udah makan belum ya ly? Coba kamu chat dia." Seru ibu sambil masak di dapur. "Ibu masak banyak ni biasanya dia tiba-tiba nongol." Tambahnya.
Aku diam sambil menatap obat luka yang sudah ku beli di apotik kemarin. Aden mubaroq. Dari kecil saja sudah banyak rahasia yang tidak kuketahui. Aku mungkin mengenalnya tapi sama dengan yang lain aku bahkan tidak tau apa yang sedang dia lakukan setiap harinya. Banyak hal yang dia sembunyikan dariku. Tapi aku tidak banyak bertanya karna sungguh aku memang belum mengerti. Mungkin sekarang aku baru sadar rasa khawatir itu tiba-tiba suka muncul. Sedang apa dia. Dengan siapa. Apa dia baik-baik saja?.
Enam tahun yang lalu. Aku ingat betul saat malam hari entah dari mana ayah menggendong Aden yang berlumuran darah. Aku takut sekali melihatnya terlebih aku tidak mengenalnya. Saat aku melihat raut wajahnya seperti raut penuh kebencian melihat lukanya mungkin jika aku yang ada di posisi dia aku sudah nangis tersedu-sedu menahan sakit. Tapi Aden dia hanya diam tanpa ekspresi. Tatapannya kosong. Susah dimengerti. Aku yang waktu itu baru berumur 10 tahun hanya diam dan menjauh dari Aden. Aku masuk ke kamar bersama adiku yang baru berusia 2 tahun. Ibu sendiri yang memintaku untuk masuk. Sedangkan ibu dan ayah membersihkan luka Aden dan menenangkannya.
Aku sudah hampir lupa kejadian itu. Tapi selalu teringat sesaat setiap kali mataku beradu dengan matanya. Entahlah banyak sekali cerita yang menarik darinya tapi seperti sangat sulit ku mengerti kadang aku bahkan seperti orang yang tak mengenalnya.
Pernah aku bertanya kepada ibu. Tentang siapa Aden dan kenapa dia waktu itu. Ibu hanya menjawab nanti juga kamu tahu kalo sudah besar. Besarnya kapan toh bu. Aku penasarannya sekarang.
Dua malam setelah kejadian itu. Aku mendengar percakapan ibu dan ayah samar-samar seperti mereka berkata bahwa hari itu saat ditemukannya Aden adalah hari kematian ibunya juga. Tapi lagi-lagi aku hanya tau sebatas itu. Tidak lebih.
Sebelum jadi pembisnis seperti sekarang ayah Aden dulu adalah mantan letnan jendral TNI. Kalau tidak salah dia menjadi anggota TNI selama kurang lebih 25 tahun lalu naik jabatan menjadi mentri pertahanan satu periode. Setelah itu tidak ada kabar lagi beliau di TNI kudengar Pak Aleno yahya pensiun dan meneruskan bisnis keluarga nya yang dulu sempat di ambil alih oleh keluarga Aden karna Ibunya Aden meninggal jadi tidak ada yang mengurusnya.
Tak heran jika Aden hidup serba berkecukupan . Jadi siswa yang kadang paling menonjol dari yang lain. Tak ayal jika kaum hawa pun banyak yang mengincarnya. Tapi walaupun dia hidup berkecukupan Aden itu sangat menjaga privasi keluarganya dia bahkan tidak pernah mendeklarasikan bahwa dia adalah putra dari letnan. Hampir di sosmed bahkan dikelas tak pernah Aden menyantumkan jati diri keluarganya . Bisa di bilang disekolah tidak banyak yang tahu siapa Aden sebenarnya. Bahkan Aden terkesan menyembunyikannya.
__ADS_1
"Ly kamu ga ada acara kemana-mana?" Tanya ibu yang tiba-tiba menghancurkan lamunanku.
"Nda bu. Dirumah saja. Ada apa?" Tanyaku balik.
"Ya gapapa toh. Ibu nanya aja barang kali kamu mau pergi. Jangan ngelamunin Aden mulu nanti suka beneran. Dari tadi ko ya yang dipandang salep trus " Dengan santainya ibu meledekku. Aku hanya membalasnya dengan menatapnya lalu pergi ke kamar. Ibu itu sehari aja tidak menggodaku kayanya ngga bisa deh.
Baru beberapa langkah kakiku naik anak tangga mau ke kamar handphone ku berbunyi. Tanda ada panggilan masuk. Saat ku lihat layar ternyata nomor tidak dikenal tapi photo profil whatsapp nya sepertu ku kenal.
Ka Lia.
Ada apa dia menelponku apa ada masalah.
"Hay de. Sorry gue minta nomer lu ke Jose. Ganggu ga?" Tanya ka Lia dengan suaranta yang terdengar lebih halus dari pada aslinya.
"Ngga sih lagi sante ada apa?."
"Aku hamil."
Demi apapun seketika juga aku rasanya ingin matiin telephone dan gamau ngomong apa-apa lagi. Jadi apa maksudnya dia ngasih tau ke aku? Mau pamer hamil anaknya Aden? Atau apa? Tapi ku urungkan niat emosi ku tadi. Aku tanya baik-baik masalah nya dulu. Untung saja aku masih bisa mengontrol emosi ku yang labil ini.
__ADS_1
"Anak siapa?." Dari semua kata entah kenapa kata itu yang terucap aku paling tidak suka basa basi. Langsung ke intinya saja.
"Aku ga bisa ngomong. Aku mau nanya Aden . Apa kamu tau dia dimana? Aku butuh ketemu dia."
"Maaf ka aku gatau dia dimana. Nanti kalo lihat aku kabarin.
Tut..tut...tut...
Aku tahu aku bukan siapa-siapa Aden tapi mendengar kalimat barusan seandainya itu anak Aden apa iya? Rasanya entah bagaimana aku seperti menolak jika itu ternyata benar. Jadi waktu itu yang ku lihat saat ka Lia nangis itu karna ini. Tapi Aden bilang dia udah putus, kalo emang dia hamilin ka Lia masa iya Aden ga tanggung jawab. Kayanya bukan ka Lia aja yang butuh ketemu Aden. Aku juga kayanya harus ketemu. Ah apa-apaan ini. Persetan apalagi.
Lelah.
Percayalah detik itu juga aku langsung pergi kerumah Aden. Walaupun aku tahu itu percuma. Saat ini Aden pasti tidak ada dirumah. Jarak rumahku dengan Aden lumayan jauh. Karena sudah jam lima sore aku urungkan niatku untuk pergi naik bis. Akhirnya dengan tanpa izin aku ambil kunci mobil di dekat meja makan. Lalu pergi dengan mengendarai Honda jazz yang terparkir diluar.
"Bu aku pergi dulu ya." Teriaku sambil lari ke luar rumah.
"Dasar anak nakal , bohongin ibu ya katanya ga pergi." Umpat ibu yang samar-samar masih bisa kudengar.
Tanpa basa-basi aku langsung tancap gas. Tak sadar aku sedikit hampir hilang kendali sangking ingin cepat sampai kerumah Aden aku sedikit ngebut tanpa perhitungan. Jangan ditiru aku mohon.
__ADS_1