Lily.

Lily.
3. Bingkai kosong


__ADS_3

Semilir angin menyelimuti perjalanan sore hariku yang tiba-tiba terasa lama. Hari ini aku pulang naik bis angkutan umum. Aku duduk sambil menikmati pemandangan ibu kota. Menikmati setiap perjalanan dengan headset yang setia menempel di telinga. Sengaja selalu kubawa untuk mengurangi rasa bosan saat diperjalanan. Percayalah dari setiap hari yang berat kadang saat pulang duduk di bis sambil mendengarkan lagu kesukaan menikmati perjalanan pulang itu adalah salah satu hal yang menyenangkan untuk mengembalikan rasa lelah. Ehe.


Dua puluh menit sudah aku diperjalanan. Saat hendak turun ke halte bis sialnya aku melihat sesuatu yang sepertinya akan menjadi pertanda buruk bagiku. B 123 ADN. Sebuah mobil Porsche 911 sudah terparkir disana seperti sedang menunggu seseorang. Tidak salah lagi itu pasti mobil Aden mubaroq.


"Hay Lily."


Baru saja aku turun dari anak tangga bis. Aku sudah di suguhi senyum lebar lengkap dengan ciri khasnya. Muka sok cool. Ya tuhan tolong hamba batinku.


"Kenapa den? Nunggu gue? Apa siapa?." Tanyaku basa-basi.


" Nunggu lo lah masa sapi." Jawab Aden cetus.


Ku tatap matanya, wajahnya, seperti ada yang aneh seperti anak sedang marah kepada ibunya seperti itulah si Aden saat menyambutku. Ingin rasanya aku tertawa tapi ku urungkan. Seharusnya kan aku yang marah jarak halte ke rumah cuma tinggal beberapa meter trus untuk apa ada dia disini. Padahal sudah membayangkan ingin tidur.


"Iya mau apa emang.?" Jawabku pelan.


Aden tidak menjawab lalu menyodorkan handphonenya padaku.


Pesan.


Ibu Diana.


Den titip Lily ya ibu mau kondangan ke luar kota sekeluarga nunggu Lily takut kemaleman pulangnya. Kalau mau dirumah kamu kabarin nanti ibu jemput si Lily. Jangan lupa makan ya kalian.


12.04


Dari semua chat yang kubaca aku hanya fokus pada jam di bacanya pesan itu jam 12.04 dan ini sudah jam 15.00. Kenapa gitu ga tadi pas disekolah aja bilangnya kan mending semobil dari sekolah. Ini udah mau sampe rumah dia jemput. Sabar Lily. Ini hanyalah cobaan tuhan. Bercanda.


"Trus." Kataku.

__ADS_1


"Yaudah ayo kerumah. Gue gamau tau lu harus masak masakan yang enak yang lebih enak dari yang lo kasih ke Jose. Titik." Seru Aden.


Aku mencoba mencerna maksud dan tujuan dari perkataan barusan. Apa-apaan maksudnya.


"Kan roti bakar. Mau emang di bikinin roti bakar. Yaudah ayo bikin." Kataku.


"Tadi roti bakar Jose juga gue yang makan."


Aku hampir saja melotot mendengar ucapan Aden. Sudah kuduga pantas saja tupperware nya pulang-pulang isi stroberi ternyata ulahnya.


"Kenapa bisa lo yang makan.?"


"Udah jangan nanya mulu kaya dora. Masuk ayo keburu magrib nanti kita disini trus."


Lalu aku masuk dan membiarkan Aden menyetir dengan tenang. Dan akupun tak sadar tertidur saat perjalanan. Tau-tau sudah sampai.


"Besok kalo bawa bekel lagi buat cowo gue hukum."


Aku terbangun lalu bingung dengan ucapan Aden barusan ya kali apa aku salah denger. Aku diam saja tidak merespon. Emang bukan Aden kalo tidak melakukan hal aneh sehari saja.


"Jangan cium-cium gue nanti gue suka bahaya." Omelku. Kebiasaan ga ngerti perasaan orang. Aku kan sudah tumbuh dewasa bukan Lily 10 tahun lagi yang dicium masih biasa aja. Kalo aku beneran baper gimana. Canda baper. Ya ga mau baper juga si masa iya baper sama cowo begitu. Abaikan.


Aku dengan malas masuk ke rumah Aden. Saat aku menengok ke arah Aden. Dia sudah menjinjing tas belanja yang isinya bahan masakan sepertinya.


"Lo yang masak ya den." Rayuku sambil senyum lebar.


"Enak aja lo lah. Calon ibu macam apa yang gamau masak.


"Kan masih calon belum jadi." Kataku

__ADS_1


"Iya nanti di jadiin maksudnya di bantuin." Aden akhirnya luluh juga. Tapi barusan Aden bilang apa? Ahsudahlah.


Rumah Aden itu bernuansa putih. White garden sih sebenarnya. Karena banyak taman taman kecil yang menghiasi rumah Aden di tengah rumah ini juga ada taman diantara ruang tamu dan ruang keluarga. Disebelah ruang keluarga ada dapur dan tempat makan. Aku sudah berkali-kali datang kerumah Aden jadi sedikit hapal isi rumahnya beserta ruangan di rumah ini. Aden kadang cuma sendiri dirumah. Ibunya sudah meninggal, ayahnya seorang pembisnis yang jarang ada dirumah. Aden kadang tinggal dengan bibinya saja tapi minggu ini bibi libur karna sakit jadi dia tidak ada di rumah pergi ke rumah sodara nya katanya istirahat. Untuk rumah sebesar ini dan jarang dihuni pasti akan membosankan jika sendirian dirumah.


Saat hendak ke dapur Aden membuka pintu kamarnya dan menaruh tas diatas meja. Tidak sengaja aku melihat ada sebuah bingkai kosong di dinding kamarnya aku penasaran bingkai foto apa itu. Disebelah kanan kiri bingkai kosong itu ada foto ibu dan ayah aden. Mungkin seharusnya itu diisi dengan foto Aden jadilah foto keluarga batinku.


Aku sebenarnya tidak jago memasak tapi kalau darurat bisa diandalkan walaupun belum sempurna kadang. Tapi aku pengamat rasa yang baik jadi kadang sudah sedikit bisa meniru. Oh iya beda tangan beda rasa tetep. Jadi ya memang tidak seenak masakan ibu. Yang penting bisa dimakan asin manis gurih itu aja si prinsipnya.


Aden membeli spaghetti lengkap dengan saus nya. Aku hanya tinggal menambahkan irisan ayam tomat bawang bombay dan parutan keju sedikit sudah siap untuk dimakan. Sengaja hanya masak untuk dua porsi saja karna ayah Aden memang sedang tidak ada dirumah. Jadi hanya kita berdua saja.


Saat makan dimeja makan dengan Aden aku beranikan bertanya pada nya. Sangking penasarannya aku.


"Den. Itu bingkai foto untuk apa dikosongin? Sengaja?" Tanyaku.


"Oh itu iya sengaja. Nanti gue isi foto calon istri gue. Hehe." Tawanya receh.


"Oh ya. Wow. Jauh banget ya mikirnya emang sekarang belum ada calonnya?."


"Ada tapi masih jauh belum dideketin sama tuhan." Kata Aden yang tidak pernah menjawab serius pertanyaanku. Menyerah sajalah tidak usah bertanya lagi.


"Suatu saat nanti kalo udah ketemu sama jodohnya jagain baik-baik ya." Kataku lembut.


"Siap grak." Seraya memelukku sambil berkata.


"Makasih ya ly udah baik ke gue." Aden benar-benar memelukku erat sampe aku sesak napas.


"gila ya lo sesek napas den gue."


"eh iya maap makan gih nanti istrahat." seru Aden sambil melepas pelukannya.

__ADS_1


__ADS_2