Lily.

Lily.
2.Bekel untuk Jose.


__ADS_3

Setelah kemarin aku dibuat penasaran oleh Aden hari ini kuputuskan untuk mencari tahu sendiri apa yang terjadi dengan nya. Karna berharap Aden bercerita itu adalah sebuah kemustahilan. Aden disekolah dengan Aden yang dirumah adalah Aden yang sangat berbeda. Disekolah dia bahkan tidak menyapaku tidak mengajakku ngobrol bahkan menegurku. Seolah-olah tidak mengenalku. Entahlah aku tidak menghiraukan hal itu. Yang lebih membuatku penasaran adalah kemana Aden kemarin sampe ibu dan ayah pun ikut khawatir.


Langkah pertama yang aku lakukan adalah menemui Jose teman baik aden yang juga sekelas dengan Aden. Kebetulan dia sedang ada di kantin dan tidak sedang bersama Aden. Kuhampiri saja dia.


"Hai ka jose." Sapaku.


Dia lalu menatapku aneh.


"He curut duduk sini. Udah lama ente ga keliatan. Dari mana aja.?"


Aku hanya menjawabnya dengan senyum lebar seraya mengambil minum di teh aan warung es depan meja yang sedang diduduki ka jose. Ka jose memang sedikit jokes sih bagiku jadi abaikan dia mau berbicara apa. Sebelas duabelas dengan Aden.


"Aku sehat-sehat aja ko ka. Jangan khawatir." Lalu sedikit tertawa supaya tidak terlalu serius.


"Yeu penting banget gue mikirin lo."


Baru saja aku duduk ingin ngobrol dengan ka jose. Dari sudut kantin ku lihat ka Lia juga berjalan menghampiri Ka jose. Dan sampe dimeja kami dia langsung menatapku dengan tatapan kesal. Aku belum mengenalnya hanya tau namanya karna dua bulan ini dia menyandang status dengan Aden katanya. Tapi belum kenal satu sama lain. Dari dekat dia terlihat sangat cantik body goal hidung mancung muka kearab-araban rambut tergerai panjang sampai hampir ke pinggang dengan warna dark brown. Cocok dengan Aden. Cowo bad boy sekolah yang di agung-agungkan kaum hawa karna perawakannya yang cool diam tinggi pintar ya tapi tetap saja ngeselin.


"Jose. Ada waktu ga gue mau ngobrol." Kata ka Lia.


"Iya Li duduk aja sini kita mabar makan bareng yahahah." Ka Jose dengan santai nya menjawab ka Lia yang sepertinya ingin meledak marah dari raut wajahnya. Aku hanya planga plongo sendiri.


"Gue cabut aja apa ya." Ucap ku lirih ke ka jose.

__ADS_1


Dari raut wajahnya ka jose seperti berkata "jangan" tapi aku diam saja dia langsung menggenggam tanganku dan berkata.


"Eh kenalin ini cewe gue si lola dari IPA 5 kelas 11."


Aku langsung melirik ka Jose. Dasar laki-laki. Aku cuma mengangguk angguk saja. Aslinya tidak mengerti maksud dia.


"Oh iya? Gue kira lu cewe barunya Aden." Aku waktu mendengar nya seperti ditusuk jarum sulam sangking terkejutnya.


" Gue putus jose sama dia. "


" Tadi nya gue kira lo kesini karna mau ke Aden gue denger denger semua cewe yang mau ke Aden pasti ke jose. " Ucap Ka lia sambil menatapku. Pantas saja dia melihatku dengan tatapan kesal. Pikiran ku mulai melayang-layang. Kalau bisa ditulis mungkin akan ada selembar pikiran yang ku dapat setelah mendengar ucapan ka Lia. Entah aku terkejut mendengarnya atau kaget karna sepertinya Ada yang aneh.


Kebetulan ada roti bakar yang aku buat tadi pagi. Alhasil aku berikan untuk ka jose karna niat hati mau ngobrol tapi ku urungkan karna ka Lia tak kunjung pergi. Aku pamit seraya menyodorkan roti itu ke atas meja.


"Ini gue mau ngasih ini sih tadi ke lu ka."


"Wah kalian beneran pacaran.?" Tanya ka Lia penasaran.


"Dih lu percaya sama dia ka.?" Jawabku sambil berjalan pergi meninggalkan mereka.


"Ko kamu gitu sih sayang." Goda ka jose saat mendengar ucapanku.


Langkah kakiku mulai menjauh dari mereka berdua. Samar-samar aku melihat Ka Lia masih berbicara dengan ka Jose dan sepertinya dia menangis. Tapi tak ku hiraukan. Aku lalu pergi dan kembali ke kelas. Kudapati Ina ada dibangku kelas sedang sendiri sedang membaca novel. Ku dekati dia dan entah kenapa aku langsung bertanya hal konyol yang entah kenapa aku tanyakan.

__ADS_1


"Na.. lu pernah punya temen cowo?"


Ina adalah teman sebangku ku sudah hampir dua semester. Bisa dibilang dia salah satu teman dekatku di sekolah ini. Aku sangat royal kepada siapapun tidak ikut gang manapun. Tidak pernah memihak siapapun. Ya disekolah pasti ada gang gangan atau semacamnya. Tapi aku terlalu malas untuk ikut atau berbaur dengan murid yang mengelompokan diri seperti itu. Aku terlalu cuek untuk itu lebih tepatnya. Kebetulan Ina sama denganku jadi kadang kita sepemikiran.


"Punya. Tuh temen sekelas. Tapi ga akrab." Jawaban Ina singkat padat dan ga jelas. Aku cuma mendengus kesal mendengar jawaban Ina emang iya temen maksudnya kan temen deket gitu Ina.


"Punya dulu tapi udah ga deket lagi semenjak gue punya Liam." Kata Ina dengan muka datarnya.


"Kenapa? Liam cemburu?" Tanyaku penasaran.


" Iya dia cemburuan ditambah ga ada yang namanya cewe sama cowo itu temenan Lily sayang. Suatu saat pasti tumbuh perasaan karna sering berdua. Itu yang Liam omongin." Masih dengan muka datarnya dan novel yang dibaca.


Ada benarnya juga. Pikiran ku mulai terbang ke Aden masa iya Aden ga pernah nyentuh pacarnya tapi dia sering goncengan anter pulang. Trus dia ngapain kalo pacaran. Ga chatan ga jalan. Ngapain di pacarin. Soleh banget. Tapi kenapa dirumah main sosor bebek aja rasa-rasanya. Apa aku cuma pelampiasan doang. Apa dia sebenernya sosor sana sosor sini. Kenapa dia kalo ke aku melukin mulu. Emang dia ga suka meluk pacarnya aja kalo lagi sedih. Entahlah banyak sekali pertanyaan yang aneh yang tiba-tiba muncul. Sudah hampir enam tahun mengenal Aden baru kali ini kepikiran kenapa padahal dari dulu cuek-cuek aja. Baru kali ini juga penasaran dan khawatir sama Aden apa jangan- jangan aku yang suka. Tapi nanti kalo aku tanya. Den lu suka gue? Apa iya dia ga kegeeran setengah mampus. Dahlah.


Entah kebetulan atau tidak samar-samar aku lihat Aden masuk mendekatiku. Untuk pertama kalinya sepertinya dia ke kelasku. Omong-omong dia itu kalo disekolah ga pernah tegur sapa denganku aku awalnya juga ga peduli tapi jadi kepikiran sama sikap anehnya belakangan ini.


"Nih tupperware dari Jose rotinya enak makasih katanya. "


Aku melongo mendengarnya. Cuma kalimat itu yang terucap biasanya kalo dirumah juga bawelnya minta ampun. Sampai-sampai kalo lagi belajar dirumah ga jadi belajar karna dengerin ocehan dia.


"Iya sama-sama." Kuambil tupperware nya lalu dia beranjak pergi. Aku iseng membuka tutup tupperware memastikan rotinya sudah benar habis apa belum karna sepertinya masih ada isinya. Dan benar saja didalam memang masih ada isinya tapi bukan roti melainkan buah stroberi. Yang sepertinya aku tahu itu berasal dari mana. Pasti metik di taman sekolah karna kemarin saat aku melintas taman buah stroberinya lagi berbuah tapi yang tahu suka stroberi kan cuma Aden apa Jose cuma iseng naruh buah buat ucapan terimakasih. Dan kenapa si Aden yang balikin.


"Ngapain lu ngasih bekel ke jose.?suka lu ya sama dia. Ya allah alhamdulillah Lily suka cowo. " Raut wajahnya meledek dengan puas sambil tertawa.

__ADS_1


Aku terdiam. Ya masa iya Jose batinku. Aku hanya ikut tertawa dan membalas ledekan nya dengan tawa dan bahas pembahasan lain dengan Ina.


Jam sudah menunjukan pukul 14.00 akhirnya bel sekolah berbunyi tanda jam pelajaran berakhir. Rasanya ingin cepat sampai rumah. Lalu tidur. Kemarin aku tidak bisa tidur karna Aden nginep dikamarku alhasil aku tidur di sofa dan susah tidur. Aku ingin balas dendam untuk membayar hutang tidurku rasa-rasanya.


__ADS_2