Lily.

Lily.
5. Boomerang


__ADS_3

Kalo sampai Aden tau aku nyetir pasti dia akan marah. Aku masih enam belas tahun belum dapat izin mengemudi. Tapi masa bodo aku ingin cepat sampai bertemu dengannya. Seumur-umur baru kali ini aku sekhawatir ini. Dalam hatiku bertanya apa iya aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa Aden akan jadi seorang ayah dari anak yang dikandung ka Lia. Apa benar Aden? Apa.. kenapa?.


Tidak butuh waktu 30 menit aku tidak tahu kenapa tau-tau sudah ada di rumah Aden. Kulihat dari jauh ada mobil Aden yang terparkir diluar gerbang. Sepertinya Aden juga ada didalam mobil itu. Saat aku berhenti didepan mobilnya Aden langsung keluar dan menghampiriku. Dia memegang tanganku lalu mendekapnya dengan kedua tangannya. Tanganku dingin benar-benar dingin sekali aku benar-benar seperti orang ketakutan. Tapi kenapa?


"Kamu kenapa ly? Kenapa sampe bawa mobil ngebut kaya gitu?." Tanya Aden pelan.


Aku hanya diam.


"Kamu tuh kalo lagi panik kebiasaan sampe kaya orang dari kutub. Itu liat tangan kamu dingin banget begitu. Bahaya tau bawa mobil kalo lagi suasana hatinya begitu. Atau kangen ya sama Aden mau dipeluk sini." Ucap aden yang berusaha menenangkanku.


Ku tarik nafas dalam dalam. Mencoba menenangkan diri. Ku tatap wajahnya. Lalu kuberanikan diri untuk bertanya.


"Ka Lia ngandung anak siapa?"


Aden langsung menarik tanganku lalu memelukku erat. Dia mengelus rambutku dan berkata.


"Lo jauh-jauh kesini gara-gara itu?"


Sebenarnya tadi sebelum kerumah Aden saat di rumah aku berusaha untuk menghubungi Aden tapi tak ada hasil. Lalu aku menelpon ka Jose dan menanyakan apa Aden lagi bersamanya atau tidak.


"He kenapa semua orang nanyain si Aden ke gue ya tuhan." Jawabnya di telpon


"Emang siapa yang nanya selain gue ka?"

__ADS_1


"Si Lia barusan telpon gue juga."


"Ka rabu kemarin Aden kemana sampe luka-luka gitu ditangannya.? Lo tau kan."


Dan setelah nelpon ka Jose baru aku paham kenapa Aden jadi seperti itu. Saat pulang kerumah ku dengan penuh luka. Ternyata itu sebabnya. Baru aku sadar jarak diantara aku dengan Aden begitu jauh yang tadinya kukira kita teman baik ternyata tidak . Aden bahkan tidak menceritakan apapun tentang yang ia alami belakangan ini.


Aku tidak marah tentu. Sekali lagi dia mungkin punya alasan sampai tidak menceritakannya padaku. Aku lalu tersenyum pada Aden. Mengetahuinya saja aku sudah bersyukur. Aku masih bisa melihat Aden yang ceria seperti biasanya.


"Lily sayang.. gue belum tau dimana ayah bayi yang dikandung Lia. Semoga aja kita bisa cepet nemuin cowok brengsek itu ya. Doain." Pinta Aden dengan tatapan tenangnya.


Aku tau tadi Aden tidak dirumah. Karena tadi aku sempat nelpon rumah dan bibi bilang Aden tidak dirumah. Saat dia memelukku aku juga mencium bau parfum yang suka ia kenakan saat pergi. Biasanya kalo dirumah dia tidak mungkin serapi itu. Karena saat ini dia mengenakan levis dan kaus hitam yang dipadukan kemeja flanel. Dia juga mengenakan sepatu bukan sandal. Terlebih mobilnya ada diluar.


"Aden tau dari siapa Lily mau ke Aden?" Tanyaku.


Ibu. Apa ibu tadi menguping pembicaraanku dengan ka Jose kenapa dia tau aku mau pergi kesini. Wah mereka berdua hebat sekali bisa menebak gerak gerikku.


"Den gue mau disini gapapa kan."


Aku tau Aden tadi dimana . Kata ka Jose dia mau nemuin ka Tio. Ka Tio adalah mantan pacar ka Lia yang sudah menghamili ka Lia menurut ka Jose. Ka Tio adalah anak dari kepala sekolah Garuda tempat ku bersekolah. Dia seangkatan dengan Aden dan ka Lia. Aden sebenarnya tau siapa yang menghamili ka Lia dari awal. Tapi dia tidak memberi tahuku pasti karna kabar itu belum bisa dipastikan dia baru saja mau bertemu ka Tio hari ini terlebih ka Tio adalah anak dari kepala sekolah pasti Aden dipaksa untuk diam. Begitupun ka Jose. Dia sebenarnya tidak mau memberitahuku. Tapi aku memaksanya.


Ka Tio itu brandal sekali aku tau betul tentangnya karna satu sekolah. Dia pasti tidak akan tinggal diam kalo tau Aden ikut campur urusan pribadinya. Entah kenapa aku tidak ingin dia pergi menemui Ka Tio seberapa pentingnya itu jika membahayakan Aden aku lebih baik mencegah dari awal.


"Boleh yaudah ayo masuk Lily udah makan belum.?" Seraya menggenggam tanganku lalu menariku untuk masuk kerumah.

__ADS_1


Aden aku mungkin gatau apa-apa tentang kamu dan dunia kamu tapi aku akan mulai mencari tahu itu mulai hari ini.-batinku.


Cerita dari ka Jose.


Rabu kemarin saat pulang dengan ka Lia saat sampai rumahnya Aden ditarik oleh ayahnya ka Lia. Lalu disidang habis-habisan dirumahnya. Waktu itu Aden disuruh memberi nomer telephone keluarganya dan malah memberikan nomer ayahku makanya waktu itu ayah dan ibu tau masalah Aden tapi mereka enggan untuk menceritakannya padaku.


Aden di tuduh menghamili ka Lia oleh ayahnya tuduhannya bukan tanpa alasan. Ada seseorang yang memberitahu pada ayahnya kalo sekarang Aden dan ka Lia pacaran. Terlebih ka Lia juga berkata bahwa Aden lah yang menghamilinya. Aden waktu itu hanya planga plongo saat dituduh.


"Saya pacaran juga ngga pa sama Lia. Lia yang maksa saya buat pura-pura pacaran. Saya juga tau dia hamil makanya saya ga berani ngasarin dia." Dengan lantang Aden menjawab tuduhan itu.


"Saya tidak percaya dengan kamu!" Ayahnya ka Lia sudah tidak bisa mengontrol emosi. Masalahnya ayahnya ka Lia adalah seorang dosen di salah satu fakulitas UI pasti dia sangat marah waktu tau anak semata wayangnya telah hamil diluar nikah.


"Lia kamu ngomong dong sama ayah kamu kenapa diem?" Tanya Aden dengan sedikit bingung. Karna Lia diam tak membelanya lama-lama dia sadar pasti dia lagi dijebak. Dia mencoba manahan diri dan mengikuti permainan dari Lia.


Aden tidak boleh pulang sampai dia bersedia menikahi anaknya. Dan selama tiga harian tangan Aden di ikat dengan borgol agar tidak kabur. Dia sering digampar dan ditendang ayah Lia. Apapun caranya agar Aden mengakui kesalahan yang sebenarnya bukan kesalahannya. Aden hanya senyum sinis menghadapi perlakuan ayah Lia.


Tunggu sampe saya menemukan cowo brengsek itu om.-Aden.


Sekarang Aden paham kenapa Lia tiba-tiba minta dia buat pacaran pura-pura didepan ayahnya. Agar ada orang yang bertanggung jawab atas kehamilannya.


"Den gue hamil dan belum tau bapa dari bayi ini dimana lo mau bantu gue kan kalo orang sibuk mikir gue pacaran sama lo pasti ga bakal ada yang merhatiin perut gue. Lo cuma anter jemput gue doang ke rumah biar gue ga perlu naik angkutan umum perut gue udah semakin besar." Kata ka Lia waktu itu. Tapi saat dirumah pun dia juga bilang ke ortunya kalo Aden adalah pacarnya. Aden cuek aja waktu itu ga sampe mikir itu bakal jadi boomerang baginya . Karena niat mau bantu takut-takut Lia depresi karna lagi hamil tapi belum ketemu cowonya dia pasti bingung sendiri. Nasi sudah menjadi bubur.


Kata ka jose saat menceritakan malam itu.

__ADS_1


__ADS_2