
“baiklah kalian boleh memberitahu mereka tapi dengan satu syarat ya, yaitu....”
Aku sedikit menjeda ucapanku, dan mereka berdua terlihat sangat seksama mendengar ucapanku.
“yaitu lakukan jika aku sudah meninggal atau jika mereka bertanya tentangku, oke?”
“heh! kenapa?!” ucap mereka bersamaan.
“kan aku sudah bilang, aku tidak ingin—..”
“membuat mereka khawatir atau bersedih? Alasan macam apa itu?” ucapanku terpotong oleh Zhao Lei
Sedangkan aku hanya tersenyum polos tanpa dosa. Ryugi menghela nafas maklum begitu juga dengan Ryosuke. “kau ini tidak pernah berubah ya? Kau akan selalu memegang teguh keinginanmu, baiklah kami akan melakukan seperti yang kau inginkan. Tapi mulai detik ini kau harus hidup dengan penuh kebahagiaan oke?” ucap Ryosuke
“hhh baiklah kami juga akan mengikuti kemauanmu” ucap Xujia yang diangguki oleh Zhao Lei
“baik kak! Aku janji!... terima kasih teman-teman” ucapku sambil tersenyum
Setelah percakapan yang cukup panjang itu akhirnya aku diperbolehkan pulang. Zhao Lei dan Xujia meminta untuk ikut karena ingin mengetahui rumahku dengan alasan ingin bermain bersamaku setiap hari atau paling tidak saat mereka sedang tidak bekerja. Ryugi menyambut baik maksud mereka. Mungkin Ryugi berfikir jika aku memang butuh teman, dengan alasan agar aku tidak bosan dirumah seharian.
***
“aah kenapa dari tadi aku kalah terus sih?! Pasti kalian curang ya!!” protesku
Sudah dua bulan berlalu sejak aku dirawat dirumah. Kondisiku bisa dibilang stabil meski tidak ada perubahan positif. Dan selama dua bulan ini Xujia dan Zhao Lei benar-benar bermain dirumahku setelah sekolah atau setelah mereka bekerja. Tidak pernah absen sama sekali. Padahal sebelumnya mereka bilang jika ada pekerjaan mereka tidak akan datang namun ternyata ada atau tidak adanya kerjaan pun mereka tetap datang kemari.
Kini kami sedang bermain tebak kata, dan yang kalah akan di coret mukanya dengan spidol sebagai hukuman. Sudah lima kali kami bermain dan aku selalu kalah. Mukaku yang awalnya bersih kini dipenuhi coretan-coretan yang hampir memenuhi seluruh bagian wajahku, sedangkan Zhao Lei dan Xujia hanya mendapat satu atau dua coretan.
‘hhh entah kenapa aku jadi membenci permainan ini’ batinku
“ahahah kau sendiri yang tidak pintar bermain kenapa malah menyalahkan kami? Pfftt ahahaha” jawab Xujia yang tidak dapat menahan tawanya begitu pun Zhao Lei yang kini sedang
“ish! Berhenti tertawa!”
“Xujia, Zhao Lei kalian jahat sekali menertawakan Risa begitu” ucap Reina
Apa aku lupa bilang jika saat ini kami sedang berkumpul berempat? Sepertinya iya, ya. Sebenarnya Reina baru datang beberapa menit yang lalu.
“ish Reina juga sama, kau menertawakanku! Hmph!”
“baiklah, baiklah maafkan kami. Jadi kau ingin melakukan apa setelah ini?”
Aku berfikir sebentar mempertimbangkan pertanyaan Xujia.
“ah bagaimana jika kita ke taman bermain? Aku bosan berada dirumah terus” jawabku
__ADS_1
Tapi Zhao Lei, Xujia dan Reina malah terdiam dan saling menatap satu sama lain.
“kenapa?” tanyaku
“jika keinginanmu begitu, kau harus bilang kedua orang tuamu dulu. Kami tidak bisa seenak hati membawamu keluar, ditambah kondisimu yang... emm..”
Suara Xujia berhenti dengan ragu. Disatu sisi aku setuju dengannya, hanya tinggal menunggu hari sampai hari kematianku tiba. Meski tidak tahu pasti kapannya tapi pasti tidak akan laMa. Karena hari kelulusan Ryosuke, Jun dan Yibo sudah dekat. Dan di hari itulah perkiraan hidupku akan berakhir.
“ah iya kau benar. Nanti akan aku bilang pada Mama dan papa” jawabku
“bilang apa pada kami?”
Tiba-tiba suara Mario terdengar dari arah pintu masuk. Kami yang sedang berkumpul diruang tamu serentak melihat ke arah Mario dan Ryugi yang baru saja pulang dari rumah mereka di kota tetangga.
“mama! Papa! Kalian sudah pulang” aku dengan cepat langsung berlari ke arah mereka dan langsung memeluk kedua orang tua ‘Risa’ ini.
“astaga kenapa rasanya putri Mama ini menjadi semakin manja,hm? Padahal baru di tinggal dua hari”
“dua hari itu sangat lama Ma, aku sudah merindukan kalian bahkan beberapa jam setelah kalian pergi” ucapku sambil mengerucutkan bibir dan masih memeluk Ryugi dan Mario
“astaga, baiklah baiklah jadi apa yang ingin kau katakan pada kami?” tanya Ryugi sambil mengusap lembut surai hitamku.
“aku ingin ke taman bermain, bolehkah? Setelah keluar dari rumah sakit aku tidak pernah keluar rumah, aku rindu dunia luar Ma, pa”
Ryugi dan Mario saling pandang. Raut khawatir terlihat jelas di wajah mereka.
Aku menoleh kearah Xujia. Zhao Lei dan Reina pun tersenyum dan mengangguk.
“benar Paman, Bibi kami akan menjaga Risa dengan baik. Karena dia adalah teman berharga kami” lanjut Zhao Lei
“aku mohon, Ma, Pa boleh ya? Aku juga berjanji akan beristirahat jika sudah merasa lelah” rengekku
Mario dan Ryugi pun akhirnya menghela nafas, “baiklah, baiklah kalian boleh pergi. Oh ya diantara kalian bertiga siapa yang bisa mengendarai mobil?”
Walau sedikit bingung dengan pertanyaan Mario, Zhao Lei tetap mengangkat tangan dan berkata, “saya bisa Paman, tapi kenapa menanyakan hal itu?”
“kalian tidak berfikir akan membawa putriku menggunakan sepeda motor kalian kan? Putriku tidak boleh terkena angin luar, jadi lebih baik kalian pergi menggunakan mobil saja. Ini kuncinya”
Mario pun melempar kunci mobilnya kepada Zhao Lei, dan ditangkap dengan mulus olehnya. Sejak beberapa bulan tinggal bersama Mario dan Ryugi aku selalu mendapat kasih sayang yang sama dengan kasih sayang yang aku dapat di keluarga asliku. Bisa dibayangkan betapa senangnya ‘Risa’ jika ia masih ada disini.
“terima kasih Ma, Pa. Ayo teman-teman kita berangkat” ucapku dengan semangat dan langsung berjalan ke arah pintu. Namun sama sekali tidak ada yang mengikutiku, sebaliknya mereka hanya memandang heran padaku.
“kenapa kalian malah diam?” tanyaku
“Risa, kau tidak mau mencuci muka terlebih dulu?” tanya Ryugi
__ADS_1
Mendengar pertanyaan itu aku langsung teringat bahwa wajahku masih di penuhi coretan hasil kalah permainan tadi, aku pun bergegas menuju kamar mandi. Dari ruang keluarga terdengar gelak tawa dari Zhao Lei dan Xujia juga kekehan dari Reina, Mario dan Ryugi.
‘ish bisa-bisanya aku lupa pada coretan ini!’
***
“bisa tidak kalian berhenti tertawa?”
Ucapku sinis pada Zhao Lei dan Xujia yang sejak tadi masih saja tertawa kecil. Padahal kami sudah ada di taman bermain yang tidak jauh dari rumahku, tapi mereka masih saja menertawakan kepolosan –yang hampir mirip kebodohan—ku yang lupa dengan coretan tadi.
“jika saja ibumu tidak memberitahumu tadi, pasti akan lebih seru lagi. Melihat kau yang dengan percaya dirinya keluar rumah dengan wajah penuh coretan... pffft”
“ahaha benar-benar, astaga membayangkannya saja sudah membuat aku geli”
“Zhao Lei, Xujia sudah, kasian tuh pipi Risa sudah seperti bapao karena kalian goda terus”
Aku semakin mengerucutkan bibir. Jujur saja aku tidak terlalu marah hanya kesal, dan lagi pula kapan lagi aku bisa melihat senyum di wajah idolaku seperti ini. Di dunia lamaku aku hanya bisa melihatnya lewat smarphone atau tv. Yah, mari nikmati saja kehidupan ini.
Tidak aku sangka di taman bermain ini ada banyak sekali wahana, mulai dari yang biasa sampai yang memacu adrenalin. Namun Zhao Lei dan Xujia –yang akhirnya bisa menghentikan tawanya setelah satu jam kami berada di sini— hanya memperbolehkan aku bermain wahana-wahana yang aman dan tidak terlalu ekstrem.
Hari sudah senja dan entah berapa lama kami bermain, rasanya tubuhku sudah sangat lelah, jika diingat kembali pun kami belum makan siang tadi namun kini malah sudah menjelang malam.
“uhuk... uhuk”
Ah lagi-lagi aku batuk. Zhao Lei, Reina dan Xujia langsung panik dan melemparkan berbagai pertanyaan.
“a-aku baik-baik saja, tapi sepertinya aku lapar dan lelah... uhuk.. akh”
Tiba-tiba Zhao Lei menggendongku ala bridal style, dengan reflek aku mengalungkan lenganku di lehernya. Aku menatap intens ke arahnya
“kami lupa jika kau belum makan, ayo istirahat makan dulu setelah itu kita pulang, oke?” tanyanya
Aku hanya mengangguk sambil bergumam ‘um’. Kami pun keluar dari area taman bermain dan pergi ke restoran terdekat. Selama perjalanan menuju restoran banyak pandangan yang tertuju pada kami, banyak dari mereka juga yang menganggap kami adalah pasangan kekasih yang mengadakan double date.
Akhirnya kami sudah sampai di restoran dan Zhao Lei pun menurunkanku. Aku sedikit terhuyung akibat tubuhku yang tiba-tiba tidak bertenaga. Namun dengan sigap Xujia dan Reina memapahku, begitu juga Zhao Lei.
‘astaga aku seperti orang penyakitan, ehh tunggu, untuk saat ini kondisiku memang seperti itu ya?, ah sudahlah masa bodo’
***
Membutuhkan 15 menit untuk menghabiskan makanan, tenagaku sudah pulih dan karena sudah meminum obat batuk tadi tidak muncul lagi. Kami pun berjalan ke arah mobil Mario dan berencana pulang, hingga tiba-tiba seseorang memanggil namaku.
“Risa! sudah lama tidak melihatmu di sekolah, kemana saja kau selama beberapa bulan ini?”
Kami berempat menoleh ke arah suara, ada dua pemuda yang sangat aku kenal berjalan menghampiri kami. Aku tersenyum ceria melihat kedua pemuda itu.
__ADS_1
‘aku sangat merindukan mereka!’
......つづく......