
Hari mulai berganti dengan cepat, tidak terasa besok adalah hari kelulusan yang ditunggu-tunggu sebagai penentuan apakah aku bisa hidup lebih lama atau tidak. Sudah tiga minggu sejak aku berhenti meminum obat yang biasa aku konsumsi sebagai pereda nyeri. Ajaibnya meski aku terkadang masih batuk darah tapi tidak ada rasa sakit sama sekali.
“Risa kau yakin ingin datang di hari kelulusan besok?”
Pertanyaan Xujia membuatku agak tersentak, sepertinya aku terlalu larut memikirkan hari esok hingga sempat melamun beberapa saat.
Aku mengangguk, “lagi pula aku sudah berjanji pada Senior Akira dan Senior Hiroki kan? Mereka bilang juga ingin memberi sesuatu padaku, aku penasaran tentang apa yang akan mereka berikan itu”
“tapi kau bisa saja bertemu Senior Wang dan Senior Ueda” ucap Zhao Lei
“tidak apa-apa, aku memang ingin melihat mereka untuk yang terakhir kali” jawabku dengan lirih sambil menunduk, entah apa mereka berdua bisa mendengar ucapanku atau tidak.
Seperti biasa saat ini kami berada di rumahku tepatnya kami sedang di halaman belakang rumah, Zhao Lei dan Xujia baru saja tiba beberapa menit lalu. Mereka kesini setelah pulang sekolah. Reina kali ini tidak berkumpul bersama kami, entah hanya telat atau memang tidak datang aku tidak tau.
Keheningan menyelimuti kami sesaat setelah aku mengucapkan kalimat barusan. Diam-diam aku melirik raut wajah Zhao Lei dan Xujia. Tidak ada ekspresi lain selain kalut dan khawatir.
“sudah lah tidak perlu di fikirkan, bisa saja bukan besok bukan hari terakhirku. Mungkin bisa lebih lama dari itu, jadi jangan pasang wajah seakan-akan besok dunia berakhir seperti itu” ucapku dengan nada santai.
“tapi...” ucapan Xujia menggantung.
“Zhao Lei, Xujia terima kasih ya kalian sudi menemaniku selama satu tahun belakangan ini. Tadinya aku pikir aku benar-benar akan mati dalam kesendirian. Tapi berkat kalian hal itu tidak terjadi”
“Risa jangan bicara seperti itu, kesannya kau sedang memberi ucapan perpisahan. Kami akan selalu bersamamu, tenang saja” balas Zhao Lei
“benar kami akan selalu menemanimu, tidak seperti Fanxing dan Yuuta itu. apa-apaan mereka, bagaimana bisa mereka meninggalkanmu seperti ini!”
Aku terkekeh mendengar ucapan Xujia, wajah nya memerah sepertinya sangat kesal kepada kedua sahabat ‘Risa’ itu. “sudah-sudah tidak apa-apa, itu pilihan mereka kok. Terima kasih Xujia”
***
“uhuk uhuk”
“Risa, keadaanmu semakin memburuk kau yakin ingin datang besok, nak?” tanya Mario
Jam menujukan pukul 11 malam, dan kondisiku semakin memburuk. Bahkan aku merasa tubuhku kehilangan kehangatannya. Secara perlahan aku merasa menggigil.
“iya papa, aku sudah janji pada Seniorku. Aku tidak ingin megingkari janji itu... uhuk.. izinkan aku bertemu mereka setidaknya selama 2 jam untuk mengucapkan perpisahan.. ya?”
“Risa, tapi keadaanmu...”
“aku yakin besok akan membaik Ma, aku mohon boleh ya... jika masih keberatan bagaimana jika Mama dan Papa menemaniku saja?”
“tentu saja kami akan menemanimu, mana mungkin Mama dan Papa membiarkan putri kami pergi sendiri?” tegas Ryugi
“kalau begitu tidak masalah kan Ma?”
__ADS_1
Mario dan Ryugi menghela nafas, kemudian saling tatap dengan pandangan khawatir, “baiklah kami izinkan, tapi hanya boleh 2 jam oke? Lebih dari itu kami akan langsung membawamu ke rumah sakit saat itu juga” ucap Mario
Aku tersenyum mendengarnya “baiklah Papa, terima kasih.. uhuk uhuk...”
Ryugi mengelus punggungku dengan lembut. Sedangkan Mario menatapku dengan cemas kemudian mengelus suraiku. Merasakan kasih sayang mereka membuatku mengantuk dan tanpa sadar aku sudah terlelap masuk ke alam mimpi.
***
Keesokan paginya
Aku dengan semangat bangun pagi dan langsung bersiap untuk menghadiri acara kelulusan Ryosuke. Rambut panjangku aku kuncir twin tail, lalu aku memilih dres pendek berwarna biru berlengan panjang dengan sedikit aksen renda di setiap ujungnya. Lalu aku pun memakai hiasan rambut berupa kunciran berwarna senada dengan dress yang kupakai.
Setelah siap aku langsung turun ke lantai bawah, pagi ini aku merasa tubuhku sudah lebih baik. Mario dan Ryugi sudah ada di bawah, Mario sedang membaca koran di meja makan dan Ryugi yang sedang menyiapkan sarapan.
“pagi Ma, Pa” ucapku sambil memeluk dan mencium pipi Ryugi dan Mario secara bergantian.
“pagi putriku yang cantik”
“pagi sayang, astaga putri Mama ini cantik sekali, tema kali ini serba biru ya?”
“ehehehe iya Ma, ini dress yang di berikan Zhao Lei beberapa hari lalu, bagaimana cocok tidak untukku?”
“tentu saja sangat cocok, mana ada baju yang tidak cocok di pakai oleh adikku”
Aku menoleh ke arah suara, Ryosuke sedang berjalan menghampiri kami yang sedang berkumpul di ruang makan. Penampilannya sangat berbeda dari biasanya. Setelan jas yang dipakainya sangat cocok di tubuh nya yang tinggi.
“loh kakak kok disini? Sedang apa?”
“Papa yang memintanya datang, Ryo sangat sibuk hari ini jadi Papa akan menjadi wali Ryosuke nanti” jawab Mario
Sedangkan aku hanya ber’oh’ ria dan mengangguk paham.
“baiklah ayo semua sarapan dulu, setelah itu kita berangkat”
“baik!/baik!” ucapku dan Ryosuke bersamaan
Kami pun berangkat bersama memakai mobil Mario, aku dan Ryosuke duduk di belakang sambil bercanda dan tertawa. Sedangkan Ryugi duduk di samping kursi pengemudi. Suasananya sama seperti keluargaku sebelumnya, semakin lama aku jadi semakin merindukan keluarga asliku. Apa aku bisa kembali berkumpul bersama mereka lagi?
Beberapa menit perjalanan kami pun sampai di sekolah. Ryosuke dan Mario masuk ke dalam gedung tempat acara berlangsung sedangkan aku dan Ryugi berjalan ke arah taman sekolah selama menunggu acara formalnya selesai.
“waah sudah lama aku tidak kesini, ternyata taman ini sudah lebih indah dari terahir aku datang” ucapku sambil melihat ke sekeliling taman.
Taman yang sebelumnya hanya seperti tanah tak terawat kini menjelma menjadi taman indah dan dipenuhi bunga berwarna-warni. Berbagai macam bunga di tanam di sini, berbagai macam Bunga Mawar, Anggrek, bahkan sampai Bunga Teratai pun ada.
“apa putri mama ini sering datang ke taman ini?” tanya Ryugi dengan nada lembut
__ADS_1
Aku mengangguk, “iya ma, saat jam istirahat atau saat sedang ingin sendiri aku biasa datang kesini, karena sebelumnya taman ini tidak terlalu banyak di datangi orang”
Puk
Ryugi tiba-tiba mengelus rambutku, membuatku agak berjengit dan reflek melihat ke arahnya. Wajah Ryugi menunjukan raut khawatir dan sedih. Aku tidak bisa menahan senyum saat melihat wajah nya, aku pun langsung memeluk dirinya.
“aku baik-baik saja, Ma. Jangan khawatir” ucapku masih sambil memeluknya, Ryugi pun membalas pelukanku.
***
Waktu berlalu dengan cepat, tidak terasa kini acara formal kelulusan sudah berakhir. Dan seluruh murid mulai berhamburan keluar dari dalam gedung aula acara. Diantara banyaknya senior yang hadir sebagian kecilnya adalah idola-idolaku, awalnya mereka seperti mencari sesuatu –atau seseorang mungkin?– entahlah, namun saat melihatku mereka secara serempak menghampiri ku.
Sekitar 50 orang itu berjalan kearahku dan Ryugi, masing-masing dari mereka seperti membawa sebuah kotak hitam.
“Risa, syukurlah kau datang. Tadinya aku kira kau tidak akan datang” ucap Hiroki tepat setelah berada di depanku. Sebelumnya dia sudah menyapa Ryugi, begitu juga dengan Akira dan 48 orang lainnya.
“mana mungkin aku tidak datang, aku kan sudah janji. Lagipula aku sangat penasaran dengan hal yang ingin Senior berikan padaku”
Lucu ya padahal mereka yang lulus dan harusnya aku yang memberikan hadiah, minimal sebuah buket tapi ini malah aku yang menerima hadiah. Masing – masing dari mereka membawa sebuah kotak hitam kecil seukuran kotak cincin.
“apa itu?” tanya ku
Yang pertama memberikan adalah Miura dan Akira, “semua kotak ini berisi kancing kedua dari setiap orang, kami ingin memberinya padamu. Tapi masih ada kejutan yang lain loh. Ayo ikut kami sebentar”
‘kancing kedua? Bukankah ini benda yang biasanya diberikan kepada orang yang disukai ya?’
Mereka membawaku ke taman yang sebelumnya aku datangi bersama Ryugi,
“apa kau suka taman ini sekarang Risa?” tanya Hiroki
“hm? Saat aku sering kesini sebelumnya memang tidak pernah serapih ini, tentu saja aku suka. Tapi kenapa bertanya? Jangan – jangan kalian yang merapihkannya?”
“iya kami tau jika kau sering kesini, dan saat kau menghilang selama setahun ini kami meminta izin kepada kepala sekolah untuk merapihkan taman ini, tadinya berharap saat kau kembali sekolah akan senang dengan kejutan ini, tapi kau malah tidak kembali sama sekali” jelas Junpei
“hhm begitu ya... maaf senior dan terima kasih untuk kejutannya, aku sangat suka” jawabku
“tidak perlu meminta maaf. jika kau senang itu lebih dari cukup, jadi sekarang kau sudah pindah sekolah ya?”tanya Akira
“iya aku sudah menemukan orang tua kandungku jadi mereka membawaku keluar kota karena itu aku harus pindah sekolah”
“syukurlah, kami harap kau bahagia selalu mulai sekarang, meski rasanya sekolah jadi tidak menyenangkan semenjak tidak ada dirimu” Arisawa menyaut
Aku mengangguk dan tersenyum, “ya sekarang aku sangat bahagia”
Setelah itu aku dan para senior pun mengobrol bersama hingga tidak terasa satu jam pun berlalu, satu persatu dari mereka mulai pergi karena bilang ada urusan lain. Dan kini tersisa diriku. Sesaat sebelum pergi untuk mencari Jun dan Yibo aku kembali melihat taman indah itu.
__ADS_1
“ohh ternyata gadis ini masih punya muka untuk muncul di depan kami ya?”
...つづく...