
..."Kakak!!"...
..."Apa kabar, Dek?" Sambil mengacak-acak rambutku dan aku masih saja terdiam dan hanya memandangnya....
..."Lapar kan? Belum makan? Ini." Menyodorkan tas plastik yang aku kenal sekali aromanya. Chikenyum. Ah, benar-benar menggoda aromanya. Makanan favoritku, lapar....
..."Duduk. Makan dulu aku temenin." Menyeretku disalah satu bangku taman sekolah. Kak Aris dengan cepat membuka tas kresek itu dan menyodorkan kepadaku....
..."Makan. Habiskan." Sambil tersenyum tanpa rasa bersalah sedikitpun. Masa bodoh lah. Aku lapar. Masalah bisa dibicarakan nanti setelah perutku terisi. Dia sangat tahu kelemahanku. Makanan enak. Kak Aris hanya memandangiku sambil tersenyum. Rasanya yang berbuat jahat bukan dia, tapi aku. Perasaan apa ini. Sadarkan dirimu Aya....
..."Kak..."...
..."... maaf aku sudah mengabaikanmu selama ini. Ternyata aku sangat merindukanmu."...
...Gila... apa ini. Kenapa dlam sekejap rasnya sakit hati yang selama ini aku rasakan hilang seketika. Hanya dengan beberapa kata yang gombal banget seperti itu....
..."Maaf ya" sambil mengusap-usap keplaku....
...Aku tidak bisa berkata apapun. Aku hanya tersenyum dan menganggukkan keplaku. Rasanya duniaku kembali. Sore itu semuanya baik-baik saja. Rasnya udara sejuk sekali....
..."Apa??!! Kamu memaafkan dia dengan mudahnya?!" Teriak Driyan ditelfon....
..."Hei. Jangan teriak seperti itu. Aku juga marah lho sama kamu."...
..."Em, jangan diungkit lah. Iya maaf aku sudah jahatin kamu. Bohongin kamu. Janji gak akan ulangi."...
..."Ah. Laki-laki itu semua sama. Pembohong, bermulut manis."...
..."Tapi kamu suka kan!!!" Godanya....
..."Ih... apaan sih."...
..."Cie...cie... sudah ketawa. Aku juga dimaafkan nih."...
..."Aku gak pernah marah kali. Cuma kesal aja."...
..."Hm, gitu dong. Miss u. Besok kan ujian nasional. Semoga lancar sukses dan lulus dengan nilai yang bagus ya."...
..."Amin. Siap. Doakan ya."...
...Keadaan sudah kembali seperti semula. Aku, dia, dan dirinya. Aku menjalani ujianku dengan penuh semangat. Tinggal menunggu hasilnya. Pengumuman SNMPTN juga sudah diumumkan, tapi sayangnya aku belum berhasil. Aku mempersiapkan diri untuk bimbingan ke luar kota. Seperti yang aku rencanakan dulu. Hubunganku dengan Driyan pun sudah berakhir. Kita kembali menjadi sahabat lagi. Tapi sebenarnya aku masih sangat menyukainya. Benar-benar menyukainya. Driyan sempat tidak mau ini berakhir, tapi komitmen tetaplah komitmen dan harus diakhiri....
..."Kak. Aku harap kamu mendapatkan apa yang kamu impikan." Pesan dia sebelum aku berangkat ke tempat kos ku di luar kota....
..."Aku harap kamu juga mendapatkan impianmu itu ya."...
...Driyan memelukku erat. Serasa enggan melepaskannya....
..."Heisudah. Lepas ah. Kita masih bisa ketemu kalau kakak libur. Akan aku temani kamu main basket sampai kamu puas."...
..."Janji ya." Sambil tersenyum girang....
...Aku menjalani masa-masa bimbel ku untuk persiapan SBMPTN. Tempat bimbelku tidak jauh dari kampus kak Aris. Sesekali aku diajak dia ke tempat kosnya. Entah ini tangan jahil sekali. Ketika Kak Aris membelikan makanan buatku. Aku tidak sengaja menyalakan komputer yang ada dihadapanku. Aku buka-buka tiap folder yang ada. Banyak sekali gambar desain rumah yang indah. Namun, ada satu folder yang janggal dan tidak wajar menurutku. Aku mencoba membuka folder itu dan ingin tahu isinya. Ketika aku buka, ternyata... ini kah penyebab dia mengabaikanku selama ini. Seketika itu aku merasa sangat malu karena terlalu banyak berharap. Ternyata ini sebuah kesalahan yang tidak seharusnya terjadi....
..."Makanan datang. Lagi apa dek?"...
..."Mau main game kak." Bohongku....
..."Kak, bisakah aku kembali ke tempat kosku. Ini teman-teman ngajakin ke toko buku buat diskusi nanti malam."...
..."Owh. Begitu. Baiklah. Makan dulu ya. Sayang udah tak belikan lho ini."...
...Sepanjang jalan aku hanya diam dan berasa aneh. Kak Aris hanya memandangiku dari kaca sepion motornya. Aku sesekali melihat tatapan matanya yang seolah curiga akan sesuatu, tapi aku mencoba menghilangkan rasa curiganya itu....
..."Makasih kak, sudah diantar dengan selamat. Kakak hati-hati ya baliknya. Maaf aku tidak memintamu mampir, karena aku buru-buru."...
..."Iya tidak apa-apa. Aku pergi. Daa.."...
...Ternyata ini jawaban atas semua ini. Aku sudah tahu. Aku tahu diri. Aku hanya butuh waktu yang tepat untuk menyelesaikannya....
..."Hai gingsul. Dari mana aja kamu?" Suara teriakan Fian dari kos seberang. Fian ini teman dari sekolah lain kebetulan satu tempat bimbel denganku. Dia teman dari teman satu kosanku. Dia ini anak yang jahil dan lucu. Dia selalu memanggilku gingsul. Menyebalkan kan!!...
..."Pacarmu yang tadi?"...
..."Bukan, hanya kakak kelas."...
..."Bohong... tampan juga. Seleramu bagus juga."...
..."Hei ndud. Sudah sana. Panggil yang lain katanya mau ke toko buku."...
..."Cie.. cie... mengalihkan pembicaraan."...
...Aku di sini memiliki teman-teman baru yang sangat menyenangkan. Teman satu kos yang kompak. Bermacam-macam karakter dan beda sekolah. Semoga ini menjadi awal yang baik....
..."Aya, sini ikut aku sebentar." Fian menarikku paksa agar aku mengikutinya....
...Fian ini anaknya tidak begitu tampan, tidak populer di sekolahnya, bisa dibilang norak sih. Tapi dia ini lucu banget....
..."Hei. Fian, mau kamu bawa ke mana Aya?" Teriak Diana....
__ADS_1
..."Tenang, kamu nanti pasti akan tau."...
...Anak ini selalu menjahiliku. Ada saja yang dia lakukan untuk membuatku kesal tapi ujung-ujungnya aku tertawa karena kenorakannya itu....
..."Ngapain kamu bawa aku ke tempat seperti ini?"...
..."Cinn, tolong ubah dia jadi gadis manis ya." Perintahnya pada salah satu perugas salon kecantikan....
..."Heiii... norak." Teriakku yang tidak dihiraukan oleh Fian....
..."Diamlah. Sudah ikuti saja apa yang dilakukan sama mereka. Aku keluar sebentar."...
...Selama 1 jam aku berada di salon ini. Apa saja yang sudah dilakukan sama mbak-mbak salon ini padaku. Fian juga belum kembali. Siapa yang bakal bayarin ini semua? Gila masak aku? Pas-pasan ini uangnya. Tak lama Fian muncul sambil membawa beberapa tas kresek....
..."Sudah selesai?"...
..."Sudah bos." Jawab petugas salon....
..."Ganti bajumu." Menyodorkan beberapa tas kresek dan mendorongku ke ruang ganti....
...Apa-apaan ini si Fian?! Menyuruhku ini itu. Siapa dia berani seperti itu. Tapi anehnya aku nurut saja sama dia....
..."Gimana? Ini aja ya?"...
..."Perfect" Fian memandangiku tanpa berkedip....
..."Kamu macan sekali hari ini."...
..."Macan?"...
..."Manis cantik."...
...Sontak aku tertawa. Anak ini gila. Norak. Bagaimana bisa ada orang norak kayak gini....
..."Dandan kayak gini, biar pacarmu yang tadi gak malu jalan sama kamu....
...Udah dibilang bukan pacarku, masih aja ngeyel....
...Bodoh, ah. Aku lapar. Makan yuk. Kamu yang traktir uangku habis buat beliin kamu tadi."...
..."Siapa suruh?!! Tapi terima kasih."...
..."Sama-sama. Ayo makan." Rengeknya....
...Aku sudah memikirkan matang-matang apa yang harus aku lakukan pada kak Aris. Aku memintanya datang ke kafe sebelah tempat lesku. Selang beberapa menit aku menunggunya datang. Kulihat dia dengan senyum ramahnya itu menghampiriku....
..."Tumben ngajak ketemu dijam begini. Kamu bukannya harus ada jam les? Sebentar kamu hari ini beda dek? Kamu dandan!!"...
..."Tapi kamu cantik dek. Kenapa tidak dari dulu kamu kayak gini?"...
..."Bukannya Kak Aris suka sama Aku karena Aku unik ya! Oke, sekarang Aku tahu harusbagaiman. Aku mau bicara serius sama kakak."...
..."Bukan begitu maksud kakak, Dek!...
..."Gak apa-apa kok, Kak. Maafkan aku yang selama ini ke-PD-an. Aku tidak akan lama-lama karena 10 menit lagi aku harus masuk kelas. Aku cuma mau bilang. Maaf aku harus putus sama kakak."...
...Raut wajah kak Aris saat ini sangat membuatku tidak tahan. Rasanya aku masih tidak rela untuk mengatakan ini. Biarlah aku yang jadi jahat dalam cerita kita. Kalau aku tidak mengakhiri cerita ini, tidak hanya aku yang terluka tapi ada gadis lain juga yang akan terluka. Gadis yang ada difoto bersamanya yang aku lihat dikomputer milik kak Aris. Mereka sangat serasi. Kelihatannya kak Aris sangat bahagia ketika bersama gadis itu. Maafkan aku. Sebelum kakak yang memutuskan ini. Biar aku yang memilih jalanku....
..."Kamu kenapa dek? Apa gara-gara ucapanku tadi!"...
..."Enggak kak, beneran enggak. Aku hanya menyukai cowok lain kak. Dia sekarang sedang menungguku di seberang sana." Aku menunjuk Fian yang sedang berada di depan gerbang tempat kita les. Sebenarnya bukan suatu kebetulan. Aku tadi sms Fian. Aku minta dia menungguku di depan gerbang, karena aku harus bertemu seseorang dulu di kafe depan. Fian melmbaikan tangannya. Aku mencoba membalas lambaiaan tangannya....
..."Benarkah kamu sudah..."...
..."... maaf kak. Ini keputusanku. Selamat tinggal. Aku harap kita masih bisa berteman."...
...Saat itu rasanya seperti tersambar petir. Aku mencoba kuat dan membendung air mata. Namun, kekuatanku ternyata tak sehebat itu. Aku menangis di depan Fian....
...Persaingan untuk masuk perguruan tinggi sudah siap dimulai. Tinggal 1 minggu lagi. Aku sudah bisa sedikit melupakan kejadin waktu itu bersama kak Aris. Berkat teman-teman baruku....
..."Teman-teman. Ternyata aku diterima di universitas lain waktu SNMPTN. Aku dapat undangan tertulis untuk melakukan registrasi. Tapi jurusan itu tidak aku minati sama sekali."...
..."Astaga Aya. Kamu itu beruntung tau. Kalau aku jadi kamu. Aku bakalan milih itu. Sudah pasti itu Aya." Tandas lisa...
..."Iya. Ambil saja Ay." Tambah Novi antusias....
..."Iya. Kata orang tua ku juga begitu. Mereka ingin aku tetap registrasi. Tapi aku juga masih boleh ikut tes ini sama kalian."...
..."Nah itu. Ikuti deh apa kata orang tua mu Ay. Kita di sini masih tes belum tentu kita masuk." Tambah Diana...
...Aku segera pulang saat itu juga. Aku harus melakukan registrasi ke universitas itu. Aku tidak tahu kalau universitas ini juga sangat favorit dikalangan siswa SMA. Katanya aku cukup beruntung diterima di universitas ini....
..."Kak. Apa kabar?" Ada sms masuk dari Driyan....
...Aku sangat terkejut dan sangat terharu ketika mendapat sms dari dia. Secara dia habis dikarantina karena impiannya terwujud. Dia lolos dan ikut turnamen bola basket tingkat nasional....
..."Kabar baik. Kamu sudah boleh pegang hp?" Balasku cepat....
...Driyan tidak membalas sms ku, tapi dia langsung menelfon ku....
__ADS_1
..."Halo kak. Senang bisa mendengar suaramu lagi."...
..."Aku juga senang sekali. Bagaimana? Bagaimana? Cerita dong!"...
..."Ceritanya panjang kakak sayang. Kalau kita ketemu bakalan aku ceritakan A sampai Z. Tunggu aku pulang ya. Gimana kuliahmu?"...
..."Aku sudah keterima SNMPTN dek. Jurusan yang aku ceritakan dulu padamu."...
..."Selamat ya. Kak, nanti aku sambung lagi. Ini kita mau jalan dlu."...
...Driyan. Dia masih baik saja seperti dulu. Suaranya manjanya itu tidak pernah berubah. Seperti apa dia sekarang. Hampir 3 bulan aku tidak komunikasi dengannya. Bukan karena sengaja, tapi dia tidak boleh membawa alat komunikasi apapun selama karantina....
..."Aya. Lho kamu masih pakai piyama?"...
..."Lho emangnya ada apa, Na?"...
..."Sudah buruan ganti baju. Cepet cepet."...
...Bodohnya Tanpa bertanya aku langsung menuruti apa kata Diana. Bergegas aku ganti piyamaku dengan kaos oblong dan celana....
..."Aya, kamu dicari Fian!" Panggil Lisa dari luar pintu kamar....
..."Fian??"...
...Aku semakin penasaran, kenapa Diana menyuruhku ganti pakaian? Kenapa Dian tiba-tiba mencariku? Ada apa sebenarnya....
..."Sudah siap? Kalau sudah ayo pergi?"...
..."Pergi?"...
...Aku sempat bingung. Dari belakang pintu teman-teman kosku pada tertawa cekikikan....
..."Sebentar Fi, aku masuk dulu."...
...Aku masuk ke kamar dan ingin meminta penjelasan dari teman-teman resekku....
..."Apa-apaan ini?"...
..."Hahaha... ssttt. Sudah pergi sana sama Fian. Tadi kita ketemu dia. Kita jahilin dia. Habisnya kalau sama kita pelit amat. Dia baiknya sama kamu aja Ay."...
..."Terusss..."...
..."Kita bilang Aya pengen beli martabak spesial. Tapi gak ada yang mau anterin. Kita bilang saja sama Fian buat anterin kamu."...
..."Resek ya... kalian yang ngidam aku yang jadi umpan."...
..."Pleasee..." Rengek mereka semua....
..."Dasar... baiklah aku berangkat."...
..."Si Fian gayanya gak nahan. Pakai kaos berkerah, di masukkan, pakai ikat pinggang, celana kain. Aduh makk, necis amat." Ledek lisa...
..."Jahat kalian" timpalku agak kesal. Tapi aku tahu mereka tidak berniat jahat padaku....
..."Kenapa waktu itu kamu menangis setelah dari kafe itu, Ay?"...
..."Perlu ya aku ceritakan sama kamu, Fi?"...
..."Aku sih tidak ingin tahu sebenarnya. Tapi kamu menangis di depanku."...
..."Maafkan aku, Fi."...
..."Tidak usah diceritakan kalau memang gak mau cerita."...
...Kadang Fian yang norak ini bersikap sangat dewasa. Dia bijaksana dalam menanggapi suatu permasalahan. Diantara teman-temannya yang lain dia memang terlihat paling norak. Namun, untuk ukuran kedewasaan Fian juaranya....
..."Fian. Kamu mau aja sih dikerjain sama teman-teman."...
..."Aku tidak merasa dikerjain kok. Kan kamu juga senang dibelikan martabak telor spesial."...
..."Widihhh... siapa juga yang senang."...
..."Dia itu pacarmu ya? Kalian bertengkar? Apa kalian putus? Ganteng lho dia."...
..."Fiaaannn... katanya tadi gak kepo. Kenpa tanya lagi."...
..."Haha... maaf habisnya masih penasaran."...
..."Dia sekarang sudah jadi mantan pacarku. Puas!!"...
..."Owh, baguslah."...
..."Eh. Ini anak, ledekin aku ya. Marah nih Marah."...
..."Mau marah tapi bilang-bilang. Dasar gingsul."...
...Pertempuran bersaing untuk masuk perguruan tinggi favorit sudah dimulai. Sialnya kenapa tempat tes ku ada di kampus kak Aris. Semoga saja dia tidak muncul dihadapnku. Bagaimanapun aku tidak boleh lengah hanya gara-gara masalah ini. Anggap saja ini ujian terberat selama hidupku dan aku harus melewatinya....
..."Selesai juga tesnya. Sangat tidak mudah mengerjakan soal-soal tadi." Keluhku sambil membereskn peralatanku....
__ADS_1
..."Kamu tes di sini dek?"...
..."Astaga" aku benar-benar terkejut. Suara ini tidak asing, jangan-jangan?!...