
..."Kak Aris!!!"...
...Seperti biasa dia tersenyum renyah kepadaku. Tapi sayangnya aku tidak bisa membalas senyumnya dengan tulus. Rasa sakit itu akhirnya kembali kepermukaan. Aku tidak tahu harus bagaimana memulai untuk bicara....
..."Sayang... kamu kenal sama dia?" Tiba-tiba ada gadis dari belakang kak Aris dan menggandeng tangannya....
..."Oh, ini adek kelasku waktu SMA."...
..."Owh. Hai."...
..."Hai, juga. Baiklah kak. Aku permisi dulu ya."...
..."Iya hari-hati." Sambil menjulurkan tangannya ke arahku. Mau tidak mau aku meraih tangan itu. Tangannya masih lembut seperti waktu itu. Aku bergegas melepaskan tanganku dari tangannya dan pergi dari situ. Itu gadis yang aku lihat dikomputernya. Ternyata gadis itu satu kampus dengannya. Pantas saja. Remuk rasanya. Semoga ini bukan menjadi hari yang buruk buatku....
...Pandangan mata kak Aris tadi saat melihatku masih terngiang dipikiranku. Seolah dia ingin mengatakan sesuatu yang tertahan dibibirnya. Aku kalah kali ini. Aku menangis sejadi-jadinya....
..."Gingsul. Kamu boleh menangis di depan ku. Tapi hati-hati jangan menangis di tempat umum seperti ini."...
..."Fian" aku melanjutkan tangisanku....
..."Bodoh. Untung saja badanku besar bisa menutupi badanmu yang kecil ini yang sedang menangis. Astaga."...
..."Maafkan aku. Aku tidak tahan untuk tidak menangis."...
..."Kak Aya ada?"...
..."Mau cari Aya?"...
..."Iya. Benerkan ini kosnya kak Aya?"...
..."Bener. Sebentar." Lari masuk ke kamar....
..."Ay. Gila bener ada cowok ganteng nyariin kamu lho."...
..."Jangan bercanda. Paling juga Fian. Hahaha."...
..."Beneran. Aku gak bercanda Ay. Buruan dah keluar."...
...Dengan langkah kaki malas aku turun dari tempat tudur. Aku tengok di teras. Tidak ada siapa-siapa, ah si Lisa bohongin aku. Tapi tadi aku emang denger sih ada yang ketuk pintu. Tapi gak ada orang....
..."Kak Aya." Tiba-tiba muncul dari samping rumah. "Eh. Maaf aku pikir kak Aya."...
...Mungkin Driyan pangling melihatku dengan perubahan penampilang yang dibuat oleh Fian waktu itu. Aku hanya tertawa kecil melihat tingkah Driyan....
..."Maaf. Kak A..."...
..."Astaga!!! Driyan?? Ini Aku. Jangan bercandabegitu kayak orang amnesia."...
..."Kak Aya?? Beneran!! Kok. Feminim."...
..."Kejutan."...
..."Harusnya aku yang membuat kakak terkejut. Tapi malah aku yang terkejut."...
...Si Manja ini masih sama seperti lalu-lalu. Sebenarnya Aku sungguh terkejut dan benar-benar terkejut sampai tidak mempersilakkan dia duduk....
..."Sial. Jauh-jauh aku dibiarkan berdiri."...
..."Eh. Maaf. Ayo duduk Sini."...
..."Nah... gitu dong. Minumannya mana."...
..."Astaga kamu ya... datang-datang tapi resek."...
...Kedatangan Driyan sungguh tidak disangka-sangka. Tiba-tiba dia muncul dihadapanku. Dia dapat alamat kos ku dari mana coba. Apa aku yang lupa udah kasih tau dia sebelumnya. Aku sangat merindukan anak manja yang satu ini. Saat ini aku benar-benar terhibur oleh kedatangannya. Dia menceritakan kegiatannya waktu dikarantina. Dia sangat bahagia. Dia juga terlihat jauh lebih tampan dari sebelumnya. Yang paling penting, dia sudah agak dewasa sedikit....
..."Yan. Kamu sudah nemuin pacarmu?"...
..."Kenapa tiba-tiba tanya itu?"...
..."Ya iyalah, orang pertama yang ingin ditemui ketika kembali ya orang yang disayangi lah."...
..."Berarti aku menyayangimu. Aku menemuimu lho."...
..."Huuuu... mulai mulai."...
..."Aku putus sama Dia. Aku tidak bisa pacaran sama orang yang hanya bisa menghalangiku dan tidak mendukungku."...
..."Driyan. Apa yang kamu lakukan. Manusia bisa berubah."...
..."Nggak. Itu pilihanku. Sudah jangan bicarakan itu. Aku ke sini itu karena merindukanmu. Bukan untuk membahas anak itu."...
...Kehadiran Driyan yang secara tiba-tiba membuatku kembali bersemangat. Driyan hanya mampir untuk beberapa waktu. Dia tidk bisa lama, karena dia bersama clubnya....
..."Ay. Itu kan pemain basket yang di TV kemarin kan?"...
..."Ah. Masak sih."...
..."Ahhhh... kenapa kamu dekat dengan cowok-cowok keren sih. Irikan aku." Rengek Lisa....
..."Sudah ah hanya kebetulan."...
..."Kapan hari sama kakak ganteng yang di kampus itu. Sekarang sama pemain basket. Habis ini siapa lagi coba?!"...
..."Hei hei sudah hentikan. Gajahku lebih mempesona." Tindas Diana....
..."Huuuu mana ada kecap nomor 2."...
..."Wah. Fian lihat nggak ya tadi. Saingannya berat."...
__ADS_1
..."Apa? Fian? Saingan? Sama siapa?"...
..."Ups. Keceplosan. Enggak lupakan."...
...Kita di sini hanya tinggal 2 minggu lagi. Setelah itu kita kembali ke rumah masing-masing sambil menunggu pengumuman hasil tes....
..."Aya. Tadi itu yang ikut Timnas bola basket kan ya?" Tanya Ariya....
...Ariya ini julukannya 'Gajah'. Diana sangat menyukai si Ariya. Tapi Ariya tidk pernah peka terhadap perasaannya Diana. Diana sangat menjaga sekali perasaannya agar tidk begitu terlihat oleh siapa pun. Hanya aku dan lisa yang tahu betapa Diana menyukai Ariya....
..."Em. Iya Ar. Kamu kok kenal dia?"...
..."Enggak kebetulan aku dulu juga mantan Atlet basket. Tapi sekarang sudah nggak. Waktu seleksi kebetulan aku lihat dia."...
..."Owh, begitu."...
..."Dia adik kelas mu kan? Kalian sepertinya dekat."...
..."Oh.. enggak kebetulan saja aku sama dia sering main basket kalau pulang sekolah."...
..."Cowok ganteng lagi. Nangis lagi lho." Sahut Fian....
..."Siapa Fi?"...
..."Bukan siapa-siapa Ar, aku cuma ngomong sendiri aja. Ayok katanya mau beli makan. Nitip gak Ay?"...
..."Em, nggak kalian aja."...
...Menyebalkan sekali hampir saja Ariya tahu. Dasar Fian ember. Godain mulu. Tak seharusnya aku berbuat bodoh menangis. Tapi sesekali menangis itu tidk apa-apa. Karena dengan menangis hati akan merasa sedikit lega. Pada akhirnya kita kembali ke rutinitas masing-masing. Bimbel sudah usai. Suasana kos juga sudah tidak ada lagi. Mungkin aku tidak terlalu berharap dengan hasil yang akan aku peroleh. Karena aku sudah masuk di salah satu universitas favorit waktu SNMPTN. Mungkin teman-temanku masih menunggu dan sedang harap-harap cemas menantikan hasil tesnya keluar....
..."Aku lolos Ay." Teriakan si Diana....
..."Aku juga" sahut Lisa....
..."Bagaimana denganmu Ay?"...
..."Gak ada namaku." Jawabku biasa saja....
..."Ah. Kamu nggak ada sih gak masalah. Kamu udah diterima di universitas itu."...
..."Hehehe. Iya. Tapi kita akan terpisah. Aku di utara. Lisa di timur. Diana sama novi di selatan. Tapi aku bahagia kalian semua lolos."...
...Waktu pengumuman ternyata aku gagal. Namun tidak apalah, universitas yang akan aku tempati nanti juga universitas yang cukup favorit sih. Entah tiba-tiba aku kepikiran Fian....
..."Bagaimana hasilmu?" Sms ku padanya....
...Dia tidak pernah membalas sms dariku. Entah ke mana dia. Jejaknya tiba-tiba hilang begitu saja....
...Waktu terus berlalu dan berlalu begitu cepat. Sudah hampir satu tahun aku menjalani masa kuliahku. Rasanya dunia berputar begitu cepatnya....
..."Apa kabar kak?" Sapa ketua OSIS kepadaku....
..."Kakak bucin." Bisik seseorang yang sangat aku kenal....
..."Jangan panggil aku bucin. Anak kuliahan ini."...
..."Gayamu kak. Percaya yang udah kuliah." Sambil duduk di sebelahku dan merangkul pundakku seperti biasa....
..."Hei manja. Ini sekolah. Lepas."...
..."Bodoh amat lah kak. Suka-suka aku lah."...
...Ini anak emang suka seenaknya sendiri. Dari jauh ada yang memandangiku dan Driyan. "Kak Aris!!"...
..."Mana?" Sambil menolehkan keplanya kekanan dan kekiri....
..."Aku harus pergi dek. Ketemu nanti ya di rumah."...
..."Nggak, jangan pergi. Aku butuh penjelasanmu kenapa kamu menghindarinya!"...
...Driyan menahanku. Bahkan dia membawaku ke belakang panggung untuk bertemu dengan kak Aris....
..."Lepas kali Yan. Jangan bertindak bodoh."...
...Aku mencoba melepaskan genggaman tangan Driyan. Tapi sudah terlambat. Kak Aris berada tepat di depan kita....
..."Hai kak." Sapa Driyan....
..."Hai. Kalian juga di sini?"...
..."Em. Anu... aku sudah mau balik kok."...
..."Kalian marahan? Kenapa gak dayang bareng?"...
...Mulut Driyan emang gak bisa direm. Kacau ini, pasti aku yakin akan terjadi seauatu yang buruk."...
..."Kita udah putus."...
...Mimik wajah Driyan langsung berubah. Dia seolah tidak percaya dengan apa yang kak Aris katakan....
..."Aya sudah mengakhiri hubungan kita."...
..."Hubungan siapa yang berakhir? Jelaskan padaku?" Tiba-tiba suara itu muncul dari belakangku. Rina....
...Astaga apa ini!! Hari ini harusnya hari yang menyenangkan. Ini pesta sekolah. Bahkan bisakah ini disebut pesta kalau kejadiannya seperti ini....
..."Rina. Rina. Dengarkan aku."...
..."Nggak Ay. Kamu... sama Kak Aris?! Gak mungkin, kamu bohong kan Ay?"...
__ADS_1
..."Nggak Rin. Aku pernah memintanya untuk menjadi pacarnya." Jujur kak Aris....
..."Kalian mempermainkan ku. Kalian tahu kan aku suka banget sama kak Aris."...
...Rina bergegas meninggalkan kita. Kacau sekali hari ini. Tanpa berkata apa-apa aku mengikuti jejak Rina meninggalkan mereka....
..."Kak. Kak. Ku mohon berhentilah. Bicaralah padaku." Driyan mencegahku sebelum aku keluar dari gerbang samping sekolah....
..."Mau apa lagi sih. Sudah cukup hidupku kacau karena kalian."...
..."Kakkk, maaf aku tidak tahu kalian sudah putus. Kenapa kamu tidk cerita padaku?!"...
..."Untuk apa? Agar aku bisa terlihat menyedihkan?!"...
..."Bodoh, kau anggap apa aku selama ini kak? Pernahkah kau melihatku sekali saja sebagai seorang pria?!"...
..."Aku..."...
...Driyan memelukku erat. "Maafkan aku kak, perasaan ini benar-benar tidak bisa aku kendalikan."...
..."Apa yang kalian lakukan?"...
...Suara itu!! Disty. Aku mencoba melepaskan diri dari pelukan Driyan....
..."Ini tidak seperti yang kamu lihat, Disty." Belaku....
..."Jadi karena ini kamu meminta putus dari ku Driyan? Karena kak Aya!! Jadi selama ini kalian berdua bukan sekedar sahabat? Kalian... jahat ya. Benar-benar jahat kalian." Disty berlari entah ke mana. Driyan hanya diam saja tanpa kata....
..."Astaga. Kekacauan macam apa ini?!"...
..."Ayo aku antar pulang."...
..."Sudah biarkan aku sendiri. Jangan menyentuhku, cukup atas kekacauan ini."...
...Rasanya hari ini berat sekali bagiku. Ingin ku putar ulang waktu di mana aku masih belum mengenal mereka....
..."Kenapa kamu gak bilang sama aku kalau kalian dulu pacaran, Ay?"...
..."Maafkan aku, Rin. Aku hanya tidak mau melihatmu terluka. Tapi malah semua jadi kacau seperti itu. Maafkan aku ya Rin."...
..."Sudahlah Ay. Itu masa lalu. Cinta monyet kita. Aku sudah memaafkanmu."...
..."Makasih ya Rin."...
...Hidup memang penuh lika liku. Itu yang akan membuat hidup jadi lebih berwarna. Hanya saja tinggal bagaimana kita menjalaninya....
..."Kak Aya kan?" Sapa seseorang memastikan benar aku atau bukan....
..."Siapa?"...
...Dia melepaskan kacamatanya. "Aku kak, Driyan."...
...Betapa kagetnya aku seketika itu. Semenjak kejadian itu aku mengganti nomor ponselku. Menutup akun media sosialku. Mengganti semuanya dan mencoba menghilang dari kehidupan mereka. Kenapa ini Driyan ada di hadapanku!!...
..."Lama sekali aku tidak melihatmu." Sambil duduk dikursi yang berada di depanku....
..."Iya." Canggungku....
..."Kamu bersama seseorang?"...
..."Iya. Aku sedang menunggu seseorang."...
..."Pacarmu?"...
..."Tunanganku."...
..."Hebatnya kamu kak. Aku yang selama ini mencarimu, masih mengharapkanmu, memendam rasa bersalah kepadamu yang begitu besar. Dan. Ketika kita dipertemukan. Kamu sudah menjadi milik orang lain? Selama ini ternyata hanya Aku yang terlalu menyukaimu, hingga aku hamper gila mencari keberadaanmu. Sekarang kamu ada dihadapanku, tapi semua sia-sia, Kamu sudah bertunangan!!"...
..."Driyan..."...
..."Apa Tuhan sudah merencanakan hal ini?! Kenapa bukan aku yang disamping mu saat ini. Jujur pernahkah kamu menyukaiku sedikit saja? Bahkan hanya sebetar! Melihatku sebagai seorang pria, bukan hanya sahabatmu bahkan sebagai adikmu?"...
..."Driyan. Ku mohon!"...
..."Aku gak bercanda kak. 3 tahun ini kamu menghilang. Tahu nggak aku mencarimu. Mencari tahu tentangmu. Aku bahkan hampir menyerah akhir-akhir ini. Tapi Tuhan mempertemukan kita di sini. Dengan status barumu 'Bertunangan' hebatnya."...
..."Driyan..."...
..."Kenapa!! Bukan aku!! Jelas-jelas kamu tahu. Aku menyukaimu dari dulu. Baca." Driyan menyodorkan ponselnya ke arahku. Aku membaca pesan yang dia kirimkan untukku dinomor ponselku yang lama. Banyak sekali. Bahkan curhatan-curhatannya. Masih tersimpan didraf pesannya. Aku hanya bisa terdiam. Hampir saja air mata ini menetes tapi aku harus bisa menahannya. Aku tahu ini tidak akan pantas dilakukan gadis yang sudah bertunangan. Ini akan membuatku goyah....
..."Itu masa lalu. Lupakan aku dan aku harap kamu menemukan seseorang yang bisa memahamimu." Sambil aku hapus satu draf yang isinya pesan singkat kepadaku....
..."Apa itu yang kamu mau? Mudah ya bagimu!"...
..."Iya, itu pilihanku. Kamu harus menghargainya. Aku sudah bertunangan dengan seseorang. Maafkan aku."...
...Driyan meraih tanganku. "Apakah kamu yakin?"...
..."Driyan. Kumohon. Hentikan. Aku tidak akan merubah keputusanku."...
...Driyan perlahan melepaskan genggamannya dijariku. Dia menghela napas dalam-dalam. Dia berdiri. Menatapku. Aku pun berdiri berbalik menatapnya....
..."Terima kasih telah membiarkanku menyukaimu selama ini. Baiklah. Hari ini, di sini aku akan berhenti menyukaimu."...
...Rasanya jantungku berhenti berdetk. Terasa seperti es membekukan tubuhku. Aku hanya bisa melihat Driyan bernjak dari hadapanku....
..."I Miss You so much Driyan. Maafkan aku harus memilih ini. Karena ini yang terbaik menurutku." Batinku yang kala itu teriris-iris rasanya. Mengapa Tuhan harus mempertemukanku dengannya lagi disaat Aku sudah baik-baik saja. Kini, perasaanku jadi sedikit goyah. Namun, saat ku lihat sosok laki-laki yang ada di seberang sana, sedang melambaikan tangan dan menebarkan senyuman manisnya yang tulus. Dialah yang akan menjadi masa depnku kelak. Laki-laki yang pernah melindungiku dari rasa sakit. Laki-laki yang hanya aku kenal sebentar tapi menumbuhkan kesan yang mendalam. Laki-laki yang tanpa aku tahu kalau dia adalah anak dari sahabat orang tuaku. Laki-laki yang tidak disangka-sangka pernah berjung bersamaku meraih impian. "Fian" aku melambaikan tanganku. Aku tidak akan pernah menoleh kebelakang. Karena dia adalah masa depanku. Semua orang mempunyai masa lalu. Tapi masa depan adalah milik kita....
...(THE BEST THINK)...
__ADS_1