Love Journey & Magic Wardrobe

Love Journey & Magic Wardrobe
Eps 11(Hari pertama kuliah)


__ADS_3

“LUNA!”


Seseorang meneriaki nama Alluna, dan langsung saja Alluna melihat kearah orang yang memanggil namanya dan ternyata itu adalah Caryn bersama temannya yang lain.


Merekapun menghampiri Alluna yang tengah duduk dikursi yang ada disekitar Bioskop.


“Luna, hai,” sapa Caryn dengan rasa tak bersalahnya, karena telah meninggalkan Alluna.


“Ihh kamu, kirain siapa teriak-teriak ngga jelas!" ketus Alluna.


“Emang kamu kira siapa hm?” tanya Caryn penasaran.


“Nenek lampir!” seru Alluna dan langsung membuang pandangannya kearah lain, karena masih merasa kesal oleh kelakuan mereka tadi.


“Hah?! aku? nenek lampir? hei yang bener aja cantik gini dibilang nenek lampir!” cerocos Caryn membantah perkataan Alluna.


“Ya emang lo macam nenek lampir mau gimana lagi,” gumam Abgiel, namun masih bisa didengar oleh Caryn yang berada disampingnya.


“Hah, udah deh terserah kalian nenek lampir pun ngga apa-apa, yang penting aku cantik! valid no debat,” ucap Caryn dengan nada kesal.


Kemudian ia pun beranjak dari tempat Alluna duduk untuk membeli tiket nonton juga, dan dengan sengajanya ia menginjak kaki Abgiel.


Namun, Abgiel berusaha menahan sakit kakinya untuk menjaga imagenya sebagai cowok cool semasa SMA.


Dasar nenek lampir stres! batin Abgiel.


“Eh mau kemana tu si Caryn?” tanya Alluna.


“Beli tiket nonton kali,” jawab Abgiel.


“Ih lo kan pacarnya susulin sana,” ucap Alluna.


“Udah gede kali Lun, pasti bisa sendiri tu anak,” jawab Abgiel.


Alluna yang mendengar perkataan Abgiel hanya menggeleng kepalanya pelan.


Dasar pasangan aneh, ngga ada sweet nya sama sekali. Batin Alluna.


Tak lama kemudian Arnold balik dari membeli tiket nonton, lalu disusul oleh Caryn dibelakangnya.


...****************...


Selama menonton di Bioskop, Alluna dan Arnold hanya duduk diam tanpa mengobrol sepatah katapun.


Alluna merasa risih dengan situasi saat itu, karena ia takut jika Albara mengetahuinya bersama Arnold hari ini, mungkin akan menjadi hari penyesalan buat Alluna.


Saat Alluna fokus menonton filmnya, Arnold sesekali melirik Alluna dan tersenyum. Tak disangkanya ia akan berdua bersama gadis yang ia cintai ini.


Beberapa jam telah berlalu akhirnya mereka beranjak dari Mall tersebut.


“Hah, akhirnya selesai juga, males banget gue harus gandengan mulu sama lo orang sawah!” ketus Caryn kepada Abgiel setelah keluar dari Mall.


“Orang sawah?!” tanya Abgiel kesal.


“Iya, seperti manusia tapi ngga berbicara, nah itu sama kayak lo, lo manusia tapi ngga banyak bicara, paling cuma kalo gue tanya jawabannya 'Hm, ya, oke' atau cuma ngangguk doang, bosan gue kalo lama-lama sama lo,” ucap Caryn santai.


“Cih, lo nenek lampir, lo kira gue mau deket-deket lo terus,” ucap Abgiel melengos pergi.


Dan Caryn pun pergi keparkiran menyusul sahabat-sahabatnya yang sudah mendahuluinya.


“Car, kamu dari mana aja sih? daritadi aku nunggu sama Cintya disini,” ucap Alluna sedikit kesal.


“Car? kamu ngomong sama mobil atau sama aku Lun? nama aku Caryn bukan Car,” ucap Caryn, gadis ini bukannya menjawab perkataan Alluna tapi malah mempermasalahkan panggilan namanya.


“Sama doang, kan sama-sama pake Car awalannya.” Jawab Alluna.


Sedari tadi Cintya hanya menyimak perdebatan receh mereka. Karena ia tipe orang yang ngga mau ribet sama hal-hal kecil.

__ADS_1


“Udah debatnya sayang-sayangku?” tanya Caryn sedikit kesal.


“Hehehe....” cengir Caryn dan Alluna.


...----------------...


Pukul 21.30


Kamar Alluna.


Disaat Alluna hendak tidur, tiba-tiba ia mendapat notifikasi dari Albara.


Albara mengirimkan pesan yang berisi, bahwa apakah benar Alluna pergi bersama Arnold ke Mall?


Alluna membalas dengan ragu, apakah ia akan mengatakan yang sebenarnya atau akan berbohong agar Albara tidak marah kepadanya.


Namun, ia memilih untuk menceritakan kronologi yang sebenarnya agar Albara tak salah paham kepadanya.


Karena, jika ia berbohong malah akan makin menyakitkan bagi Albara, pikirnya.


Dengan mendengar penjelasan dari Alluna, Albara pun memaklumi posisinya saat itu karena ia dipaksa oleh temannya.


Namun disisi lain, Albara tak mempermasalahkan Alluna ingin pergi bersama siapapun asalkan ia tak berpacaran dengan orang itu.


Albara menjadikan Alluna pacarnya, hanya memanfaatkan Alluna untuk pendidikannya, karena Alluna adalah siswi yang pintar saat SMA.


Sedangkan Albara adalah siswa yang nilainya pas-pasan KKM.


Dan ia akan terus mempertahankan Alluna, agar Alluna terus bisa mengajarinya selama kuliah nanti.


...•...


...•...


...•...


Pagi hari, pukul 06.00


Alluna sedang bersiap-siap dikamarnya, ia tampak sangat bersemangat pagi ini.


Setelah selesai bersiap ia pun segera sarapan bersama keluarganya.


“Pagi Ma, Pa,” sapa Alluna


“Pagi juga sayang,” sahut Mama dan Papa Alluna bersamaan.


“Uhuy barengan nih,” ucap Alluna menggoda Mama dan Papanya.


“Cuma Mama sama Papa yang disapa?” celetuk Gerald.


“Eh ada Kakakku tercinta,” ucap Alluna menyengir.


“Ngga usah lebay, Lun,” jawab Gerald.


Serba salah. Batin Alluna.


“Ma, Pa, Luna berangkat dulu ya,” Pamit Alluna.


“Hati-hati sayang,” ucap Mama Alluna


“Hati-hati dijalan,” timpal Papa Alluna


“Bye-bye adek tercinta,” ucap Gerald sambil melambaikan tangannya.


“Katanya tadi ngga usah lebay,” sahut Alluna sembari mengingatkan kata-kata Kakaknya.


...----------------...

__ADS_1


Universitas Grissham


Bismillah. Ucap Alluna dalam hati dan berharap semoga hari pertama kuliahnya lancar.


Alluna menyusuri koridor Universitas tersebut untuk mencari kelasnya.


Setelah berkeliling mencari kelasnya akhirnya ia pun menemukan kelasnya.


Saat ini Alluna berada di kelas kedokteran, karena ia mengambil jurusan kedokteran untuk mewujudkan cita-citanya sebagai dokter dimasa depan nanti.


Alluna pun masuk ke kelasnya, ternyata sudah ada banyak orang di dalam kelas itu.


Namun, setelah Alluna duduk ditempatnya, ia melihat masih ada satu bangku kosong disampingnya.


Entah siapa itu, intinya Alluna berharap yang duduk disebelahnya bukan orang yang cerewet seperti Caryn dan juga bukan menyeramkan seperti monster.


Tiba-tiba masuk seorang laki-laki


yang sibuk dengan Hp nya dan membawa novel ditangannya, refleks membuat semua mahasiswi didalam kelas tersebut tercengang saat melihat lelaki itu masuk kekelas.



Alluna pun melihat kearah lelaki yang baru saja masuk kelas itu, dan betapa terkejutnya ia melihat sosok lelaki itu, ternyata itu adalah Arnold.


Alluna tak menyangka ia akan satu sekolah lagi dengan Arnold.


Kehebohan mahasiswi didalam kelas itupun mulai terdengar.


Kata-kata yang dilontarkan mahasisiwi tersebut cukup aneh didengar bagi Alluna.


“Pangeran yang ditakdirkan untukku.”


“Jodohku yang datang dari masa depan.”


“Apa dia jodohku?”


“Ternyata begini suamiku dimasa depan.”


Kira-kira kalimat itulah yang didengar oleh Alluna. Lagi-lagi ia mendengar kalimat itu.


Tapi, kali ini Alluna mengakui kalau Arnold emang tampan bak pangeran dinegeri dongeng.


Tapi, ia tak tertarik dengannya, yang ada dipikirannya hanya Albara, Albara dan Albara. Ia tak punya waktu untuk memikirkan lelaki selain Albara.


Karena Alluna sudah sangat mencintai Albara. Namun, entah dengan Albara, lelaki itu malah mengkhianatinya.


...****...


Arnold mulai mencari bangku yang kosong dan ternyata bangku yang kosong hanya tersisa disamping Alluna.


Arnold juga begitu kaget, tak menyangka akan bertemu Alluna lagi, bahkan saat kuliah.


“Luna kan?” tanya Arnold memastikan.


“Em...iya,” jawab Alluna.


“Kita satu sekolah lagi,” ucap Arnold tersenyum.


“Ahh,iya nih,” sahut Alluna


“Aku boleh duduk disini?” tanya Arnold menunjuk bangku kosong disebelah Alluna.


“Hah?” tanya Alluna kaget.


...Bersambung.......


...Like...

__ADS_1


...Comment...


...Thanks😊...


__ADS_2