
“Hah?!”
Alluna melirik ke kanan dan kirinya, ternyata tak ada bangku kosong lagi, dengan terpaksa ia mempersilahkan Arnold duduk disebelahnya.
“Iya-iya duduk aja kan ngga ada bangku kosong lagi,” ucap Alluna lalu tersenyum.
Arnold hanya menganggukan kepalanya.
Saat kelas dimulai, Arnold melirik Alluna sekilas, ia melihat Alluna yang tampak fokus memperhatikan Dosen.
Kenapa gue telat nyadarnya? kalo gue cinta sama Luna! sekarang Luna udah sama orang lain. Batin Arnold.
Tampak jelas dari raut wajahnya, bahwa ia masih belum bisa mengikhlaskan Alluna untuk orang lain.
...****************...
Setelah beberapa jam dikelas, akhirnya kelas pun selesai, Dosen pun mengizinkan untuk beristirahat.
Alluna keluar dari kelasnya dan mencari keberadaan sahabat-sahabatnya.
Saat menuju kelas Caryn dan Cintya, Alluna bertemu dengan Albara.
“Hai neng, mau kemana nih?”
“Hhhh, mau nyari Caryn sama Cintya kang,” jawab Alluna sembari tertawa kecil.
“Ooh Caryn sama Cintya ada tu dikelasnya, mau dianterin?” ucap Albara.
“Boleh deh kang, sekalian ke kantin yuk!” ajak Alluna.
“Oke neng geulis,” jawab Albara
Alluna tertawa mendengar ucapan Albara begitupun Albara.
Disisi lain, Arnold sedari tadi memperhatikan interaksi mereka. Penyesalan kini hadir dalam dirinya. Mengapa ia baru menyadari bahwa ia mencintai Alluna.
Arnold tersenyum tipis, lalu melengos pergi ke kantin.
Di kantin, Arnold duduk sendirian. Namun tiba-tiba Abgiel dan Leon datang menghampirinya.
Mereka semua berada di satu Universitas yang sama, karena Universitas Grissham termasuk Universitas terbaik.
“Eh, Nold ngapa muka lo, asem banget,” ucap Leon, lalu duduk disamping Arnold.
“Ngga apa,” jawab Arnold.
Alluna, Caryn, Cintya dan Albara pun datang memasuki kantin
Arnold melihat lekat Alluna, namun Alluna tak melihat Arnold.
Abgiel, memperhatikan Arnold yang sedang melihat Alluna.
“Lo suka sama Luna, Nold?” celetuk Abgiel.
Mendengar ucapan Abgiel, Arnold mengalihkan pandangannya dari Alluna.
“Kalian nggak makan?” tanya Arnold mengalihkan pembicaraan.
“Oh iya dah, sampe lupa,” jawab Leon
“Sekalian punya gue beliin,” ucap Abgiel.
“Oke,”
Leon pun pergi membeli makanan.
“Kalo lo suka sama Luna, kejar Nold! jangan diem mulu, sebelum janur kuning melengkung, ayuk euy tikung!” ucap Abgiel tertawa.
Namun, Abgiel hanya mendapat toyoran dari Arnold.
“Etdah, dibilangin juga,”
Dari kajauhan Abgiel melihat seorang gadis yang ingin menghampiri Arnold.
“Nold, lo merinding nggak?,” ucap Abgiel, yang membuat Arnold tampak bingung.
“Gue nyusul Leon aja deh,” sambungnya.
“Terserah lo,” jawab Arnold.
“Hai Arnold,” sapa Kelly.
...Kelly adalah teman sekelas Arnold saat SMA, ia begitu terobsesi kepada Arnold sehingga terus mengejar-ngejar Arnold....
Oh, pantes Abgiel ngomong gitu tadi, ni kunti ternyata. Batin Arnold.
“Em iya Hai,” jawab Arnold dengan senyum terpaksanya.
“KELLY!!” teriak Kayla, sahabatnya. Lalu Kayla menghampiri Kelly.
“Eh lo ya, main tinggalin gue gitu aja,” ucap Kayla.
__ADS_1
“Manja banget elah, biasanya juga lo gue tinggal sendiri kagak apa-apa dah,” jawab Kelly.
“Hai Nold,” sapa Kayla
“Hai,” jawab Arnold
Tak lama kemudian, Abgiel dan Leon balik dari membeli makanannya.
“Boleh gabung ngga?” tanya Kelly.
Namun, tak ada yang menjawab satupun.
“Diem berarti boleh kan ya,” ucap Kelly dan langsung duduk disebelah Arnold.
“Gue duluan ya, ada kelas bentar lagi,” pamit Arnold.
“Lah kok gitu sih Nold,” ucap Kelly dengan wajah memelasnya.
Namun, Arnold tak mempedulikannya. Ia tetap berjalan menuju kelasnya.
“uluh-uluh kasian,” ejek Kayla
“Ck, jahat banget sih lo, bukannya semangatin malah ngeledek,” ucap Kelly sedikit kesal.
“Emm thayang sini peluk yuk,” ucap Kayla merentangkan kedua tangannya. Namun, Kelly geli dengan sikap sahabatnya itu.
“Sorry, gue masih normal Kay,” jawab Kelly, lalu meninggalkan sahabatnya itu.
“Ututututu, ditinggal kan lu munaroh,” cibir Leon.
“Heh! Julendri, diem lo!” bentak Kayla, lalu pergi menyusul Kelly.
“WOII NAMA BAPAK GUE LO SEBUT-SEBUT, KALO BAPAK GUE LAGI MAKAN TERUS KESELEK KARNA NAMANYA LO SEBUT GIMANA!” teriak Leon, yang membuat seisi kantin melihat kearahnya dengan wajah kesal.
Abgiel dan Leon saling memandang satu sama lain, lalu melihat orang-orang disekitar mereka.
“Cop bukan temen gue,” ujar Abgiel sembari mengangkat kedua tangannya.
“Astaghfirullah giel, solimi banget kamu ini,” ucap Leon.
“Solimi pala lo! ketus Abgiel.
...****************...
Disisi lain, Alluna, Caryn, Cintya dan Albara masih asik menyantap makanan mereka masing-masing.
Drrtt drrttt
“Ahh, iya,”
Albara pun melihat Handphone nya, 'Zifa', nama itu yang tertera di layar Handphone nya.
Dia kenapa nelfon mendadak gini sih! ucap Albara dalam hatinya.
“Em, iya kenapa?” tanya Albara
“Anterin pulang,”
“Tunggu,” jawab Albara lalu mematikan ponselnya.
“Lun, aku pulang dulu ya,” ucap Albara
“Lah kenapa? ngga ada kelas lagi kamu?”
“Engga,” jawab Albara.
“Kok tiba-tiba pulang? belum juga selesai makan,” ujar Alluna
“Papa nyuruh pulang barusan, katanya ada yang penting,” elak Albara.
Gue tau lo bohong Al. Batin Cintya.
“Yaudah, hati-hati,” ucap Alluna sambil melontarkan senyumannya.
Albara membalas senyuman gadis itu.
Dikelas Alluna
“Ck, ini gimana ya” gumam Alluna.
“Ada yang bisa aku bantu?” tanya Arnold.
“Oh, yang ini lho, gimana sih?”
Arnold pun menerangkan materi, yang tak dipahami Alluna.
Tanpa disadari mereka menjadi lebih dekat dari sebelumnya.
“Oh gitu ya, makasih,” ucap Alluna tersenyum.
“Iya sama-sama,” jawab Arnold dan membalas senyuman Alluna.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian
Akhirnya kuliah hari ini pun selesai.
Alluna dan Arnold jalan berdampingan keluar dari kelas.
“Uhuy kok jalannya barengan gitu?” goda Caryn, yang tiba-tiba muncul di hadapan Alluna dan Arnold.
Alluna melihat Arnold, ia tak menyadari kalau sedari tadi ia jalan berdampingan dengan Arnold.
“Hem, ayuk deh pulang!” ajak Alluna.
“Iya-iya mbak,” jawab Caryn.
“Luan ya, Nold” ucap Caryn, yang dibalas anggukan oleh Arnold.
Rumah Alluna
“Assalamualaikum,” ucap Alluna saat masuk ke rumahnya.
“MA LUNA PUL-”
“Waalaikumsalam, jangan teriak, bising tau ngga,” ucap Mama Alluna, yang kini sudah berdiri di hadapannya.
Alluna hanya menyengir mendengar ucapan Mamanya.
Pukul 20.00, Sebuah Cafe
“Zi, tadi Lo kenapa mendadak telfon sih? kalo gue ngga ada alasan buat bilang ke Alluna gimana? bisa-bisa Alluna curiga,” tanya Albara.
“Ya maap kali,” jawab Zifa.
Zifa? iya Zifa adalah pacar Albara, sebelum Albara bersama Alluna, ia sudah dulu berpacaran dengan Zifa.
Namun, entahlah Albara, ia hanya memanfaatkan Alluna untuk pendidikannya.
“Berapa lama lagi, Al?” tanya Zifa.
“Apanya?”
“Gue cape kalo terus pura-pura nggak kenal lo di depan orang lain,” ucap Zifa.
“Maap ya Zi, kalo gue kadang nyuekin lo,” ucap Albara.
“Lagian gue pacaran sama Luna, cuma buat pendidikan gue, Zi,” ucap Albara meyakinkan Zifa.
“Emm, iya deh,” jawab Zifa.
Rumah Arnold.
Abgiel dan Leon tiba di depan rumah Arnold, dari balik pagar rumah Arnold, Leon melihat adik Arnold yang ditarik paksa oleh Ayahnya.
“Eh itu adek Arnold kan?” tanya Leon kepada Abgiel.
“Iya deh kayaknya, tapi kenapa bapak Arnold semarah itu ya keliatannya?”
“Samperin yuk!” ajak Leon.
“Ayuk!” jawab Abgiel.
Mereka pun turun dari motornya, dan masuk ke rumah Arnold.
“Om, kenapa nih?” tanya Leon.
“Ini Alicya, malah ngumpul sama teman-temannya di luar rumah, bukannya belajar,” ucap Om Herman, ayah Alicya dan Arnold.
“Terus Om, kenapa pake narik-narik Alicya segala, liat tuh Alicya sampe nangis, Om,” ucap Leon yang khawatir.
“Kenapa nih, ribut-ribut?” tanya Arnold, yang mendengar keributan dari luar rumahnya.
“Alicya,” ucap Arnold
“Kamu kenapa nangis?” tanya Arnold.
Namun, Alicya tak menjawab, ia langsung berlari masuk ke rumah menuju kamarnya, dengan tangisnya yang tak henti-henti.
Perih, itu yang di rasakan Leon di hatinya, saat melihat Alicya menangis.
...Bersambung.......
...Like...
...Komen...
...Makasih^^...
Btw maaf baru Update, soalnya akhir-akhir ini tugas aku numpuk banget:')
Maaf ya sekali lagi 🙏😭
Kedepannya bakal aku usahain, Update teratur^^
__ADS_1