
Aldara harus, melihat kematian orang tuanya yang sangat tragis, disaat ulang tahun nya ke 18 tahun. Dalam perjalan bisnis ke Bali, kedua orang Aldara mengalami kecelakan, beruntun.
Dengan tergesah-gesah Aldara melajukan mobilnya kesebuah rumah sakit terbesar, dia langsung meninggalkan pesta ulang tahun untuk melihat orang tuanya kecelakaan.
"Mami, Daddy tidak boleh meninggalkanku sendiri. Hiks..huhu.." Dalam keadaan menyetir Aldara menangis.
Flasback.
Hiruk pikuk musik yang terlontar meriah membuat semuanya menggoyang badan mengikuti alur musik. Sosok gadis cantik dengan berbalut dres merah bermotif bunga mawar, di balut sepatu hak Hils membuat semakin cantik dan anggun. Ya di adalah Aldara Samatika Filis, hari ini adalah ulang tahun yang ke 18 tahun. Begitu meriah dan bahagia di pancarkan oleh teman-teman Aldara kala itu, tapi tetap saja ada yang membuatnya hati gadis cantik itu gelisa.
Aldara melirik seorang laki-laki ya dia adalah asisten rumahnya bernama Gibran, laki-laki yang sudah di anggap ayah ke dua bagi Aldara. Aldara pun membawanya karena Gibran lah menyiapkan ulang tahunnya.
Aldara melambaikan tangan pada laki-laki paru baya itu, dengan melihat tangan Aldara laki-laki paru baya itu langsung mengerti dan menghampiri gadis cantik itu.
"Paman kapan orang tuaku akan datang?" tanya Aldara
"Gimana Nona telepon saja"
"Aku sudah menelpon nya, tapi Mami, Daddy tidak mengangkatnya"
"Saya juga tidak tau Nona"
Wajah Aldara kini kesal, dan membuatnya semakin gelisa. Hingga telepon miliknya pun berdering, Aldara secara spontan melihat telepon nya, dan melihat panggilan dan ternyata adalah Ibunya.
"Mami" Gumamnya, dengan mengerutkan keningnya. Aldara memencet tombil hijau.
"Hallo Mami dimana? Acara potong kuenya terlambat karena Mami dan Daddy tau"
"Maaf apa ini saudara korban bernama Derila Abastain, dan satu lagi pria tua. Aduh maaf saya lupa namanya"
"Darila ? Itu Ibu saya pak"
"Oh Ini orang tua Anda, kalau seperti itu lebih baik Anda lebih baik datang kerumah sakit untuk melakukan data korban kecelakaan"
"Maksudnya orang tua saya kecelakaan?"
"Iya"
Telepon yang di pegang Aldara jatuh tanpa sadar jatuh ke lantai. Perasaan sesak dan jantung berdetak, menjadi satu. Kilasan ingatan terhadap kedua orang tuanya membuatnya terdiam, musik yang terdengar menjadi sunyi, tanpa sadar tangisan Aldara bersuara.
"Paman urus acaraku. Aku akan pergi ke rumah sakit"
Aldara meninggalkan acara ulang tahunnya yang meriah. Ia sudah tidak perduli lagi, karena sekarang baginya orang tuanya sangat penting.
_______________________________
__ADS_1
RUMAH SAKIT
Aldara berlari menuju resepsionis, yang berada di depan pintu masuknya, dengan wajah serius dan rasa takut.
"Sus, kamar korban yang baru kecelakaan bernama Derila dan Josh"
"Anda siapanya"
"Saya anak kandungnya"
"Oh baiklah, di kamar jenaza di lantai 2 tidak jauh dari toilet"
"Maksudnya orang tua saya meninggal sus?"
"Anda lihat saja. Silakan"
Aldara langsung berlari menuju lift, dan memencet tombol 2. Aldara meyakinkan dirinya bahwa kedua orang tuanya baik saja. Wajah Aldara sangat cemas, ia pun sangat takut.
Siapa yang akan menemaninya, siapa akan bersama dengan nya, memarahinya. Bahkan gadis ini hanya anak tunggal, tidak ada saudara. Sendirian sungguh Aldara benar-benar takut di tinggalkan.
"Jangan tinggalkan Aku.. Huhu.."
Ting.
Suara lift pun terbuka, Aldara langsung berlari melusuri lorong-lorong rumah sakit, hingga sampai ia berpijak di kamar jenaza yang sudah banyak orang di sana. Mereka semua adalah anggota keluarga korban kecelakaan.
"Sus dimana jenaza korban Derila dan Josh kedua orang tua saya"
"Lebih baik anda cari sendiri saja, karena kami tidak mungkin mengenali banyak korban"
Aldara, mencari-cari jenaza orang tuanya, dan membuka setiap kain di balut tubuh jenaza tapi belum bisa bertemu dengan kedua orang tuanya.
Hingga ada seseorang menyentuh pundak Aldara, spontan Aldara langsung berbalik dan melihat kebelakang.
"Kau siapa?" tanyanya.
Aldara terkejut melihat pria tampan dengan setelan jas berwarna hitam.
"Kau tidak perlu tau siapa Aku. Ikuti Aku, kau ingin bertemu orang tuamu kan"
"Baiklah"
Aldara mengikuti keinginan pria ini, walaupun ada rasa curiga dalam diri Aldara terhadap pria ini, tetapi ia pun tidak ada pilihan lain selain percaya.
Aldara dan pria itu, berhenti di sebuah kamar.
__ADS_1
"Di sini jenaza orang tua mu. Kalau begitu saya permisi" pria tampan itu membungkuk kan badan nya dan langsung meninggalkan gadis ini.
Aldara membuka pintu, dan melihat jenaza kedua orang tua nya, yang begitu pucat. Ia pun berlari dan sambil menangis dengan histeris.
"Deddy, mami ", tangisan nya yang meluap, hingga tak bisa di bendung lagi, saat Aldara melihat mayat kedua orang nya itu.
Ia terus menangis, tak terasa hingga seseorang suster datang , memakai seragam biru .
" Maaf, dek , jenazah akan kami pulang kan, di rumah " ucap suster itu
" Baik suster "
Aldara mengikuti, suster itu menuju mobil jenazah, karena jenaza orang tua nya harus di pulang kan. Di dalam perjalan Aldara terus menangis, ia merasa bersalah karena kedua orang tuanya seperti karena dirinya, yang memaksakan kedua orang tuanya datang ke ulang tahun nya .
Aldara mengambil telepon miliknya dan menghubungi salah satu asisten rumah tangganya untuk menyiapkan perlengkapan untuk jenaza.
Ia masih tak percaya, semua ini terjadi pada dirinya, di saat ulang tahun nya, Aldara harus mengalami pristiwa yang sangat tragis. Kehilangan keluarganya, seperti kehilangan hidupnya.
Sesampai di rumah, Jenazah orang tuanya di turunkan , di masukan kedalam rumah , di situ sudah ada benderan kuning dan orang berkumpul di rumah Aldara .
Karena Jenazah kedua orang tua nya sudah di mandikan, tinggal Jenazah di kuburkan , di situlah isak tangis Aldara lebih menguap .
" Mami, Daddy . Maafkan aku, jangan tinggalkan. Aku tak punya siapa-siapa lagi, Mami, Daddy . Gimana aku akan menjalankan hidupku, sedang kan aku baru lulus sekolah kemarin "
Seminggu Kemuadian.
Hidupnya sendiri sekarang, ia tak memiliki sanak saudara lagi. Tak ada lagi amarah dan ceramah di rumah ini yang hanya kenangan.
Aldara menangis di kamar kedua orang tuanya, melihat foto dan memeluknya.
"Aku merindukan mu Dad, Mam"
Ting Tong..
Suara pintu rumah Aldara terbuka, dan terlihat kerumunan laki-laki yang berjas hitam yang datang kerumah Aldara. Asisten yang membuka pintu itu pun terkejut melihatnya.
"Permisi apa ini rumah Aldara Samantika Filis" ucap salah satu laki-laki berjas hitam.
"Iya, anda-anda siapa ya?"
Salah satu berjas hitam, berbalik kebelakang dan menuju sebuah mobil yang mewah, dia kearah jendela mobil itu. Hingga seseorang membuka jendelanya.
_____________________________________
Ini Aku revisi lagi, maaf aku ubah banyak. Soalnya banyak banget kata-kata yang masih belum paham. Makannya Aku perjelas lagi kata-katanya.
__ADS_1
bye.