
TIDAK TAU MALU
.
.
.
.
.
Mereka di sambut oleh kepala pelayan, dan semua pelayan di istana keluarga Delefars.
" Tuan, kami senang anda sudah kembali, dan kami akan selalu menyamput Tuan Mark, " ucap kepala pelayan, baru baya yang bernama Alvar yang berusia 57 tahun.
" Tidak perlu seperti itu, " ucap Mark dengan angkuh.
" Silakan Tuan ", kepala pelayan itu membuka pintu dengan lebar .
Albert, Mark dan Aldara melewati para pelayan yang berbaris menundukan kepala, Aldara yang di belakangi oleh kedua laki-laki itu, sedang asik melihat-lihat sekeliling, istana keluarga Defars, ia berasa bagaikan cinderella, yang memasuki istana. Aldara melihat guci seperti vas bunga yang begitu besar, dan guci itu dari tanah liat, Aldara mendekati dan menyentuh guci itu.
" Wahh, ini bahkan lebih berkalilipat dari rumah presiden. Dan guci ini indah sekali dari tanah liat tapi di tengah guci ini ada bunga nya. Bagus " Aldara sekarang terlihat seperti orang norak, bahkan bukan hanya guci ia juga menyentuh piring-piring cantik.
" Piring ini bagus sekali, ini dari emas ya " ucap Aldara dengen mengeriat dahi, karena merasa heran. Akhir ia memberanikan memegang piring cantik dengan mas 78 karat.
Mark yang sudah berada di lantai 5, melihat Aldara seketika, dengan melihat-lihat barang milik rumah nya.
" Yaampun, gadis kecil itu " gumam Mark, dengan berdecak .
Albert yang sudah maju dua langkah dari Mark menghentikan langkahnya, karena merasa tidak ada sosok Tuan nya di samping, ia pun menoleh kebelakang. Penasaran timbul pada dirinya, karena Tuan nya melihat arah bawah , ia pun menghampiri Tuan nya dan melihat lantai satu.
" Ada apa Tuan ? " tanya Abert.
Mark berdecak, " Gadis kecil itu seperti kampungan saja, dia bahkan menyentuh barang-barang rumah ini, benar-benar barani " mata Mark melihat tingkah Aldara yang sedang menyentuh meja .
" Mungkin, ini baru kali baginya untuk memasuki istana, " jelas Mark.
Mark melihat Albert, " Kau urus anak itu aku lelah mau ke kamar " titah Mark dan melangkahkan kaki meninggalkan Albert.
Albert melihat Tuan nya pergi, dan langsung menuju lift.
Aldara yang sudah merasa lelah, ia duduk di sofa, dan melihat tembok langit-langit, " Mami tidak bilang, kalau Mami punya adik tiri yang tampan sekaligus sangat kaya, kalau aku tau ini rumahku Uncle, pasti aku akan sering-sering di sini " gumam Aldara, hingga bola matanya tertutup itu menandakan ia sangat lelah. Saat sudah gelap yang ia lihat, ada nama yang memanggil nya .
" Aldara bangun! "
" Aldara bangun !, hey "
Aldara langsung terbangun, dan dengan terkejut .
" Ada apa ? " Aldara langsung bertingkah aneh, karena baru saja memejam kan mata, ada nama yang memanggilnya.
" Kau itu ya, enak sekali tidur. Tidur di kamarmu " ucap Mark.
__ADS_1
" Maaf, Uncle Albert " Aldara yang sudah berdiri di sofa sambil menundukan kepala.
" Sekarang kau ikuti aku " titah Albert .
" Mau kemana ? " tanya Aldara.
" Tentu saja kekamarmu " jawab Mark, dengan nada yang sekidit kesal.
Albert membalikan badan untuk menuju Lift, di ikuti oleh Aldara, dan sudah di dalam lift justru suasana nya menjadi hening, sehingga membuat Aldara harus mencairkan suasana.
" Uncle, kalau keluarga Uncle Mark kemana ? " tanya Aldara.
" Kenapa kau ingin tau sekali ? " tanya Albert, dengan tenang.
" Bukan Uncle, cuman ingin tahu saja, istana ini masa cuman Uncle Mark saja yang tinggal. Tidak mungkin kan ? " ujarnya.
" Keluarga Tuan itu sangat gila bisnis, Mama dan Ayah tiri Tuan adalah seorang pembinis. Bahkan Tuan tidak mau memakai nama Gaint dari ayah tiri Tuan, karena selamanya ia akan memakai nama Delefars dari keluarga Ibunya" Jelas Albert.
Aldara menganggukan kepala, karena merasa sudah mengerti ucapan dari Albert. Sudah satu menit mereka sampai di lantai 5.
Saat Aldara keluar dari lift, bola matanya terbelalak dengan apa yang ia lihat
Aldara melihat mancur di lantai 5, bahkan lampu-lampu seperti lampion memhiasi lantai langit-langit ruang ini, bahkan menurutnya lantai 5 benar-benar sangat indah.
" Uncle Aku akan hidup di sini selamanya ?. Istana ini indah sekali "
Aldara menatap semua ruang itu, dari foto-foto hingga hiasan kramik puluhan miliar terpampang di lantai itu.
Albert yang menyaksika gadis ini sungguh membuatnya tersenyum akan tingkah yang mengemaskan itu.
Aldara mendekati Albert, " Uncle kamarku mana ? " tanya Albert.
" Sebentar lagi kita sampai "
" Oke "
Sampai lah mereka di sebuah kamar pintu, yang di lapisi kayu jati yang sudah tua.
" Ini kamarmu " Albert menujuk sebuah kamar di depan nya.
" Ini Uncle "Aldara menunjukan kamar itu.
" Iya "
Aldara merasa tidak yakin, istana sebesar ini masa justru Aldara harus menerima kamar yang jelek, karena pintu saja dari kayu jati di lapisi bentuk kayu-kayu itu.
Albert menyaksikan Aldara dengan heran, " Kenapa kau tidak suka kamar ini"
Aldara langsung terkejut, " Kenapa Uncle Albert bisa tau, Aku tidak suka kamar ini "
Aldara sadar ia sudah menumpang di rumah paman nya, jadi jika meminta lebih, takutnya akan membuat pamannya marah, " Aku suka sekali Uncle " senyuman terpaksa terlontar di bibir tipis Aldara.
" Yasudah masuk lah "
__ADS_1
Aldara hanya menganggukkan kepalanya.
" Kalau butuh apa, di dekat tempat tidur ada tombol tinggal pencet saja makan pelayang-pelayan rumah ini akan datang padamu " jelas Abert.
" Iya Uncle. Terima kasih "
Aldara menyaksikan Albert pergi, dan membuka pintu kamarnya dengan malas, setelah masuk ia justru menjatuhkan kopernya yang di tadi di bawa di tangan nya.
Aldara tidak menyangka jika, kamar milik nya sungguh indah, terdapat banyak lapisan emas di dalam kamar Aldara bahkan tempat tidurnya seperti tempat tidur sang Raja dan Ratu, bukan hanya itu, ia juga melihat lemari tua yang antik nama indah, seperti lemari yang pernah ia tonton di sebuah film kesukaan nya.
" Apa benar ini kamar ku " gumamnya.
Aldara kini, langsung merebakan tubuhnya di kasur yang sangat empuk dan nyaman, dan melihat langit-langit tembok di tercantum sebuah lukisan yang indah.
" Ahh, Aku seperti ada di dalam sebuah kerajaan, bahkan Aku seperti cinderella di bawa pangeran " Aldara yang sudah berimajinasi sendiri, hingga semakin lama mata gadis itu tertutup karena mengantuk.
Kamar Mark.
Mark kini selesai mandi, dan langsung menuju lemari untuk mencari pakai santai untuk di pakai, tidak lama ia melihat telepon miliknya di meja dengan lampu dan mengambilnya, Mark juga duduk di kasur miliknya. Mark menempelkan telepon nya di telinganya.
" Hallo Bert "
" Iya Tuan "
" Kamu cari tempat kuliah untuk Aldara "
" Kuliah Tuan ? "
" Iya, yang terbagus "
" Baik Tuan "
Mark langsung mematikan telepon nya, dan memakai bajunya.
Di kamar Aldara.
Aldara terbangun dari tidurnya, karena perutnya yang kini sudah meronta-ronta alias butuh makanan, karena dari siang Aldara belum makan, karena lelahnya ia langsung tertidur pulas.
Aldara memegang perutnya sudah lapar itu .
" Aku lapar, Aku ke dapur saja buat makanan, ada mie instan tidak di sini "
Aldara bangkit dari tempat tidurnya, dan mencium aroma tubuhnya yang tidak sedap, tentu saja Aldara belum mandi ia hanya mandi tadi pagi, itu saja lagi di pesawat .
" Aku mandi dulu saja, setelah mandi baru makan. Malu juga jika orang-orang di istana ini mencium tubuhku yang bau "
.
.
.
.
__ADS_1
Maaf Author jarang Up, soalnya jarang vote dan komen.