Love Me Uncle

Love Me Uncle
Episode 4


__ADS_3

Lapar.


.


.


.


Setelah mandi Aldara mencari baju nya di koper, ia tidak sempat untuk menaruh baju-bajunya di dalam lemari, karena saat masuk kemar ini ia masih merasa takjub akan keindahan semua di kamar ini, seperti kamar Raja dan Ratu, dan langsung tertidur.


Aldara mengambil salah satu baju tidur berwarna pink pasangan bercorak bunga putih, dan memakainya, setelah selesai memakai baju tidurnya, ia keluar dari kamar. Melangkahkan kaki nya berjalan dan seketika ia berhenti seperti ada yang salah dalam ingatan Aldara.


" Tadi lift nya dimana ya ?. kenapa Aku lupa sih, kebiasaan buruk " gumam Aldara.


Aldara kini mulai panik, ia berjalan keseluruh lantai 5, dan tidak juga menemukan lift, Aldara memang mempunyai penyakit yaitu jika bangun tidur ia akan lupa sedikit kecuali hal penting .


Aldara kini terus melusuri setiap ruangan, tapi kini ia tidak menemukan jalan untuk keluar di lantai 5 yang ia tepati sekarang. Hingga jalan nya pun mulai melemah karena lapar di perutnya.


" Aku lapar, dapur dimana ? " suara pelan di terdengar saat Aldara bicara.


Aldara menyender di tembok. Karena sudah tidak kuat lagi untuk berjalan, lelah lapar itu yang di rasa Aldara sekarang.


Brak.


Tubuh Aldara terjatuh di lantai, tapi Aldara melihat seperti ada seseorang laki-laki yang memanggil namanya dan mengendong dirinya.


Beberapa menit Aldara terbangun. Mata nya mulai terbuka, dan melihat seseorang laki-laki berbicara pada dokter. Aldara merasa kepalanya pusing, tangan Aldara kini memegang jidatnya.


" Aku dimana? " tanyanya.


Aldara melihat sekitar, dan mendapati di sebuah kamar, dan melihat laki-laki mendekati dirinya.


" Kau tidak apa-apa ? " laki-laki itu mendekati Aldara dengan wajah khawatir.


Aldara masih belum terlalu jelas melihat laki-laki ini, tapi dari suaranya ia merasa mengekenalnya.


" Uncle Mark ? " lirihnya.


" Iya ini Aku, kau tidak apa-apa "


Hingga mata Aldara kini terlihat jelas laki-laki di depannya.


" Aku tidak apa-apa Uncle. Aku cuman... ? " suara seketika berhenti.


Gruukk


Suara perut terdengar kini di ruang itu, membuat Mark yang dengarnya kini merasa heran.


" Kau belum makan ? " ucap Mark dengan berdecak.


Aldara hanya mengelengkan kepala, dan membenarkan ucapan Uncel Mark.


" Yasudah kau istirahat, dan Aku akan memanggil kan pelayan untuk membawakan mu makanan. " ujar Mark.


" Maaf Uncle, Aku sudah menyusahkan Uncle. "


" Kau tau Aku sebenarnya mau mengajakmu makan di luar tapi, seperti kapan-kapan saja "


Aldara terkejut dengan ucapan Mark, dengan perasaan tidak percaya, " Masih Uncle mau mengajak ku makan. Ah ini pasti mimpi "


Aldara bangkit dari tidurnya hingga berpindah posisi menjadi duduk, untuk meyakinkan dirinya sendiri Aldara, melihat Mark, " Uncle serius mau mengajak ku makan di luar? " tanyanya.

__ADS_1


" Iya, emang kenapa ?. "


" Aku mau makan di luar saja "


" Tidak, kondisimu seperti itu, Aku tidak membawamu makan di luar "


" Aku baik-baik saja " dengan mata berkaca-kaca agar Unclenya mau mengajaknya makan di luar .


Mark melihat, " Aku bilang tidak-tidak . Jangan membantah. Istirahatlah "


Mark meninggalkan Aldara, sedang kan Aldara kini merasa kecewa,


" Uh kenapa juga Aku harus pingsan seperti ini, jadi tidak makan di luarkan " gerutunya di hati.


Aldara kini merasa memgutuk dirinya sendiri, bosan tentu gadis itu rasakan, karena Aldara adalah orang gampang sekali bosan akan sesuatu, untuk ia merasa kesempatannya untuk jalan-jalan di luar kini sia-sia.


" Huh menyebalkan "


Pagi hari.


Pagi hari semua pelayan di istana sedang sibuk, dan semua perkejaan memasak di kerjakan oleh koki, menyapu dan mengepel semua sudah Ada posisi.


Aldara yang masih tidur kini belum terbangun, hingga ketukan pintu yang terdengar di luar membuat Aldara terkejut, hingga jatuh.


"Nona bangun, ini sudah pagi" teriakan pelayan yang mengetuk pintu Aldara.


"Aduh, sakit" rintih Aldara.


Aldara yang jatuh dari kasur langsung terkejut dan sedikit sakit di pinggang juga kepalanya karena terbentur di lantai karena seseorang mengetuk pintunya hingga membuat Aldara jatuh di tempat tidurnya.


Tok


Tok


"Ini pelayan tidak bisa tenang apa, Aku masih ngantuk juga" Aldara berdiri lantai dan menuju di pintu kamar dan membuka pintu kamarnya.


"Ada apa?" tanya Aldara dengan ketus, karena ia masih kesal pada pelayan ini yang membuatnya jatuh dari tempat tidurnya.


"Permisi Nona, maaf tadi Tuan menyuruh saya untuk membangun Nona" ucap pelayan dengan sopan.


"Oh, ya sudah kalau begitu. Aku akan turun"


"Urusan Nona biarkan saya saja urus" ucap seseorang laki-laki yang baru datang.


"Baik Tuan" pelayan itu menundukan kepalanya dan meninggalkan Albert dan Aldara.


"Tuan Albert?"


"Iya" Albert berjalan mendekati Aldara.


"Ayo kita turun" titah Albert langsung mengenggam tangan Aldara.


"Aduh, pinggangku" Aldara merasa nyeri di bagian pinggangnya.


"Kau tidak apa-apa" Albert merasa cemas.


"Tidak apa-apa Tuan. Ya sudah kita turun"


***


"Uncle?"

__ADS_1


Aldara melihat Mark sedang memotong kue, untuk nya sarapa.


"Duduklah" titah Mark.


Aldara langsung duduk di meja makan, ia masih terdiam dengan makanan di mejanya. Mark langsung melihat Aldara.


"Kau belum mandi"


"Ehn?"


Aldara melihat tubuhnya sendiri, dan langsung berdiri dari meja makan.


"Aku akan mandi" wajah malu yang terlihat di wajah cantik Aldara.


"Tunggu!. Duduklah. Ada yang ingin ku bicara kan padamu" ucap Mark, sambil memotong roti yang berbalut selai.


Aldara menatap Mark, dan langsung duduk di meja makan


"Ada apa Uncle?" tanya Aldara, dengan heran.


"Kau ingin kuliah dimana?" tanya Mark.


"Kuliah?"


"Iya"


"Menurut Uncle Aku harus kuliah gitu?" Aldara yang merasa tak percaya dengan laki-laki depan nya.


"Tentu saja"


"Tunggu, Uncle mau kuliahkan ku gitu?" ujar Aldara, yang masih tidak percaya bahwa paman nya mau kuliahkan dirinya.


"Kau itu baru lulus sekolah, tentu saja kau harus kuliah. Mengerti"


"Apa?! Aku tidak mimpikan. Dia bilang apa Aku harus kuliah."


Aldara tentu saja, tidak menyangka bahwa adik tiri maminya, mau kuliahkan dia. Bukan nya paman nya itu belum bisa memaafkan Maminya. Tapi kenapa paman nya ini mau kuliahkannya.


"Hey" ucap Mark yang membuat lamunan Aldara buyar, " Kenapa kau diam seperti itu. Ada masalahkah dengan ucapanku" sambung Mark dengan nada tegas, Mark tidak suka dengan sikap ponakan tirinya, karena mengacuhkan saat dirinya berbicara.


"Eh, tidak Uncle"


"Terus kenapa kau diam?" tanya Mark.


Aldara yang merasa, tidak tau apa di pikirkan oleh pamanya ini, membuat Aldara merasa gelisah dalam hatinya.


"Gimana ini, aku ingin bertanya pada Uncle kenapa dia mengkuliahkan diri. Tapi..."


"Kau tidak ingin kuliah"


.


.


.


.


Author Up lagi.


Tapi ini sesuai mood saja, makanya like vote dan komem ya, jgn lupa rate nya .

__ADS_1


__ADS_2