Love Sparkling

Love Sparkling
Punya Nyali Juga!


__ADS_3

"Terkadang cinta memang susah untuk ditebak. Kemarin benci sekarang rindu."


 


●●●●


 


"Cuman Dua juta murahlah." Ujar pria tampan itu.


"Gila si Ver emang kekayaan Orang tua lo itu berapa si? dua juta lo bilang murah?" Ucap Brilliant terkejut.


Vero pun tersenyum. "Pliss deh Bril jangan kayak orang susah. Emang jajan Lu kesekolah berapa Tiap harinya?" Tanya Vero yang masih fokus dengan HP nya.


Brillian Yang ditanya oleh Vero pun mulai menghitung jarinya.


"Cuman sepuluh ribu. itupun ditambah dari hasil gue ngamen." Jawabnya.


Brilliant pun menunduk meratapi nasibnya. keduanya memang jauh berbeda, Vero terlahir dari keluarga yang kaya raya. sedangkan Brilliant hanya dari keluarga biasa atau bahakan bisa dibilang kekurangan.


"eumm lo mau kerjaan?" Tanya Vero pada Brilliant.


Brilliant menatap bingung ke arah Vero.


"Apa? nguli?"


Vero pun tersenyum mendengar penuturan Sahabatnya itu. "Bukan, Ayah gue katanya lagi butuh Supir." Jawab Vero.


Brilliant Menggelengkan kepala lalu ngejitak kepala Vero. "Prekedel, gue gak bisa nyetir."


Vero pun menggaruk tengkuknya. "hehe sorry gue lupa." katanya sambil nyengir.


 


●●●●


 


Keduanya menelusuri koridor sekolah.


Brilliant terlihat sibuk dengan permennya, sedangkan Vero? seperti biasa Dia sibuk dengan HP dan headset yang ia kenakan.


"Ver?" Panggil Brillian yang kini menunggu jawaban dari Vero.


"hmmm?" Jawabnya singkat


"Katanya bakal ada murid baru disekolah kita." Kata Brillian yang semakin geram karena Tidak dihiraukanoleh Vero. "WOI!" Gertak Brillian yang berhasil membuat Vero terkejut. "Lo dengerin gue gak si?" sambungnya lagi.


"Iya gue dengerin kok. dan yang pasti dia bakal naksir sama gue." Jawabnya sambil menaik turun kan kedua alis nya.


PELETAKKK


Brillian menjitak kepala Vero "Ngarepp."


"AWASSSS!" keduanya serempak menengok kebelakang dan byurrrr minuman yang dibawa gadis itu tumpah dan membasahi baju Vero.

__ADS_1


"Upssss, Sorry." gadis itu berusaha memposisikan dirinya.


"ELOO!!" Bentak Vero


Belum sempat Vero melakukan apapun gadis itu lebih dulu mengambil langkah seribu dan meninggalkan Vero.


 


●●●●


 


"Sialan, kalo sampe gue ketemu sama tu cewek gue bejek-bejek jadi sate." Vero menampakan emosinya didepan Cermin toilet.


Sedangkan Brilliant dia masi menertawakan Vero atas kejadian naas tadi


"Siapa tu cewek? perasaan gue baru liat." Tanyanya pada Brilliant.


"eumm, mungkin Anak baru? Atau enggak Dia anaknya Ibu kantin?" Brillian mulai menebak nebak di iringi dengan Anggukan Vero.


"pokoknya siapapun Dia, Gue harus bikin perhitungan!" Tegasnya.


"Yoi bro, Gila seorang Vero Pangeran SMA Trisakti diguyur ditempat Umum bisa-bisa reputasi lo sebagai Bintang sekolah langsung Ancur gara-gara kejadian tadi. Prihatin!"


"Gak sampe segitunya juga Ayamm." Vero meneloyor kepala Brilliant gemas lalu pergi meninggalkan Brilliant.


"Prekedel, Tungguin gue" teriaknya.


Sedangkan Vero jalannya terhenti dan seperti memperhatikan sesuatu.


"Cewek sialan." Gumanya.


Vero pun tersenyum evil. "Bril lo mau ikut gak?"


Brillian menatap Vero bingung. "Kemana?"


"Nangkep Ikan." Vero pun berjalan mendekati seseorang Diikutu oleh Brilliant.


"FEBI!" Teriaknya. Orang yang dimaksud Vero pun berbalikdan menatapnya.


mampuss... gumam gadis itu.


"lo pikir, lo bisa lari gitu aja dari gue." Gertak Vero dengan senyum evil nya.


" terus mau lo apa?" Febi mencoba untuk tenang.


Vero terus mendesak Febi hingga Febi mentok didinding.


"lo gak inget gue siapa?" Tanyanya sambil terus mendekatkan mukanya ke muka Febi, tiba tiba saja terdengar suara pak kepala sekolah yang memanggil nama lengkap Vero.


"ALVERO FEBRIANSYAH APA YANG MAU KAMU LAKUKAN?" Tanyanya.


Vero hanya menatap Pak kepala sekolah kesal, Sedangkan Febi dia mematung mendengar apa yang diucapkan Kepala sekilah barusan.


"Alvero, Febiana kalian berdua masuk keruangan Bapa sekarang!"Bentaknya.

__ADS_1


"Ini baru permulaan." Gertak Vero pada Febi.


RUANG KEPALA SEKOLAH.


"Baiklah, bisa dijelaskan apa yang sebenarnya terjadi, ALVERO!” Pak kepala sekolah menatap geram Vero yang menyenderkan tubuhnya pada salah satu kursi didepannya.


Cowok dengan alis tebalnya yang hampir menyatu itu, menampakkan gaya santainya saat pertanyaan itu terlontar untuknya.


“Jadi begini pak,” Vero membenarkan posisi berdirinya, “Sebenarnya tadi kita lagi latihan buat pementasan teater sekolah.” Vero menaikkan sebelah alisnya sambil menatap wajah tak suka Febi.


“Dasar pembohong!” Kesal Febi pelan. Ia terus menatap Vero yang kembali menjelaskan.


“Kebetulan, saya sama dia itu yang menjadi romeo and julietnya, jadi tadi kita mencoba untuk memperagakan satu adegan dimana keduanya ingin melakukan..” Dira sengaja menggatungkan perkataannya bersamaan dengan jemari tangannya yang membentukk tanda tanya (??).


Tapi bapak tenang, kita gak benar-benaar melakukan itu kok.” lanjutnya masih dengan gaya santai khas Vero.


“Benar begitu.. Febi?” Pak kepala sekolah berganti menatap Febi tajam, menunggu jawaban dari bibir gadis manis itu.


Vega menunduk setelah menatap tatapan sangar Vero yang penuh ancaman, sepertinya cowok itu tak segan-segan membunuhnya jika membocorkan apa yang sebenarnya terjadi.


Dengan sangat terpaksa Febipun mengangguk pelan. “Benar pak.”


Vero tersenyum lepas, hatinya seakan lega, itu berarti ia terbebas dari hukuman kali ini. 


Pak Irwan, kepala sekolah mengangguk pelan sambil membenarkan letak kacamata tipisnya, “Baiklah, kalau begitu kamu boleh keluar, Alvero.” 


Vero mengangguk, tersenyum sinis pada Febi yang menatapnya kesal. “Baikk Pak.” Vero kembali melangkah tapi langkahnya terhenti ketika suara pak Irwan kembali menggema.


“Tunggu!, ini peringatan untuk kamu,” Pak Irwan menatap Vero yang berbalik. “Sekali kamu buat masalah, bapak tidak akan segan-segan untuk memangil orangtua kamu kesini, MENGERTI!”


Vero mengangguk malas sambil berlalu meninggalkan ruangan putih itu. “Menyebalkan!” Grutunya pelan.


 


●●●●


 


Vero menyender didinding di samping Brilliant yang setia menunggunya didepan kantor kepala sekolah.


“Lo dusta apa lagi, biar terbebas dari hukuman?” Brilliant menggeleng, ia tau, pasti baru saja sahabatnya ini berbohong untuk sekedar lari dari hukuman yang setia menantinya.


Vero tersenyum tipis, terlihat lesung pipi kecil dipipi kirinya. “Apa ajah, yang penting ayah sama bunda gue gak dipanggil ke sekolah.” Cowok itu meregangkan otot lehernya.. terdengar bunyi “Krek!” seketika dari bagian tubuhnya itu.


Vero tak lagi menyender saat mendapati seorang siswi imut melambaikan tangan kearahnya dengan sebuah cake ditangannya.


“Ini buat Kamu Ver.” gadis imut itu menyodorkan cake itu pada Vero yang langsung menerimanya.


“Terimakasih.” Suara imut dan senyuman maut Vero mampu membuat gadis itu salah tingkah.


“Dimakan yah Ver!” Gadis itu berkata dengan ekspresi malu-malu, tersenyum senang saat Vero mengelus lembut rambut panjangnya yang terkepang rapi.


“Terimakasih…” Vero terdiam sejenak memikirkan nama gadis didepannya ini. Ia memang kesulitan jika harus disuruh mengingat nama seseorang, terlebih seorang cewek.


Brilliant menghampiri Vero dan berbisik ditelinga kanan Vero itu. “Mia.” Katanya pelan.

__ADS_1


Vero mengangguk cepat, “Makasih Mia,” semakin lembut Vero mengelus rambut hitamnya.


Brilliant menggeleng menyaksikan tingkah malu-malu Mia saat ini, mungkin semua cewek akan salah tingkah bila sudah didekat Vero, sahabatnya seperti sekarang. Setelah memberikan kue itu Mia pun pergi, disusul denga Vero dan Brilliant yang tak lama juga pergi menuju kelasnya.


__ADS_2