
Prank!
Ponselku terjatuh hancur berserakan di lantai, saat aku mendengar kabar bahwa orang yang paling berjasa dalam hidupku sedang di rawat di rumah sakit dalam keadaan kritis.
Tanpa berkata dan memperdulikan orang lain di sekitarku, aku langsung meraih kunci mobil dan bergegas mengendarai dengan kecepatan tinggi.
Pikiranku sangat kacau saat itu, aku bahkan menerobos lampu merah dan jalur busway untuk mempercepat perjalananku. Jantungku berdetak seakan ketakutan terbesarku akan segera datang.
"Ku mohon ayah, bertahanlah demi aku," isak tangis yang tak bisa kutahan, air mata mengalir begitu derasnya. Aku berlari menuju ruang IGD dimana ayah sedang dirawat disana.
"Bunda!" teriakku seraya berlari menghampirinya, aku berhambur memeluk bunda yang kala itu sedang berdiri menangis menutup wajahnya, tubuh kami bergetar seolah merasakan hal yang sama, kecemasanku semakin tak mendasar.
"Bunda, bagaimana keadaan ayah? Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa ayah sampai bisa dirawat disini?" Pertanyaan bertubi-tubi dari ku menyerang sosok wanita lemah lembut yang kini sedang memelukku, mencoba menenangkanku disaat perasaan resah yang sama menyelimuti hatinya.
"Tenanglah Amerta, ayah baik-baik saja, jangan menangis. Doakan saja yang terbaik untuk ayahmu," jawab Bunda sambil menepuk punggungku dengan kelembutannya.
Secara bersamaan Dokter keluar dari ruangan, "Dokter, bagaimana keadaan ayah saya dok?" tanya ku dengan reflex langsung memegang erat lengan dokter.
"Tenang lah, Ayah mu sudah melewati masa kritis, beliau sedang beristirahat, sebaiknya jangan diganggu terlebih dahulu. saya permisi ya." Dokter bergegas pergi setelah memberikan kabar baik pada kami.
Dengan memakai pakaian medis, beserta masker dan sarung tangan, aku dan bunda pergi masuk ke ruangan untuk melihat keadaan ayah. Sungguh hatiku benar-benar rapuh melihat kondisi ayah yang terbaring lemah tak berdaya di atas meja pasien, dengan kabel oksigen yang menutupi hidungnya.
"A--ayah, ini Amerta yah, Ayah cepat sembuh ya, Amerta sayang ayah, Amerta janji akan selalu berbakti pada Ayah," lirihku sambil terisak, menggenggam erat tangan ayah dan tak henti menciumnya.
Beberapa hari berlalu, saat setelah Ayah sudah cukup membaik, meskipun dengan pekerjaan menumpuk, aku tetap siaga untuk terus menjaga Ayah, bahkan terkadang aku rela membawa pekerjaan ku ke rumah sakit untuk bisa tetap mengawasi dan merawat Ayah yang sangat aku cintai.
__ADS_1
"Amerta," panggil lirih Ayah saat aku sedang fokus pada pekerjaan ku bersama Alex.
"Iya yah, apa ayah butuh sesuatu, nanti biar Amerta ambilkan," jawab ku yang langsung bangkit dari tempat dudukku.
"Bisa bicara sebentar," kata ayah sambil melihat ke arah Alex sekilas, memberinya kode untuk keluar dari ruangan.
"Permisi, saya mau ke toilet sebentar," ucap Alex yang langsung peka pada tatapan ayah. Aku menganggukan kepala sambil tersenyum, tatapan penuh cinta mungkin kini tampak terlihat jelas dari bagaimana cara ku melihat ke arah Alex, akan tetapi sangat sulit untuk menutupi perasaan ini.
"Amerta." panggil ayah sambil memegang tangan ku, "Iya ayah," jawabku lembut dan perhatian, perlahan aku mendekati ayah dan duduk di kursi tepat di samping ayah berbaring.
"Amerta, ayah ingin melihatmu segera menikah," ucap ayah, dengan tatapan menyedihkan melihat ke arahku.
"Menikah!" Aku benar-benar terkejut dengan perkataan ayah, "Iya Amerta, maafkan ayah. Tapi ayah sudah menyiapkan semua untukmu, berjanjilah kau tidak akan menolak, ayah sudah membuat perjanjian bersama sahabat ayah, ayah akan menjodohkanmu dengan anak lelakinya," ucap ayah yang lagi-lagi membuatku semakin terkejut.
"Apa! Dijodohkan!" Pikiranku seketika kacau, bagaimana tidak, aku yang sudah terlanjur memiliki sebuah perjanjian hitam diatas putih, bagaimana bisa menjawab permintaan ayah yang sangat sulit bagiku.
Aku hanya bisa terdiam, apa yang harus aku lakukan, jawaban apa yang harus aku berikan. Sungguh aku benar-benar tak bisa memutuskan.
Flashback Tiga Bulan Yang Lalu.
Semua berawal dari kesalahan yang aku perbuat, aku hampir saja merusak segalanya.
Hari itu, aku menghadiri sebuah acara pernikahan, di sebuah gedung, tepatnya di hotel bintang lima, aku menghadiri acara pernikahan seseorang yang aku cintai selama sepuluh tahun terakhir.
Arfan Alfandro namanya.
__ADS_1
Kami sekolah di perguruan tinggi yang sama, juga bekerja di perusahaan yang sama, aku tak pernah menyamakan kedudukan ku dengannya, dia yang berstatus sebagai Ceo, anak dari seorang Diego Alfandro, pemilik perusahaan tempat aku dan ayah bekerja.
Sedangkan aku, hanyalah anak angkat dari seorang Direktur yang bekerja di perusahaan miliknya.
Aku tau, cinta ku ini bertepuk sebelah tangan, sedari awal hanya aku yang selalu mencintainya, mengaguminya dari kejauhan. Aku menyaksikannya mengucap ikrar ijab qobul di hadapan penghulu dan para saksi, menggenggam tangan wanita yang dia cintai, dan kini sudah sepenuhnya milik orang lain, hatiku benar-benar sakit, tapi aku tau diri, aku yang seperti ini, tak pantas untuk mengharap balasan apapun.
Sepuluh tahun lamanya cintaku bertepuk sebelah tangan, cinta yang terus tumbuh tanpa seorang pun yang tahu, akhirnya pupus begitu saja. Cinta yang tak terwujud sampai akhir, perasaan yang tak mampu ku sampaikan, akhirnya kini aku terlepas dari jeratan rasa rakusku, yang selalu menginginkannya, mendambakannya dalam fantasiku yang luar biasa, meski menyakitiku, aku tetap mencintainya dalam diam.
Ku kira aku sudah bebas dan merasa lega, kukira aku akan berhenti mencintainya begitu saja, ternyata tidak. Aku merasa kesepian, batinku merasa tersiksa, hati ku merasa sakit, separuh jiwaku terasa hilang. Di sebuah ruangan yang gelap, ditemani dengan beberapa botol bir, aku duduk sendiri layaknya seorang yang frustasi.
Aku mengecam, berkecamuk berargumen sendiri, aku berusaha menguasai diriku yang tenggelam dalam lautan luka di hatiku, aku sangat merasa kesepian, padahal aku yang ingin menyendiri. Menghadapi rasa sakitku sendiri tanpa seorangpun yang bersimpati.
Ternyata aku salah, aku tak bisa sendiri, aku tak ingin sendiri, aku ingin ada seseorang yang menghiburku saat ini, siapapun. Aku tak peduli siapapun itu, aku ingin ada seseorang yang memelukku saat ini, mengatakan semua akan baik-baik saja, mengajakku mengejar mimpi bersama, memelukku di saat aku kesepian dan merasa sendiri seperti ini. Siapapun itu, tolong aku, raih aku, peluk aku.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu secara tiba-tiba dari luar, aku tak ingin menjawabnya. Aku tak ingin ada seorangpun yang tahu aku disini dalam keadaan menyedihkan.
"Senior, apa kau berada di dalam?" lirih seorang pria yang tak asing bagiku, dia adalah Alex Riandinata, juniorku yang baru saja tiga bulan bergabung di perusahaan.
"Senior, apa kau baik-baik saja," ucapnya lagi dengan nada penuh perhatian, aku sedikit tersentuh dengan perhatian itu, tapi aku tak mungkin memperlihatkan kondisiku yang seperti ini sekarang. Aku tak mungkin keluar dengan kondisi yang berantakan dan bau alkohol seperti ini di hadapan juniorku.
"Pergilah, aku sedang sibuk!" ketusku tanpa memperdulikan apapun lagi, aku langsung menenggak botol yang masih tersisa di hadapanku, rasa dingin mulai menjalar di tubuhku, sungguh malang nasibku ini.
"Maaf senior, aku benar-benar khawatir padamu, aku hanya ingin melihat kondisimu sebentar." Terdengar jelas suara kekhawatiran dari nada bicaranya, hal itu membuat hatiku sedikit terusik, saat ini aku membutuhkan rasa simpati itu dari seseorang, tapi rasanya masih cukup berat untuk memperlihatkan sisi burukku yang seperti ini, benar-benar menyedihkan, aku tak ingin dikasihani oleh siapapun.
__ADS_1
"Tak apa, jika senior tak membiarkanku masuk, tapi kumohon tenanglah, jangan menangis seperti itu senior, kepalamu akan terasa pusing nanti," ucapnya yang terus saja membujukku, entah apa yang aku rasakan saat ini, dengan beberapa botol bir pun, belum bisa membuatku mabuk, atau sekedar melupakan rasa sakitku.
"Senior, paling tidak biarkan aku memberimu minum, agar tenggorokan mu tidak merasa sakit, kumohon senior." Suaranya semakin serak menahan tangis, suara yang terdengar penuh perhatian dan kekhawatiran itu menarikku, aku ingin rasa simpati itu, aku ingin kehangatan dari seseorang.