
Sudah lama aku mengobrol dengan Alex, hingga menghabiskan waktu makan malam bersama dengannya.
Sudah waktunya untuk pulang, kami pun bergegas dan Alex mengantarku sampai di depan rumah. "Terimakasih ya," ucapku yang turun dan langsung berjalan tanpa menoleh.
"Amerta!" teriak Alex memanggil namaku. Aku tertegun sejenak, "Dia panggil namaku," batinku, jantungku berdebar sangat kencang. Perlahan aku membalikan tubuhku melihat ke arahnya yang masih berada di dalam mobil.
"I Love You!" Alex tersenyum dan langsung Melajukan mobilnya. Sementara aku diam mematung dengan ucapan Alex yang semakin berani.
Aku tersenyum sendiri, entah apa yang aku rasakan saat ini. Rasanya seperti sedang melayang di udara, hatiku seperti sedang di mabuk asmara, "Apakah ini Cinta." Aku terpaku di tempat sambil melihat mobil Alex yang perlahan semakin menghilang.
"Sadar Amerta sadar." Kutepuk wajahku agar tersadar dari lamunan yang seakan larut dan tak ingin hilang.
Kulangkahkan kaki menuju pintu, belum sempat aku mengetuk. Bunda terlebih dahulu membuka pintu untukku, seakan beliau tahu jika aku sudah pulang.
"Tumben, pulang selarut ini? Sudah makan?" terlihat kekhawatiran di wajah bunda saat melihatku.
"Hehe …. Iya bun, sudah kok tadi sekalian ada meeting di luar," jawabku sambil mencium tangannya.
"Amerta!" panggil ayah saat aku baru saja sampai di ruang TV.
"Selesai mandi datang ke ruang kerja ayah," titah ayah tanpa menoleh ke arahku. Aku sangat takut saat ayah berekspresi seperti ini, penuh tanya, kenapa? dan ada apa? dalam pikiranku. "Baik yah," jawabku perlahan. Aku hanya mampu menjawab sesingkat itu lalu bergegas pergi untuk membersihkan diri.
Jantungku masih terasa berdebar, hal penting apa yang sebenarnya akan dibahas. Jika ayah sampai memanggilku ke ruang kerja miliknya, sudah pasti ada hal penting yang akan dibahas.
Tok! Tok! Tok!
Perlahan ku ketuk pintu ruang kerja milik ayah.
"Masuk!" Suara berat itu benar-benar membuatku merasa merinding. "Duduklah sebentar," ucap ayah menunjuk ke arah sofa yang berhadapan dengannya.
"Ada apa ayah, kenapa memanggilku kesini? Apa ada pekerjaan rahasia seperti dulu?" Aku benar-benar merasa was-was, aku masih penasaran dengan ayah yang tiba-tiba saja memanggilku kesini secara pribadi.
__ADS_1
Aku teringat pada waktu itu, sama seperti halnya dengan hari ini. Dulu ayah memanggilku kesini untuk sebuah misi, pekerjaan yang rumit dan rahasia di sebuah negara asing, ah rasanya aku tak ingin mengingat hal itu, pekerjaan yang merepotkan bagiku.
"Sepertinya memang anakku sudah jauh lebih baik hari ini," ucap ayah yang tak bisa aku mengerti.
"Maksud ayah?"
"Ya, semenjak kejadian itu. Sepertinya kamu sudah jauh lebih baik sekarang?"
"Sepertinya begitu." Aku menunduk, memang semenjak hari itu. Hari dimana membuatku merasa terpuruk sendiri, harus merelakan cinta yang sudah bertahun-tahun lamanya ku pendam, cinta yang tak bisa ku ungkapkan hingga akhir.
Namun, bukan itu yang ku khawatirkan saat ini. Ada hal yang lain yang mengganjal di dalam pikiranku, bagaimana caranya aku akan menjelaskan pada ayah, jika memang akhirnya aku memutuskan untuk menikah dengan pria yang baru saja aku kenal.
"Sepertinya, ada hal yang sedang kamu khawatirkan putriku," ucap ayah dengan tatapan tenang, sambil mengangkat gelas kopi yang berada di hadapannya.
Di depan mata ayah yang seolah bisa mengintip isi hatiku, aku merasa seperti kembali menjadi anak kecil.
"A--apa? Khawatir? Ti--tidak, Kenapa tiba-tiba ..." Aku tergagap seperti sedang tertangkap basah melakukan kesalahan.
Glek!
Aku menelan ludahku, rasa gerah panas menjalar di tubuhku, Bahkan ayah bisa tahu sampai sejauh itu.
"Omong-omong, belakangan ini ayah mendengar gosip yang lumayan menarik," ucapan ayah yang kembali membuatku merasa panik.
"Ru--rumor, rumor apa?" tanyaku gagap dengan setengah mendelik memastikan.
"Tentang dirimu," jawab Ayah sedikit tersenyum menggodaku.
"Rumor tentangku?"
"Hmm, bahwa aku gila bekerja, dan sampai saat ini masih melajang, itu sudah biasa untukku," jawabku sambil sedikit melontarkan senyum palsu untuk mengelabui ayah.
__ADS_1
"Rumor bahwa kau sedang dekat dengan seseorang, dia bernama Alex." Tatapan ayah tanpa ekspresi melihat ke arahku, aku seakan terkunci pada tatapan tajam itu.
"Apa, itu benar adanya?" tanya Ayah seperti sedang mengintrogasiku.
"Diakan hanya sekretarisku ayah, jadi kemana-kemana selalu bersamaku," jawabku mengatakan sebagian dari kebenarannya, toh memang benarkan, Alex adalah sekretarisku dan sudah pasti akan selalu berada di dekatku.
"Jika hanya itu, mengapa rumor ini bisa sampai di telingaku," ucap ayah melontarkan senyumnya kembali.
"Lagi-lagi sepertinya hanya kau yang tidak tahu apapun." tambahnya.
Aku membuang nafas yang terasa begitu berat, "Sudah tersebar rupanya," jawabku menundukan kepala, aku bingung harus berkata apa lagi pada ayah.
"Sepertinya kau menyukai pria itu?" tanya ayah menatapku dengan serius.
"Tidak, mana mungkin secepat itu, lagipula dia hanya seorang junior yang baru saja kemarin bekerja," jawabku yang seolah mendustai diriku, entah mengapa dengan jawaban itu seperti ada tekanan berat dalam hatiku.
"Meski begitu, sepertinya kau juga tidak terlihat tidak menyukainya?"
Pertanyaan macam apa itu, ada apa dengan ayah, mengapa malam ini dia begitu ingin membahas tentang Alex denganku, "Aku tidak sejahat itu untuk tidak menyukai seseorang, lagian dia tidak memiliki kesalahan apa-apa padaku, kan?"
"Sebagai wanita yang menolak banyak pria dengan kejam, kamu terlalu banyak bicara anakku." Ayah tersenyum sambil menyeruput kopi yang terlihat sudah dingin.
"Itu karena mereka semua memalukan, hingga membuatku merasa mual. Berbeda dengan Alex, dia adalah korban dan aku harus bertanggung jawab, dia juga sedikit tampan dan tidak menjijikan seperti pria lainnya," batinku yang hanya bisa menjawab perkataan ayah dalam hati.
"Usia kalian terpaut tujuh tahun, kau lebih tua darinya?"
"Ya, sepertinya begitu." Aku menunduk, mengingat usia kami yang memang sangat jauh, ayah mengingatkanku pada hal itu membuatku jadi seperti orang yang tak tau diri, menjalin hubungan dengan orang yang usianya sangat jauh lebih muda dariku, pasti akan menjadi cemoohan semua orang.
Ayah mendekat ke arahku, "Amerta, lakukan apa yang ingin kau lakukan, jangan batasi dirimu karena keadaan. Kau bukan orang yang pantas terkekang oleh masa lalu, bebaskan dirimu, jangan larut pada hal yang akan membuatmu rapuh seumur hidupmu."
"Ayah!" Aku memeluk erat pria yang selalu berada di pihakku, yang selalu mendukung apapun keinginanku, yang selalu memotivasiku untuk selalu bersemangat.
__ADS_1
"Terimakasih ayah, terimakasih." Aku sangat bersyukur memiliki orang tua seperti beliau.