Love Strunggle

Love Strunggle
perjanjian hitam di atas putih


__ADS_3

Saat itu, aku bahkan tidak sadar dengan yang kulakukan, aku langsung membuka pintu dan berlari berhambur memeluk tubuhnya, dengan brutal aku mencium bibirnya, "Se--senior," suaranya yang terdengar kaget, sama sekali tak ku hiraukan, aku ingin seseorang berada dalam pelukanku saat ini.


Aku menarik tangannya, masuk ke dalam ruangan remang pencahayaan, aku membawanya ke ranjang hotel yang berada di dalam, saat itu aku hanya ingin di hibur, ingin sentuhan seseorang yang bisa membuatku lupa pada rasa sakit yang aku alami saat itu.


Perlahan aku membuka semua pakaianku, hingga tak satupun dari lekuk tubuhku yang tertutup, aku mengalungkan kedua tanganku padanya, mungkin masih merasa canggung baginya, karena dengan tiba-tiba aku menyerang begitu saja, tanpa bertanya terlebih dulu padanya.


Perlahan aku kembali mendekatkan wajahku padanya, kemudian mengecup bibirnya dengan lembut, bibir kami bertemu dan saling bertautan satu sama lain, tak terasa aku semakin di mabuk kepayang, bahkan dalam fantasiku, aku membayangkan bahwa pria di hadapanku adalah Arfan.


Aku semakin liar, perlahan membuka kancing baju kemeja milik Alex, ciuman kami semakin menggila, Alex semakin mengganas, kami berdua pun semakin memanas. Perasaan yang tak pernah dirasakan sebelumnya, mendera ke seluruh tubuh kami berdua, yang kini sedang dikuasai oleh nafsu birahi.


Malam yang penuh gairah ini telah menyerang kami, sepasang makhluk yang dikuasai nafsu birahi, meskipun tanpa keinginan, atau landasan cinta, akan tetapi gairah ini lebih kuat dari kewarasan di jiwa.


Malam itu semakin larut, tapi kami masih larut dalam perasaan yang tak bisa diungkapkan, hanya Terdengar ******* nikmat dariku dan dia.


Hingga pada akhirnya, kami tumbang dalam pelukan satu sama lain, aku terlelap dalam pelukannya.


Keesokan paginya, aku terbangun lebih dulu dari pria yang aku serang semalam, aku benar-benar terkejut dengan kejadian itu, "Sepertinya aku mulai gila," batinku, sambil memegang kepalaku yang masih terasa pusing, akibat terlalu banyak mengkonsumsi alkohol.


Aku berusaha berdiri, tubuhku terasa begitu nyeri, terutama di bagian paha, rasa ngilu dan nyeri masih begitu membekas, rasa perih itu pun masih sangat terasa. Memang ini adalah kali pertama bagiku, "Jika tau rasanya menyiksa, aku tidak akan pernah menginginkan hal gila itu," gerutuku dengan suara pelan.


Aauuuu!

__ADS_1


Aku meringis saat hendak berdiri dari tempat tidur, aku menahan sekuat tenagaku, mengambil pakaianku yang berserakan di lantai, sesaat setelah aku memakai semua pakaian, aku duduk untuk mengurangi rasa nyeri.


Seandainya, aku tak mengenal pria ini, bisa saja aku langsung kabur dan membuang hati nuraniku,  melupakan kejadian tadi malam, "Toh, tidak ada satupun yang dirugikan," Aku terus mencoba menghibur diriku, meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Ku lirik wajah tampan yang semalam hilang kendali, begitu gagahnya menindih tubuhku, dan memberikan kenikmatan yang begitu luar biasa. "Ah, ada apa denganku." Aku memalingkan pandanganku darinya, masih dengan pikiranku yang kalut.


"Apa ku tinggalkan beberapa uang lembaran, dan berkata ini adalah sebuah kesalahan, atau berterima kasih telah memberikanku kepuasan." Aku menggelengkan kepala kembali, begitu bodohnya pikiranku ini, menganggap junior sebagai alat pemuas nafsu yang dapat di bayar. Jika seluruh kantor tahu, mereka pasti berpikir aku wanita yang haus akan belaian.


Ingatlah, pria ini adalah Alex. Junior yang baru saja bergabung di perusahaan dan belum genap tiga bulan, bagaimana jadinya nanti jika dia menyebarkan gosip yang tidak enak di dengar di kantor. Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal, aku bingung harus bagaimana.


Alex seorang junior yang selalu menjadi pembahasan utama di kantor, wajahnya yang tampan, tubuhnya yang tegap, serta sifat nya yang sopan dan ramah, membuatnya dijuluki sebagai si perebut hati para karyawan wanita di kantor.


Bahkan ayah, selaku Direktur pun turut memujinya, nilai bisnis yang dikuasai oleh Alex bukan lah main-main, ucap ayah yang selalu memuji Alex ketika sudah berada di rumah. Lalu dengan kejadian ini, bagaimana bisa semua orang akan mempercayaiku.


"Hm, Senior," ucapnya sambil mengucek mata, aku terdiam mematung sejenak melihat makhluk ciptaan tuhan yang tak memiliki cacat, "Baru bangun tidur saja, wajahnya terlihat begitu tampan." Aku ternganga melihat pemandangan tak biasa di hadapanku. "Benar-benar makhluk tuhan yang luar biasa," batinku yang terus memandang ke arahnya.


"Kau sudah bangun?" tanyaku sambil duduk di tepi ranjang. "Iya," jawabnya tersenyum, Wajahnya memerah saat aku bertanya demikian, aku merasa dia begitu imut dan lugu, hingga rasa bersalah tiba-tiba saja merasuki otaku.


"Alex, apa kau ingat kejadian semalam?" tanyaku, berharap keberuntungan ada di pihakku, untuk bertanya seperti ini pun aku mengumpulkan keberanian yang cukup kuat.


Wajahnya semakin memerah, dia tak menjawab apapun, kepalanya menunduk, entah apa yang dia pikirkan, yang jelas dari responnya, dia berusaha mengatakan bahwa dia mengingat segalanya.


"Hmm, Alex. Apa ini pertama kalinya bagimu?" tanyaku kembali. Lagi-lagi dia tak menjawab, tapi kini dia hanya mengisyaratkan dengan anggukan, aku yakin sekali dengan jawabannya, dia sangat lugu dan belum tahu cara berciuman pun, sudah pasti dia belum pernah melakukannya dengan siapapun. Aku semakin berpikir keras, rasa bersalah ku pun semakin kuat, "apa yang harus aku lakukan kedepannya."

__ADS_1


"Maafkan aku Alex, aku akan bertanggung jawab atas kejadian ini, aku hanya meminta jangan sampai ada yang tahu," Aku berusaha bernegosiasi dengan pria di hadapanku, aku akan memberikan yang ia perlukan, dengan gantinya dia tidak akan mengatakan apapun tentang hal ini pada siapapun.


"Pada dasarnya, kita sama-sama dirugikan, karena ini kali pertama untuk kita, kesalahanku hanya menyerang mu lebih dulu, jadi maafkan aku." Aku kembali meyakinkan Alex, karena dari tadi dia tidak memberikan respon apapun padaku.


"Tanggung jawab?" Hanya dua kata yang keluar dari mulutnya, aku tak tau dengan ekspresi murungnya, dia akan menjawab apa selanjutnya, tapi benar-benar dua kata itu saja dan tak ada kata lain lagi, mungkin saja dia masih bertanya-tanya apa maksud dariku. Aku benar-benar tak tahu harus menjelaskannya bagaimana.


"Tanggung jawab, maksudku, aku akan bertanggung jawab atas kecelakaan semalam," jawabku yang berusaha menjelaskan dengan kata-kata sehalus mungkin, tapi sangat sulit untuk mencari kata-kata yang dapat dimengerti. Di tambah tanggapannya seperti budak yang lemah dan tak berdaya, yang telah di renggut harta satu-satunya.


"Hmm… jadi begini, Alex. Kejadian semalam, itukan keinginanku, dan kau hanya mengikuti mauku. Jadi sebisa mungkin aku akan bertanggung jawab, jika ada hal yang bisa aku lakukan, aku akan melakukannya, aku benar-benar minta maaf padamu, karena kejadian semalam kau harus merasa kesulitan seperti ini." Entah apa yang aku ucapkan, yang jelas saat ini aku hanya ingin menenangkannya  terlebih dahulu, wajahnya terlihat bingung dan syok. Aku tak tahan melihat ekspresi wajah seseorang yang memelas seperti itu.


"Apapun, akan kau lakukan?" tanyanya, terdengar keraguan dari kata-katanya, kini Alex menundukan kepala tanpa ekspresi, "Tentu, apapun yang kau mau, asal kau bisa merahasiakannya dari semua orang." Aku mengulurkan tanganku menggenggam tangan Alex, aku berusaha meyakinkannya, mungkin saja dia hanya ragu padaku, karna seperti halnya aku, dia pun pasti merasa asing padaku.


Aku benar-benar takut, jika rumor ini akan menyebar, dan semua yang sudah ku bangun sejak awal hancur begitu saja, dan ayah akan sangat membenciku, apalagi jika sampai terdengar oleh pria yang sedari dulu aku cintai. Mau taruh di mana wajah ku.


"Apa senior berani bersumpah dan menulis hitam di atas putih," ucapnya yang kini memandang ke arahku, matanya sayu memohon menatapku. Lidahku terkunci untuk mengatakan sesuatu, entah hipnotis apa yang ada di matanya, seolah aku ingin menuruti keinginannya.


"Dengan senang hati." Aku mengambil selembar kertas putih dan menulis sebuah perjanjian secara resmi dengan tulisan tanganku sendiri, aku menandatanganinya, begitupun dengan Alex, wajahnya seketika berbinar membaca isi dalam surat itu.


Aku menulis bahwa aku akan menuruti semua yang ia butuhkan, semua yang ia inginkan, begitupun dengannya, tidak akan menyebarluaskan, sebuah kesalahan satu malam, apalagi jika rumor itu menjatuhkan diriku.


Dia tersenyum saat setelah menandatangani surat itu, matanya tak henti menatap ke arahku, "Lalu, apa keinginanmu?" tanyaku yang masih ingin tahu, karena aku tidak ingin berhutang apapun, kepada siapapun, aku ingin segera melunasi segalanya.

__ADS_1


__ADS_2