Love Strunggle

Love Strunggle
Hubunga Sebelum Pernikahan


__ADS_3

Hari menunjukan pukul 8:30, "Aku bahkan terlambat tiga puluh menit karena terlalu lama bernegosiasi dengan pria sialan itu," gerutuku sambil berjalan setengah berlari menuju lift.


Di perjalanan, aku berpapasan dengan Alex. Dia tersenyum ke arahku, "Pagi Senior," sapanya sambil melempar senyum ke arahku, jantungku terasa berdetak begitu kencang saat dia menyapaku sambil menyunggingkan senyumnya yang manis.


Padahal seperti biasanya Alex memang selalu menyapaku, akan tetapi mengapa hari ini terasa begitu berbeda. Wajahnya tampak begitu berkilauan hari ini, atau memang baru kali ini aku benar-benar memperhatikannya.


Aku mempercepat langkahku menuju ruangan, kulihat wajahku dari pantulan cermin, sangat memalukan. Bisa-bisanya wajahku berubah seperti udang rebus seperti ini.


Hari masih pagi tapi aku merasa begitu sesak dan gerah berada di ruangan. Pikiran ku masih begitu ambigu mencerna beberapa hal yang begitu mendadak ku alami, "Apa yang aku lakukan," batinku. 


Aku berpikir, akan terus menghindar saja dari hadapannya, toh dia hanya karyawan yang belum genap tiga bulan bekerja di perusahaan ini, tidak mungkin akan terus bertemu, selain jam makan siang atau jam-jam santai, itupun jika kebetulan.


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu mengejutkanku, aku membenarkan posisi dudukku untuk tetap terlihat elegan dan berwibawa, "Masuk," perintahku mempersilahkan seseorang yang mengetuk pintu untuk masuk ke dalam ruangan.


"Permisi Senior." Suara yang ingin aku hindari, mengapa tiba-tiba masuk ke dalam ruanganku. Aku melihat perlahan ke arah sumber suara, "Kamu, kenapa kamu ke ruanganku?" tanyaku yang tak habis pikir, bukankah dia masih dalam tahap Training.


"Maaf, senior. Hari ini adalah hari pertama saya bekerja sebagai karyawan tetap, sekaligus sebagai sekretaris anda," jawabnya terdengar santai dan tampak tak memiliki masalah apapun.


"Apa!" Aku terkejut dengan ucapannya, memang satu minggu lalu ayah berkata akan menggantikan sekretaris yang bisa mengikuti cara kerjaku, tapi aku tak menyangka jika Alex lah yang akan menjadi sekretaris pilihan ayah.


Alex tersenyum ke arahku, hal itu membuatku merasa kesal, "Lalu, untuk apa kau berlama-lama di ruanganku," ketusku yang merasa risih pada wajahnya, yang terlihat begitu tenang, sementara aku sangat frustasi dengan kejadian yang telah kami lewati.


"Saya, mengantar dokumen ini untuk senior, nanti siang jam dua, akan ada rapat bersama klien di cafe xx," ucapnya menyodorkan sebuah dokumen yang harus aku lihat dan tanda tangani.


Aku meraih dokumen tersebut, dan melihat ekspresi wajahnya yang kembali datar, aku heran dengan sikapnya yang berubah-ubah, "Apa jika aku membahas perjanjian tadi pagi, dia akan membatalkan permintaannya," gumamku dalam hati. Aku bahkan merasa ragu-ragu untuk terus menerus membahas hal yang tak ingin aku ingat.


Namun, jika dalam perjanjiannya aku harus menikah, rasanya sangat tidak masuk akal, apalagi usianya yang jauh lebih muda dariku, bayangkan saja, tujuh tahun lebih muda, rasanya sangat tidak masuk akal.

__ADS_1


"Hmm… Begini Alex, bisakah kau duduk sebentar," titahku menunjuk ke arah kursi di sampingnya. Dengan tenang dia duduk dan tanpa berkata apapun, seolah dia seorang yang menurut pada atasannya.


"Alex, dengan perjanjian tadi pagi, bisakah kalau kita mengubah isi dalam perjanjian," pintaku pada Alex, meskipun wajahnya berubah dingin tanpa ekspresi, aku tetap tak bisa melanjutkan hubungan tanpa dasar ini.


"Maaf, jika menyangkut masalah pribadi, jangan di jam kerja seperti ini, saya harap senior dapat memaklumi," ucapnya yang langsung berdiri, mengambil dokumen yang berada di hadapanku, dan meninggalkanku di ruangan itu. Seolah dia tahu apa yang akan dibahas dan dia sedang menghindarinya.


Aku menyandarkan tubuhku di kursi goyang kebangganku, pikiranku masih terasa ada yang mengganjal, aku gelisah tak tenang, memikirkan masa depanku akan seperti apa, meskipun aku tau kemampuan yang dimiliki oleh Alex, tidak diragukan dalam bidang bisnis. Bahkan ayah berpikir, jika Alex membangun sebuah perusahaan, perusahaannya akan berkembang pesat.


Pukul dua belas tepat, waktunya jam makan siang, sangat malas untuk keluar hanya untuk membeli makanan, seperti biasa aku pergi ke kantin untuk makan menu seadanya, biasanya aku di temani Risa, sahabat paling dekat denganku waktu masih magang dulu, meskipun jabatannya kini hanya sebagai karyawan, aku masih berteman baik dengannya, tapi sayang dia sedang cuti liburan bersama kekasihnya ke sebuah pulau.


Aku memesan semangkuk mie kwetiau sapi dan segelas milkshake strawberry, aku menikmati makananku, tapi mataku tertuju pada sosok pria tampan dan tegap, sedang berbincang bersama seorang


 wanita.


"Alex, mau makan?" tanya nyaring dari wanita bernama Monica, "Ya, ini baru mau pesan," jawab Alex yang tersenyum ke arahnya. Entah mengapa nafsu makanku hilang begitu saja melihat pria yang tadi pagi begitu memohon padaku, kini berdekatan dengan wanita lain.


"Mau makan bareng?" tanya Monica dengan wajah penuh harap. Aku memperhatikannya dengan kesal, akan tetapi Alex pun melihat ke arahku, aku langsung memalingkan wajah menunduk, seolah aku sedang makan menikmati makananku. Entah apa yang mereka bicarakan seterusnya, rasanya begitu menyebalkan.


"Boleh gabung?" sapa seorang pria, dia adalah Alex, "Hm.." jawabku singkat.


Dia membawa sepiring nasi goreng spesial dan segelas lemon tea. Bibirnya membentuk sudut senyuman, tanpa berkata apapun dia duduk dan menyantap makanannya.


"Jadi, Apa?" tanyanya yang membingungkan ku sejenak, "Hah, apa." Aku terlihat seperti orang konyol dan bodoh di hadapannya, sedangkan dia, tersenyum dengan sedikit suara tertawa yang tertahan. "Kau mempermainkanku." Aku mulai emosi dibuatnya.


"Tidak, aku tanya apa yang ingin kau bahas tadi," jawabnya yang kini mulai terlihat serius. Aku terdiam sejenak, berpikir untuk mengatakannya dengan benar, aku tak ingin jika salah bicara dan membuatnya salah paham.


"Hm… masalah pernikahan, ku pikir aku tak bisa melakukannya, kita belum mengenal satu sama lain, dan kurasa tidak tepat jika langsung menikah begitu saja." Aku berusaha mencari kata-kata yang bisa ia mengerti, dengan susah payah agar tak terjadi keributan di antara kita.


"Menikah, memang terasa sangat sulit dan begitu mendadak, ya," jawabnya, terlihat wajahnya mendadak berubah tanpa ekspresi, entah apa yang dipikirkannya saat ini, mengapa begitu sulit untuk menebak sosok pria yang kini sedang berada di hadapanku.

__ADS_1


"Sepertinya, waktu istirahat sudah selesai, aku harus cepat pergi sebelum atasanku kembali." Dia berlalu pergi begitu saja meninggalkanku sendiri. 


Aku bahkan tidak di berikan jawaban yang benar-benar memuaskan. "Jawaban seperti itu, apa bisa dikatakan dia menyetujui ucapanku." Aku berdiri dan berjalan cepat menuju ruangan, dengan perasaan kesal, rasanya begitu cepat waktu berlalu.


Aku berpikir keras untuk bisa mendiskusikan masalah ini dengan Alex, mengapa begitu sulit sekali, padahal Alex bukanlah orang yang susah untuk diajak berkomunikasi.


Pukul 13:30 aku dan Alex pergi ke sebuah cafe untuk meeting bersama klien, sebuah proyek yang sangat menguntungkan bagi perusahaan, akan tetapi sialnya di saat seperti ini aku malah tak fokus, pikiranku kalut kemana-mana. 


Beruntung aku pergi bersama Alex, dia yang menghandle proyek dan mempresentasikan dengan sempurna, "Luar Biasa," gumamku dalam hati, aku terkesima dengan kemampuan Alex. Kesigapan yang luar biasa, yang belum tentu dimiliki oleh orang lain.


Aku masih berpikir, siapa sebenarnya pria yang berada di hadapanku, usianya yang masih terpaut dua puluh tiga tahun ini, seperti sudah memiliki banyak pengalaman di bidang bisnis, atau ini memang bakatnya.


Setelah selesai dan mendapat proyek besar itu, aku merayakan bersama dengan Alex, aku sengaja menunda waktu untuk kembali ke kantor, sekaligus aku ingin mendengar jawaban yang benar-benar tepat dan memuaskan hatiku.


"Alex," panggilku dengan tatapan tajam dan serius padanya. Suasana seketika hening, meskipun kami berada dalam keramaian. Dia menunduk tak berani menatapku, "Bisa kita benar-benar bicara," tekanku padanya, aku tak ingin lagi bermain-main, sudah cukup pikiranku terombang-ambing oleh ulahnya.


"Jawabanmu tadi, apa benar kamu menerima jika kita tidak harus menikah?" tanyaku penuh selidik padanya, Dia tersenyum, seolah mengalihkan pembahasan.


"Kenapa? Kenapa kau tertawa?" Penuh pertanyaan di kepalaku, apa yang sebenarnya dia pikirkan tentangku, apa aku hanya permainan untuknya, "Tidak, senior," jawabnya yang kini menunduk layaknya seperti orang yang sangat patuh.


"Aku memang berkata, menikah memang sulit. Kau mungkin terbebani dengan hal itu, jadi mari kita menjalankan hubungan sebelum menikah," jawabnya yang menunduk dengan murung, aku tak habis pikir dengan jalan Pikirannya, "Hubungan sebelum menikah?" Kembali pertanyaan yang ada di dalam kepalaku, apa maksudnya dengan ini semua.


"Jika senior, terbebani dengan pernikahan, maka kita jalani hubungan sebelum pernikahan, hubungan pertunangan, aku akan segera melamar senior." Aku benar-benar terkejut dengan jalan keluar yang diberikan olehnya, "Tunangan!" ucapku sedikit berteriak, sekaligus terkejut. Dosa apa yang kuperbuat, hingga aku terjebak di sebuah permasalahan yang rumit seperti ini.


"Kita lakukan, selama tiga bulan sa…."


 "Alex, cukup." Aku menyela ucapan Alex yang seolah tak mau tahu, "Aku tau bahwa aku salah, tapi itu hanya sebuah kesalahan," jelasku menatap lekat wajah Alex yang tertunduk, mungkin dia akan menangis, tapi aku tidak akan terperangkap lagi oleh wajahnya yang terlihat menyedihkan itu.


"Sudahlah lebih baik kita cepat kembali." Aku berdiri bergegas pergi berjalan menuju parkiran mobil. Alex mengikutiku dari belakang, ekspresinya dingin dan tenang, dia duduk di sampingku untuk menyetir mobil, suasana selama perjalanan terasa begitu canggung, hingga kami sampai di kantor pun, Alex tetap bungkam tak berkata sepatah katapun.

__ADS_1


Aku melempar sembarang tas tenteng yang ku bawa ke arah kursi sofa, aku duduk dan bersandar disana. "Apa yang harus aku lakukan," batinku mengingat masalah yang menurutku terlalu membebaniku.


__ADS_2