
Tring!
Sebuah pesan masuk melalui ponselku, aku meraih ponsel dan melihat nama pengirimnya, "Ayah,"
["Ke ruangan ayah sekarang,"]
Aku bergegas pergi ke ruangan beliau, kebetulan ada yang ingin aku tanyakan padanya.
"Hey ayah," sapaku yang langsung masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu.
"Kamu ini, biasakan ketuk pintu terlebih dahulu kalo masuk," tegur ayah sambil tersenyum.
"Hehe …. Maaf bos, terlalu bersemangat,"
"Well, ada apa nih. Tumben ayah nyuruh aku kesini?" tanyaku sembari duduk di kursi sofa yang ada di ruangan ayah, memang jika lebih tinggi jabatan, fasilitas yang didapat pun lebih nyaman dan mewah.
"Selamat ya, proyek kali ini bisa kamu dapatkan, tadinya ayah khawatir kalau kamu gak bisa handle, karena tau sendiri pak Bram orang seperti apa, salah sedikit saja, dia akan langsung menolak, tapi kamu bisa melakukan negosiasi kurang dari dua jam. Good," puji ayah yang mendekat dan langsung merangkulku.
"Hm …. Sebenarnya, Alex yang melakukannya, dia yang menyampaikan materi dan meyakinkan pak Bram," ucapku sambil tertunduk
"Ayah tahu, tidak sia-sia ayah jadikan dia sebagai sekretaris pribadi mu kan, dia bisa diandalkan. Sudah ayah bilang, kemampuannya di atas rata-rata, sayang jika harus ditempatkan sebagai karyawan biasa." Lagi-lagi ayah memuji pria itu.
Aku bahkan masih merasa kesal karena ayah tak memberitahuku, jika orang yang direkomendasikan untuk menjadi sekretaris pribadiku adalah Alex. Tapi aku tak bisa menunjukan kekesalan ku di hadapan ayah, melihat kemampuan Alex yang memang lumayan, juga ayah yang sepertinya sangat menyukai Alex.
"Apa ayah akan menyetujui, jika aku dan Alex menikah," batinku memandang lekat wajah ayah yang sedang tersenyum girang.
__ADS_1
"Amerta," panggil ayah mengibaskan tangannya tepat di hadapanku, "Eh … ayah." Aku terkejut sekaligus malu, "Apa sih aku mikirin itu," gumamku dalam hati.
"Bengong, apa yang kamu pikirkan?" tanya Ayah heran melihat ekspresiku, "Tidak, tidak ada yang aku pikirkan kok yah." Aku tersenyum sendiri mengingat pikiranku yang bodoh, bisa-bisanya aku berpikir tentang restu ayah pada Alex.
"Sepertinya, anak ayah sedang jatuh cinta?"
"Ayah meledek ku, mana mungkin aku jatuh cinta," ucap ku memalingkan wajah dari tatapan ayah, entah mengapa ada perasaan malu dalam hatiku.
"Tuhkan, senyum-senyum sendiri, jatuh cinta ya?" Ayah semakin meledek ku.
"Ah …. Apa sih ayah, sudah ah aku mau ke ruanganku dulu," jawabku sambil berlalu pergi meninggalkan ruangan ayah.
"Jangan lupa, kenalkan calon menantu pada ayah!" teriak ayah yang masih duduk di posisinya semula.
Aku membuka pintu, secara bersamaan Alex berada tepat di hadapanku, aku terdiam mematung seketika, menatap wajah Alex sepertinya ada perasaan Aneh dalam hatiku.
Aargh!
Aku berteriak dalam hatiku, wajahku langsung berubah merah. Aku membuka mata dan langsung pergi dengan langkah cepat, "Apa yang lo pikirkan sebenarnya Amerta," umpatku pada diriku sendiri, bisa-bisanya aku berpikiran kotor seperti itu.
Semua mata melihat ke arah ku yang kini berjalan tak beraturan, "Kenapa? Kembali bekerja," perintahku saat sadar ketika para pegawai sedang menatap heran ke arahku.
"Memalukan." Semenjak itu, aku berusaha mati-matian untuk menghindar dari Alex, akan tetapi sangat sulit untuk mengalihkan tatap darinya. Semakin aku menjauh, semakin dia mendekat, urusan pekerjaan pun sepertinya banyak jadwal menghabiskan waktu di luar bersama Alex.
Terbukti hingga beberapa hari ini, banyak sekali rapat outdoor bersama klien dan mengharuskanku untuk pergi bersama dengan Alex. Meskipun begitu, aku tetap mencoba untuk profesional mengenai pekerjaan.
__ADS_1
Seberapa kuat usahaku untuk menghindar sepertinya dia selalu memiliki cara untuk mendekatiku, dia terus menempel di manapun aku berada, aku hanya berusaha tetap tenang dan sedikit tak acuh padanya.
"Senior, apa anda sedang menghindariku?" tanyanya saat sedang menunggu klien di sebuah cafe shop, aku hanya bisa terdiam. Alex begitu peka dengan keadaan, aku harus beralasan apa. Bahkan aku tak bisa membuka mulutku untuk menjawabnya.
"Ti--tidak, untuk apa aku menghindar." Aku berusaha menutupi rasa canggung padanya, "Syukurlah, berarti itu hanya perasaan saya saja," ucapnya sambil melemparkan senyum manis andalan miliknya.
Hatiku benar-benar dibuat meleleh oleh senyuman manis yang dia miliki, jantung ini berdebar sangat kencang, layaknya seperti orang yang sudah lari maraton selama berjam-jam.
"Senior, mau tambah minum lagi?" tanya Alex yang melihatku sedang minum tanpa henti, hingga terdengar bunyi gemericik air yang telah habis ku minum dan hanya menyisakan es batu di dalam gelas.
"Sial, malu banget gue njir," batinku melepaskan sedotan dari mulutku, aku sedikit menunduk menghindari tatapan Alex.
"Senior," panggil alex sekali lagi, "Ah, iya …. Udara hari ini kayanya panas banget ya, aku mau jus alpukat lagi deh satu," jawabku mengalihkan rasa maluku. Alex menganggukan kepalanya lalu beranjak memesan apa yang aku pinta tadi.
Wajahku yang masih terasa panas karena malu, aku yakin mungkin wajah ini terlihat begitu merah seperti kepiting rebus, "Aku ke toilet dulu ya," ucapku saat Alex baru saja menarik kursinya untuk duduk di tempat sebelumnya.
"Bodoh, bodoh, bodoh. Kok bisa sih Amerta, lo kok bego banget bisa malu-maluin diri lo sendiri, sejak kapan?" Aku berdiri di depan kaca, memarahi diri sendiri karena kebodohanku, bisa-bisanya hal memalukan seperti itu bisa terjadi dan lagi di hadapan Alex, aku merasa citra wibawa yang selama ini aku bangun runtuh seketika di hadapan seorang pria yang hanya seorang junior di kantorku.
Aku mengatur ulang Nafasku, menetralkan hal yang baru saja mengganggu pikiranku. Aku kembali kemeja dan menghampiri Alex. Klien yang kami tunggu pun akhirnya datang tidak lama setelah aku duduk di tempat sebelumnya bersama dengan Alex.
Setelah perbincangan dan negosiasi yang cukup panjang, akhirnya kami berhasil mendapatkan tanda tangan persetujuan kerja sama proyek selanjutnya. Aku sangat senang, bagaimana tidak, ini kali pertama aku mendapat kan proyek yang lumayan besar dengan angka 12 digit di belakang.
Tak sengaja aku memeluk lengan Alex saking senangnya, dia hanya menatapku dengan senyuman penuh arti, awalnya aku tidak menyadari, akan tetapi pada saat aku melihat wajahnya, melihat senyum dan tatapan mata yang tulus itu, membuatku sesaat tak ingin melepaskan pandangan.
"Ah, maaf. Aku--aku sangat senang, sampai aku gak sadar, kalo aku gak sopan sama kamu," ucapku sambil melepaskan pelukan dan melihat ke sembarang arah.
__ADS_1
"Ya, gak apa-apa dong, nanti juga kita gak akan asing lagi, hanya pelukan aja kan," jawabnya dengan santai dan sedikit genit.
Mendengar itu aku merasa sedikit kesal pada rasa percaya dirinya yang luar biasa, "Oh ya, yakin sekali anda," ucapku sambil beranjak pergi meninggalkan Alex sendiri. sementara dia hanya bereaksi dengan senyuman dan sedikit menggelengkan kepalanya.