
Dia tersenyum saat setelah menandatangani surat itu, matanya tak henti menatap ke arahku, "Lalu, apa keinginanmu?" tanyaku yang masih ingin tahu, karena aku tidak ingin berhutang apapun, kepada siapapun, aku ingin segera melunasi segalanya.
"Ada satu hal yang aku inginkan," ucapnya meraih tanganku, "Katakan saja." Aku begitu terheran melihat ekspresinya yang berubah-ubah, sebenarnya siapa pria yang ada di hadapanku.
"Senior, menikahlah denganku, Kumohon," ucapnya yang semakin mendekatiku, mencium tanganku dengan lembut, menatap dengan wajah ceria yang terlihat berbunga. Tatapan matanya memohon penuh harap, sedangkan aku tak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya, aku begitu ambigu mendengar sebuah kata pernikahan.
Hah!
Aku sangat terkejut dengan permintaannya, sangat sulit untuk mencerna kata-katanya, "Me--menikah," ucapku dengan terbata-bata, aku benar-benar tak menyangka dengan permintaan tak masuk akalnya. Apa yang dia inginkan, hal yang dilakukan oleh seseorang yang dulu selalu berada di hatiku, mengucapkan dua kalimat syahadat dan ikrar ijab qobul di hadapan penghulu, wali dan para saksi.
"Bercandamu tidak lucu!" Aku berdiri mundur menjauhi Alex, bagaimana mungkin aku melakukannya, sedangkan hatiku masih merasakan sayatan luka itu, "Aku serius," jawabnya dengan tatapan wajah yang tampak polos, tatapan matanya yang menyiratkan ketulusan, terkadang meluluhkanku.
"Tidak!" Aku berteriak tak bisa menahan gejolak amarah dalam hatiku, "Aku tidak akan menikah denganmu! Di jaman sekarang, tidak ada yang akan langsung menikah dengan hanya menghabiskan satu malam bersama," ketusku yang langsung menolak mentah-mentah permintaan Alex, aku tidak ingin mengikat hubungan dengan siapapun saat ini, bahkan untuk melupakannya pun aku masih belum bisa, dan sekarang seorang pria asing mengajak untuk menikah dengannya.
"Senior, tadi jelas-jelas kau yang bilang, akan melakukan apapun, bahkan kau sampai membuat perjanjian. Kau sendiri yang menulis dengan tanganmu." Wajahnya kembali menunduk, melihat ke arah tulisan tangan yang ku buat, "Senior, apa kau mempermainkanku." tatapannya berubah kosong, seolah ia pun tak terima dengan jawabanku.
Wajahnya sedikit terangkat seolah memohon padaku, seperti anjing yang meminta tulang pada majikannya, wajahnya berubah memerah, matanya mulai berkaca-kaca, Senior, kau sungguh -- tidak menginginkanku," ucapnya dengan suara lirih, suara yang sedikit serak menahan tangis.
"Tunggu, apa kau menangis." Aku memastikan wajahnya yang terlihat sedikit pucat, butiran air bening mulai mengalir di pipinya, "Senior," panggilnya terisak.
__ADS_1
"Jangan menangis Alex," ucapku berusaha menenangkannya, baru kali ini aku melihat pria dewasa sepertinya menangis di hadapanku.
"Senior, apa kau tidak akan menepati janji." Alex menatap ke arahku, dengan mata yang berlinangan air. Bahkan untuk menjawab pertanyaannya pun begitu berat bagiku.
"Aku--a--aku, aku tidak mengatakan tidak, tapi …." Aku tertunduk di hadapannya, "Apa, senior mau menikah denganku," ucapnya lagi, yang kini dengan wajah yang terlihat tampan berbinar. Jika di lihat lagi, Alex memang benar-benar tipeku, tapi tidak mungkin karena ketampanannya bisa membuat keputusanku berubah-ubah seperti ini.
"Senior." Tatapan penuh cinta itu yang aku lihat dari matanya, tanpa sadar aku menganggukkan kepalaku. "Terima Kasih Senior," ucapnya yang kini memeluk tubuhku. Aku benar-benar terkejut. Apa yang aku lakukan. Dengan hanya melihat wajahnya, aku bisa menuruti keinginannya, apakah ini yang dinamakan the power of handsome.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Aku pulang dengan mengendarai mobil milikku, aku sangat berhati-hati dalam perjalanan agar terhindar dari kecurigaan para polisi yang bertugas di jalan.
"Dari mana Ta?" tanya ayah mengagetkanku, ayah yang sedang duduk sambil membaca koran di depan tv, heran saat melihatku baru pulang, karena tak seperti biasanya, aku pulang pagi.
"Eh, Ayah. Ini, tadi--tadi dari rumah temen yah," jawabku bohong, sambil menggaruk kepala belakangku yang tak terasa gatal. Aku benar-benar terkejut dengan suara ayah yang tiba-tiba menyapaku. Aku yang tak terbiasa bohong tak bisa menyembunyikan apapun dari ayah.
"Teman, teman yang mana? Kok ayah baru tau, kamu ada teman menginap?" tanya Ayah yang semakin terlihat heran, Karena selama ini aku memang tak memiliki teman dekat, karena sifatku yang memang dingin terhadap sekitar, aku hanya berteman seperlunya dengan orang-orang yang saling menguntungkan.
"Ah, itu. Teman satu kampus dulu, yah." Aku berbohong terus menerus, mencoba menutupi semuanya, selama ini aku tak pernah mengecewakan ayah, tapi kali ini aku benar-benar merasa bersalah. Aku mulai belajar berbohong, dan aku juga telah menjadi wanita liar yang tak pantas menyandang nama belakang dari ayah.
__ADS_1
"Kemarilah, ayah ingin bicara sebentar." Ayah memanggilku, menepuk sofa di sampingnya. Mengisyaratkan agar aku duduk di sana, "Ada apa yah?" tanya ku saat aku telah berada di sampingnya, terlihat kekhawatiran di wajahnya yang sudah mulai keriput.
"Ayah tau, kamu dalam keadaan kecewa, tapi Amerta, saran ayah. Kamu harus tetap melanjutkan hidupmu, karirmu bagus, masa depanmu masih panjang. Tenanglah, semua akan baik-baik saja." Pandangan ayah menuju mataku, dari dulu hanya beliaulah yang selalu mendukungku, memberikanku motivasi untuk selalu melanjutkan hidupku, menghiburku disaat aku merasa sendiri.
"Terima kasih, ayah." Hanya itu yang keluar dari bibirku, aku tak tahu harus berkata apalagi pada sosok kuat, yang selalu menenangkanku. Aku benar-benar menyayanginya.
Sosok yang ada di saat merasa tak punya siapa-siapa, bahkan ia memberikan gelarnya di belakang namaku. Amerta Ningrum Defanya, aku sangat bangga dengan nama itu.
Beliau juga selalu mendukungku dengan penuh kesabaran, hingga mampu merubahku yang seorang anak jalanan menjadi seorang wanita karir yang memiliki jabatan sebagai Manajer di perusahaan ternama di kota ini.
Semua orang selalu menganggap bahwa jabatan yang kini aku duduki adalah karena ayahku, Farhan Darco Defanya. Yang kini menjabat sebagai seorang Direktur di perusahaan tempat yang sama denganku.
Tentu saja anggapan mereka itu tidak benar, aku merasa pantas dengan jabatan yang kini aku dapat, karena selama bertahun-tahun aku hampir tak memiliki waktu istirahat, aku berusaha dengan sangat keras untuk posisiku saat ini.
Bapak Farhan, adalah atasan sekaligus ayah yang baik untukku, meskipun memang beliau bukanlah ayah kandungku, tetapi ia menjadikanku seperti putri kerajaan di rumah yang bak istana.
Di usia yang baru saja menginjak enam tahun, aku di adopsi oleh mereka di sebuah gang sempit ketika aku dihakimi, karena mencuri sepotong roti di sebuah kedai kecil. Saat itulah sosok pria dewasa yang kini ku panggil ayah, datang menyelamatkanku, memberikanku cinta dan kehangatan sebuah keluarga.
Dengan kebaikan beliau selama inilah, aku tak ingin mengecewakan semua pengorbanannya, akan ku buat bangga dengan setiap prestasi yang aku capai, seperti hal nya menjadi seorang manajer disini, aku sudah satu tahap mendekati beliau, aku akan membuatnya bangga padaku.
__ADS_1
Wajahku yang cantik, tubuhku yang indah terawat, otaku yang Cerdas, jabatanku yang lumayan dan juga gelar bangsawan di belakang namaku, membuat semua orang iri pada anak angkat sepertiku.