Love Sweet

Love Sweet
Eps 1


__ADS_3

"Oh myung ok". Panggil seorang suster.


Nama yang di panggil pun masuk ke ruangan dokter dengan di papah seorang gadis. Dokter di depannya pun mengamati gadis itu dan seorang ibu di sebelahnya.


"Bisa saya priksa?". Tanya dokter tampan itu.


"Silahkan dok". Jawab gadis yang mengantarkan ibu myung ok.


"Ini tidak apa-apa, lukanya hanya luka luar. Beberapa hari juga akan sembuh, hanya saja kakinya terkilir jadi untuk sementara ini tidak di izinkan untuk kerja yang terlalu berat". Ucap dokter memberitahu.


"Iya dokter terimakasih".


"Apa anda wali ibu ini?". Tanya dokter memandang gadis itu.


"Bukan dokter, kebetulan saya hanya lewat dan membantu ibu ini ke dokter. Sebentar lagi walinya akan datang". Jelas gadis yang mengantarkan ibu tadi.


"Ok baiklah, ini resep nya dan bisa di ambil di apotik".


"Terimakasih dokter".


Gadis itu berlalu keluar dari ruangan dengan memapah ibu yang di tolongnya. Dokter tampan itu melihatnya dengan senyum tipis yang terlihat samar.


Dokter tampan dengan nama lengkap Jeon Wonwoo itu adalah dokter umum yang cukup terkenal di Rumah Sakit tersebut. Karena memiliki wajah yang tampan dan sangat ramah, namun ketika ada wanita yang mencoba mengejarnya dia akan bersikap dingin.


Ddrrrrttt ddrrrrttt


Ponsel di meja kerjanya berdering, tertera nama ibu dengan jelas terlihat. Wonwoo pun menekan tombol hijau untuk mengangkat panggilan telpon ibunya.


"halo eomma".


"Apa kau sudah makan siang?" Tanya ibunya.


"Belum, pekerjaanku belum selesai. Ada apa?". Wonwoo balik bertanya pada ibunya.


"Jika sempat datanglah ke cafe romance dekat rumah sakit tempatmu bekerja. eomma tunggu ok".


"Baiklah". Wonwoo pun memgakhiri panggilannya.


Meski sudah dewasa wonwoo selalu saja menuruti apa kata orang tuanya. Dia anak yang baik bagi kedua orangtuanya. Dia memiliki adik laki-laki yang 8 tahun lebih muda darinya.


***


Setelah menyelesaikan pekerjaannya wonwoo pun bergegas untuk menemui ibunya di cafe yang ibunya sebutkan tadi.


"Kau akan keluar?". Tanya dokter cantik bernama Ae Ri. Dokter sekaligus teman Wonwoo sejak masa kuliahnya.


"Iya, ibuku meminta ku makan siang bersama". Jawab Wonwoo.


"Ok"


Wonwoo pun pergi ke parkiran tempat mobilnya di simpan, dan dia pun bergegas melajukan mobilnya.


Setelah sampai Wonwoo tak melihat ibunya ada di dalam cafe. Wonwoo pun mengambil ponselnya, dan menghubungi ibunya.


"Ma, aku sudah sampai. Tapi aku tak melihat eomma ada di sana".


"Eomma masih di jalan, kau tunggu saja ya".

__ADS_1


"Kenapa bukan di restoran saja?, Di cafe mau makan siang apa?" Tanya wonwoo bingung.


"Di sana juga ada makanan, kau pesan saja".


"Baiklah". Wonwoo pun mengakhiri panggilan telpon nya.


Wonwoo pun masuk kedalam cafe tersebut, dan menghampiri seorang kasir untuk memesan.


"Kamu, kamu yang tadi ke rumah sakit kan?". Tanya dokter wonwoo kepada gadis penjaga kasir tersebut.


"Oh dokter, bisa saya bantu pak dokter?". Tanya gadis itu ramah.


"Aku pesan kopi hangat dan sandwich saja".


"Tunggu sebentar pak dokter, saya akan siapkan".


"Terimakasih Nadya".


"Kok dokter tau nama saya?". Tanya nadya bingung.


"Itu, tertera di nametag kamu". Sambil memunjuk kebarah dada Nadya.


"Oh.. ini". Ucap Nadya sembari senyum salah tingkah.


Nadya adalah gadis asal Indonesia yang sedang kuliah di salah satu universitas di Korea, dia mendapatkan beasiswa di sana. Kini Nadya bekerja paruh waktu untuk menghidupi dirinya selama menjadi anak rantau. Mahasiswa semester akhir ini terlihat sangat cekatan melayani tamu yang datang.


"Silahkan pak dokter, pesanan anda sudah siap". Ucap Nadya sembari memberikan pesanan wonwoo.


"Terima kasih Nadya". Ucap wonwoo dengan senyum.


Aku bertemu lagi dengannya, gadis yang tadi pagi datang ke rumah sakit dengan seorang wanita. Gadis itu bekerja di cafe yang aku datangi siang ini. Ku yakin dia buka orang sini, karena memiliki nama yang berbeda dari orang-orang di negaraku ini.


"Hai.. wonwoo". Seseorang menyapaku, membuyarkan segala fikiranku yang sejak tadi memikirkan gadis kasir itu.


Perempuan elegan berpakaian feminim lebih ke terbuka, dekan riasan yang menempel di wajahnya. Aku yakin ini kiriman dari ibuku. Apakah dia ingin sekali memiliki menantu? Aku tak habis fikir dengan jalan fikiran ibuku. Selalu saja mengirimkan perempuan seperti ini.


"Iya, anda siapa?" Tanyaku pada perempuan yang masih berdiri seperti model di hadapanku.


"Aku Lee Ha Yoon, ibumu tak memberitahu mu?". Tanyanya.


"Tidak, kalau begitu silahkan duduk". Sebenarnya aku malas jika harus meladeni wanita-wanita kiriman ibuku. Dan lagi-lagi aku menurut saja dengan ibuku.


-eomma-


Apa Ha Yoon sudah datang? Bersikap baiklah padanya. Dia gadis yang baik.


Aku hanya mengabaikan pesan dari ibuku. Dan menghadapi seseorang yang terus saja tersenyum kepadaku.


"Maaf nona, ini karena ibuku. Aku tidak tau menau soal pertemuan kali ini". Aku mencoba berbicara apa adanya.


"Tidak apa, senang bisa mengenalmu".


"Terimakasih".


Dan seperti yang sudah-sudah perempuan di hadapan ku pun sama, berbicara tentang dirinya. Dan bertanya tentangku sesekali. Aku hanya menjawab seperlunya.


Ddrrrrttt ddrrrrttt

__ADS_1


"Maaf nona aku harus mengangkat telponku".


"Silahkan".


-Ae Ri-


Sungguh kau menyelamatkan ku hari ini, terimakasih.


"Halo.."


"..."


"Baiklah, aku akan kembali kerumah sakit sekarang". Aku buru-buru menutup panggilan Ae Ri.


"Maaf nona Ha Yoon, aku harus segera kembali kerumah sakit".


"Tidak apa-apa, silahkan".


"Maaf sekali lagi".


Aku cepat-cepat keluar dari cafe, kulihat gadis kasir itu tersenyum padaku. Aku membalasnya lalu dengan cepat aku keluar cafe.


Nadya prov


Aku bertemu lagi dengan dokter tampan itu, dia terlihat orang yang baik. Dan dia juga bersama wanita yang cantik. Sangat cocok dengan dokter tampan itu.


Aku tersenyum padanya saat dia hendak pergi dari cafe tempatku bekerja. Dia terlihat buru-buru, mungkin ada pasien darurat. Wanita cantik itu pun pergi tak lama setelah dokter tampan itu pergi.


Aku dengan segera membersihkan meja yang tadi ditempati mereka, dan terlihat ada buku kecil berwarna coklat. Tertera ukiran di ujung bawah buku dengan nama J.Wonwoo, kurasa itu punya dokter tadi. Aku pun menyimpannya, mungkin saja nanti dokter tadi mencari kesini.


"Nuna". Suara yang tak asing memanggilku. Aku pun menoleh ke arah pintu masuk cafe.


Seorang anak laki-laki sedang tersenyum lebar kepadaku. Dia adalah adik tingkat ku di kampus, hanya saja kita tak sengaja bertemu saat di minimarket dekat kampus. Saat itu dia ingin membeli minuman namun lupa membawa dompetnya. Dan kebetulan aku ada disana, dan dengan tidak tau malu dia meminjam uang padaku.


Namanya BoHyuk, aku biasanya memanggil adik Bo. Awalnya dia tak mengerti karena aku memanggilnya dengan bahasa Indonesia. Setelah aku jelaskan dia menyetujuinya. Dia selalu saja berisik kalau bertemu denganku.


"Sedang apa kau disini?". Tanyaku ketus.


"Jangan galak seperti itu lah nuna. Aku hanya ingin bertemu". Jawabnya ringan.


"Aku sedang sibuk, apa kau tak ada kerjaan? Kau selalu saja ada dimana-mana. Lebih baik kau pulang, aku sedang bersiap untuk tukar shift".


"Bagus kalau begitu, aku tunggu di depan kita pulang bersama".


"Yah adik Bo, arah rumah kita itu berbeda. Lebih baik kau pulang atau main dengan teman-teman mu, oke". Aku pun pergi meninggalkan bocah itu. Karena jam kerjaku sudah habis, dan harus bertukar shift dengan partner kerjaku.


Aku pun keluar cafe, dan taukah apa? Anak itu sedang duduk di tepi jalan dekat cafe tempatku bekerja. Dia memang keras kepala. Selalu saja seperti itu, sesuka hati.


"Kenapa kau masih disini?". Tanyaku.


"Kan tadi aku sudah bilang, aku akan menunggu nuna,.hehe".


"Hhmm terserah kau sajalah".


Aku menaiki sepedaku yang ku beli dengan gaji pertama ku bekerja paruh waktu. Karena dengan sepeda aku bisa meringankan uang ongkos. Bocah kecil itu pun sudah duduk manis di kursi belakang sepedaku.


Seperti itulah BoHyuk, anak laki-laki yang selalu saja mengganggu ku. Namun dia anak yang baik. Dia ku anggap seperti adikku, karena aku tak punya adik jadi ku anggap saja dia seperti adikku.

__ADS_1


__ADS_2