Love Sweet

Love Sweet
Eps 3


__ADS_3

"Bisa jelaskan tadi apa?". Tanya ibunya meminta penjelasan.


"Jangan bicara di sini, tak enak di lihat banyak orang."


Ibu wonu pun mengikuti Wonwoo ke ruang kerjanya. Sesampainya di ruang kerja ibu wonwoo langsung duduk di kursi, dengan wajah masih kesal dan marah.


"Apa yang ingin kau jelaskan? Siapa gadis itu?" Tanya ibunya.


"Eomma, dia kekasihku. Aku mohon kali ini berhenti menjodohkan ku dengan gadis-gadis manja yang eomma kenalkan."


"Eomma memilih kan gadis yang terbaik untuk mu. Kau malah memilih gadis yang tak jelas seperti itu." Ucap ibu Wonwoo kesal.


"Menurut eomma dia terbaik, tapi bukan menurut pendapat ku. Aku yang akan menjalani kehidupan ku. Harusnya eomma mengerti, aku ingin mencari teman hidup yang memahami aku dan menghormati aku. Bukan yang sibuk dengan diri mereka sendiri. Dan aku mencari seseorang yang mengerti pekerjaanku, supaya dia tak menuntut banyak waktu padaku."


"Eomma yakin mereka pasti mengerti, hanya kau saja yang tak mencoba untuk mengenal mereka."


"Eomma, aku bisa melihat di diri mereka. Mereka mencintai diri mereka sendiri, dan mereka tak akan bisa memahami orang lain."


"Lalu apa yang kau harapkan dari gadis tak jelas yang eomma lihat tadi?"


"Dia gadis mandiri, dia memang bukan orang sini. Tapi aku melihat dia orang yang peduli pada orang lain. Jika dia peduli pada orang yang tak di kenal nya, apalagi pada seseorang yang dia kenal."


"Dia hanya bersikap seperti itu untuk menarik perhatianmu kau tau?"


"Aku melihat itu sendiri bahkan sebelum aku mengenalnya."


"Itu trik gadis zaman sekarang, untuk menarik perhatian orang yang dia incar."


"Eomma, aku yang tau bagaimana dia. Aku bisa menilai siapa dia, dia gadis mandiri dan pekerja keras. Bukan gadis manja yang hanya bisa menadah uang dari orang tua mereka. Dia mampu bekerja dan kuliah tanpa mengeluh sedikit pun. Aku mencintainya, bukan dari status sosial mereka atau dari kalangan mereka berasal. Aku mencintai karena kepribadiannya. Aku yang menjalani hidup ku, jadi aku mohon eomma bisa menghormati keputusan yang aku buat."


"Jika itu mau mu, ya sudah jalani. Eomma tak peduli apa pun tentang mu." Ibu Wonwoo pun bangkit dari duduknya lalu pergi meninggalkan Wonwoo.


"Eomma, aku mohon mengerti aku." Wonwoo mencoba mengejar ibunya.


"Ada apa ini?" Tanya ayah Wonwoo yang kebetulan melihat istrinya sedang di ikuti sang anak.


"Anakmu sungguh sudah tak menyayangi ku. Dia lebih memilih gadis tak jelas dari pada eomma nya sendiri."


"Bukan seperti itu. Aku hanya minta eomma mengerti aku. Dan berhenti memaksa ku dengan gadis-gadis pilihan eomma yang tak jelas itu."


"Sudah lah, anak kita sudah dewasa. Biarkan dia memilih apa yang menurutnya terbaik untuk kehidupannya. Kita sudah tak bisa memaksakan apa yang menjadi keinginam kita. Biarkan dia menemuka kebahagiaan dia sendiri."


"Kau selalu saja membela putramu. Kau tak mengerti perasaanku." Ibu Wonwoo meninggalkan ke 2 pria berharga dalam hidupnya itu.


"Biarkan saja ibumu pergi, nanti juga dia akan baik. Bicarakan lagi nanti jika keadaannya sudah membaik." Ucap sang ayah dan menepuk punggung anaknya lembut.


"Terimakasih appa."


Mereka pun berpisah, Wonwoo kembali ke tempat kerjanya. Dia keluarkan ponsel di sakunya, lalu menghubungi seseorang.


"Halo, kau di mana?" Tanya Wonwoo.


"Aku di cafe, bagaimana dengan ibu anda?" Tanya seseorang di balik telpon yang ternyata adalah Nadya.


"Ya seperti itu. Apa kau hari ini kerja?"


"Iya sampai sore hari."


"Kalau gitu, aku akan ke tempat mu. Aku ingin berbicara sesuatu."


"Baiklah."


Wonwoo pun mematikan panggilan telponnya. Dia melanjutkan pekerjaannya karena pekerjaannya sedikit terbengkalai karena sedikit berdebat dengan ibunya. Wonu menyibukkan diri dengan pekerjaan.


Waktu memunjukan pukul 17:45 . Wonwoo dengan cepet menyelesaikan pekerjaan. Setelah menemui beberapa pasien Wonwoo bergegas untuk bertemu dengan Nadya, karena mereka tadi sudah janji untuk bertemu.


Tak butuh waktu lama untuk Wonwoo sampai di tempat kerja Nadya, karena memang cafe Nadya tak jauh dari rumah sakit. Setelah memarkirkan mobilnya, wonu segera masuk ke dalam cafe. Terlihat Nadya sedang membereskan meja bekas pelanggan yang datang.


"Pak dokter, silahkan duduk dulu. Aku berganti shift dulu dengan teman ku."


"Oke, silahkan."


Nadya pun menghampiri temannya yang baru saja keluar dari dalam ruangan. Setelah beberapa menit berbicara masalah kerjaan, Nadya pun masuk ke dalam ruangan untuk berganti baju. Sebelumnya dia menyiapkan satu cangkir kopi, lalu di berikan nya pada Wonwoo.

__ADS_1


"Terimakasih." Ucap Wonwoo dengan penuh senyum.


Nadya hanya membalas dengan anggukan kepala dan senyuman. Lalu meninggalkan Wonwoo untuk ganti baju.


Tak butuh waktu lama, Nadya pun keluar dengan membawa tas kecil miliknya. Nadya menghampiri Wonwoo dan duduk di hadapan Dokter tampan itu.


"Jadi bagaimana pak Dokter? Apa yang akan kita bahas?" Tanya Nadya terus terang.


" Pertama aku mau minta maaf, karena tanpa persetujuan mu aku mengatakan kalau kamu kekasihku di hadapan ibuku. Aku sungguh minta maaf. Aku hanya tidak ingin terus di jodohkan dengan gadis pilihan ibuku."


"Aku mengerti, dan aku memaklumi itu."


" Terimakasih, tapi mau kah kau berpura-pura menjadi kekasihku? Untuk beberapa saat. Sebenarnya aku ingin kau menjadi kekasihku yang sebenarnya. Tapi aku tau kau pasti akan menolakku, karena kita baru saja beberapa kali bertemu."


" Dokter, bukankah tak baik jika anda berbohong pada ibu anda? Aku pun tak berani membohongi orang."


"Kalau begitu apakah kau mau menjadi kekasihku yang sebenarnya?"


Nadya terdiam mematung, dia memikirkan apa yang di katakan Wonwoo.


" Dokter, tak adakah wanita lain selain aku? Kurasa banyak wanita cantik di luar sana yang menyukai anda. Rekan dokter misalnya, aku rasa dokter tampan dan mudah untuk mendapatkan wanita yang sangat baik."


" Jika aku tertarik pada mereka aku tidak akan memintamu. Aku meminta mu karena aku tertarik padamu, hanya saja aku tau kamu pasti tidak menyukaiku karena kita baru beberapa kali bertemu. Tapi tak bisakah setidaknya kau membantuku? Ibuku juga taunya kau adalah kekasihku."


" Dokter, aku harus berfikir. Karena pasti akan banyak orang yang terluka. Terutama ibu anda."


" Aku tau, tapi aku pun tak bisa jika harus menerima pilihan ibuku. Aku punya pilihan sendiri. Jika kau tak menerimaku, setidaknya bantulah aku untuk beberapa hari ini."


" Baiklah, setelah itu anda harus menjelaskan pada ibu anda bahwa kita hanya berpura-pura."


"Baik, terimakasih Nadya." Ucap Wonwoo dengan nada lega. Setidaknya kini Nadya mau menolongnya.


" Apa kau akan pulang?"


"Iya."


"Kalau begitu biar aku antar."


" Tidak apa pak dokter, aku tidak ingin merepotkan anda."


" Sudah lah, aku juga kan sudah setuju untuk membantu anda."


"Kalau begitu biar aku antar."


"Baiklah."


Nadya dan Wonwoo pun keluar cafe bersama. Nadya masuk ke dalam mobil Wonwoo, dan di antarkan ke tempat tinggal Nadya.


Tak butuh waktu lama, mereka sampai di salah satu tempat tinggal yang sederhana. Tempat yang tak jauh dari universitas dan cafe tempat Nadya bekerja. Nadya tinggal di lantai atas, pemilik rumah berada di lantai bawah.


" Halmeoni annyeonghaseyo."


( Nene halo) . Nadya menyapa nenek pemilik rumah dengan ramah.


"Kau baru pulang?" Tanya nenek yang baru saja keluar rumah.


"Iya, nenek mau kemana?" Tanya Nadya.


" Hanya menghirup udara segar."


"Sebaiknya nenek masuk, angin di luar sangat dingin tak baik untuk kesehatan."


"Baiklah, apa kau sudah makan?"


"Sebentar lagi."


"Masuklah lalu makan bersama."


"Tidak nek, terimakasih. Nanti saya buat sendiri, sayang belanjaannya masih banyak." Jawab Nadya dengan senyum yang tak pernah hilang.


"Baiklah. Dia siapa? Kekasih mu?" Tanya nenek melirik Wonwoo yang berdiri di sebelah Nadya.


Wonwoo membungkuk memberi salam.

__ADS_1


"Dia seorang kenalan." Jawab Nadya dengan senyum.


" Oh. Ya sudah, istirahat lah. Aku akan masuk."


"Baik nek, selamat istirahat."


Nenek pemilik rumah pun masuk ke dalam rumahnya. Nadya pun melirik Wonwoo.


" Apa anda ingin mampir?"


" Apakah boleh?"


"Silahkan." Nadya mempersilakan Wonwoo ke atas.


Di depan kamar Nadya ada teras, terdapat tempat duduk besar di sana. Tempat untuk Nadya bersantai menikmati malam. Terkadang untuk menerima tamu yang tak dekat dengannya. Nadya menjaga privasi kamarnya, jadi lebih sering dia duduk di teras untuk menerima tamu.


" Silahkan duduk pak dokter, aku akan ambilakn minum." Nadya mempersilakan Wonwoo duduk. Wonwoo hanya menanggapi dengan anggukan.


Tak lama Nadya pun kelaur membawa 2 minuman kalengan dan beberapa camilan.


" Maaf pak dokter, hanya ada ini."


"Tak apa, ini juga sudah cukup untuk ku."


"Maaf pak dokter, aku hanya bisa menerima anda di depan. Karena di negara kami tidak baik menerima tamu laki-laki yang bukan saudara ke dalam hanya berdua."


"Tidak apa, aku menghormati mu." Jawab Wonwoo dengan senyum yang sulit di artikan. " Apa kau juga begini kepada semua lelaki yang kau kenal disini?" Tanya Wonwoo penasaran.


"Iya, biasanya aku tidak mengajak teman ke sini. Lebih baik bertemu di luar jika ada perlu."


"Berarti baru aku yang kau ajak ke tempat tinggal mu?" Tanya Wonwoo dengan senyum senang.


"Iya, itu karena pak dokter mengantarkan ku pulang. Jadi setidaknya aku memberikan minum."


"Sungguh luar biasa, bahkan dia mampu menjaga pergaulannya di negara orang. Dimana orang tuanya jauh tak memantaunya." Ucap Wonwoo dalam hati.


"Tak bisakah kau tak memanggil ku pak dokter? Kita menjadi seperti ada jarak."


"Aku tak tahu harus memanggil anda apa. Karena kita memang belum dekat dan aku tak tau harus memanggil apa." Jawab Nadya canggung.


"Panggil saja Wonwoo atau wonu. Senyaman kau saja."


"Sepertinya tak sopan jika memanggil anda hanya nama. Sepertinya anda lebih tua dari saya."


"Berapa umur mu?"


"Aku bulan depan tepat 24 tahun".


"Benar aku lebih tua darimu, karena aku sudah 30 tahun. Kalu begitu gimana kalau panggil oppa?" Tanya Wonwoo dengan senyum jahil.


"Wonwoo oppa?" Nadya mencoba memanggil dengan sebutan oppa. Nadya merasa aneh, tapi Wonwoo justru terlihat sangat senang. "Rasanya aneh, tapi hanya itu panggilan yang sopan untuk anda."


"Apa kau setuju?" Tanya Wonwoo memastikan. " Wonu oppa?" Wonwoo mengulang.


"Aku fikirkan dulu."


"Baiklah."


"Apa anda lapar? Sepertinya anda belum makan, karena tadi dari rumah sakit anda langsung menemui ku."


"Iya, tapi tak apa. Nanti aku bisa makan di rumah."


"Jika tak keberatan aku akan memasak sebentar. Itu pun jika anda berkenan menunggu."


" Baiklah, aku akan menunggu. Aku ingin tau bagaimana rasa masakan mu." Wonwoo terlihat senang.


" Jangan terlalu berharap, aku hanya akan masakan sederhana yang mungkin tak sesuai lidah anda."


"Aku akam menunggu."


Nadya pun masuk ke dalam rumah, dia pun mengeluarkan beberapa bahan makanan dari dalam kulkas. Nadya pun mulai memasak.


"Awww." Tiba-tiba Nadya teriak kesakitan.

__ADS_1


"Ada apa?" Wonwoo panik dan langsung membuka pintu rumah Nadya. " Apa yang terjadi?" Tanya Wonwoo panik.


__ADS_2