
Wonwoo berjalan dengan penuh kebahagiaan. Setiap perawat yang menyapanya tak lupa di berikan senyum.
"Kamu dari mana?" Tanya Ae Ri yang baru saja keluar dari ruangannya.
"Membeli sarapan." Jawab Wonwoo sambil memperlihatkan bawaannya.
"Kau akan pulang?"
"Iya, lelah sekali."
"Baiklah, kalau begitu hati-hati." Wonwoo pun pergi meninggalkan Ae Ri yang sudah mau pulang.
Wonwoo masuk ke ruang kerjanya, dan menikmati sarapan pagi dengan penuh kebahagiaan.
"Apa makanannya sangat lezat sampai kau tak berhenti tersenyum?" Tanya ayahnya yang datang tanpa Wonwoo sadari.
"Appa." Wonwoo tersipu malu.
"Apa gadis yang eomma bicarakan itu yang membuat mu tersenyum di pagi hari?" Tanya ayahnya penasaran namun dengan nada sedikit jahil.
"Sepertinya benar, bahkan kau hanya tersenyum tanpa menjawab appa mu ini. Apakah appa boleh tau seperti apa gadis yang membuat putraku bertahan memilih nya sampai bersitegang dengan eomma?"
"Dia gadis sederhana, dia pekerja keras. Dia kuliah dan bekerja. Bahkan selama aku mengenalnya aku tak pernah mendengarnya mengeluh. Aku memang tak tau dia siapa, dari mana dia berasal bahkan orang tuanya pun aku tak tau. Tapi aku sangat suka kepribadian nya. Bahkan dia mampu menjaga dirinya, dia mampu menjaga pergaulannya dengan laki-laki. Appa dia gadis yang sangat sopan yang pernah aku kenal, bahkan di negara asing ini dia mampu bersikap ramah. Bahkan dia terlihat penyayang, tutur katanya lembut. Aku mencari wanita yang mampu menghadapi aku, yang mampu menghormati aku dan menghargai aku. Bukan hanya memghargai dirinya sendiri. Aku melihat dia berinteraksi dengan Tuhannya, dan itu membuat ku sangat kagum padanya. Tapi dia tak menerimaku, tapi aku juga tak ingin menyerah." Ucapnya panjang lebar.
"Wah, gadis yang luar biasa. Dia mampu membuatmu bercerita panjang pada appa. Matamu sangat berbinar saat menceritakannya, appa semakin penasaran pada gadis itu. Jadi kau dan dia belum memiliki hubungan? Kau berbohong pada eomma mu?"
"Aku terpaksa, aku hanya tak ingin eomma terus memaksaku dengan gadis pilihannya. Aku hanya ingin memperjuangkan pilihan ku. Dia pun tak setuju saat aku bilang dia adalah kekasih ku. Dia tak ingin membohongi orang. Tapi aku akan membuktikan kebohongan itu akan menjadi kenyataan."
"Jika memang kau merasa dia yang terbaik berjuanglah. Appa hanya bisa mendukungmu."
"Terimakasih appa."
"Baiklah, appa akan kembali bekerja. Ingat kau harus meyakinkan eomma tanpa harus bertengkar dengannya. Dia sangat sedih saat putra kebanggaannya mendiamkannya."
"Baik appa."
Ayah Wonwoo pun keluar dari ruang kerja Wonwoo. Wonwoo pun melanjutkan sarapan paginya, sebelum mulai aktivitas.
*.*.*
Nadya terlihat sangat sibuk di cafe, jam orang berangkat kerja biasa cafe akan ramai. Karena cafe tempat Nadya bekerja memang sangat dekat dengan perkantoran dan juga universitas, jadi tak heran kalau setiap pagi akan banyak pelanggan yang datang.
"Hari ini kau tak ke kampus?" Tanya Bos Nadya yang kebetulan ada di sana.
"Sepertinya setelah makan siang, karena harus ada yang ku urus."
"Sebentar lagi kau akan lulus, apa kau akan pulang?"
"Sepertinya aku harus pulang, aku sangat merindukan keluarga ku. Sudah hampir 2 tahun aku tak pulang."
"Dan kau akan menetap di sana? Atau akan mencari pekerjaan di sini?"
"Masih aku fikirkan, ayahku memintaku pulang untuk membantu kakak ku. Hanya saja aku memiliki pekerjaan impianku."
"Fikirkanlah dengan baik, aku yakin ayahmu berharap banyak padamu."
"Kau benar Bos."
"Ya sudah, lanjutkan pekerjaanmu. Jika akan ke kampus pergilah, biar aku yang jaga."
"Terimakasih Bos, tapi aku akan pergi setelah makan siang saja."
"Baiklah."
Nadya pun melanjutkan pekerjaannya. Dan jam sibuk pun usai, Nadya bisa sedikit bersantai.
"Nunna". Suara itu mengejutka Nadya yang sedang membersihkan meja.
"Ya, sedang apa kau disini?" Tanya Nadya pada Bohyuk.
"Aku hanya ingin bertemu dengan mu. Apakah tidak boleh?" Tanyanya.
"Tidak, bukankah kau harus pergi ke kampus?"
"Hari ini aku ada kelas siang, bukankah jadwal kita sama?"
"Dari mana kau tau jadwal ku?"
"Ada lah, kau tak perlu tau."
"Terserah kau saja. Tapi kau ingat, aku sudah tidak wajib lagi ke kampus. Karena aku sedang menunggu kelulusanku."
"Kau benar, apa setelag lulus kau akan pulang?" Tanya Bohyuk dengan raut wajah kecewa.
"Sepertinya iya, karena aku sudah lama tidak pulang."
"Apa kau tidak akan kembali lagi?"
"Tidak tau, mungkin saja kembali mungkin saja tidak."
"Tidak bisakah kau memberi kepastian?". Bohyuk memasang wajah serius, mungkin dia takut kehilangan Nunanya.
"Bahkan aku sendiri pun tak memiliki kepastian. Sudah sana ke kampus, kau akan ketinggalan mata kuliah jika masih saja di sini."
"Nuna, tak bisakah kau tetap disini?" Tanya Bohyuk penuh harap.
"Akan aku fikirkan. Sudah sana, kau akan telat jika masih berdiam diri di sini."
"Baiklah, tapi ingat ya nuna kau harus memberitahu ku jika kau akan pulang."
"Baiklah adik Bo." Jawab Nadya dengan senyum.
"Ingat ya."
"Iya, sudah sana pergi."
Bohyuk pun keluar cafe dengan wajah murung. Dia kembali ke kampus dengan lesuh tak ada semangat. Sepanjang jalan dia hanya murung dan murung.
__ADS_1
"Yah, ada apa dengan wajahmu? Kau terlihat sedih?" Tanya teman Bohyuk yang datang menghampiri nya yang sedang duduk di ruang kelas.
"Sepertinya nuna akan pulang setelah dia lulus." Jawab Bohyuk datar.
"Bukankah kau harus cepat menyatakan perasaanmu? Jika dia menjadi kekasih mu pasti dia akan bertahan di sini."
"Apa kau yakin dia akan menerima ku?" Tanya Bohyuk tak yakin.
"Bukankah nuna selama ini sangat baik padamu? Aku melihat dia juga sangat dekat denganmu. Jika dia tak menyukaimu dia pasti sudah menjauh dari mu sejak lama."
"Kau benar, nuna selama ini baik padaku. Bahkan dia tak pernah marah jika aku mengganggu nya."
"Kalau begitu bersiaplah untuk menyatakan perasaanmu sebelum nuna pulang."
"Benar, aku harus gerak cepat."
"Bukankah nuna sebentar lagi akan wisuda kelulusan? Bagaimana jika saat itu kita persiapkan untuk kau menyatakan perasaanmu?"
"Akan aku fikirkan lagi. Tapi kau harus membantuku."
"Kau tenang saja, aku akan selalu mendukungmu."
Bohyuk ternyata menyukai Nadya, memang sejak pertemuannya dengan Nadya Bohyuk selalu saja mengejar Nadya. Nadya yang ramah dan suka menolong membuat Bohyuk tertarik. Bahkan tidak hanya Bohyuk, beberapa teman tingkat Nadya juga ada yang suka.
Bohyuk selalu saja mendekati Nadya, kadang Nadya mencoba untuk tidak ramah padanya tapi tetap saja dia selalu ada dimana-mana. Bohyuk sudah terlanjur tertarik pada Nadya.
Flashback
Siang itu Nadya sedang membeli minuman di minimarket yang ada di kampus. Dan telihat ada seseorang anak laki-laki yang sedang kebingungan.
"Jadi tidak kau membeli ini?" Tanya kasir.
"Sebentar, aku mencari dompet ku."
"Apa kau hanya membeli ini?" Tanya Nadya yang berdiri di sampingnya.
"Iya." Jawab Bohyuk.
"Kalau begitu sekalian dengan ku saja." Ucap Nadya dengan senyum.
"Terimakasih, nanti akan aku ganti uangnya."
"Tidak apa, untuk mu saja." Ucap Nadya, lalu keluar setelah membayar dan menyerahkan botol minuman pada Bohyuk.
"Tunggu sebentar, apa kau mahasiswa sini?". Tanyanya.
"Tentu saja, jika bukan pasti aku tidak akan ada di area kampus."
"Benar juga." Ucapnya pelan sambil memggarukan kepala yang tak gatal itu.
"Aku Bohyuk, mahasiswa baru."
"Oh, aku Nadya. Mahasiswi semester banyak." ucapnya. "Aku permisi, karena kelasku sudah hampir mulai." Nadya pun meninggal kan anak laki-laki itu.
Esoknya Bohyuk mencoba menunggu di depan minimarket. Berharap dia akan bertemu dengan Nadya. Dan tak sia-sia dia menunggu lama. Nadya pun datang bersama temannya.
"Nuna."
"Apa kau lupa padaku?"
"Tidak, ada apa?"
"Aku ingin mengembalikan uang minuman kemarin."
"Tidak perlu, aku ikhlas memberimu."
"Benarkah, terimakasih kalau begitu."
"Baiklah kalau begitu aku permisi."
Bohyuk terus saja mengikuti Nadya, sampai Nadya merasa aneh padanya.
"Kenapa kau terus membuntuti ku?"
"Aku hanya ingin berteman dengan mu. Apakah tidak boleh?"
"Boleh saja, tapi tidak harus mengikuti ku seperti ini."
"Baiklah, aku akan berhenti mengikuti mu jika kau memberikan nomor ponsel mu." Ucap Bohyuk dengan senyum senang.
"Tapi ingat, dilarang mengganggu ku."
"Baik, setuju."
Nadya pun memberikan nomor ponsel nya. Bohyuk pun segera menekan tombol panggilan. Ponsel Nadya pun berdering.
"Itu nomorku, jangan lupa di simpan ya nuna."
"Baik." Jawab Nadya pasrah.
"Kalau begitu aku pamit dulu." Bohyuk pun segera pergi dari hadapan Nadya.
"Kenapa kau berikan nomor mu padanya?" Tanya teman Nadya.
"Setidaknya dia tidak mengikuti kemanapun."
"Tapi pasti dia akan menggangu mu lewat telpon."
"Tinggal abaikan saja."
"Kau ini, jangan terlalu baik pada semua orang. Kau tak tau mana yang baik dan hanya pura-pura baik. Ini negara orang bukan negara mu."
"Iya, aku akan hati-hati lain kali. Terimakasih mengingat kan ku."
Flash off
*.*.*
__ADS_1
Ddrrrttt ddrrrttt
Ponsel Nadya berdering, dengan cepat Nadya meraihnya. Terlihat nama Dr. J.W, Nadya pun segera mengangkat nya.
"Halo pak dokter."
"Kau sedang apa?"
"Sedang membereskan pekerjaan rumah saja. Ada apa pak dokter?"
"Aku di bawah, bisakah kau keluar?"
"Di rumahku?"
"Hmm."
"Baiklah tunggu sebentar." Nadya pun mematikan panggilan telponnya. Lalu mengambil jaket yang ada di gantungan baju dan memakainya. Lalu dia pun dengan cepat turun kelantai bawah.
"Ada apa pak dokter mencari ku?" Tanya Nadya bingung.
"Hanya ingim melihatmu. Pekerjaan ku banyak hari ini, jadi sangat lelah."
"Jika lelah istirahat lah, bukan malah mencariku."
"Aku mencari obat lelahku."
"Bukankah kau bekerja di rumah sakit? Memang di sana tak ada obatnya?"
"Hem kau ini." Wonwoo hanya tersenyum, Nadya tak mengerti bahwa obat yang Wonwoo maksud adalah dirinya. "Bisakah kau menemaniku sebentar?"
"Baiklah, kita jalan sebentar bagaiman? Di dekat sini ada minimarket, aku akan membelikan anda minuman. Supaya anda tak lagi lesu seperti ini."
"Baiklah."
Mereka pun jalam berdua, tak butuh waktu lama karena memang tepatnya tak jauh. Nadya memberikan minuman pada Wonwoo yang sedang duduk menunggunya.
"Silahkan, aku hanya mampu membelikan anda minuman ini." Nadya memyerahkan botol minuman rasa buah pada Wonwoo.
"Tak apa, ini pun aku sudah senang."
"Apa anda baru saja pulang dari rumah sakit?"
"Iya, aku langsung datang menemui mu. Apa kau keberatan jika aku datang menemui mu?"
"Tidak, aku sedang santai jadi anda tak mengganggu. Tenang saja pak dokter."
"Kenapa kau terus saja memanggil ku dengan pak dokter?"
"Sudah biasa seperti itu, jadi suka lupa untuk memanggil mu Wonu oppa. Hihi."
"Kau ini." Wonwoo tersenyum melihat tingkah Nadya. "Jam berapa kau pulang kerja?"
" Setelah makan siang."
"Lalu apa yang kau lakukan setelah bekerja?"
"Aku ke kampus, harus mengurus beberapa hal. Apa aku sedang di interogasi?" Tanya Nadya dengan senyum tipis.
"Tidak, aku hanya ingin tau kegiatanmu hari ini."
"Tak ada yang spesial dan tak ada yang aneh. Hidup ku cukup monoton, seperti itu saja yang ku jalani. Kerja, kampus dan rumah. Setelah itu tidur makan dan bekerja."
"Tak berbeda denganku aku pun sama. Hanya saja sekarang hidupku sedikit berwarna. Karena kehadiran mu."
"Pak dokter anda ini seorang dokter sungguhan atau playboy? Selalu berkata manis pada wanita."
"Hanya padamu saja, pada yang lain aku tidak melakukan itu. Mulutku sangat pedas sepedas cabai."
"Benarkah? Kau seperti ahli dalam merayu wanita."
"Jika aku ahli aku tidak akan terus mengejar mu seperti ini. Aku pasti sudah meluluhkam hatimu."
"Sudah ah, aku ingin pulang. Jika terus mendengarmu berkata mata manis aku bisa terkena diabetes." Ucap Nadya dengan senyum, dan Nadya pun bangkit dari duduknya meninggalkan Wonwoo.
"Benarkah? Apakah hanya dengan kata-kata bisa terkena penyakit? Aku baru tau." Wonwoo pun berjalan mengikuti Nadya.
"Karena anda hanya tau merayu wanita. Entah berapa banyak wanita yang sudah anda rayu."
"Hanya satu, dan itu kamu. Aku baru mencobanya dan berharap berhasil."
"Sudah cukup, anda membuat telingaku merasa geli mendengar kata-kata manis itu." Ucap Nadya dengan senyum.
"Bukankah wanita suka jika di beri kata-kata manis?"
"Benar. Tapi aku merasa aneh mendengarnya."
"Ya sudah, masuk sana. Sudah larut kau harus istirahat."
"Oppa juga, istirahat lah dengan baik. Karena banyak orang yang membutuhkan anda."
"Terimakasih. Kau memang obat mujarab untuk ku." Wonwoo mengusap kepala Nadya lembut. Dan tak lupa senyum tampannya menghiasi bibir Wonwoo.
"Ya sudah aku masuk dulu. Hati-hati di jalan."
"Hmm. Selamat malam."
"Malam." Nadya pun naik ke rumahnya.
Wonwoo pun melajukan mobilnya menuju rumah. Kini harinya berubah, lelahnya berganti dengan kebahagiaan.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bela-belain ya nu ketemu doi supaya dapat vitamin malam. 😁🤭