Love Sweet

Love Sweet
Eps 6


__ADS_3

Hari ini Nadya berangkat ke kampus lebih dulu sebelum dia datang ke cafe. Bos cafe tempat Nadya bekerja tak masalah, karena Nadya adalah karyawan pertama sejak cafe nya di buka.


Nadya pun kembali ke cafe sebelum makan siang. Tiba-tiba Nadya berlari menghampiri anak kecil yang berada di pinggir jalan raya. Anak kecil itu terlepas dari orang tuanya yang sedang membeli makanan di pinggir jalan. Nadya dengan cepat menarik anak tersebut yang hampir saja tertabrak sebuah mobil.


Nadya pun terjatuh dan menopang tubuh anak kecil yang ditolong nya. Tangan Nadya pun terkena aspal karena dia juga menahan tubuhnya. Untung saja kepalanya tak terbentur trotoar.


Jalanan pun ramai banyak orang yang menghampiri Nadya. Begitu juga seseorang yang masuk ke dalam kerumunan.


"Ada apa ini?" Tanya orang tersebut.


"Ada anak hampir kecelakaan pak. Untung saja gadis itu menolongnya." Terang seseorang di sana.


"Nadya!" Ternyata orang itu adalah Dr. Wonwoo. Wonwoo pun kaget melihat Nadya masih tergeletak di pinggir jalan.


"Kau tidak apa-apa? Mana yang sakit?"


"Tidak apa-apa, hanya luka kecil saja."


"Biar ku cek dulu." Wonwoo pun memeriksa anak yang Nadya tolong. Dan ternyata tidak ada luka sedikit pun. Lalu Wonwoo memeriksa Nadya.


"Tangan mu luka, ayo kita kerumah sakit." Ajak Wonwoo.


"Tidak apa-apa. Hanya luka kecil."


"Aku akan tetap memaksamu."


"Sudah ikut saja. Kau harus diobati." Ucap seorang bapak-bapak disana.


"Iya kau harus ke rumah sakit. Terimakasih sudah menolong anakku. Aku tak tau apa yang terjadi jika tak ada dirimu nona."


"Tidak apa-apa. Lain kali harus perhatikan, karena dia masih kecil. Dia selalu penasaran akan suatu hal. Dan itu sangat berbahaya jika di jalan."


"Iya. Terimakasih banyak."


"Ayo, kita harus ke rumah sakit."


Nadya pun ikut ke dalam mobil Wonwoo. Wonwoo langsung membawanya ke rumah sakit. Dan langsung mengobatinya sendiri setelah sampai di ruang UGD.


Nadya hanya menurut saja pada Wonwoo, tangannya pun harus di balut perban karena luka yang cukup lebar.


"Kau yakin tak apa-apa? Apa kau merasa pusing? Kepalamu terbentur atau tidak?"


"Pak dokter bisakah anda bertanya satu persatu? Mana yang harus ku jawab lebih dahulu?" Tanya Nadya dengan senyuman.


"Ku rasa kau baik-baik saja. Karena kau masih bisa tersenyum." Wajah Wonwoo masih jutek, saking khawatir nya dia sampai kesal sendiri.


"Apa pak dokter marah karena aku tak menjawab pertanyaan anda?"


"Tidak."


"Dokter, anda ada panggilan operasi saat ini." Seorang perawat datang menghampiri Wonwoo yang sedang mengobrol dengan Nadya.


"Baik, aku akan segera kesana."


"Baik." Perawat itu pun pergi.


"Istirahat lah di rumah. Akan ku panggil kan taksi." Wonwoo mengeluarkan ponselnya.


"Tidak usah, kau harus segera menolong pasienmu. Aku bisa memesannya sendiri." Nadya mencegah Wonwoo untuk memesan taksi online.


"Baiklah. Kabari aku jika sudah sampai rumah."


"Hmm." Nadya mengangguk.


Wonwoo pun dengan cepat meninggalkan Nadya. Dan Nadya pun segera keluar dari rumah sakit dan pergi ke cafe. Karena jaraknya tak terlalu jauh, Nadya cukup berjalan saja.


Bos Nadya terkejut karena Nadya baru datang. Bos Nadya pun menghampiri Nadya di depan pintu cafe.


"Kau kenapa? Tanganmu luka?" Tanyanya.


"Iya bos, tadi ada sedikit insiden. He" jawab Nadya tersenyum.


"Tapi kau tak apa-apa?"


"Hanya luka sedikit tak masalah."


"Kalau begitu kau istirahat saja. Aku pun sudah menambah karyawan baru hari ini."


"Kau berniat memecatku bos?" Tanya Nadya.


"Tidak, hanya bersiap saja. Aku takut kau akan pulang dan aku akan sangat kerepotan."


"Aku bahkan belum tau kapan akan pulang." Jawab Nadya menunduk.


"Tak perlu khawatir. Cafe ku sangat ramai, menambah satu karyawan tidak akan membuat ku bangkrut." Ucap bos Nadya dengan senyum.


"Baiklah, kalau begitu aku akan bekerja."


"Hari ini ku beri kau izin. Tapi besok kau harus kerja full time karena aku ada urusan. Jadi besok cafe ku serahkan padamu."

__ADS_1


"Baiklah jika anda memaksa. Aku pulang dulu."


"Baik. Hati-hati di jalan. Ingat besok full time, jadi persiapkan tenagamu." Ucap si bos dengam senyum jahilnya.


"Baik bos. Aku mengerti." Nadya pun pergi meninggalkan cafe.


Bos Nadya dan Nadya memang dekat, jadi bercanda gurau sudah biasa bagi mereka. Bos Nadya juga sangat percaya pada Nadya. Jadi dia selalu meminta bantuan Nadya saat dia tak bisa berada di cafe.


Nadya pun pulang ke tempat tinggalnya. Karena sudah jam makan siang dia menyiapkan makan siang di rumah. Makan seorang diri lalu dia istirahat dan tertidur.


Ddrrrttt ddrrrttt


Ponsel Nadya berdering. Nadya dengan cepat mengangkatnya. Dia tak melihat dari siapa, karena matanya masih terpejam.


"Kau sudah di rumah?" Tanya si penelpon.


"Maaf anda siapa?"


"Kau tak menyimpan nomorku?"


"Hah?" Nadya pun melihat siapa yang menelepon nya.


"Maaf pak dokter aku sedang tidur jadi tadi tak melihat langsung ku angkat saja."


"Syukurlah kalau kau sudah di rumah. Kenapa kau tak mengabari ku setelah sampai di rumah? Bukankah ku sudah bilang untuk memberi ku kabar?"


"Maaf aku lupa, setelah makan aku mengantuk jadi tertidur. He " ucap Nadya cengengesan.


"Ya sudah. Aku lega kau sudah di rumah, jadi istirahat lah."


"Baik pak dokter. Apa anda sudah selesai operasinya?"


"Sudah, baru saja."


"Sepertinya sangat lama."


"Hampir 3 jam. Dan sekarang harus mengecek pasien."


"Baiklah. Lanjutkan pekerjaan anda. Aku juga harus membereskan rumahku."


"Ya sudah. Aku matikan telepon nya."


"Hmm."


"Bye."


"Bye."


*.*.*.*


Wonwoo pulang ke rumah saat makan malam. Di meja makan sudah ada ibu, ayah dan adiknya. Wonwoo pun bergabung di sana. Terlihat tak ada yang aneh, hanya saja ibunya masih mendiamkannya.


"Ada angin apa kau makan malam di rumah? Bukankah kau biasanya tak di rumah? Apa kau sudah berpisah dengan gadismu itu?" Tanya ibunda Wonwoo ketus.


"Kak kau sudah punya kekasih?" Tanya adiknya antusias.


"Wanita mana yang membuatmu jatuh hati? Aku harus berterima kasih padanya. Karena melunturkan es di dalam hatimu." Ucap sang adik.


"Gadis tak jelas asal usulnya."


"Aku pulang untuk makan malam. Bukan untuk berdebat. Jika memang kehadiran ku disini tak di harapkan, maka aku akan keluar. Eomma, dia gadis yang baik. Setidaknya berkenalan dahulu dengannya, setelah itu kau baru menilai nya."


"Untuk apa, dia membuatmu melawanku. Bukankah itu bukan gadis baik?"


"Dia selalu meminta ku berdamai dengan mu. Hanya eomma yang tak mau mengenal nya. Aku yakin eomma menyukainya jika sudah mengenalnya."


"Tidak ada waktu untuk mengenal gadis asing yang tak jelas."


"Tapi eomma selalu ada waktu untuk memilih gadis yang tak jelas untukku. Eomma, gadis-gadis pilihanmu hanya sayang pada diri mereka sendiri. Aku hanya ingin mencari pendamping hidup yang mengerti aku dan menghargai aku."


"Appa, kenapa rumah kita menjadi seram seperti ini?" Bisik adik Wonwoo pada ayahnya.


"Appa pun tak tau. Kita diam saja agar tak terjadi apapun."


Adik Wonwoo hanya mengangguk menuruti perkataan ayahnya.


"Orang asing seperti gadis itu tak akan bisa mengerti dirimu. Dan kau akan di tinggalkan olehnya ketika dia bosan." Peperangan antara ibu dan anak seperti nya masih berlanjut.


"Eomma, tak bisakah kali ini kau percaya padaku? Aku mohon, jangan persulit aku."


"Eomma tidak pernah mempersulit mu, kau yang mempersulit hidupmu sendiri."


"Baiklah, aku akan buktikan jika pilihanku benar." Wonwoo pun pergi meninggalkan meja makan dan pergi keluar.


"Tak bisakah kau percaya pada anakmu kali ini?" Tanya ayah Wonwoo pada istrinya.


"Kau belum pernah melihat gadis itu. Setelah kau melihatnya kau pasti akan memihakku."


"Apakah gadis pilihan putramu sangat jelek? Atau dia memiliki kekurangan fisik?"

__ADS_1


"Dia gadis asing. Dari keluarga mana pun kita tak tau, aku hanya tidak ingin putraku menjadi tambang uang untuk wanita tak jelas itu."


"Aku akan coba bertemu dengannya, jika pendapat ku berbeda denganmu aku minta kali ini percaya pada putramu."


"Kau selalu saja membela."


"Bukankah kau yang sejak dulu selalu membelanya. Aku hanya memberikan anak ku pilihan yang menurutnya terbaik."


"Huh, kau sama saja."


"Eomma, appa. Tak bisakah kita melanjutkan makan?" Tanya adik Wonwoo yang sedari tadi hanya memandangi orang tuanya yang bersitegang.


"Makanlah." Ucap ayahnya.


Di lain tempat Wonwoo melajukan mobilnya menuju rumah seseorang. Dia parkirkan mobilnya di depan sebuah rumah. Dia pun mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi seseorang.


"Apa kau di rumah?" Tanya nya.


"..."


"Bisakah kau keluar menemui ku?"


"..."


Wonwoo mematikan ponselnya setelah selesai bicara. Dia hanya terdiam menghela nafas berat, dan menyenderkan tubuhnya di kursi mobilnya.


Tak lama seseorang keluar dari rumah yang di datangi Wonwoo. Seseorang itu menghampiri mobil Wonwoo dan mengetuk kacanya pelan.


"Ada apa? Apa anda sakit?" Ternyata Wonwoo datang menemui Nadya. Nadya yang melihat Wonwoo menyender lesuh langsung khawatir, dan mengecek suhu di dahi Wonwoo.


"Tidak panas. Apa ada masalah?" Tanya Nadya.


"Tak bisakah kau menjadi kekasihku?"


"Hei pak dokter, ada apa denganmu? Kau bertengkar lagi dengan ibumu?"


"Masuklah ke mobil, di luar dingin. Kita bicara dulu."


"Baiklah." Nadya pun menurut, dia masuk ke dalam mobil dan mulai berbicara dengan Wonwoo.


"Sekarang jawab pertanyaan ku, apa kau bertengkar dengan ibumu?"


"Aku hanya ingin ibuku mengerti aku."


"Dan ibu anda juga ingin anda bisa mengerti beliau."


"Aku hanya ingin memperjuangkan pilihanku."


"Pilihan anda yang mana? Saya? Bukankah aku sudah pernah bilang jika kita tidak bisa lebih dari teman. Anda memulai semua kebohongan ini dan itu justru menyulitkan diri anda sendiri."


"Tak bisakah kau menjadi kekasihku? Sungguh aku menyukaimu."


"Pak dokter, perbedaan kita itu sangat jauh. Aku mengerti jika ibu anda sangat keberatan. Dan aku saat ini sedang tidak terfikir untuk menjalin hubungan. Aku harus segera menyelesaikan sekolahku, dan aku harus bekerja juga. Aku bahkan tak ada waktu untuk memikirkan hubungan."


"Aku pun sibuk bekerja dan mungkin akan jarang bertemu ddnganmu. Namun saat bertemu denganmu aku tertarik padamu. Aku berkata serius, dan aku berharap kamu pun memiliki rasa yang sama seperti ku."


"Kau orang yang baik. Pasti banyak orang baik di sana yang menyukai anda dan lebih pantas bersama anda."


"Pantas untuk ku? Seperti apa? Aku hanya ingin mencari seseorang yang mampu memahami dan menghargai ku."


"Aku yakin mereka akan mampu mengerti dan memahami anda."


"Tak bisakah aku hanya memilihmu? Perasaanku tulus padamu. Tak bisakah kau mencoba nya terlebih dahulu? Jika memang kau tak nyaman kau bisa mengakhiri semuanya."


"Aku tak berani mencoba, karena waktuku tak lama di sini. Aku harus pulang, dan tak tahu apakah akan kembali ke sini atau tidak." Ucap Nadya dengan menunduk.


"Aku akan menunggu, jika kau tak bisa kembali aku akan menjemputmu dan meminta izin pada orang tuamu untuk membawamu ke sini. Bagaimana? Apakah kau bersedia?"


"Aku...." Nadya menjeda kalimatnya.


"Aku serius untuk menjalin hubungan denganmu. Apapun persyaratan mu aku akan penuhi. Aku berjanji."


"Bisakah aku memikirkannya? Kurasa aku butuh waktu."


"Baiklah, aku akan memberikanmu waktu. Tapi aku tak bisa memberimu waktu lama, 3 hari lagi aku akan meminta jawabnmu."


"Baiklah."


"Maaf jika aku begitu menekanmu. Aku hanya tidak ingin kehilanganmu. Aku ingin setidaknya berusaha memperjuangkan mu."


"Aku tidak tau harus berkata apa."


"Ya sudah, istirahat lah. Aku tidak akan menggangu mu hingga waktu yanh ku minta. Fikirkanlah dengan matang."


"Baik. Aku permisi."


"Hmmm."


Tanpa memandang Wonwoo Nadya masuk ke dalam rumah. Fikiran nya kosong saat ini. Entah apa yang harus dia lakukan. Nadya bahkan tak mampu berfikir, dia hanya terdiam di atas tempat tidurnya. Hingga tak sadar dia terlelap.

__ADS_1


__ADS_2