
Sudah satu minggu ini aku tidak bekerja, karena aku harus menghadapi ujian. Dan untungnya pemilik cafe tempatku bekerja sangat baik, dia mengerti aku yang seorang mahasiswa.
Hari ini aku harus berjalan memapah sepedaku yang bermasalah, rantainya terlepas dan aku tidak bisa membetulkannya. Jadi aku harus berjalan dengan sepeda di sampingku.
"Nadya". Terdengar seseorang memanggilku, aku tau karena di negara ini tidak ada nama yang sama denganku. Aku pun mencari sumber suara.
Terlihat seseorang dari dalam mobil. Dan seseorang itu pun menampakkan wajahnya dengan keluar dari dalam mobil.
"Dokter". Ternyata dokter Wonwoo.
"Ada apa dengan sepeda nya?". Tanyanya, mungkin tadi dia melihatku memapah sepeda ku yang sekarat ini.
"Sepedanya rusak dok".
"Lalu kau mau kemana dengan sepeda ini?". Tanya nya lagi. Nanya mulu nih si bapa.hehe
"Saya akan pergi bekerja".
"Kalau begitu biar saya antar". Tawarnya, sesungguhnya itu tawaran yang menggiurkan karena aku tidak perlu capek-capek berjalan. Namun apakah sopan jika aku menerima tawaran tersebut, secara aku baru bertemu beberapa kali dengannya dan kita tidak dekat.
"Hey, kenapa bengong?".
"Tidak usah pak Dokter, saya tidak ingin merepotkan pak Dokter". Aku mencoba menolak tawarannya tadi.
"Tidak apa, aku tidak merasa direpotkan".
Akhirnya aku pun ikut dengan Dokter Wonwoo. lumayan gak perlu capek jalan, walau sebenarnya tak enak hati.
Kami hanya saling diam tanpa suara, aku tak tau harus berbicara apa. Rasanya tak ada pembahasan yang cocok untuk dibicarakan, karena kita adalah dua orang asing yang baru beberapa kali bertemu.
"Kau bekerja dimana?" Tanya Dokter Wonwoo tiba-tiba, dan itu mengejutkanku dari lamunan.
"Masih di tempat yang lama". Jawabku sedikit gugup, sudah seperti wawancara kerja.he
"Benarkah? Tapi aku tak melihatmu akhir-akhir ini?".
"Aku sedang ujian, jadi aku minta izin pada pemilik cafe. Untung saja dia baik dan memberikan ku izin". Jawabku dengan senyum.
"Oh begitu". Responnya singkat.
"Oya pak Dokter, apa kau kehilangan buku kecil? Seperti buku catatan?". Tanyaku, karena buku yang ku temukan waktu itu ada padaku.
"Iya, apa kau tau? Saat itu saya mencarinya namun orang di cafe tak ada yang tau".
"Maaf pak Dokter, saya menyimpannya tapi saya belum sempat mengembalikan nya pada Dokter". Ucapku tak enak.
"Oh, tidak apa. Bukan buku yang penting, santai saja". Jawabnya dengan senyum. Kalian tau senyumnya sangat indah, membuat dia terlihat semakin tampan. Dia terlihat sangat dingin namun sebenarnya dia orang yang sangat ramah.
"Kalau begitu besok saya antar kerumah sakit, karena bukunya aku simpan di tempat tinggal ku".
"Tidak apa, kalau begitu ini kartu namaku. Kau bisa menghubungi ku saat tiba di rumah sakit besok". Dokter Wonwoo memberikan kartu namanya padaku.
Dr. Jeon Wonwoo
__ADS_1
Terdapat juga nomor telepon nya. Aku pun memasukan ke dalam tasku.
"kalau begitu saya pamit, terimakasih tumpangan nya pak Dokter". ucapku sebelum membuka pintu mobilnya.
"Sama-sama, kalau begitu saya pamit". Dokter Wonwoo pun pamit untuk pergi.
"Dokter". Panggilku.
"Iya Nadya". Dia pun menoleh kembali karena panggilanku.
"Sepeda saya,he". Hampir saja dia membawa sepdaku yang sekarat.
"Oh iya saya lupa. He maaf ya Nadya". Terdengar dokter Wonwoo tertawa ringan. Suaranya yang berat membuat dia semakin terlihat keren. Laki banget kalau kata aku.he
Dokter Wonwoo pun mengeluarkan sepedaku dan pamit pergi. Dokter tampan itu berlalu dengan mobilnya. Aku pun masuk ke dalam cafe tempatku bekerja.
Terlihat sudah ada bosku sedang duduk santai di meja pelanggan dengan segelas kopi hangat, karena terlihat asap masih keluar dari dalam gelas di hadapannya itu.
"Sajangnim". Sapaku,membuat nya menoleh ke arah ku.
"Oh Nadya, bagiamana ujiannya?". Tanya bosku yang baik ini, dia adalah pemuda yang keren menurut ku. Karena dia sudah bisa membuka lapangan pekerjaan sendiri. Sebenarnya dia sudah tidak muda, usianya sekitar 28 lah. He
"Lancar, terimakasih atas izinnya bosku" ucapku dengan menangkupkan kedua tanganku. 🙏
"BOSKU?". Bingung dia.
"Heheh, BOSKUneun nae sangsaleul uimihabnida".
(BOSKU artinya Bos saya).
"Ah, aku mengerti. BOSKU". Dia mengulang lagi, spertinya bosku senang dengan panggilan itu.he
"Baiklah BOSKU, aku bekerja dulu. Jika tidak cepat-cepat bekerja gajiku bisa di potong". Ucapku. Aku pun masuk ke dalam loker dan bersiap untuk bekerja. Hari ini aku bekerja hingga malam, karena shiftku yang kedua.
****
Jam menunjukkan pukul 10.00 waktu Korea, terlihat Nadya sudah rapih. Dia pun memasukan sebuah buku kecil ke dalam tasnya. Sepertinya Nadya akan ke rumah sakit untuk mengembalikan buku milik dokter Wonwoo.
Karena sepeda milik Nadya masih belum diperbaiki, Nadya pun pergi dengan menggunakan bus.
Tak butuh waktu lama Nadya pun sampai di rumah sakit. Nadya duduk di lobi rumah sakit, dan mengeluarkan ponselnya.
Dr. Wonwoo
- dokter apa anda sedang sibuk?
-tidak, apa kau akan datang ke rumah sakit?
- saya sudah di lobi 😁 apakah tidak apa-apa jika aku menemui dokter?
- tunggu saja di sana aku akan menemuimu di sana.
- baiklah.
__ADS_1
Wonwoo pun berlari menuju lobi, dan menemui Nadya. Terlihat Nadya dengan tenang duduk di kursi tunggu yang ada di lobi rumah sakit.
"Nadya". Suara Wonwoo ter engah-engah karena dia baru saja berlari.
"Dokter berlari? Apa karena kau sibuk? Maaf kan aku dokter, telah minyita waktumu". Nadya terlihat tidak enak pada Wonwoo, karena Wonwoo harus berlari menemui Nadya.
"Tidak, aku hanya tidak ingin kau menunggu terlalu lama". Jelasnya dengan senyum yang tergambar jelas.
"Oh ya ini dokter buku anda". Nadya menyerahkan buku kecil itu kepada Wonwoo.
"Terimakasih Nadya, apa kau ingin minum kopi sebentar?".
"Tidak usah dokter, waktumu nanti terbuang hanya untuk berbicara denganku. Ku tau kau sangat sibuk". Nadya menolak dengan sopan.
"Tidak, kebetulan pekerjaan sedang senggang. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih dengan mentraktir mu minum kopi".
"Baiklah". Nadya pun akhirnya menerima tawaran Wonwoo.
Mereka berdua pun berjalan beriringan, dan saat sedang berjalan ada seseorang yang berlari panik dan menabrak Nadya. Namun dengan sigap Wonwoo memegangi Nadya agar tidak terjatuh.
"Terimakasih dokter". Ucap Nadya sembari membenarkan tubuhnya untuk berdiri dengan tegak.
"Kau tidak apa-apa?". Tanya Wonwoo panik.
"Tidak apa dokter".
"Wonu". Terdengar seseorang memanggil wonwoo.
"Eomma". Wonwoo kaget saat melihat ibunya di rumah sakit.
"Ini..." Suara ibunya terpotong, namun telunjuknya menunjuk ke arah Nadya.
"Dia kekasihku". Ucap wonwoo dengan memeluk bahu Nadya.
Nadya tercengang dengan pernyataan Wonwoo, sebab dia tak tau apa-apa. Wonwoo langsung menyebut dirinya adalah kekasih Nadya. Nadya memandang wonwoo meminta penjelasan. Namun wonwoo dengan mengangguk meminta Nadya mengiyakan pernyataannya tadi.
"Annyeong hasimnikka". Sapa Nadya canggung.
(Apa kabar?). Formal.
"Wonu, ayo kita bicara. Maaf ya nona saya harus bicara dengan anak saya dulu". Ibu Wonwoo pun menarik tangan anaknya.
"Nadya, nanti saya hubungi lagi ya".
"Iya pak Dokter". Nadya pun pulang dengan perasaan was was.
Sedangkan Wonwoo sedang berhadapan dengan ibunya, tatapan mata ibunya terlihat menyelidik.
"Bisa jelaskan tadi apa?". Tanya ibunya meminta penjelasan.
.
.
__ADS_1
.
.