Love Sweet

Love Sweet
Eps 4


__ADS_3

"Awww." Tersengar teriakan dari dalam rumah Nadya.


"Ada apa? Apa yang terjadi?" Dengan panik aku langsung membuka pintu rumahnya. Terlihat dia sedang berjongkok di lantai.


"Ada apa?" Tanyaku panik.


"Tidak apa dokter, kaki ku hanya terkena pisau yang jatuh."


" Sini biar ku lihat, duduk lah dulu."


"Sebentar dok, aku matikan komporku dulu." Nadya mematikan komornya.


Lalu ku tarik dan ku suruh duduk di sofa yang ada di kamarnya.


Ku bersihkan kaki yang terdapat darah, ku ambil kotak obat yang ada di bawah meja. Ku obati dengan hati-hati, ku lihat wajahnya yang sedikit menahan sakit.


"Sudah." Ucap ku setelah selesai menutup lukanya yang tak parah.


"Lain kali kau harus hati-hati, jangan ceroboh jika sedang di dapur. Itu sangat berbahaya."


"Baik dok, terimakasih. Kalau begitu tunggu sebentar, masakan ku sudah hampir matang."


"Baiklah, ingat hati-hati."


"Iya."


Aku masih berada di kamarnya, entah dia lupa untuk mengusirku keluar atau dia tak enak untuk memintaku keluar. Ku lihat kamarnya begitu rapih dan bersih, kamarnya juga harum. Dia mampu menata tempat tinggal nya menjadi nyaman. Bahkan aku yang baru datang pun terasa nyaman. Aku duduk di karpet di bawah sofa, terasa nyaman.


" Sudah siap." Nadya membuyarkan ku dalam diam. Dia datang dengan membawa hasil masakannya.


"Apa ini?." Tanya ku saat melihat makanan yang terbidang di meja kecil.


" Aku hanya membuat nasi goreng dengan bahan baku seadanya. Semoga anda suka."


" Sepertinya aku akan menikmatinya." Jawabku dengan senyum.


" Cobalah."


"Terimakasih untuk makanannya." Ucapku dan di balas dengan senyuman.


Ku lihat dia mengangkat tangannya, dan membaca sesuatu sebelum akhirnya dia memakan makanannya.


"Apa yang kau lakukan?" Tanyaku penasaran.


"Aku berdoa sebelum makan."


"Oh."


Kami pun melanjutkan makan, dan tak ku pungkiri makanan yang di buatnya sangat enak. Aku sangat menikmati nya, dan tak ku sisakan sedikitpun.


"Biar ku bereskan." Nadya mulai membereskan tempat makannya.


"Biar aku saja, anggaplah ucapan terimakasih karena kau telah memberikan aku makan malam."


"Tidak pak dokter, anda tamu dan tak sopan jika anda membersihkan ini. Biar aku saja." Dia menolaknya.


"Baiklah."


"Makanlah ini dulu." Dia menyiapkan sedikit potongan buah dan diletakkan nya di atas meja.


Nadya pun memersihkan piring kotor bekas kami makan, sedangkan aku menikmati buah yang di sediakan olehnya.


Terlihat Nadya sudah selesai, dan dia juga baru saja keluar dari kamar mandi terdengar dari pintu yang tertutup.


"Nadya boleh aku ikut ke kamar mandi?"


"Silahkan pak dokter."


Aku pun masuk ke kamar mandinya, dan kesanku adalah dia gadis yang sangat bersih dan harum. Bahkan kamar mandi pun bersih dan harum.


Tak lama aku pun keluar, ku lihat Nadya sedang entah melaksanakan apa. Aku pun tak ingin mengganggunya, aku pun kembali duduk sampai Nadya selesai dan menyapaku dengan sendirinya.


Aku pun dengan isengnya merekam apa yang Nadya lakukan. Dia bahkan sangat fokus, aku pun tak berani mengganggu. Kurang lebih 5 menit aku melihatnya, bahkan setelah dia menengok ke arahku dia kembali fokus pada kegiatannya. Aku pun masih sabar menunggunya dan menikmati apa yang ada di hadapanku.


Akhirnya Nadya pun selesai, dia membereskan apa yang ia pakai tadi.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya ku pemuh dengan rasa ingin tau.


"Maaf pak dokter, anda jadi menunggu ku. Karena waktu ku hampir habis jadi aku harus menjalankan ibadahku. Aku seorang muslim, jadi aku harus menjalankan ibdahku."


"Oh. Apa harus dengan penutup besar itu."


"Iya, karena untuk menghadap tuhan aku harus menutup tubuhku. Aku harus sopan dan rapih untuk menghadap tuhan." Jawabnya dengan senyum.


"Pak dokter, kita terlalu memiliki berbedaan yang sangat jauh. Aku tak ingin menjadi pemicu anda dan ibu anda bersitegang."


"Aku tidak memperdulikan itu, aku suka dengan kepribadian mu. Aku menghormati mu sebagai seorang muslim. Aku menghormati mu jika kau sedang beribadah. Dan untuk masalah ibuku, harusnya aku yang meminta maaf padamu. Karena aku kau jadi terseret masalahku. Tapi aku pun ingin dekat dengan mu. Tak bisakah aku mencoba dekat dengan mu? Tak perlu kau membalas perasaanku, menjadi teman pun tak apa untuk ku."


"Sungguh aku minta maaf dokter. Kau orang yang sangat baik, aku tak apa jika untuk berteman tapi untuk menjalin hubungan aku tak bisa." Nadya menundukkan kepalanya, seperti merasa tak enak padaku.


"Tak apa Nadya, aku pun tak memaksamu. Setidaknya kamu bisa menerimaku sebagai teman." Nadya masih saja menundukkan kepalanya.


"Sudah tak perlu kau fikirkan, aku permisi pulang. Terimakasih untuk makanannya." Ucapku dengan senyum. Barulah ku lihat wajahnya.


"Iya sama-sama pak dokter."


"Ingat, jangan terus memanggil ku pak dokter. Karena saat bersama mu aku bukanlah dokter." Ucapku dengan nada bercanda.

__ADS_1


"Baiklah." Jawabnya dengan senyum.


Senang rasanya melihat senyumnya.


Aku pun pamit dari kediamannya, dia pun mengantarku sampai ke lantai bawah.


"Naiklah, sudah malam."


"Baik, hati-hati di jalan."


"Baik."


Aku pun masuk ke dalam mobil saat melihat Nadya sudah naik ke atas. Ku lajukan mobilku menuju rumah, entah hari ini akan dapat ocehan apalagi dari eomma. Aku akan tetap mempertahankan Nadya. Karena sangat langka gadis seperti Nadya.


*.*.*


Wonwoo sampai di rumah terlihat Ayah dan ibunya sedang duduk di ruang tengah. Setelah menyapa kedua orang tuanya Wonwoo pun berjalan menuju kamarnya.


"Lihat putramu, sekarang mulai memusuhiku hanya demi gadis yang tak jelas asal usulnya." Ibu Wonwoo menyindir anaknya.


"Aku tidak memusuhi eomma, tapi eomma lah yang tak menghormati keputusanku. Aku sudah dewasa eomma, usiaku 30 tahun bukan anak 5 tahun yang baju saja harus di pilihkan oleh ibunya."


"Kau terus saja membela gadis itu, gadis yang bahkan tak jauh lebih lama dari eomma yang selalu ada bersama mu."


"Eomma, sungguh aku tak ingin bersiteru dengan eomma. Tapi eomma terus saja mempermasalahkan pilihanku. Eomma coba menerima apa yang menajdi pilihan ku, aku yakin eomma akan mengerti mengapa aku bertahan memilih nya." Wonwoo pun pergi meninggalkan orang tuanya.


"Kau lihat putramu bahkan semakin berani padaku hanya demi gadis tak jelas itu." Ibu Wonwoo semakin kesal saat putranya terus membantahnya.


"Dia sudah dewasa, biarlah dia menjalani pilihan nya. Jika dia merasa gadis itu tidak baik, dia akan berhenti dengan sendirinya. Mencobalah untuk menghormati keputusan putramu." Ayah Wonwoo mencoba untuk memberi pengertian pada istrinya.


"Semuanya tak ada yang mengerti aku. Anak dan ayah sama saja." Ibu Wonwoo kesal dan meninggalkan suaminya.


Di dalam kamar Wonwoo baru saja selesai mandi, dia pun membuka ponselnya. Dia terus saja melihat video yang di ambilnya tadi. Dia terus saja tersenyum, bahkan di putarnya berulang-ulang.


Ddrrrttt ddrrrttt


Ponsel Wonwoo berdering tiba-tiba, dengan cepat Wonwoo mengangkatnya.


" Dokter bisakah kerumah sakit? Ada pasien darurat. Dokter jaga sedang ada yang operasi darurat. Ada pasien kecelakaan."


"Baik."


Wonwoo pun segera bersiap. Dengan cepat Wonwoo pergi kerumah sakit. Wonwoo adalah seorang dokter yang kini bekerja di rumah sakit yang didirikan oleh keluarga besarnya. Sekarang Rumah sakit itu di pegang oleh ayahnya.


Wonwoo pun langsung menuju UGD setelah sampai di rumah sakit. Wonwoo langsung menangani beberapa pasien.


Wonwoo cukup lama menangani pasien yang datang karena kecelakaan itu. Beberapa korban pun harus di bawa ke ruang operasi.


Beberapa jam Wonwoo berada di ruang UGD, Wonwoo juga sempatkan untuk menengok beberapa pasiennya di ruang rawat inap.


"Kau balik lagi?" Tanya Ae Ri yang datang ke ruangan Wonwoo, karena melihat lampu ruangan Wonwoo menyala.


"Aku jaga malam, dan baru selesai operasi."


"Oh."


"Mau kopi tidak?"


"Tidak, aku ingin istirahat sebentar disini. Aku belum tidur sejak pagi."


"Baiklah. Istirahat lah, aku akan kembali ke ruangan ku."


"Baik."


Ae Ri pun keluar dari ruangan Wonwoo, dan Wonwoo pun bersiap untuk tidur di sofanya. Sebenarnya ada ruang istirahat untuk para dokter dan perawat. Tapi Wonwoo lebih memilih ruang kerjanya yang memang sudah disetting untuk bisa istirahat.


*.*.*


- Nadya -


Pagi.


Apa kau bekerja hari ini?


Wonwoo mengirim pesan pada Nadya saat dia baru saja bangun dari istirahat nya.


- Nadya -


Pagi pak dokter.


Hari ini aku masuk pagi. Apa ada yang bisa di bantu pak dokter?


- Apa aku tidak boleh menghubungi mu pagi-pagi?


Boleh.


Apa hanya ingin bertanya aku bekerja atau tidak?


- tidak, hanya ingin ngobrol denganmu saja.


Apa kau sudah berangkat bekerja?


Baru saja sampai, sekarang sedang bersiap untuk bekerja.


Jadi maaf ya pak dokter saya harus pergi bekerja sekarang.


- tidak apa, aku juga harus bersiap kerja.

__ADS_1


Tapi harus pergi sarapan dulu.


Baiklah pak dokter, semangat bekerjanya. 💪


- siap cantik 🤭


???


- 🤣 baiklah, segeralah bekerja.


Baik.


Wonwoo pun mengakhiri aktivitas chatting an bersama Nadya. Wonwoo pun membersihkan diri, lalu pergi keluar untuk membeli sarapan di dekat Rumah Sakit.


Wonwoo berjalan keluar Rumah Sakit, dan pergi menuju sebuah cafe tak jauh dari tempatnya bekerja.


"Pagi." Sapa Wonwoo pada pelayan cafe di hadapannya yang ternyata adalah Nadya.


"Pagi pak dokter, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Nadya.


"Kopi dan sandwich saja untuk sarapan."


"Baik, apalagi?"


"Sudah itu saja, sama ingin senyuman dari wanita di hadapanku apakah bisa?" Goda Wonwoo dengan senyum jahilnya.


"Pak dokter anda ini masih pagi sudah menebar gombalan."


"Tidak, aku serius. Jika tidak bisa pun tak apa."


"Anda ini." Nadya hanya tersenyum melihat tingkah Wonwoo. "Pagi-pagi anda sudah di Rumah sakit?" Tanya Nadya.


"Iya, semalam ada panggilan darurat. Jadi sekalian tidur di Rumah Sakit."


"Wah benar-benar seorang dokter 👍."


"Memang aku dokter. Kau fikir aku dokter palsu."


"Bukan seperti itu maksudku." Nadya menundukkan wajahnya.


"Kau ini lucu sekali." Wonwoo tersenyum gemas melihat tingkah Nadya.


"Sebentar aku ambilkan pesanan anda." Nadya pun masuk ke dalam utuk mengambil pesanan Wonwoo yanh sudah selesai.


"Ini pak dokter." Nadya menyerahkan pesanan Wonwoo. "Ada yang bisa di bantu lagi?" Tanya Nadya.


"Ada."


"Apa yang bisa di bantu?"


"Tak bisakah kau tak memanggil ku pak dokter terus? Aku hanya ingin lebih dekat denganmu. Jika kau terus memanggil ku pak dokter aku merasa seperti orang asing." Ucap Wonwoo penuh harap.


"Baiklah, Wonu oppa." Dengan susah payah Nadya memanggil Wonwoo.


"Apa? Aku tak mendengar nya."


"Wonu oppa." Wajah Nadya sedikit terpaksa.


"Terimakasih, kalau gitu aku kembali ke Rumah Sakit dulu. Karena sudah mendapat vitamin pagi." Ucap Wonwoo dengan senyum senang.


"Ada saja anda ini." Nadya tersipu malu oleh tingkah Wonwoo. "Anda apakah selalu seperti ini pada wanita? Sepertinya anda sudah sangat ahli menggoda wanita."


"Tidak, hanya kau saja. Aku tak gampang jatuh hati pada setiap wanita."


"Aku tak yakin."


"Apa aku harus membuktikan nya?" Tanya Wonwoo dengan wajah serius.


"Tidak perlu, aku hanya bercanda. Hihi." Nadya tertawa ringan melihat ekspresi Wonwoo.


"Kau ini." Wonwoo memukul jidat Nadya lembut.


Pagi-pagi mereka sudah menebar keuwuan. Untung saja cafe baru buka jadi masih sepi, dan Wonwoo adalah pelanggan pertama.


"Aku kembali dulu."


"Baik, hati-hati."


"Iya. Kau juga hati-hati. Jangan ceroboh."


"Baik oppa." Jawab Nadya lembut.


Nadya pun mendapat elusan lembut di kepalanya.


"Bye."


Wonwoo pun pergi meninggalkan cafe dengan senyum kebahagiaan. Sarapan pagi yang sangat nikmat, dapat vitamin pagi pula.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Seneng ya nu pagi-pagi di kasih vitamin sama pujaan hati. 🤭😁


__ADS_2