
“Selamat malam, Profesor. Kenapa Anda memanggil saya larut malam begini?” tanya Luna dengan senyuman manisnya.
Berbeda dengannya, Profesor Seraphine justru menatapnya dengan datar dan penuh kewaspadaan.
“Kau..” Profesor Seraphine menahan napas, dia menatap Luna dengan penuh keseriusan. “Kau seorang vampir kan?”
Luna tampak terkejut, namun hanya sedetik sebelum dia berhasil menetralkan raut wajahnya. Dengan senyuman manis, Luna menjawab. “Kenapa Profesor berpikir begitu?”
“Berhenti berpura-pura, Luna.”
“Aduh~ saya sungguh tidak mengerti dengan perkataan Profesor, jika saya seorang vampir. Tidak mungkin kan saya berjalan dengan bebas di bawah sinar matahari.”
Profesor Seraphine terdiam, dia seolah baru mengingat tentang kelemahan vampir tersebut. Profesor Seraphine menatap Luna yang juga menatapnya dengan polos. “Sepertinya aku salah paham,” dia memijat pelipisnya. “Maaf, Luna.”
“Tidak masalah, Profesor. Tapi sepertinya Anda banyak pikiran akhir-akhir ini, bagaimana jika Profesor istirahat saja beberapa hari?”
“Kau benar, sepertinya aku perlu mengambil cuti beberapa hari.”
“Benar, Anda tidak perlu terlalu memaksakan diri Anda. Profesor," kata Luna dengan ekspresi khawatir, dia kemudian tersenyum. “Hari sudah mulai larut, saya permisi.” Luna sedikit membungkuk sebelum berbalik dan berjalan keluar.
Tepat setelah dia menutup pintu, matanya berubah menjadi merah darah. Luna mengepalkan tangannya dan membiarkan kuku-kuku tajamnya menancap ke kulit.
‘Tadi itu benar-benar membuatku takut, aku pikir Profesor Seraphine sadar kalau aku Vampir. Untungnya itu hanyalah kecurigaan sesaat, tapi meski begitu. Aku harus lebih berhati-hati lain kali.’ Luna tersenyum dengan mata yang berubah menjadi cokelat. “Sudahlah, lebih baik aku ke asrama dan tidur.” Dia berjalan pergi. “Ah~ lelahnya.”
✯✯✧✯✯
‘Mereka semua sudah tidur.’ Luna berjalan ke arah cermin, dia menatap pantulan bayangannya di bawah cahaya lentera yang redup. Luna menyingkap rambutnya dan memperlihatkan sebuah simbol sihir berwarna ungu kehitaman yang aneh. ‘Kenapa simbol keluarga Courn tidak hilang? Padahal aku sudah mengoyak kulitku karena simbol sialan ini, tapi setelah kulitku pulih simbolnya kembali muncul.. jika dilihat oleh orang lain, maka aku akan ketahuan.’ Dia mengigit bibir dalamnya. ‘Apa yang harus kulakukan untuk menyembunyikan simbol ini??’
Luna berdecak, dia menutupi simbol itu dengan rambutnya. Luna berjalan ke arah balkon, dia berdiri dan menatap rembulan yang tampak indah. “Cantiknya,” gumamnya pelan. ‘Seandainya aku bisa seindah bulan yang menerangi malam yang gelap.’ Luna tertawa kecil. ‘Kau sangat lucu, Luna. Kau adalah seorang vampir yang bertahan hidup dengan menghisap darah, dan kau malah ingin menjadi bulan indah yang tampak suci dan menerangi seluruh dunia.’
“Nonaku..”
__ADS_1
Luna melirik ke belakang. “Elmira, kenapa kau di sini?”
“Maafkan saya, Nona. Tapi sebentar lagi adalah ulang tahun Anda yang ke 19, saya sudah menyiapkan semua keperluan yang Anda mau. Saya dan yang lain hanya menunggu perintah dari Anda.”
“Begitu ya, terima kasih atas informasinya.” Luna kembali mendongak menatap langit. ‘Sebentar lagi, kau hanya perlu menunggu waktu dengan tenang. Luna, setelah penantianku selama 11 tahun. Sekarang, aku akan merebut kembali semua yang seharusnya menjadi milikku.’
“Nona?”
Luna tersenyum tipis. “Elmira, menurutmu. Apa suatu hari nanti, aku bisa menggapai bintang-bintang di langit?” tanyanya sambil mengangkat sebelah tangannya ke langit malam.
Elmira tampak terdiam, dia tersenyum. “Jika itu Anda, saya yakin Anda bisa menggapai bintang sejauh apapun.”
Luna menoleh ke arah Elmira, dia perlahan-lahan menurunkan tangannya dan berbalik menatap gadis itu. “Terima kasih sudah mau menghiburku, tetaplah berhati-hati agar tidak terkena sihir Saintess. Meskipun kau hanya setengah vampir, tapi kekuatan suci tetaplah akan melukaimu dan bisa saja membunuhmu.”
“Anda tidak perlu khawatir, Nona. Saya akan berhati-hati. Daripada itu, apa Nona tidak ingin kembali ke kediaman Courn?”
“Untuk apa?” Luna bersandar di pagar dengan menjadikan kedua tangannya sebagai tumpuan.
“Benar, Ayahanda memang menunjukku. Tapi sebenarnya, dia ingin Kak Alester yang memimpin klan Vampir. Ayahanda mencalonkanku hanya untuk melihat apa yang akan dilakukan Kak Alester.”
“Be-begitu ya.”
“Benar,” gumam Luna. ‘Ayahanda, seandainya aku bukan Putri dari adikmu. Seandainya aku putrimu yang sesungguhnya, Anda pasti akan menyerahkan takhta pada Kak Alester kan? Ayahanda hanya takut aku dendam karena Ayahanda pernah menyerahkan identitas sebagai pemimpin klan pada Ibunda. Tapi Ayahanda tidak perlu khawatir, aku.. tidak, Luna tidak akan mengincar identitas itu. Karena Luna hanya ingin, terbang bebas seperti burung di langit.’
“Luna.”
Luna tersentak kaget, dia menatap ke arah Lethean yang entah sejak kapan berdiri di ambang pintu. “L-lethean, kenapa kau masih bangun?” Luna melirik sekitaran, untungnya. Elmira telah pergi dan membuatnya sedikit bernapas lega.
“Oh, aku terbangun karena hembusan angin. Kenapa kau belum tidur?”
“Aku belum mengantuk.” Luna berdiri tegak, dia berjalan masuk dan melewati Lethean. Luna menoleh ke arah pria itu dengan senyum tipis. “Apa ingin kubuatkan sesuatu?”
__ADS_1
✯✯✧✯✯
“Kau cukup pintar memasak rupanya.”
“Haha, Bibiku yang mengajari. Setiap kembali ke kediaman Co- Eastern. Bibi akan selalu menarikku ke dapur dan mengajariku membuat beberapa hal, kue kering, kue cokelat, bolu, tar. Dan banyak lagi, Bibi juga sering mengajariku cara menyeduh teh dengan anggun.”
“Bibimu banyak mengajarkan hal ya.”
“Iya.” Luna menganggukkan kepalanya. “Bibi selalu mengajarkanku untuk disiplin, Bibi selalu berkata. Seorang wanita itu harus sempurna.” Dia tertawa kecil. “Dasar Bibi, memangnya ada yang sempurna di dunia ini?”
”Menurutmu sendiri, apa di dunia ini ada yang sempurna?”
Luna menoleh ke arah Lethean yang tampak menikmati kue kering yang dibuatnya, gadis itu tersenyum tipis. “Tidak ada, memangnya ada yang sempurna di dunia?”
“Ada,” jawab Lethean dengan mulut penuh, dia menelan kue yang sudah dikunyahnya dan menatap Luna. “Cinta itu sempurna.”
“Hm? Jadi menurutmu cinta itu sempurna?”
Lethean menganggukkan kepalanya. “Menurutku cinta itu sempurna, aku tidak tau alasan yang jelas. Tapi aku merasakan hal itu.”
“Merasakan apa?”
Lethean menatap Luna dengan senyum misterius. “Jatuh cinta.”
“Hah? Yang benar!” Luna mengambil gelas di meja dan meminum airnya sampai habis, dia menatap serius Lethean. “Kau suka dengan siapa??”
Lethean tak menjawab, dia hanya bersandar dan mendongak ke langit dengan mata tertutup.
“Ih! Lethean! Setidaknya jawab pertanyaanku!” Luna berdecak kesal saat Lethean lagi-lagi mengabaikannya, dia berdiri dan berjalan ke arah jendela. Luna membuka tirai jendela dengan ekspresi dingin di wajahnya. ‘Lethean, kau memiliki fisik yang berbeda dari manusia biasa. Sama sepertiku. Darahmu itu, mungkin saja bisa memancing hasrat vampir tidak perduli sekuat apapun vampir itu.’ Luna tersenyum tipis. ‘Ini menarik, jika dugaanku benar. Maka aku bisa menggunakan darahnya untuk memancing mereka keluar.’
(✯✯✧✯✯)
__ADS_1