
“A-apa?!” tanya Celine terkejut. “K-keluarga Courn??” tanyanya terbata-bata.
Profesor Sofie memijat pelipisnya. “Aku yakin keluarga Courn pasti akan membalas dendam pada akademi Equestria, dan semuanya karena kau!”
“Aku.. aku..” kata Celine tergagap-gagap.
“Sialan..”
Mereka semua menoleh ke asal suara dengan raut kaget.
Gadis itu dengan santainya mencabut panah perak yang tertancap di kepalanya, luka dari panah itu sembuh dengan cepat. Dia membuang panah itu dan menatap dingin Celine. “Kau ingin mati?!”
Celine jatuh terduduk. “Bagaimana, bagaimana bisa?! Seharusnya, seharusnya kau sudah mati!”
Gadis itu menyeringai. “Mati?” Dia memiringkan kepalanya dengan mata merah darah yang menatap tajam. “Benda perak tidak mempan padaku, gadis~” Gadis itu menyentuh tempat luka dari panah itu. “Lihat, lukaku sembuh dengan cepat.. Cih, seandainya aku tidak berjanji pada para profesor, aku pasti sudah menghabisimu!”
“Aku percaya,” kata Profesor Zoya tiba-tiba.
“Kau berkata apa?” tanya Profesor Sofie bingung.
“Aku percaya kau tidak akan memakan mereka.”
“Apa?! Kau percaya pada seorang vampir?? Yang benar saja!”
Profesor Zoya menatap serius Profesor Sofie. “Jika dia benar-benar ingin membunuh kita, dia tidak akan mengambil kesempatan saat kita lengah. Apa kau tidak melihat, kekuatan kegelapan yang sangat kuat itu. Terlebih lagi..”Dia menatap serius gadis itu. “Aku percaya padamu, apa kau bisa memberitahu siapa namamu yang sebenarnya?”
“Aku pelayan Nona Muda--”
“Yang ingin kutahu bukanlah nama marga yang mempekerjakanmu, tapi namamu. Namamu sendiri.”
“Nama.. namaku?”
“Ya, namamu, namamu yang sebenarnya.”
“Namaku..”
Tiba-tiba saja, sebuah kapak dengan cepat terbang ke arah gadis itu. Dia yang terkejut tak sempat menghindar.
Namun, Phoenix api tiba-tiba muncul dan menghalangi kapak itu.
“Phoe!” teriak gadis itu terkejut.
“Saya baik-baik saja, Master.” # Phoenix itu menundukkan kepalanya.
Gadis yang tak lain adalah Luna mengusap kepala Phoe, sang Phoenix api miliknya. Dia sempat khawatir saat melihat Phoe menghadang kapak demi melindunginya.
__ADS_1
“Kau membuatku sangat khawatir!”
“Maafkan saya, Master. Saya tidak bermaksud membuat Anda khawatir.” #
Luna menghela napas. “Aku mengerti.” Dia menoleh ke arah beberapa goblin yang masih hidup. “Kau bisa memiliki semua goblin yang ada di sini.”
“Terima kasih, Master.” # Phoe mengangkat kepalanya, dan menatap tajam semua goblin itu.
Tiba-tiba, sebuah kekuatan merah yang dipadatkan keluar dari tubuh Phoe, kekuatan itu mengikat para goblin dan kemudian menarik jiwanya keluar lalu masuk ke tubuhnya.
Luna hanya diam dengan raut datar, dia melirik beberapa murid yang tampak tercengang dengan apa yang terjadi. Sementara para profesor, mereka tak henti-hentinya menatap Luna dengan penuh waspada. “Sepertinya sudah selesai.” Dia mengarahkan tangannya ke arah mayat goblin. “Black fire.”
Mayat para goblin itu langsung terbakar dengan api berwarna hitam membara.
Phoe sedikit menunduk.
Luna dengan raut yang sama mengusap kepala Phoe, dia tersenyum tipis. “Kerja bagus, Phoe.” Dia menoleh ke arah para Profesor. “Urusanku sudah selesai, aku akan pergi.” Luna sedikit membungkuk, dia kemudian berbalik dan berjalan pergi bersama Phoe.
“Kau sudah mau pergi?”
Luna berhenti melangkah, dia melirik ke belakang dengan seringai. “Jadi kau ingin aku tetap di sini, Profesor?”
Profesor Ramond menggelengkan kepalanya dengan cepat, dia menatap serius Luna. “Kau sungguh menepati janjimu? Kau terlihat berbeda dari vampir lain.”
Luna menoleh dengan senyum misterius. “Karena aku berbeda, aku. Pelayan setia Nona Muda, tidak akan sama seperti vampir lain, selain itu. Kuharap kalian tidak memberitahukan ini pada orang lain.” Dia meletakkan jari telunjuknya di atas bibir. “Ini rahasia, jika tidak. Keluarga Vampir Courn akan mengejar kalian sampai tak tersisa.” Luna menatap lurus. “Aku hanya berjanji tidak akan menyakiti kalian, tapi tidak tau vampir lain.” Dia melangkah pergi.
Luna dan Phoe langsung menghilang tanpa jejak dan membuat Profesor Ramond tidak lagi melanjutkan ucapannya.
“Profesor, apa yang harus kita lakukan jika yang dikatakan gadis itu benar?”
Para Profesor saling menatap.
“Lakukan rapat darurat!” kata Profesor Ramond tegas.
“Ya!”
Profesor Zoya menoleh ke para murid yang duduk di tanah karena kelelahan. “Kalian semua istirahatlah hari ini.” Dia menoleh ke arah Lethean yang berdiri diam. “Lethean, bawa Luna kembali ke asrama.”
“Aku?” Lethean menunjuk dirinya sendiri.
“Ya!” kata Profesor Zoya dengan tegas. “Tidak mungkin Alysha yang menggendong Luna, sementara Raven saat ini sangat kelelahan. Jadi kau adalah kandidat terbaik sebagai teman seasramanya!”
Lethean berdecak sambil membuang muka. “Ya,” jawabannya terpaksa.
✯✯✧✯✯
__ADS_1
“Jadi Ayahmu ingin kamu segera kembali?”
“Iya, maafkan saya. Profesor, saat Ayahanda tau kalau akademi diserang oleh goblin, beliau jadi sangat khawatir dan memaksa saya untuk kembali ke kediaman.”
“Tidak apa-apa, Luna.” Profesor Zoya tersenyum lembut. “Saya mengerti, Ayahmu pasti sangat khawatir karena kamu Putri satu-satunya. Saya bisa mengerti perasaannya, saya akan meminta surat izin pada Profesor Ramond. Kamu bisa pulang sekaligus istirahat selama 3 hari, terima kasih sudah mau membantu akademi ini meski kamu murid baru.”
Luna tersenyum manis. “Terima kasih, Profesor. Saya senang bisa membantu akademi dengan sebisa saya.”
“Kamu anak yang baik, Luna. Saya senang bisa memiliki kamu sebagai murid saya.”
“Saya juga senang punya guru seperti Profesor.”
✯✯✧✯✯
“Selamat datang kembali, Nona Muda.”
“Ya, di mana Ayahanda?” tanya Luna datar, dia menyerahkan jubah akademinya dan berjalan langsung ke ruang kerja Alverd. Tanpa ba-bi-bu, Luna membuka pintu dan melangkah masuk.
“Oh, Luna. Kau sudah kembali?”
“Ya, kenapa Ayahanda memintaku untuk kembali?” Luna duduk di sofa tunggal dan bersandar sembari bersedekap dada.
“Ayah ingin tahu bagaimana kehidupan akademimu, apa menyenangkan?”
“Ayahanda, aku baru saja dua hari di akademi dan ayahanda langsung memintaku untuk kembali. Sebenarnya ayah ingin aku dicurigai apa bagaimana??”
“Luna! Jangan sopan santunmu!!” Charles yang berada di ruang kerja Alverd langsung berdiri dengan raut penuh amarah, dia tidak pernah suka tindakan semena-mena adiknya. Yang tidak pernah memperdulikan orang lain dan menghormati orang lain.
“Aku tidak bicara padamu, sialan!” gerutu Luna kesal.
“Cukup, cukup. Kalian jangan bertengkar,” kata Alverd melerai. “Charles, jangan memarahi adikmu. Dan Luna, jangan berkata kasar pada Kakakmu!”
Luna berdecak sambil membuang muka.
Sementara Charles, pria itu kembali duduk dengan raut kesal.
“Jadi, Luna. Bagaimana kehidupanmu di akademi?”
Luna menghela napas. “Biasa saja.” Dia menopang dagunya. “Kehidupan manusia itu tidak ada menarik-menariknya, tapi itu lebih baik daripada di akademi vampir. Cih, mereka bahkan membiarkan darah berceceran di lantai. Menjijikkan!”
“Kau--”
“Charles!” sela Alverd dengan tatapan tajam.
Charles yang mengarahkan telunjuknya ke Luna segera menurunkan tangannya dan menopang dagunya sembari bergumam tak jelas.
__ADS_1
“Jadi, Luna. Akademi mana yang menurutku menarik?”
(✯✯✧✯✯)