
“Ada apa Nona Muda mengumpulkan kami semua?”
“Aku ingin bertanya satu hal pada kalian semua.” Luna dengan ekspresi dingin di wajahnya menatap para vampir satu-persatu. “Siapa yang membunuh murid akademi?”
Para vampir saling menatap dengan ekspresi penuh kebingungan.
Seorang vampir memberanikan diri dan bertanya. “Jika saya boleh tau, siapa yang dibunuh?”
“Seorang gadis berumur 17 tahun, dia berambut oranye dan memiliki tanda lahir di bawah matanya.”
“Maafkan kami, Nona Muda. Tapi kami tidak pernah menghisap darah murid-murid dari akademi, jangankan menghisapnya. Bahkan menginjakkan kaki saja sangat sulit karena sensor yang dipasang di sekeliling akademi.”
Luna memegang dagunya berpikir, dia menatap semua vampir yang berada di aula dan menyadari keanehan. “Di mana Kak Alester dan Kak Charles?”
“Tuan Muda sedang berada di ruang kerjanya, sementara Tuan Muda kedua.. beliau menghilang beberapa hari yang lalu.”
Luna bersedekap dada dengan ekspresi tak terbaca. “Kenapa tidak mengutus seseorang untuk mencarinya?”
“Kami sudah mengutus beberapa orang, tapi tidak ada yang kembali sampai saat ini. Kami takut akan lebih memakan banyak korban, itu sebabnya. Kami menghentikan pencarian.”
Luna terdiam sesaat. “Kalian boleh pergi.”
Para vampir yang berada di aula membungkuk hormat sebelum menghilang dengan jejak sihir yang tersisa.
Luna berbalik dan menaiki anak tangga satu-persatu, dia berhenti di tengah dan menutup matanya. ‘Elmira, apa kau bisa membantuku mencari tau keberadaan Charles?’
“Saya bisa melakukannya, Nona. Tapi itu mungkin akan memakan waktu karena keberadaan Tuan Charles tidak bisa dideteksi.”
‘Waktumu hanya sampai saat aku berumur 19 tahun, kerahkan seluruh kekuatanmu untuk menemukannya.’
__ADS_1
“Saya mengerti, Nona. Tapi apa saya boleh bertanya? Kenapa Anda mencari Tuan Charles?”
Luna kembali melangkahkan kakinya menaiki sisa anak tangga yang tersisa. ‘Kakakku tersayang itu sepertinya sedang merencanakan pemberontakan.’ Dia tersenyum. ‘Jika kakakku itu benar-benar memberontak, maka aku akan membakarnya hingga menjadi abu. Seperti keluarga Vampir Arod.’
“Saya mengerti, Nona. Saya akan berusaha sekuat tenaga saya untuk menemukan keberadaan Tuan Charles.”
Luna membuka matanya dengan senyum yang sedikit lebih lembut. ‘Terima kasih, Elmira.’
✯✯✧✯✯
“Halo teman-teman.”
“Ah, Luna. Kau darimana saja?”
“Dari kafetaria, ada apa? Kalian terlihat begitu cemas.”
“Begini.” Alysha tampak ragu-ragu untuk menjelaskannya, wajahnya pucat pasi. “Hari ini, ditemukan dua siswa yang tidak bernyawa. Ada simbol aneh di dada mereka dan cara kematiannya, sama seperti Vivian.”
Alysha menatap Luna dengan tangan tubuh bergetar menahan tangis, dia langsung memeluknya dengan erat dengan air mata yang mengalir. “Kau terlalu baik, Luna. Kau tidak perlu melakukan itu, aku akan membalas dendam mereka sendiri. Aku tidak ingin kau juga ikut dalam bahaya.”
‘Masalahnya kau akan dalam bahaya jika aku tidak ikut campur, jika simbol itu benar-benar simbol keluarga Courn. Maka aku harus turun tangan sebagai anggota keluarga.’ Luna menepuk-nepuk pundak Alysha agar gadis itu tenang. “Tidak apa-apa, aku akan membantumu. Kita adalah teman, dan teman tidak akan saling meninggalkan apapun situasinya.”
Alysha melepas pelukannya, dia menatap Luna dengan penuh haru. “Terima kasih,” katanya sambil mengusap sisa air mata dan tersenyum. “Aku senang bisa memilikimu sebagai teman.”
“Aku pun senang bisa mendapat teman sepertimu.”
✯✯✧✯✯
“Apa kau berpikir kau bisa bersembunyi dariku, Kakakku sayang?”
__ADS_1
Charles menoleh dengan ekspresi datar di wajahnya, dia menatap Luna dengan tatapan kosong seolah tidak memiliki nyawa sama sekali.
“Kakak, kenapa kau bekerjasama dengan Iblis?” tanya Luna pelan, dia menggenggam tangan Charles dan meletakkan sebuah kristal merah darah. “Kakak, jika kakak membenciku, kakak tidak perlu melibatkan orang lain. Kristal ini adalah inti jiwa milikku, jika kakak menghancurkannya. Maka aku juga akan mati, kakak hanya perlu menghancurkan kristal ini. Tolong jangan libatkan orang lain lagi, apalagi anggota keluarga kita. Aku tidak ingin, kita kehilangan keluarga lagi.”
“Keluarga?” Charles berdecak, dia menggenggam kristal di tangannya dan langsung melemparkannya hingga sedikit retak. “Aku tidak perlu intimu untuk menghabisimu, berkat kekuatan yang diberikan oleh dia. Aku bisa menghabisimu dengan mudah tanpa menghancurkan kristal bodohmu itu.” Charles mendekat dan berbisik. “Aku akan menghabisimu dengan kekuatanku sendiri!” Dia berbalik dan berjalan pergi.
“Sungguh? Apa kakak sungguh mau membunuhku? Ataukah kakak hanya menggertakku saja?”
Charles yang hendak membuka pintu langsung terhenti saat mendengar ucapan sinis dari Luna, dia menoleh dan menatap kesal gadis itu. “Aku tidak sepengecut itu, suatu hari nanti. Aku pasti akan menghabisimu, ini bukan gertakan. Tapi peringatan!”
”Benarkah?” Luna tersenyum masam, dia memungut kristal rohnya dan berdiri menatap Charles dengan senyuman tipis yang terkesan sedih namun juga senang. Terkesan lega. “Kakak tidak menghancurkan kristalku dan berniat melawanku secara jujur.” Luna tersenyum lembut. ”Aku senang, kakak telah menjadi berani dan mau menghadapi lawan, aku bahagia sekali. Ayahanda pun pasti bahagia.”
Charles mengerutkan keningnya. “Kenapa kau membawa nama Ayahanda? Bahkan jika kau melakukannya sekalipun, aku tetap tidak akan berubah pikiran dan tetap akan membunuhmu.”
Luna tertawa kecil. “Aku tidak berniat mengubah pikiran kakak, aku hanya sekedar mengingatkan tentang Ayahanda saja. Aku harap, meskipun suatu hari nanti aku tidak ada, aku harap. Kakak bisa terus mengingatkanku dan Ayahanda.” Dia berbalik dan berjalan pergi dengan senyum tipis yang terus merekah di wajahnya.
Sesampainya di luar, ekspresi di wajah Luna berubah. Dia menunduk dan menatap telapak tangannya yang kini bersimbah darah, kristal merah darah miliknya telah berubah menjadi pecahan kaca. Luna mengepalkan tangannya, dia mendongak dengan tatapan serius dan berlalu pergi sambil membuang kristal di tangannya. ‘Tidak berguna.’
✯✯✧✯✯
“Nona, Nona Luna. Apa yang terjadi?!” tanya Elmira panik saat melihat Luna penuh dengan darah.
Namun, gadis itu justru dengan santainya menyeka darah di wajahnya. ”Aku baik-baik saja, ini hanya darah dari monster iblis yang kubunuh.”
“Monster iblis?” Elmira memasukkan kain ke dalam baskom berisi air yang entah sejak kapan diambilnya, dia kemudian memeras kain itu dan menyeka darah di wajah Luna. “Apa Nona datang ke dunia bawah?”
“Ya, Kakakku tersayang ternyata bersembunyi di alam iblis. Fufufu, apa dia pikir. Dengan bersembunyi di dunia bawah, aku tidak tahu keberadaannya. Sungguh naif.” Luna menatap Elmira dengan senyuman manis. ”Terima kasih sudah membantuku melacaknya.”
“Itu tidak benar, Nona. Saya justru merasa malu karena tidak bisa menunjukkan performa terbaik saya.”
__ADS_1
(✯✯✧✯✯)