Maaf. Aku Pilih Dia.

Maaf. Aku Pilih Dia.
Awal perpisahan


__ADS_3

Mentari pagi mulai muncul dan memancarkan sinar nya keseluruh penjuru tak terkecuali kamar Belvina. Sinar mentari masuk melalui celah jendela yang hanya tertutup oleh kain putih tipis, gadis itu mulai mengeliat mata ayu nya pun perlahan terbuka.


"Selamat pagi dunia". Belvina mendudukan tubuhnya.


Pupil kecilnya mulai mengitari ruangan dengan seutas senyum kecil, matanya terhenti ketika melihat tas backpaker yang sudah siap tuk dibawa, senyum pun tambah mengembang membayangkan betapa menyenangkanya bisa traveling bersama Farrel, sang tunangan.


"Vin, kamu sudah bangun?" Suara yang terdengar dari luar membuyarkan lamunannya. "Kalau sudah, cepat keluar kita sarapan sayang."


"Iya Mom, bentar lagi Vina turun." Sahut Belvina kepada Ibu nya.


Keluarga Belvina hanya terdiri dari 3 orang yaitu Ayah, Ibu, dan Belvina itu sendiri. Mereka menyantap sarapan mereka dengan tenang di selinggi sedikit basa basi di pagi hari.


"Bagaimana tidur mu nyenyak?" Tanya sang Ayah lembut.


"Tidak sama sekali! Vina udah gak sabar pengen traveling bareng Farrel." Sahut Belvina bersemangat


"Semangat banget, emang jarang kamu jalan sama Farrel?" Celoteh Ibu


"Hm, kalau jalan itu sering," jawab Belvina "Tapi kan jalan sama traveling beda Mom. kalau jalan kan cuman hitungan jam doang, kalau traveling kita keliling suatu kota yang belum pernah kita datengin dalam beberapa hari". Belvina menjelaskan definisi jalan dan travel versi dirinya.


"Vina," Raut wajah sang Ayah berubah "Farrel bener bener sayang sama kamu'kan?"


Belvina terdiam heran ketika melihat ekspresi Ayah dan Ibu nya yang begitu serius menunggu jawabannya. Belvina tersenyum tipis.


"Tenang Mom, Pah. Farrel sayang banget kok sama Vina, walau Farrel sering sibuk sama kerjaannya" Belvina menenangkan ke khawatiran orang tuanya.


Setelah selesai mengecheck barang bawaan nya Belvina langsung berjalan keluar kamar, saat hendak berpamitan dengan orangtuanya Vina melihat mereka tengah bicara dengan ART dengan suasana yang sangat serius terlebih Belvina melihat beberapa koper yang berdiri disana. Belvina secara perlahan berjalan mendekati mereka yang berada di ruang tengah, pembicaraan mereka pun terhenti ketika sang Ayah melihat Belvina.


"Vi-vina sudah mau pergi?" Sang Ayah langsung beranjak dari duduk nya


"Iya pah, maaf nganggu pembicaraan kalian." Belvina tersenyun risih.


Sang Ibu pun ikut berdiri dan langsung memeluk Belvina dengan erat.


"Hati Hati yah sayang, sehat sehat yah."


"Tenang Mom, Belvina udah besar jangan terlalu hawatir." Belvina mencoba menenangkan.


"Ingat Papah sama Momy sayang sama Belvina." wejangan sang Ayah yang membuat Belvina sedikit binggung.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Belvina menyuruput secangkir kopi panas di tanganya seraya memandangi kegelapan diluar jendela kereta.


"Liat apa sih diluar? serius amat." Farrel mencondongkan kepalanya ke dekat jendela


"Gak usah kepo deh." Belvina memalingkan wajah Farrel dari jendela.


"Rencananya besok kita mau kemana dulu nih?" Farrel menyeruput mie instan yang ada di tangan nya.


"Aku pengen liat sunrise."Harap Belvina


"Yakin bisa bangun pagi?" Sindir Farrel


"Yakinlah.. kan ada alarm berjalan." Belvina menyenggol siku Farrel.


"Enak aja." Mereka pun tertawa


"Bentar lagi kita nyampe, ayo siap siap" Belvina exited


Ke esokan harinya, Belvina terbangun dari tidurnya dan langsung mengambil Hp yang sedari tadi berbunyi. Dengan mata yang belum sempurna ia membuka pesan singkat dari temannya yang mengirimkan sebuah link, ketika link itu di buka mata Belvina langsung melotot tanpa berpikir panjang ia berlari keluar kamar dan langsung menemukan Farrel yang baru saja menutup telepon nya di lorong.


"Vin." Farrel langsung memeluk tubuh kekasih nya itu.


"Ini mimpi'kan? ini pasti mimpi'kan" pinta Belvina dengan lirih.


"Kita harus pulang sekarang!"


Di dalam pesawat Belvina terus mengigiti kuku jarinya, pupil matanya terus bergerak tak karuan. Farrel yang melihat itu mengerakan tanganya untuk menjauhkan kuku dari mulut Belvina dan merangkul tubuh wanita itu ke dalam rangkulannya.


"Tenang sayang, semuanya pasti baik baik saja." Farrel mengecup pucuk kepala Belvina.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sesampainya di depan rumah. Belvina melihat banyak barang barang keluarga nya tengah di angkut keluar. Tanpa menunggu aba aba Belvina berlari menuju rumahnya.


"Momy, Papah." Belvina terus mencari ke setiap ruangan.


Farrel menghentikan langkah kaki Belvina.


"Vina." Suara lembut Farrel mengalihkan perhatian Belvina.


"Mereka pasti bercanda 'kan? Mereka gak mungkin ninggalin aku kayak gini'kan?" Belvina berharap apa yang terjadi sekarang hanya lelucon yang dibuat orang tuannya.


Farrel menundukan wajah nya "Pihak bank minta kita keluar dari rumah."


Mendegar itu kaki yang sedari tadi kuat kini ambruk, tangisan Belvina mulai terdengar ke penjuru rumah yang sudah kosong.


Di dalam mobil. Farrel mengenggam tangan Belvina yang sedari tadi terdiam lesu, pandangan nya kosong keluar jendela.


"Kita pergi ke restaurant dulu habis -"


"Aku ingin tidur." Potong Belvina dengan suara parau.


"Baik, kita istirahat dulu dirumah." Farrel mengikuti ke inginan Belvina.


Sesampainya di rumah, Farrel merangkul tubuh lemas Belvina dan menuntunya masuk ke dalam rumah, mereka di sambut oleh Ibu Farrel yang tenggah duduk di ruang tamu.


"Farrel." Panggil Ibu Farrel dengan nada sinis.


"Nanti dulu kita bicaranya Mah. Farrel harus antar Belvina ke kamar." Farrel mengacuhkan pandangan Ibunya itu dan melanjutkan langkah nya menuju kamar.


"Istirahatlah, kalau ada sesuatu kamu bisa panggil aku." Ucap Farrel.


Belvina hanya mengangguk sebagai jawabanya. Farrel pun keluar kamar dan berjalan menuju tempat ibunya berada.


"Farrel, kenapa kamu bawa Belvina kemari?" Ujar Ibu Farrel kesal.


"Belvina tunangan Farrel Mah, wajar kalau Farrel bawa dia kemari." Timpal Farrel.


"Bagaimana kalau orang yang di tipu orang tua Vina datang kemari?" Ibu Farrel sedikit berbisik.


"Itu gak akan mungkin Mah, yang nipu kan orang tua Vina bukan Vinanya." Farrel mencoba menjelaskan.


"Bagaimana kamu tau?! kalau mereka gak akan kemari." Ibu Farrel masih berbisik.


"Darimana Mamah tau kalau mereka bakal kemari?" Farrel berbalik bertanya


"Karna hubungan kamu dengan Vina bukan sebuah rahasia, kolega kolega mereka sudah tau." Ibu Farrel mulai marah.


"Tenang Mah itu gak mungkin terjadi, mereka gak mungkin kemari." Farrel mencoba meyakinkan


"Oke kita anggap mereka gak akan kemari! Tapi bagaimana perasaan Papah dan Mamah? Keluarga kita juga termasuk korban penipuan itu Farrel!!" Ibu Farrel menekan kata kata terakhirnya.


Farrel terdiam sejenak "Beri Farrel waktu Mah, setelah Farrel menemukan tempat tinggal yang layak untuk Vina, Farrel akan bawa Vina keluar dari rumah ini. "


"Gak ada!" Permintaan itu ditolak mentah-mentah.


"Mah.. " Farrel kembali memohon "Seminggu saja Mah."

__ADS_1


"Gak ada!".


"3 hari Mah". Farrel mengangkat jari-jarinya


"Tidak Farrel!!" Tegas sang Ibu


"Oke", Farrel menekuk lututnya dan memegang tangan Ibunya "Farrel mohon untuk sehari ini aja Mah, ya?"


"Apa kamu tidak pemikirkan perasaan Mamah dan Papah? Ketika Mamah melihat Vina, Mamah ingat mereka yang telah membawa kabur uang keluarga kita".


"Mah" Farrel memelas.


Sang ibu menghempaskan tangan anaknya. "Sudah cukup Farrel, sekarang bawa Vina keluar dari rumah ini! Mamah tidak ingin melihatnya lagi. Mengerti!!"


Ketika hendak pergi sorot matanya menemukan siluit Belvina yang sedang berdiri di balik tembok.


"Mamah ingin kamu akhiri hubungan mu dengan Belvina".


"Mah." Farrel bangkit dari posisinya.


"Mau keluarganya kembali seperti semula, Mamah tidak akan mengijinkan kamu berhubungan dengan keluarga mereka lagi." Setelah mengucapkan itu, Ibu Farrel pergi begitu saja.


"Mah!" Teriak Farrel.


Belvina yang sedari tadi mematung mulai menggerakan kakinya masuk ke dalam kamar, ia duduk ditepi kasur dan melihat backpacker yang ada di ujung ruangan. Matanya yang sudah sembab kembali memanas, air mata kini turun membasahi pipi Belvina, hasratnya untuk pergi sangat tinggi tapi kenyataan memaksanya untuk tinggal. Terdengar suara langkah kaki mendekati kamar, Vina dengan cepat membaringkan tubuhnya.


"Vin?" Suara Farrel membuat dadanya terasa panas. "Aku masuk ke dalam yah."


Farrel membuka pintu dan melihat tubuh Vina menelungkup tanpa selimut.


"Vin, sudah tidur?" Farrel mendekati untuk memastikan kalau tunangan nya itu tidur.


Farrel menarik selimut untuk menutupi tubuh Vina.


"Kamu harus kuat Vin, aku yakin kamu pasti bisa melewati semua ini." Farrel mengusap lembut rambut Vina. "Aku janji akan selalu ada disamping kamu. I love you". Farrel mengecup kening Belvina sebelum pergi.


Setelah mendegar suara pintu tertutup air mata yang sedari mendesak keluar kini sudah membasahi wajah si empunya.


Ke esokan harinya, Vina mendengar pertengkaran Farrel dan orangtuanya yang membuat perasaan nya merasa bersalah. Hp yang sedari kemarin mati kini berbunyi, Vina mengambil Hp itu dan melepaskan charger yang terhubung. Tak lama dari itu Belvina keluar kamar dengan membawa tas backpacker nya, sebelum mengahadapi Farrel dan keluarganya Belvina mengambil nafas panjang yang dilanjutin dengan langkah kaki.


"Farrel, Tante, Om". Sapa Vina canggung.


"Kamu bawa tas mau kemana?!" Farrel mendekati Belvina.


Sebelum menjawab Belvina melirik ke arah orang tua Farrel yang memberikan tatapan sinis. Belvina berusaha menarik bibir nya untuk tersenyum.


"Lina ingin aku tinggal dengannya".


"Lina?! Kenapa tiba tiba lina mengajak kamu tinggal denganya?!" Farrel mencurigai alasan Belvina.


"Bagus dia mau pergi." Sela Ibu Farrel sinis "Jadi kita gak perlu buang tenaga untuk mengusirnya!"


"Mah!!" Bentak Farrel.


"Farrel," Belvina mencenggah kemarahan Farrel "Sebentar lagi Lina dateng, aku mau nunggu dia di luar."


"Kita sara -".


"Cepat pergi, saya tidak ingin para penanggih hutang orang tua kamu datang kemari." Potong Ayah Farrel


"Pah!!!"


"Baik Om," Belvina tersenyum pahit. "Terimakasih dan mohon maaf sebesar besarnya".


"Kalau kamu merasa bersalah batalkan pertunangan kalian!" Pinta Ibu Farrel


"Maksud Mamah apa?!" Farrel tak terima


"Baik tante, saya akan batalkan pertunangan saya dengan Farrel dan tidak akan menghubungginya lagi." ketika akan melepaskan cicinnya


"Vin!!", Farrel mencengkram lengan Belvina "Jangan dengerin apa yang dikatakan Mamah."


"Ini keputusan aku, aku ingin menyudahi semuanya sama kamu!" Belvina mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh.


"Bohong! tatap mata aku" Farrel menguatkan ngenggaman nya.


"Aku tidak peduli kamu mau percaya atau engga, ucapan aku udah jelas tadi". Belivina berharap Farrel melepaskan tanganya agar ia bisa berlari keluar dan menangis sekencang kencang nya.


Ngenggaman itu terlepas paksa oleh Ibu Farrel.


"Cepat pergi!" Usir sang Ibu.


Dengan menudukan wajah nya Belvina berjalan melewati Farrel yang memanggil namanya.


"VINA, BELVINA!!!". Farrel berteriak.


"Gak usah ngejar dia." Sang Ibu memeluk tubuh anaknya agar tidak pergi.


Semakin jauh langkah nya suara Farrel semakin keras memanggil namanya, air mata yang sedari tadi di tahan kini mulai becucuran. Ketika pintu gerbang dibuka dengan air mata yang masih berjatuhan Belvina melihat segerombol orang langsung meyerbunya dengan kertas di tangan mereka masing masing.


"Kembalikan uang saya!!".


"Dimana orangtua kamu!!"


"Kembalikan uang kami!!"


Belvina tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang bicara karna kertas kertas itu menampar wajahnya. Orang orang itu terus berteriak dan mendorong tubuh Belvina hingga terjatuh, meskipun terjatuh orang orang itu terus mencercanya. Belvina hanya bisa terduduk dan menangis.


"VINA!!". Farrel yang baru membuka pintu berteriak ketika melihat kondisi kekasihnya tengah dikelilinggi banyak orang. Belvina sudah tidak memiliki tenaga untuk bergerak atau melawan, ia hanya bisa melihat Farrel yang mencoba lepas dari ngenggaman orangtuanya. Secara perlahan pandangan Belvina mulai kabur dan gelap.


"BELVINA!!!". Farrel berteriak melihat pertahanan kekasihnya mulai roboh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ruangan terlihat samar dan buram di mata Belvina, ia beberapa kali mengedip untuk mengembalikan penglihatan nya.


"Vin." Panggil Lina dengan lembut.


"gue dimana Lin?" Belvina dengan suara parau.


"Di UGD".


"Farrel dimana? Dan orang orang itu?"


"Mereka pergi saat lo pingsan, sedangkan Farrel dia sedang mengurus administrasi -".


"Suruh dia pergi Lin!" Potong Belvina.


"Vin."Lina mengenggam tanggan Belvina.


"kalau gue liat dia, gue takut gak bisa ngelepasin dia". Belvina mengerakan tubuhnya membelakangi Lina untuk menangis.


Lina yang melihat itu hanya bisa mengelus punggung sahabatnya sebentar sebelum pergi menemui Farrel.


Lina dan Farrel sedang duduk di kursi. Lina sudah menyampaikan apa yang Belvina katakan.


"Saya gak bisa lepasin dia Lin, apalagi dalam kondisi seperti ini." Farrel menolak


"Saya ngerti kok Rel, tapi bagaimana lagi kondisi seperti ini juga yang tidak mendukung kalian, menurut saya beri hubungan kalian waktu buat bisa balik lagi kayak dulu." Saran Lina

__ADS_1


Farrel menundukan kepalanya "Maksudnya saya harus batalin pertunangan saya dengan Belvina?".


"Engga Rel, yang harus kamu lakuin biarin Vina sendiri dulu, kalian harus menenangkan pikiran dan perasaan kalian dulu. Setelah semuanya tenang aku jamin pasti ada jalan yang terbaik buat hubungan kalian".


Farrel menundukan kepalanya untuk berpikir.


"Oke, saya ikutin saran kamu. Tapi saya minta satu hal, tolong jaga Vina dan kabarin saya tentang semua yang terjadi sama Vina". Farrel meminta Lina untuk berjanji.


"Oke, saya akan mengabari kamu tentang Vina". Lina menimpali janji itu.


"Terimakasih, saya titip Belvina."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Belvina masuk ke dalam kamar Lina yang tidak terlalu besar.


"Maaf yah Lin, gue jadi ngerepotin lo." Belvina canggung.


"Its oke, dulu juga gue numpang dirumah lo." Lina mulai menyediakan minum.


Belvina menaruh tas backpacker nya di ujung ruangan, seketika matanya terhenti.


"Koper lo sama kayak yang guepunya". Belvina menyentuh koper itu.


"Itu memang punya lo." Ujar Lina.


"Hah?! gue gak inget pernah minjemin koper ini ke lo." Belvina duduk di kursi yang dekat dengan kasur.


"Emang gue gak pernah minjem koper lo," Lina menyodorkan gelas dan duduk di tepi kasur. "Mba ART lo yang minta gue kasiin ini ke lo."


"Mba?!" Belvina memutar kembali ingatanya saat hendak pergi traveling.


Dadanya terasa sesak ketika ia menyadari bahwa orang tuanya sudah merencanakan kepergian mereka.


"Apa si Mba memberitahu keberadaan Momy sama papah?" Belvina masih berharap.


Lina mengelengkan kepalanya "Mba cuman ngasih koper sama surat ini". Lina mengambil amplop di dalam laci.


Belvina membuka amplop itu dan menemukan sebuah surat dan nota kecil yang bertulisakan alamat yang tidak pernah Belvina dengar.


" Lo tau alamat ini?" Belvina menyodorkan nota itu.


Lina mengelengkan kepalanya tidak tahu "Apa orang tua lo tinggal di daerah ini?".


Belvina menggelengkan kepalanya "Mereka meninggalkan sebuah rumah disana dan nyuruh gue tinggal disana". Terlihat air mata di ujung pelipis mata Belvina.


Lina yang melihat itu langsung mendekap tubuh sahabatnya, Belvina menangis sejadi jadinya.


"Kenapa mereka kabur ninggalin gue! gue anak mereka, harusnya mereka bawa gue pergi." Isak Belvina.


Hari sudah malam gadis gadis masih duduk dan berbincang.


"Vin, lo tetep akan pergi?" Lina mengulangi pertanyaan nya.


Belvina mengangguk. "Mugkin orang tua gue ada disana."


"Lo gak akan diskusiin dulu sama Farrel?"


"Engga Lin, dia juga salah satu alasan gue untuk pindah kesana." Belvina tersenyum kecut.


"Kapan lo mau pergi?"


"Semakin cepat semakin baik."


Lina mengangguk mengerti. "Baiklah kalau itu keputusan lo, gue gak bisa apa apa selain mendukung setiap keputusan lo."


"Makasih Lin."


"Udah malam, ayo kita tidur" Lina naik ke atas kasur yang di ikuti Belvina.


Ke esokan harinya. Belvina sudah terbangun dan tengah bersiap siap. Lina yang baru terbangun kaget melihat Belvina.


"Lo mau pergi sekarang?" Suara Lina masih terdengar parau.


Belvina mengangguk. "Lebih cepat, lebih baik"


"Gila lo! tunggu sebentar, gue siap siap dulu." Lina dengan tenaga yang belum sepenuh nya terkumpul pun ikut bersiap siap.


Mereka telah sampai di statiun, Belvina tengah memesan tiket sedangkan Lina sibuk menghubungi Farrel. Akhirnya Lina mengirimkan pesan singkat tentang kepergian Belvina.


"Untung kita datang di waktu yang tepat." Ujar Belvina yang membuat Lina sedikit terkejut.


"Emang kenapa?"


"20 menitan lagi kereta tujuan gue mau berangkat. Jadi gak perlu nunggu lama." Belvina sumeringah.


"Bentar lagi?!" Lina terkejut


Belvina mengangguk. "Ayo"


Dengan berat hati Lina mengikuti langkah Belvina.


Di depan kereta. Belvina memeluk erat Lina.


"Makasih yah Lin."


"Kita harus sering kabar kabaran, jangan sampe lost kontak." Lina sedih


"Siap, gue pasti ngabarin lo setiap hari sampe lo bosen." Mereka pun tertawa.


Tawa Belvina hilang ketika melihat Farrel berlari mendekati mereka.


"Farrel." Belvina melepaskan pelukannya.


Lina melangkah mundur. "Sorry Vin, walau lo bilang engga, gue tahu hati lo yang pengen ketemu dia, jadi gue kasih tahu Farrel tentang kepergian lo."


Farrel langsung memeluk tubuh Belvina yang terdiam. Lina yang melihat itu secara perlahan berjalan menjauh. Memberikan mereka privasi.


"Vin," Farrel mempererat pelukannya.


Belvina membalas pelukan Farrel. "jangan pergi."


"Maaf." Belvina menenggelamkan wajah nya ke dalam pelukan Farrel


Terdengar sebuah pengumuman yang mengharuskan Belvina masuk ke dalam kereta.


"Aku harus pergi." Belvina melepaskan pelukannya.


"Vin." Terlihat kesedihan di wajah Farrel.


"Jaga diri kamu baik baik." dengan berat hati "Lupain aku."


Farrel mengenggam kedua lengan Belvina. "Kamu masih tunangan saya, saya akan datang dan jemput kamu pulang setelah semua masalah ini selesai."


"Engga -"


"Jaga hati kamu untuk saya disana." Potong Farrel.


Belvina tidak bisa mengatakan apapun, ia memalingkan tubuhnya dan masuk dalam kereta.

__ADS_1


~To Be Continued


Hello. Saya Lalan saya author baru. maaf kalau ada salah salah kata dan penulisan. tolong beri kritik dan saran agar kedepan nya saya bisa lebih baik lagi. makasih.


__ADS_2