
Dengan berat hati Belvina menolak panggilan Farrel, ia belum sanggup mendengar suara pria yang ia rindukan. Dengan cepat Belvina menyetel alarm di handphonenya agar ia bisa bangun pagi, tidak lama handphone kembali berdering terlihat nama Farrel, Belvina tau bila tidak di angkat Farrel akan terus menelponnya, tapi bila ia mengangkatnya ia pasti akan menangis.
Mau tidak mau Belvina mengangkat telepon itu.
"Halo Vina." Terdengar suara Farrel.
"Iya halo." Sahut Belvina.
"Akhirnya aku bisa menghubungi," Farrel merasa lega "Kenapa handphone mu tidak aktif kemarin?."
"Ada apa?." Belvina tidak ingin menceritakan kejadian kemarin pada Farrel.
"Sekarang kau dimana?."
"Aku ada di rumah teman ibuku."
"Dimana itu?." Farrel penasaran.
"Kau tidak perlu tau." Jawab Belvina.
"Kenapa kau sepeti itu padaku? Aku ini tunanganmu." Farrel tidak terima.
"Pertunangan kita sudah berakhir, orang tuamu sudah tidak menyukai ku."
"Aku masih mencintaimu Belvina." Farrel bersungguh-sungguh.
"Aku lelah, aku ingin istirahat. Jangan hubungi aku lagi." Belvina memutuskan teleponnya.
Belvina menyimpan handphonenya di meja lalu menari selimut untuk menutupi tubuhnya.
****
Suara alarm terdengar begitu nyaring hingga terdengar sampai lantai bawah, Risa yang sedang memasak tersenyum dengan usaha Belvina.
"Siapa yang menyetel alarm sekencang ini!." Terdengar keluhan Gilang.
Gilang keluar dari kamarnya dan langsung membuka pintu kamar Belvina. Gilang melihat handphone nya terus mengeluarkan suara di atas meja, kemudian melirik Belvina yang masih terlelap.
"Uwa, gila nih cewe kebo amat." Gilang mengambil handphone itu dan menempelkannya di telinga Belvina.
Seketika tubuh Belvina terhentak dan matanya langsung terbelalak, ketika ia melihat Gilang berdiri di hadapannya ia langsung menjerit.
"Ngapain lu di kamar gue?!." Belvina menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Gilang melempar handphone ke tubuh Belvina. "Matiin tuh alarm, berisik!."
Dengan cepat Belvina mematikan alarmnya.
"Cewe kebo lu." Umpat Gilang.
Belvina melemparkan bantal ke punggung Gilang yang hendak keluar kamar.
Makanan sudah siap di atas meja, Risa melihat hanya Gilang yang sedang menuruni tangga.
"Dimana Belvina?." Tanya Risa.
"Belvina lu mau makan gak?." Teriak Gilang.
"Eh!" Risa tidak suka dengan cara bicara Gilang.
"Belvina, kamu mau ikut sarapan gak?." Gilang kembali berteriak.
"Iya, aku datang." Belvina mulai menuruni tangga bareng dengan Gilang.
__ADS_1
Mereka pun duduk di meja makan dan mulai menyantap makanan yang sudah tersedia.
"Ohya Gilang, tolong beritahu dan bantu Belvina apa saja yang harus di kerjakan dirumah ini."
"Baik Bu." Sahut Gilang.
"Ibu sudah selesai makan, ibu harus pergi ke toko," Risa bangkit dari duduknya. "Tante pergi dulu yah Belvina."
"Iya Tante, hati hati di jalannya Tante."
Risa pun pergi meninggalkan mereka berdua.
Setelah selesai makan, Belvina bangkit dari duduknya dan hendak kembali ke kamar.
"Kau mau kemana?." Gilang bertanya seraya membereskan piring dan gelas yang ada di meja.
"Mau ke kemar." Jawab Belvina dengan polosnya.
"Di rumah ini kalau kau sudah makan, kau harus membereskan meja dan mencuci alat makan yang di pakai." Jelas Gilang.
"Aku tidak pernah mencuci piring sebelumya." Timpal Belvina.
"Maksudmu, ka..mu gak bisa cuci piring?." Gilang tidak mengerti.
Belvina menganggukkan kepalanya. "Hmm.. aku gak bisa."
"Jangan bercanda lu yah, mana ada orang yang gak bisa cuci piring." Gilang tak percaya.
"Ada. Ya itu gue, gue gak bisa cuci piring." Belvina membela diri.
"Seriusan?!." Gilang masih tidak percaya.
"Emang harus yah orang bisa cuci piring."
"Tentu saja harus Belvina... ini skill yang harus di miliki semua orang." Gilang menarik tangan Belvina menuju wastafel. "Tunggu disini."
"Sekarang cuci ini semua?." Titah Gilang.
Belvina mengambil sabun dan menaruhnya di atas piring lalu menyalakan air.
"Apa yang kau lakukan?!." Gilang terlihat kesal.
"Mencucinya." Sahut Belvina.
"Bukan begitu caranya, ikuti perintahku, ambil spon itu lalu beri sabun, setelah beri sabun remas remas sponnya hingga mengeluarkan busa, sesudah ada busa baru bersihkan piring nya pakai spon, lalu bilas pake air hingga bersih." Belvina mengikuti setiap tahap yang di instruksikan Gilang.
"Oke, sekarang kau bisa cuci piring sendiri. Aku mau sapu sapu dulu."
Baru beberapa langkah Gilang menjauh terdengar suara piring pecah.
"Ah." Belvina tidak sengaja menjatuhkan piring yang sedang ia cuci.
"Kenapa piringnya bisa jatuh?." Gilang mengambil pecahan Piring yang ada di wastafel.
"Piringnya licin." Jawab Belvina.
Gilang memutar bola matanya malas. "Tentu saja piringnya licin, harusnya kau pegang piringnya dengan kuat," Omel gilang. "Apa tanganmu terluka?."
"Tidak." Jawab Belvina.
"Lanjutkan lagi cuci piringnya, tapi kali ini pengang piring nya yang kuat. Mengerti?" Belvina menganggukkan kepalanya.
Akhirnya pekerjaan cuci piring sudah selesai, Belvina naik ke atas menuju kamarnya.
__ADS_1
"Kau mau kemana?" Teriak Gilang di bawah.
"Aku mau ganti baju, bajuku basah." Balas Belvina.
Belvina masuk ke dalam kamarnya, ia mulai mengeluarkan semua isi tas backpack dan koper.
Gilang yang berniat mengajak Belvina keliling desa, mulai bosan menunggu yang akhirnya mau tidak mau dia naik ke atas.
"Sudah ganti bajunya?." Gilang bertanya di balik pintu.
"Sudah, tapi ini susah." Keluh Belvina.
"Apa yang susah?."
"Ini, bajuku."
"Baju?! Jangan bilang kau tidak bisa pake baju sendiri."
"Tentu saja bukan, aku tidak bisa merapihkan bajuku."
"Aku tidak mengerti, apa aku bisa masuk."
"Masuk saja."
Pintu kamar pun terbuka, betapa terkejutnya melihat kamar Belvina dipenuhi dengan baju yang berserakan di lantai.
"Apa yang sedang kau lakukan?!."
"Aku tidak bisa memasukkannya kedalam koper ataupun tas." Belvina kesal pada dirinya sendiri.
"Kau harus melipatnya dulu." Gilang pun masuk ke kamar dan duduk di dekat koper.
"Aku tidak bisa melipatnya, waktu itu bibi yang menyiapkan semuanya." Jelas Belvina.
"Kau benar benar tuan putri." Gumam Gilang.
Belvina tertunduk malu.
"Aku akan mengajarkan mu cara melipat baju." Gilang dengan sukarela mengajarkan Belvina.
Belvina memperhatikan dengan seksama bagaimana Gilang melipat baju kausnya. Setelah mengerti Belvina mencoba melipat sendiri.
"Yeah teryata aku bisa melipat baju." Belvina senang karena berhasil melipat baju pertamanya.
"Apa ini sebuah pencapaian untukmu?." Gilang meledek.
"Tentu saja, aku tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah sebelumnya," Belvina menjelaskan. "Aku hanya tahu semuanya sudah beres dan rapih."
Gilang menatap Belvina penuh prihatin.
"Menurutmu, pekerjaan rumah apa yang sulit di kerjakan?."
"Pekerjaan rumah yang sulit itu, menyetrika," Ujar Gilang "Baju gaun seperti ini harus di gantung." Gilang memberikan gaun yang ada di tangannya pada Belvina.
Ketika Belvina mengantungkan gaunnya, ia terkejut dengan teriakan Gilang.
"Aahhh." Teriak Gilang ketika melemparkan sesuatu.
Belvina terkejut melihat barang yang di lemparkan Gilang.
"Tutup matamu dasar pria mesum." Belvina menampar pipi Gilang.
"Aahh." Rintih gilang.
__ADS_1
To be continued~~
Ditunggu kritik dan sarannya^^