Maaf. Aku Pilih Dia.

Maaf. Aku Pilih Dia.
Part 4


__ADS_3

Gilang ingin merebut barang yang ada di tangan Belvina, tapi itu tidak mudah.


"Berikan padaku." Pinta Gilang.


"Koleksi mu banyak juga." Belvina menendang CD yang masih menumpuk di bawah.


"Diam! Berikan itu padaku cepat." Gilang masih meminta.


"Seharunya kau mencarinya di internet dan simpan saja di suatu folder di laptop mu, agar tidak meninggalkan jejak dimana mana seperti ini." Belvina memberi saran.


"Ini koleksi lamaku." Ungkap Gilang selagi membereskan cd-nya.


"Koleksi lamamu?!." Belvina mengernyit.


Gilang mendengus kesal dengan ucapan nya sendiri.


"Kau pria mesum teryata."


Gilang memasukan semua CD itu ke dalam kardus, setalah itu berdiri di hadapan Belvina.


"Semua pria pasti pernah mengoleksi hal seperti ini." Gilang mengambil CD yang ada di tangan Belvina.


"Tunangan ku tidak memilikinya" sombong Belvina.


"Tunangan mu?!." Ulang Gilang.


Belvina langsung menutup mulutnya.


"Cepat keluar aku mau istirahat." Belvina mencoba mengalihkan.


"Jangan menyentuh barang yang bukan milikmu." Gilang memperingati.


Gilang pun keluar kamar dengan kardus dan selimut lamanya, setelah pintu itu tertutup Belvina duduk di kasur. Kesedihannya kembali mencuat membuat air matanya keluar.


****


Suara berisik dari luar kamar membangun kan Belvina, dengan kesal Belvina keluar kamarnya dan melihat Gilang tengah menggusur meja keluar.


"Apa yang kau lakukan pagi pagi seperti ini?." Keluh Belvina.


"Kau sudah bangun?." Tanya Risa dari dalam.


"Selamat pagi Tante." Sapa Belvina.


"Buka matamu! Sekarang sudah jam 10." Seru Gilang.


"Karena Belvina sudah bangun, ibu harus siap-siap pergi ke toko." Risa keluar dari kamar. "Belvina kau harus bantu Gilang untuk mempersiapkan kamarmu. Tante harus pergi ke toko, sampai jumpa." Risa pun pergi.


"Cepat bantu aku angkat meja ini keluar." Suruh Gilang.


"Aku masih mengantuk." Belvina Kembali masuk ke dalam kamar Gilang.


"Hey kau, mana boleh kau tidur lagi!." Protes Gilang.


"Aku masih mengantuk." Jelas Belvina.

__ADS_1


"Ini sudah jam 10, kau ini manusia atau kerbau?."


"Apa katamu?! Kerbau?! Jaga yah mulutmu." Belvina tidak terima.


"Cepat bantu aku bereskan kamar untukmu."


"Itu bukan kamar itu gudang." Belvina mengkoreksi.


"Bukan, ini tuh kamar cuman penuh dengan barang yang tidak terpakai."


"Gudang."


"Iyalah terserah, kau mau menyebutnya ini gudang atau bukan. Yang jelas kita harus membereskan gudang itu."


"Tuh'kan gudang."


Gilang membuang nafasnya menahan amarahnya agar tidak meluap.


"Cepat bantu aku membereskannya." Titah Gilang.


"Tidak mau." Tolak Belvina.


"Kau ingin tidur denganku?."


"Maksudmu?!."


"Ini kamar ku, kamarmu yang itu. Kalau kau mau tidur denganku, kita tidak perlu repot-repot membersihkannya."


"Aku akan membersihkannya." Belvina kembali keluar kamar.


Mereka berdua pun mulai bekerjasama mengeluarkan semua barang, dan membersihkan kamar. Belvina yang tidak pernah bersih-bersih mulai kelelahan.


"Kau tidak boleh lelah, masih banyak yang harus di kerjakan." Gilang menaruh kardus terakhir.


Belvina merajuk. "Aku sudah lelah, tubuh ku sudah penuh dengan keringat."


"Kamar mu tidak akan bersih kalau kau malas sepeti ini."


"Aku tidak malas, aku cuman lelah."


"Aku akan membuatkan mu makanan enak kalau kau mau menyelesaikan semuanya." Gilang menawarkan.


"Aku tidak yakin pria seperti mu bisa masak." Belvina meragukan.


"Ckckck.. jangan meragukan orang yang belum kau kenal. Kalau makanan ku tidak enak, aku akan mentraktir makanan kesukaanmu."


"Benarkah, kau sudah berjanji yah." Belvina kembali bersemangat.


"Aku pria sejati, aku akan menepati janjiku."


Berbekal janji dari Gilang, Belvina yang tidak pernah memegang alat bersih-bersih menjadi semangat membersihkan kamar yang akan di tempati nya. Sesekali mereka bertengkar karena Belvina tidak bisa menyapu dengan bersih atau mengepel dengan kain yang sangat basah. Setelah lantai bersih dan kering, belvina membatu Gilang mengangkat dipan kasur, lemari dan meja secara bergantian ke dalam kamar. Setelah semuanya selesai Gilang dan Belvina meluruskan badan mereka di lantai, belvina menendang kaki Gilang yang ada di sampingnya.


"Buatkan aku makanan, aku sudah tidak memiliki tenaga lagi."


"Tunggu sebentar, aku harus mengistirahatkan tubuhku dulu."

__ADS_1


"Sekarang sudah jam berapa?."


"Aku tidak tahu," Gilang bangkit dari posisinya. "Aku akan turun ke bawah untuk memasak. Apa ada makanan yang tidak kau sukai?."


Belvina hanya menggelengkan kepalanya nafasnya masih terdengar berat. "Ini pertama kalinya aku membereskan kamar seperti ini."


Gilang yang merasakan kelelahan yang sama hanya tersenyum lelah sebelum keluar dari kamar.


Gilang mulai sibuk di dapur, sedangkan Belvina ia mulai membuka koper yang dia bawa dari kemarin, di dalam koper Belvina melihat 2 foto yang satu saat bersama dengan orangtuanya dan satu lagi bersama dengan Farrel, senyum pahit terlihat ketika foto itu di simpan di atas meja.


"Aku merindukan kalian." Belvina kembali mengeluarkan air matanya.


"Makanan sudah siap, ayo turun." Teriak Gilang dari bawah. Membuyarkan kerinduan Belvina terhadap orangtuanya dan Farrel.


"Aku datang." Balas Belvina.


Belvina turun kebawah dan melihat omurice sudah siap di atas meja.


"Wah omurice." Seru Belvina yang langsung duduk di kursinya.


"Selamat menikmati omurice ala Gilang." Gilang mempersilahkan dengan bangga.


Belvina pun mengambil suapan pertamanya dan langsung kagum dengan masakan Gilang. "Masakanmu enak."


"Tentu saja." Gilang bangga.


Gilang pun melahap masakannya.


****


Malam sudah tiba, Gilang dan Belvina sibuk di kamar masing masing. Belvina melihat langit malam melalui jendelanya, membiarkan pikirannya terbang jauh, berharap angin akan membawa kerinduannya pergi.


"Kau tidak merasa dingin dengan jendela di buka seperti itu?." Suara Risa membuyarkan lamunan Belvina.


"Tidak Tante." Belvina menutup jendelanya.


"Maaf, Tante membuka pintu tanpa persetujuan mu, tapi Tante sudah mengetuknya dan tidak ada jawaban darimu. Boleh Tante masuk?." Risa meminta izin.


"Silahkan masuk Tante." Belvina mempersilahkan.


Risa mendekati Belvina yang tengah duduk di kasur.


"Belvina," Risa menggenggam tangan dingin Belvina. "Tante sudah membaca berita tentang keluargamu, ini pasti berat untukmu." Belvina menundukkan wajahnya.


"Tante tidak bisa membiarkanmu tinggal di rumah Tante," Belvina mengepalkan tangannya bersiap mendengar perkataan Risa. "Kalau kamu tidak bisa mengikuti peraturan yang ada di rumah ini." Belvina mengangkat kepalanya.


"Apa peraturan itu Tante? Sebisa mungkin aku akan mematuhi semua peraturan yang ada di rumah ini." Tekad Belvina


"Kalau begitu mulai besok kau harus mengikuti peraturan di rumah ini. Yang pertama kau harus bangun pagi agar kita bisa sarapan bersama."


"Baik Tante." Sahut Belvina.


"Untuk malam ini satu peraturan saja dulu, besok biar Gilang yang memberitahumu peraturan yang lainnya, sekarang kau istirahatlah." Sebelum pergi Risa mengusap kepala Belvina dengan lembut.


Setelah Risa pergi, Belvina menyalakan handphonenya Yang sedari kemarin mati, baru saja di nyalakan dan mendapat sinyal handphone Belvina langsung berdering. Tertera nama Farrel di layar.

__ADS_1


To be continued ~~


Ditunggu kritik dan saranya^^


__ADS_2