Maaf. Aku Pilih Dia.

Maaf. Aku Pilih Dia.
Part 6


__ADS_3

Dengan memegangi pipinya Gilang berdiri di luar kamar Belvina.


"Sekarang kau boleh masuk." Seru Belvina dari dalam kamar.


Gilang kembali masuk kedalam kamar dan duduk di dekat koper.


"Pipi mu merah." Belvina merasa bersalah.


"Tentu saja, kau menamparku begitu keras." Gilang meluapkan kekesalannya.


"Aku tidak akan menamparmu kalau kau tidak menyentuh pakaian dalamku." Belvina tidak ingin di salahkan.


"Aku tidak tahu kalau pakaian dalam mu di dalam koper." Bela Gilang.


"Sudah sudah, jangan bahas pakaian dalam lagi." Belvina merasa risih.


Kesunyian pun mulai menemani mereka, Belvina dengan telaten mengikuti gerakan Gilang dalam hal melipat baju.


"Gilang." Belvina ragu.


"Ada apa?." Jawab Gilang.


"Kau tidak marah pada Tante Risa?."


"Kenapa aku harus marah pada ibuku?." Gilang bertanya balik.


"Kau tidak marah aku tinggal disini?."


"Ibu sudah memberitahuku tentang keadaan keluargamu." Jawab Gilang hati hati agar tidak menyinggung perasaan Belvina.


"Kau sudah tau teryata." Terdengar kesedihan di jawaban Belvina.


"Menurutku," Gilang mencoba memberi saran. "Untuk saat ini lebih baik kau mematikan handphone mu."


"Kenapa aku harus mematikannya?."


"Mungkin saja orang-orang yang meminjamkan uangnya pada orangtuamu, akan meneror mu."


"Tidak mungkin, mereka tidak tahu nomer ku." Belvina menyangkal saran Gilang.


"Aku hanya memberi saran, karena yang aku lihat sosial media mu sudah di teror."


"Kau mengecek sosial mediaku?."


"Iya, aku mengecek media sosialmu karena aku ingin tahu kehidupanmu sebelumnya."


"Baiklah, aku akan mematikan handphone ku." Belvina mengambil handphonenya di atas meja.


Di layar handphone terlihat pesan yang di kirim Farrel. Dengan cepat Belvina mematikan handphonenya sebelum tekadnya goyah, setelah handphone itu mati Belvina menaruhnya di dalam laci.


"Kau bisa kan hidup tanpa handphone?." Tanya Gilang.


"Aku akan mencobanya." Belvina terlihat murung.


"Ayo kita bereskan ini, setelah semuanya beres aku akan mengajak mu berkeliling desa." Gilang mencoba menghibur Belvina.


"Baiklah, ayo kita bereskan baju ini." Belvina kembali bersemangat.


****


Langkah kaki Belvina dan Gilang berjalan seirama, mereka mengitari desa dimana mereka tinggal sekarang.


"Kalau ada warga desa bertanya tentang hubungan kita aku harus jawab apa?" Tanya Belvina.


"Kita sepupu. Kau anak dari kakak ibu ku di kota." Jawab Gilang.


"Oke." Belvina mengerti.


Gilang membawa Belvina ke wilayah persawahan, Belvina menghentikan langkahnya yang secara otomatis Gilang ikut berhenti.


"Ada apa?."

__ADS_1


"Boleh kah aku pergi kesana?." Belvina menunjuk saung yang ada di tegah persawahan.


"Mau apa kau disana?." Gilang heran.


"Aku ingin merasakan angin di persawahan."


"Hah?" Gilang tidak mengerti.


"Boleh tidak?." Paksa Belvina.


"I..ya boleh, ayo aja." Gilang memimpin jalan menuju saung yang ditunjuk Belvina.


Dengan matahari sore yang masih bersinar Gilang duduk di samping Belvina yang tengah menikmati hembusan angin. Kini Gilang mengerti kenapa Belvina ingin duduk disini, ia ingin angin membawa perasaan yang sedang berkecamuk di hati dan pikirannya pergi.


"Coba kau tutup matamu." Titah Gilang.


"Kenapa aku harus menutup mataku?." Belvina sedikit curiga pada Gilang.


"Dengan menutup mata, kau akan merasakan angin persawahan ini dengan lebih baik."


Belvina mengernyitkan keningnya tidak mengerti.


"Sudah tutup saja matamu." Gilang menutup mata Belvina dengan tangannya.


"Biarkan angin yang berhembus membawa kesedihanmu pergi."


Belvina yang hendak memberontak langsung terdiam. Setelah menutup matanya Belvina menurunkan tangan Gilang dan menggenggam tangan itu.


Gilang menatap wajah Belvina yang terkena sinar matahari dari samping, helaian rambut panjang Belvina menari mengikuti arah angin.


Sinar matahari sudah mulai meredup, membuat jalanan sawah sedikit tidak terlihat. Belvina yang berjalan di belakang Gilang mengalami kesulitan hingga ia kehilangan keseimbangan dan jatuh kedalam sawah.


"Ah." Jerit Belvina.


Gilang yang berjalan di depan langsung membalikan badannya dan membantu Belvina.


"Kau tidak apa apa?." Gilang menjulurkan tangannya.


"Ahh bagaimana ini." Belvina merengek.


Belvina meraih lengan Gilang.


Di sepanjang jalan Gilang berjalan di depan seraya menahan dirinya untuk tidak tertawa, melihat itu Belvina kesal dan menendang pantat Gilang.


"Kalau kau ingin tertawa, tertawa saja." Belvina kesal.


Gilang pun langsung tertawa terbahak bahak.


"Lihat dirimu!." Gilang terus tertawa melihat sekujur tubuh Belvina penuh dengan lumpur.


"Kau bahagia sekali melihatku seperti ini!." Melihat Gilang yang tertawa lepas mau tidak mau membuat mulut Belvina ikut tersenyum.


"Kecilkan suara tawamu." Belvina masih ikut tersenyum melihat keadaannya sekarang.


"Tuan putri nan cantik ini, sekarang tubuhnya dipenuhi dengan lumpur." Ucap Gilang di tengah tertawanya.


Kata kata itu membuat senyuman di wajah Belvina berganti menjadi senyuman jahil. Belvina mengambil lumpur yang ada di tubuhnya yang langsung ia tempelkan di wajah Gilang. Tawa Gilang langsung menghilang, ia terkejut dengan tindakan Belvina.


"Sekarang kau sama dengan ku." Belvina menjulurkan lidah nya meledek Gilang.


"Ya!!" Teriak Gilang kesal.


Belvina langsung berlari menjauh dari Gilang dengan senyum kemenangan di wajahnya.


****


Sesampainya di rumah, Belvina langsung lari ke kamar mandi yang ada di lantai bawah, sedangkan Gilang membersihkan wajahnya di wastafel. Setelah dirasa bersih Gilang mengambil gelas untuk menghilangkan rasa haus di tenggorokannya, baru minum satu teguk Gilang langsung memuncratkan airnya ketika mendengar jeritan Belvina di dalam kamar mandi.


"Ada apa?" Gilang teriak sambil menyimpan gelasnya.


"Tidak ada air panas." Jawab Belvina di dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Kukira ada apa, pakai air dingin Saja mandinya." Saran Gilang.


"Tidak mau! Sekarang sudah malam."


Gilang memutar matanya malas setelah melihat jam dinding yang menunjukan pukul 18.30.


"Terus kau mau bagaimana?." Gilang menahan kekesalannya.


"Bikinkan aku air panas." Pinta Belvina.


Dengan malas Gilang mulai bergerak menyiapkan air panas.


"Gilang, Gilang." Panggil Belvina karena ia tidak mendengar suara Gilang diluar.


"Apa lagi?." Jawab Gilang malas.


"Kau sedang apa?."


"Aku baru mau menyalakan api."


"Terus aku bagaimana?." Belvina binggung.


"Bagaimana apa?." Gilang mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan.


"Apa aku harus menunggu air panasnya di kamar mandi?."


"Keluar dulu aja, nanti kalau air panas nya sudah siap baru masuk lagi ke kamar mandi."


"Aku sudah melepaskan bajuku." Lirih Belvina.


"Kalau begitu pakai handuk saja." Gilang sudah mulai emosi.


"Aku tidak bawa handuk."


"Ya!!! Uwa!!! Uuuu!!" Gilang menyalurkan emosinya.


Dengan berat hati Gilang bangkit dari duduknya untuk mengambil handuk Belvina yang ada di kamarnya.


Mendengar pintu kamar mandi di ketuk, Belvina membukakan pintunya sedikit, terlihat handuk masuk ke dalam.


"Ini ambil." Suruh Gilang.


Belvina mengambil handuk itu, "Kau harus menutup matamu saat aku keluar."


"Hmm." Gilang kembali duduk di kursi meja makan.


Belvina keluar kamar mandi dan menunggu air panas di ruang tamu.


Air panas pun mulai mendidih, Gilang bangun dari duduknya untuk mematikan api dan membawa air panas itu ke kamar mandi, karena terlalu terburu-buru membuat air panas sedikit berjatuhan.


"Air panas sudah di kamar mandi." Gilang memberitahu.


"Tutup matamu." Balas Belvina.


"Hmm." Sahut Gilang.


Belvina mulai berjalan menuju kamar mandi.


"Awas kalau kau membuka matamu." Ujar Belvina saat melewati Gilang.


Ketika Gilang mengambil langkah menjauh, ia tidak sengaja menginjak air tumpahan tadi, saat ia akan jatuh ia menarik lengan kanan Belvina yang memegang handuk, hingga handuk itu terlepas dan Belvina jatuh tepat di atas tubuh Gilang.


"Ahh." Jerit Belvina dan Gilang ketika mata mereka bertemu.


Refleks Belvina memukul mata Gilang.


"Mataku." Gilang kesakitan.


Belvina bangun dari posisinya untuk mengambil handuk dan langsung masuk ke kamar mandi.


"Mataku." Gilang berguling guling dilantai.

__ADS_1


To be continued~~


Ditunggu kritik dan saranya^^


__ADS_2